
Dia menarikku ke atas, membuka kancing jins ketatku, menurunkan ritsletingku ke bawah dan menyelipkan tangannya ke dalam celanaku, aku tersipu saat dia tahu kalau aku basah. Dia tertawa kecil dan mengambil pipiku membuatku menghadapinya.
"Sangat seksi kalau wajah mu memerah seperti ini, terlihat sangat polos."
Aku mengambil tangannya dan berjalan ke meja makan, dan berhenti saat dia membalikkan tubuhku dan menghadapnya, dia mendorong punggung ku ke meja. Tanganku bersandar di dadanya, aku sangat mencintai kekerasan dan kehangatannya.
"Jadi, satu jam dua puluh sembilan menit, mulai dari sekarang sayang, ok." Aku menggeliat mengantisipasi dan dia tahu itu.
Dia melepas celana jeansku bersama dengan dalamanku, melepas pakaian ku dan membuatku dalam keadaan telanjang, saat dia menatapku tanpa malu, tersenyum seksi. Dia mengangkatku ke meja makan. Aku membentangkan tubuhnya agar dia bisa menikmatiku.
"Lebarkan kakimu, Laura." Wajahku memerah. Dia menciumku tepat di antara kakiku. Dia langsung melakukannya, membuatku menjerit. Aku bisa merasakannya tersenyum, saat dia menikmatinya di atas meja. Aku meneriakkan namanya, dan dengan cepat mencapai puncak dalam beberapa menit kemudian. Aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.
Dia memelukku saat aku mencapai punvak. "Lebih banyak sayang, aku juga akan memberimu lebih banyak." Dia memberiku ciuman dari pinggulku perlahan-lahan naik ke pentilku, tangannya dengan ahli menyentuhku di semua tempat dengan tepat, membuat ku mengerang. Napasku tercekik, saat jari-jarinya keluar-masuk. Aku mengepal saat dia menambahkan dengan jari yang lain, sementara dia menggigit telingaku. Membisikkan hal-hal jorok yang dia lakukan padaku. Aku mencapai klimaks lagi, bergidik di bawah sentuhannya. "Astaga James, kurasa aku tidak tahan lagi."
"Sshh sayang, kurang dari satu jam lagi." Dia menarikku ke tepi meja. Lutut ku bersandar di tepi. Dia mengambil kursi dan duduk di atasnya. Aku tersipu, saat tahu apa yang mau dia lakukan. Aku dengan cepat menutup paha ku.
"James ..." rengekku, sembari merah padam. Tpi dia mengabaikan ku, dia menarik kursinya lebih dekat kearah ku, dan meletakkan kaki ku di pundaknya dan mulai menggairahkanku secara menyeluruh, berulang-ulang, membawa ku lebih tinggi dan lebih tinggi sampai aku menjambak rambutnya dan menariknya tanpa malu ke arahku. Meminta dia untuk lebih cepat dan lebih keras.
__ADS_1
Dan selesai...
Dia akhirnya menurunkan kaki ku. Dia bangkit dan menarikku untuk duduk dan dengan tepat mulai menjilati pangkal leherku, sementara tangannya perlahan membelai buah dadaku, Membuatku mengerang namanya. "Aku suka mendengarmu mengerang namaku berulang kali. Berdirilah Laura."
Dia membantuku berdiri dan mulai menciumku dalam-dalam. Tangannya ada di sekujur tubuhku. Aku bahkan tidak tahu ke mana dia membawaku pergi, sampai punggungku membentur jendela. "Aku mau menidurimu di dekat jendela Laura. Aku mau meregangkan dirimu, menidurimu keras dan cepat." Aku mengerang penuh harap.
"Alat kontrasepsi. ada didalam dompetku. Tunggu sebentar." Dia kembali beberapa detik kemudian, sementara aku memutuskan untuk menarik napas. Aku terengah-engah lagi memperhatikannya memakai ****** dan menggodaku, memasang alat kontrasepsi itu ke miliknya.
"Kau membuatku melupakan pergelangan kakimu, apa kau baik-baik saja? Kau ingin aku menidurimu di tempat tidur saja?" Dia bertanya sambil mendorong pinggulnya ke pinggulku.
"Laura, kau benar-benar kesayanganku yang luar biasa. Aku menyukai jeritanmu. Itu membuatku semakin bersemangat." Aku senang mendengar kata-katanya, mengepalkannya dengan keras di dalam diriku, karena aku sedang berada didalam puncak kenimatanky.
James membalikkan tubuhku membuat pipiku mencium kesejukan gelas. Aku bisa melihat bayangan kami, saat dia menarikku ke belakang dan menyuruhku meletakkan telapak tanganku di jendela. Dia menyeringai padaku. "Sayang, aku ingin kau melihat semuanya saat aku menidurimu dari belakang. Satu lagi sayang, setelah ini kita pindah ke kamar tidur." Dia bergerak mundur dengan lembut, aku langsung merengek saat aku merasa dia melepaskan dirinya dari diriku. Dia tertawa kecil.
"Sabar Laura, kau terlalu bersemangat, Sayang." Dia meletakkan telapak tangannya di atas tanganku. Aku mengerang karena aku merasakan kehangatannya, saat bersandar ke dadanya. Aku menutup mataku mencoba menerima perasaan itu. Tapi dia secara kasar menangkupkan rahangku dan membuatku menghadap ke jendela.
Matanya menatapku. "Sayang, kau akan mendapatkan satu tamparan pada pahamu." Dia memperingatkanku dan mulai meremas bokongku dengan telapak tangannya, membuatku mengerang dan menutup mata lagi, aku tidak bisa menahannya. Rasanya terlalu enak.
__ADS_1
"Sayang, kau memintanya, bukan? Katakanlah sayang, memohonlah padaku." Dia berbisik, sambil menggigit telingaku, dan menjilati leherku. Tangannya meremas bokongku yang lain. Dia memasukkan miliknya kedalam diriku. Kami saling memandang dari pantulan jendela.
"Pukul aku, James. Aku menginginkannya sekarang, tolong sayang, lebih keras." Kemudian pukulan pertama menghantamku, aku mengerang keras. Yang kedua memukul yang lain, membuatku merintih. Aku menggigit bibirku, merasa diriku sangat keenakan. Lalu dia memasukkan miliknua dengan perlahan, saat dia menjilat bahuku. Aku mengerang, merintih, memohon padanya untuk klimaks lebih cepat karena dia terus mengabaikanku. Senyumnya terpampang di wajahnya, saat aku melihatnya dari arah jendela.
Astaga! Ini penyiksaan!
Dia terus mendorong masuk dan keluar dari diriku secara perlahan, sangat lambat, meregangkan ku, merasakannya lebih dalam, jauh di dalam diriku. Lengannya mencengkeram tubuhku, satu tangan di atas buah dadaku, membelainya. Sementara yang lain menyenangkanku di antara kaki ku.
Aku mengerang dan bernapas keras dan berat. Sampai dia mengambil langkahnya dan meniduriku lebih keras dan lebih cepat, kami berdua mengerang nama masing-masing dan akhirnya mencapai puncak secara terpisah dalam beberapa detik.
"Ayo ke kamar tidur, sayang." Dia perlahan menarik ku dan membuang alat kontrasepsi ke tempat sampah. Dia tertawa kecil melihatku terhuyung-huyung sedikit dan memutuskan untuk membawaku ke kamar.
Dia membaringkan ku di tempat tidur dan menutupi ku dengan selimut dan membiarkan ku beristirahat, lalu dia membawaku ke pelukannya. Aku meringkuk lebih dekat dengannya merasakan kehangatannya.
"Istirahatlah Laura."
Chapter ini digabung dengan chapter selanjutnya. silahkan klik halaman Next. Terima kasih.
__ADS_1