
"ini..." ucap mereka bersamaan saat jam 1.36 am. Mereka melihatnya seorang perempuan dan beberapa orang lainnya. Memasukkan seorang perempuan ke dalam mobil hitam dan pergi.
"Itu mommy" ucap Rei yang menatap tajam ke arah layar. Pakaian milik ibunya itu sangat ia kenali, terkenal santai dan tentunya sederhana. Ibunya tidak suka menggunakan pakaian yang berlebihan kecuali keadaan mendadak dan juga Rei mengantarkan ibunya pergi jelas saja Rei Maisy mengingat pakaian ibunya tersebut.
"Sepertinya benar dan juga wanita itu" tunjuk Leon ke layar kaca.
"Apa tidak bisa dibesarkan?" tanya Alex.
"Entahlah saya tidak pernah mencobanya dan apa di sini ada yang sangat ahli dengan sistem keamanan karena sejujurnya saya tidak terlalu handal dalam bermain kamera pengawas atau pengintai seperti ini" jelas Rangga. Dia memang ahli dalam bidang komputer tetapi dia hanya menggunakan kemampuan nya di saat meretas sistem jaringan bukan sistem keamanan yang berhubungan dengan kamera CCTV. Bahkan mempelajari nya saja Rangga kurang karena dia hanya menggunakan kemampuan nya saat melawan beberapa pesaing perusahaan milik atasannya, bukan melawan dengan sistem pengintai. Karena pekerjaan nya adalah sekretaris bukan seorang mata-mata atau agen.
"ibu..." gumam Rei khawatir.
"Mex kirim video itu ke Luke dan minta dia untuk mencari keberadaan mobil dengan plat nomor tersebut" perintah Alex dingin. Dia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendapatkan Cyla kembali.
"Baik tuan" jawab Mex dan berjalan ke arah layar komputer menggantikan Rangga yang sudah keluar dari tempat duduknya. Tangannya mengirim file tersebut ke email miliknya. Setelah itu mengirim kepada Luke yang merupakan tangan kiri Alex dan ahli dalam komputer. Semua sistem keamanan bisa laki-laki itu terobos dengan mudahnya. Bahkan keamanan milik negara sekalipun pernah diretas oleh tangan kiri Alex.
"Tuan tugas selesai" ucap Mex.
"Kalau begitu kembali ke mansion kita harus merencanakan semuanya dengan rapi" dingin Alex dan memasang jasnya. Langkah kakinya yang tegas diikuti rombongan, mereka pergi dengan cepat menuju mansion. Menjalankan misi penyelamatan Cyla dan berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan perempuan itu.
....
Tidak membutuhkan waktu lama 5 mobil iringan itu terparkir rapi di depan mansion. Aura yang kelam dan tatapan tegas setiap orang membuat kondisi di saja sangat mencekam. Tidak ada yang berani berbicara dan semua sistem keamanan mansion sudah dinaikkan menjadi tingkat 2. Patroli yang dilakukan setiap penjaga maupun pengawal pribadi secara bergantian.
Pelayan-pelayan yang bertugas untuk membeli bahan-bahan makanan dikurangi dan dijaga ketat. Alex tidak ingin ada keluarganya lagi yang terluka sudah cukup Cyla yang diculik. Sekarang dia akan mencarinya bahkan jika itu harus ke ujung dunia sekalipun. Satu-satunya perempuan yang membuatnya menyadari arti keluarga yang sesungguhnya. Dia satu-satunya yang membuat dirinya bisa akrab dengan anak laki-lakinya tanpa paksaan seperti kedua orang tuanya dan dia juga lah yang membuat Alex menjadi orang yang bisa mengeluarkan sikap hangat kembali.
Dengan senyumannya yang manis dan auranya yang hangat menciptakan keharmonisan di dalamnya. Aroma vanila khas yang dirindukan nya dan tidak akan membuat Alex lupa walau itu semenit saja. Membuat Alex sadar arti Cyla yang sesungguhnya, arti Cyla yang menjadikan hidupnya lebih berarti dan menjadikannya manusia yang seutuhnya.
'Bila Cyla terluka sedikit saja akan ku bunuh kalian dengan tanganku sendiri' tegas Alex.
__ADS_1
Suara langkah kaki dari dalam mansion semakin mendekat. Nafas yang terengah-engah itu menyambut orang-orang yang baru saja datang.
"Alex...... hosh...hosh" panggil Irene terengah-engah.
"Mom?" bingung Alex.
"Ayahmu..."
"Dad" bingung Alex dengan ucapan ibunya terpotong-potong.
"Dia kembali!" teriak Irene. Tangannya ia letakkan di dada, dia baru saja menerima telpon bahwa suaminya sedang dalam perjalanan. Membuat Irene tidak bisa menghentikan keterkejutan nya dan dia merasa bahwa keberuntungan itu akan di pihaknya.
"Kalian bersiap untuk ke bandara" perintah Alex dingin.
"baik tu...."
"Tidak Lex, tidak perlu ke bandara karena ayahmu sudah sampai" potong Irene dan menunjuk ke arah langit-langit. Mereka semua memandang ke arah langit-langit yang tertutupi awan-awan putih. Tidak lama kemudian mereka semua bisa merasa angin yang besar dan suara yang berdengung dari ketinggian.
Helikopter ya di langit-langit di dekat mereka terdapat 3 buah helikopter yang terbang dan akan mendarat. Helikopter bewarna hijau tua dan bercorak belang-belang tersebut memperlihatkan tanda bukti bahwa helikopter tersebut adalah milik bagian kemiliteran.
Alex berjalan ke dalam mansion lebih cepat, membiarkan rombongan miliknya mengikutinya. Langkah kakinya berjalan lebih cepat ke arah belakang mansion yang dimana merupakan tempat landasan helikopter berada. Halaman belakang yang luas itu penuh dengan daun-daun yang berguguran karena kering dan di sanalah angin bertiup lebih kencang dari pada biasanya.
Satu per satu helikopter mendarat dengan aman di landasan yang luas itu. Orang-orang yang berada di dalam helikopter mulai keluar saat mesin helikopter di matikan. Tubuh mereka berbalut pakaian militer. Posisi siap dilakukan oleh orang-orang itu dan membiarkan peran utamanya keluar.
Seorang laki-laki paruh baya yang seharusnya menghabisi waktunya untuk beristirahat itu malah memilih untuk membantu anaknya mengurus masalah yang sulit. Saat dia keluar matanya yang tajam menatap orang-orang yang ada didekatnya. Dengan sebuah senyum hangat dia merentangkan kedua tangan miliknya.
"Aku pulang" ucap Vero tersebut hangat. Semua terdiam di tempat melihat laki-laki paruh baya yang sudah meninggal kan New York lebih dari satu Minggu. Membuat orang-orang tersebut hanya bisa terdiam ditempat melihat kondisi tuan maupun orang yang berarti.
Tetapi berbeda untuknya, untuk anak laki-laki satu-satunya. Alex berjalan mendekat ke arah ayahnya, tatapan tajamnya menghilang dan aura gelapnya juga menghilang. Ada rasa rindu di sana dan juga ada rasa marah melihat ayahnya yang bugar tapi pulang terlambat.
"Alex" panggil Vero yang melihat Alex mulai mendekat ke arahnya. Alex memeluk ayahnya dengan hangat suara tegas dan dinginnya itu memudar. Menyisakan suara tangisan dan idaman kecil dari laki-laki yang sudah berumur tidak muda lagi.
__ADS_1
"Kenapa! kenapa kau baru datang di saat seperti ini! kenapa.... ahhhhh!" teriaknya. Dia menangis di dalam pelukan ayahnya. Mencurahkan isi hatinya dan keadaan yang membuatnya terguncang.
"Sudah-sudah jangan menangis, Daddy tau itu dan maafkan atas keterlambatan Daddy mu ini" jelas Vero dan mengelus punggung anaknya. Sudah lama dia tidak pernah melihat tangisan anak laki-lakinya dan untuk kali ini pertama kalinya. Anak satu-satunya itu menangis karena perempuan dan Vero beruntung yang akan menjadi pasangan hidup anaknya merupakan pilihan yang tempat.
"Alex, sudah nanti baju Daddy mu basah" tegur Irene yang sudah mendekat ke arah kedua laki-laki tersebut.
"Ibu juga sama" sindir Alex dingin. Dia menyapu cepat air matanya, entah kenapa kehilangan Cyla walau hanya sebentar membuat sikap cengeng nya keluar mendadak. Bahkan tidak bisa ia tahan sebentar saja.
"Baik-baik" pasrah Irene sambil menggenggam erat tangan milik Rei. Rei tidak mengeluarkan sepatah katapun yang dia butuhkan hanyalah ibunya dan dia cukup untuk diam saat ini.
"Apa dad kembali hanya untuk ini?" tanya Alex dingin.
"Tentu saja tidak" smirk Vero penuh kepercayaan diri.
"Karena Dady mu ini sudah kembali dari lembah Kematian dan membawa ini" lanjut Vero dan mengeluarkan sebuah gulungan panjang yang berisi hal-hal penting.
"Jangan bilang..."
"Mari kita selamatkan calon menantuku itu" dingin Vero. Dia sudah mendapat pelatihan yang mengerikan dan mempelajari semua hal. Mempersiapkan semua hal yang akan terjadi dan beruntungnya dia bisa kembali walau sedikit terlambat.
"Senang mendengarnya, pak tua" sindir Alex.
"Sudah lama aku tidak mendengar ucapan itu" ucap Vero. Kedua orang itu berjalan bersamaan, membiarkan tangannya mengepal dan meninju satu sama lain. Membuat persiapan dalam menyelamatkan Cyla lebih mudah.
Jika seekor singa saja yang dibangunkan mungkin itu akan bisa dikalahkan oleh para pemburu, tapi sayangnya kali ini bukan hanya seekor singa saja tetapi seluruh penghuni hutan liar terbangun karenanya. Dimana orang-orang yang berani mengusik kedamaian milik mereka. Membuat semua penghuni hutan liar yang jenisnya karnivora tersebut siap untuk mencakar maupun memakan lawannya. Bahkan jika nyawa yang akan dikorbankan di dalam pertarungan tersebut.
πππππππππππππππ
β’Saya DNA_2005 akan memulai bab penuh pertumpahan darah ini, sekian pantengin aja. Sayonara~
πππππππππππππππ
__ADS_1
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary