
Olivia tidak mengerti kenapa William bersikap demikian padanya. Jika tadi William bersikap sangat manis padanya kini malah mendiamkannya.
Entah apa dan dimana salahnya Olivia pada William. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba pria itu sudah berubah lagi dan terlihat sangat dingin.
Sebenarnya tidak masalah bagi Olivia, Tapi saat melihat dari tatapan ibunya seolah sedang bertanya membuat Olivia hanya bisa menggelengkan kepalanya aja karena dia tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Tapi hal itu membuat Nyonya Matilda mengerti bahwa ada hal lain yang membuat William seperti itu.
" Kenapa diam saja ? Ini sudah jam berapa ? "
" Memangnya kita mau kemana Ibu ?" Tanya William yang seperti kehilangan fokusnya karena dia masih mengingat dengan jelas bagaimana pria itu membuatnya kesal tadi saat mengatakan betapa beruntungnya William bisa mendapatkan wanita secantik Olivia.
Masih muda, Cantik dan luar biasa itu. Mendengar apa yang di katakan Austin membuat kepalanya seakan terbakar oleh api kecemburuannya.
Tidak salah memang Austin mengatakan bahwa Olivia cantik karena memang Olivia sangat cantik.
Tapi yang membuat William kesal adalah saat kata cantik itu keluar dari bibir pria lain selain dirinya dsn itu membuatnya kesal.
" Apa kepala mu memang ingin ku cangkul agar kau mengingat semuanya ?" William masih berusaha berpikir sebenarnya mereka mau kemana.
Tapi saya melihat wajah Olivia yang kembali bersedih seperti itu membuat William sadar bahwa mereka akan pergi ke kota untuk memeriksakan kandungan Olivia saat ini.
" Ahh...Maafkan aku. Aku tidak fokus. "
" Tuan bisa pergi saja jika sedang sibuk. Aku bisa melakukan ini sendiri bersama ibu. " Olivia langsung meninggalkan William begitu saja setelah mengatakan hal itu padanya.
Melihat Olivia yang terlihat sedih seperti itu membuat William merasa sangat bersalah dengan anak dan calon istrinya.
Ya, Calon istri karena bagaimana pun caranya William harus bisa menjadikan Olivia sebagai istrinya.
Lalu mengurungnya di dalam sangkar emas yang telah di buatnya untuk Olivia dan anaknya nanti.
__ADS_1
Tapi jika dia melakukan itu apa sama saja dia dengan mendiang ayahnya ?
Lalu apa yang harus dilakukannya saat ini ? Apa dia harus membiarkan Olivia di luar ?
Entahlah, William belum bisa memastikan itu semua karena saat ini dia masih bingung bagaimana caranya mengerti perasaan wanita yang tengah mengandung anaknya itu.
Apalagi mood ibu hamil yang cenderung up and down membuatnya harus kembali Benyak belajar untuk hal tersebut.
Jika sampai dia salah, Maka hubungannya akan semakin menjauh.
" Aku benar-benar akan mencangkul kepada mu agar kau bisa cepat tanggap. Kejar dia William. Kejar ibu dari anak mu itu. "
" Aahhh..Iya Ibu..." Jawabnya langsung berlari mengejar Olivia yang sudah ingin masuk ke dalam mobilnya.
Namun William langsung menghentikannya begitu saja karena dia harus berbicara lagi dengan Olivia.
" Olivia maaf..."
" Kenapa jahat sekali ? Aku tidak tau apa salah ku. Tapi kenapa mendiamkan ku ?" Matanya sudah kembali berkaca-kaca karena sikap William padanya.
" Maaf, Aku yang salah..."
Bugh...
William kaget saat Olivia berani memukulnya seperti itu. Ini adalah pertama kalinya Olivia berani memukulnya seperti itu.
" Aku sudah menunggu hari ini karena kata ibu tuan akan menemani ku periksa kandungan. Ibu juga bilang bahwa tuan sudah berubah dan tidak jahat lagi. Ibu juga bilang tuan akan membiarkan aku makan coklat sepuasnya. Tapi kenapa mendiamkan ku seperti ini ?" Mata William terbelalak saat mendengar curahan hati calon istrinya ini.
Betapa menggemaskannya Olivia saat ini dan rasanya william ingin mengigit pipi chubby Olivia saat ini.
" Aahhhkk...Ibu...." Olivia berteriak sambil menangis saat merasa pipinya di gigit oleh William.
__ADS_1
William sendiri yang melihat Olivia menangis seperti itu membuatnya panik.
Dia meras bersalah karena tidak bisa mengontrol dirinya yang terlalu gemas dengan Olivia hingga tidak bisa Manahan diri untuk tidak melakukan niatnya tadi.
" Maafkan aku Olivia, Maafkan aku sayang. " William semakin panik saat melihat tatapan garang ibunya dari teras rumahnya saat ini.
Dia berusaha menenangkan Olivia yang masih menangis sesenggukan seperti itu.
" Maafkan aku Olivia, Maafkan aku. Aku terlalu gemas dengan kamu saat ini. Maafkan aku..."
" Hiks...Hiks...sakit..." William berusaha memberikan usapan dan tiupan di pipi Olivia untuk meredakan rasa sakit yang di tanggapannya di pipi Olivia tadi.
" Maafkan aku Olivia, Maafkan aku. " Olivia semakin menangis di dalam pelukan pria bertubuh tinggi tegap di depannya saat ini.
Olivia merasakan tempat ini adalah tempat paling nyamannya. Karena setiap kalia William memeluk tubuhnya Olivia akan merasakan kenyamanan dan kehangatan yang luar biasa.
Dia merasa sangat terlindungi dengan tubuh pria yang tengah memeluknya saat ini.
" Maafkan aku Olivia. " Ucap William lagi yang terus mengatakan hal itu dan memberikan banyak kecupan di puncak kepala Olivia yang masih menangis di pelukannya saat ini.
" Mau makan es cream strawberry. "
Gubrak !
William tidak percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini karena tiba-tiba saja Olivia mengatakan bahwa dia menginginkan es cream di sela-sela isak tangisnya yang terdengar begitu pilu.
" Mau roti isi keju juga. " Pintanya lagi yang semakin membuat William tidak habis pikir dengan wanita yang tegah mengandung anaknya saat ini.
" Iya..."
" Mau banana smooth cake dan coklat yang seperti kemarin juga. "
__ADS_1
" I-iya..." Jawab William terbatas karena masih belum percaya dengan apa yang di minta Olivia saat ini.
...💦💦💦...