
" Tidur lah Nak, Ibu akan menemani mu di sini. " Olivia melihat ke arah ibunya sebentar dan kembali membenamkan wajahnya di dalam pelukan hangat Nyonya Matilda.
Dia merasakan kenyamanan yang luar biasa dari sosok hangat seperti Nyonya Matilda. Walau pada kenyataannya dia adalah ibu dari pria yang paling di takutinya saat ini.
Tapi kehangatan yang di berikan Nyonya Matilda memang sangat luar biasa sekali.
" Bagaimana jika aku saja yang pergi dari sini Ibu. Jika aku pergi ibu bisa menemui putra Ibu. Biar kan aku hidup dengan sendirinya. "
" Apa yang kau bicarakan ? Tidak bisakah tutup mulut mu itu ?" Olivia terdiam.
Dia tidak berani melawan ibu Matilda jika sudah begini. Tapi dia juga bisa merasakan kesedihan yang di rasakan ibunya William.
" Aku tidak menyangka jika apa yang di lakukan pria bajingan itu kembali di lakukan oleh anak ku sendiri. Aku merasa gagal karena terlalu takut akan ancaman dari nya. Andai saja waktu itu aku bisa melawannya, Pasti William tidak akan seperti ini. Dia cacat Olivia, Dia cacat oleh kasih sayang. " Olivia masih mendengarkan cerita versi Nyonya Matilda dengan segala kesedihan yang pernah di rasakannya.
" Sudah lah, Jangan pikirkan apa pun lagi. Sekarang tidur. Kau harus tidur. "
" Aku ingin tidur dengan Ibu. " Pintanya dengan manja.
Melihat Olivia yang seperti masih ketakutan seperti itu membuat Nyonya Matilda ikut tidur bersama putri kecilnya.
Dia merasa seberuntung karena anak William akan lahir dari wanita sebaik Olivia. Tapi dia juga merasakan kesedihan yang begitu dalam saat mengingat bagaimana Olivia yang bercerita bagaimana jahatnya William dan memperlakukannya seperti binatang.
William selalu menyetubuhinya dengan kasar untuk meluapkan kekesalan hatinya.
" Ibu akan disini bersama mu. Jadi tidur Lahm " Pada akhirnya kedua wanita itu tertidur dengan saling memeluk layaknya ibu dan anak.
Berbeda dengan apa yang di rasakan kedua wanita di sana, Tidak seperti yang di rasakan oleh pria yang bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya sejak tadi.
William terus saja memikirkan bagaimana perlakuannya terhadap Olivia di waktu yang lalu.
Perlakuan kasar serta kata-kata yang selalu keluar dari bibirnya membuat luka yang mendalam bagi Olivia.
__ADS_1
Tidak hanya luka fisik yang di alami Olivia saat bersamanya, Tapi Olivia juga merasakan luka hati yang mungkin sangat sulit untuk di sembuhkannya.
" Kau benar-benar mengandung anak ku Olivia. " Ucap William yang entah berapa kali dia mengatakan hal itu.
Sejak kembali dari rumah Ibunya tadi, Batinnya bergulat merasakan sebuah rasa yang semakin menyesak kan dadanya .
" Kau tau William, Kau pernah berbuat kesalahan yang begitu besar karena tidak mengakui Andrew sebagai anak mu. Lalu apa kau juga akan melakukan hal yang sama ?" Entah kenapa tiba-tiba pikiran itu terlintas begitu saja di dalam kepalanya.
Hati dan pikirannya terus menyerang William hingga rasanya dia ingin berteriak sekencang yang dia bisa agar tidak lagi merasakan sakit di dadanya.
" Olivia..." William kembali terbayang bagaimana wajah cantik wanita yang begitu banyak di sakitnya tengah mengandung anaknya saat ini.
Apalagi setelah beberapa bulan tidak bertemu, William merasa bahwa Olivia semakin cantik dan terlihat sangat luar biasa dengan tubuh seksinya dan babybum yang mulai terlihat karena dia memakai gaun berbahan sifon dengan motif bunga.
William menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya sambil memejamkan matanya.
Entah mengapa dia terus saja teringat dengan wajah cantik Olivia yang terus berputar di dalam pikirannya.
Bahkan sangking tidak sadarnya, William sampai menarik sudut bibirnya saat bayangan Olivia terus berputar di kepalanya.
" Perasaan apa ini ? Kenapa aku terus saja merasakan hal ini setiap kali dekat dengannya ? Bahkan sejak pertama kali melihatnya. Aku terlalu angkuh untuk mengakui keindahannya. " William terus saja mengatakan tentang sosok yang tengah mengandung anaknya.
" Apa kau baik-baik saja di sana Nak ? Daddy harap kau baik-baik saja bersama Mommy mu. Karena Daddy sangat bersyukur bisa memiliki mu di sana. " Tanpa sadar William tertidur di kursi kerjanya entah sampai jam berapa.
Saat dia terbangun dari tidurnya di waktu dini hari, Dia melihat masih ada Derry yang berkeliaran di dalam rumahnya.
" Apa yang kau lakukan ?" Tanya William saat melihat Derry yang entah dari mana.
" Aku ?" Tunjuk Derry pada dirinya sendiri saat menghadapi William.
" Aku bertanya apa yang kau lakukan ?'
__ADS_1
" Saya baru saja pulang dari luar Tuan. Hanya sekedar mencari ketenangan. " William terdiam.
Dia masih merasakan kegundahan di hatinya. Dan satu-satunya orang yang bisa menjadi tempat ceritanya adalah Derry.
Dan beruntung sekali William bertemu dengan Derry saat ini.
" Duduk ! Aku ingin bicara dengan mu. " Terpaksa Derry ikut duduk bersama William dan kembali mendengarkan curahan hati pria yang masih saja belum menyadari apa yang di rasakannya saat ini.
" Apa yang ingin Tuan bicarakan ? Jika hanya tentang perasaan aku tidak bisa menjawabnya karena aku tidak pernah merasakan semua itu. " Terdengar helaan nafas panjang William yang menandakan bahwa dia tengah merasa frustasi saat ini.
Memang benar apa yang di katakan Derry padanya, Bahwa dia tidak pernah merasakan perasaan itu sama sekali.
Begitu juga dengan William, Dia juga tidak pernah merasakan perasaan itu.
Bertahun-tahun dia menikah dengan Amber pun dia tidak pernah merasakan perasaan itu walau sedikit.
Tapi saat ini, Olivia terus saja berputar di kepalanya.
Semua tentang Olivia kembali dan terus saja berputar di kepalanya hingga saat ini.
" Lalu bagaimana dengan ku ? Aku juga tidak pernah merasakan semua itu. Aku bahkan tidak tau bagaimana rasanya sebuah perasaan lebih terhadap wanita. " Kedua pria yang tidak pernah mencintai itu saling duduk bersisian.
Mereka sama-sama memikirkan diri mereka yang tidak pernah merasakan perasaan tertarik dengan seorang wanita.
" Aku bahkan tidak pernah membayangkan Amber sekali pun. Dia bahkan pernah telanjang di depan ku, Tapi aku sama sekali tidak tertarik sedikit pun dengannya. Begitu juga dengan wanita di luar sana. Mereka harus bekerja keras lebih dulu untuk bisa memuaskan hasrat ku. " Derry masih mendengarkan dengan jelas bagaimana pria ini menceritakan tentang hidupnya.
Dia tau betul seberapa kejamnya pria ini, Tapi di saat seperti ini William terlihat sangat menyedihkan sekali.
" Berbeda dengan Olivia, Hanya melihat punggung mulusnya saja aku sudah terangsang. Aku sudah terpancing dengan keindahan yang di milikinya. Kulit mulusnya sangat luar biasa. Hanya melihatnya berjalan saja aku bisa terpancing dan menginginkannya. Tanpa dia melakukan apa pun aku sudah terlalu candu dengan tubuhnya. Dia adalah wanita pertama yang ku setubuhi dengan brutal. Dia adalah wanita pertama yang ku nikmati tanpa alat pengaman sama sekali. Dia yang bisa memuaskan ku dengan semua yang di milikinya yang tidak pernah ku dapatkan di luar sana. "
...💦💦💦...
__ADS_1