My Hot Daddy

My Hot Daddy
Bab 175


__ADS_3

Koak** Koak** Koak**


Suara burung gagak hitam berbunyi, pertanda malam sudah datang. Sayap hitam kelamnya memperlihatkan warna kegelapan malam. Burung gagak yang biasanya ada di saat sebuah kematian ada kini terlihat di pesisir pantai. Bukan burung laut yang mengisi malam di pesisir pantai kali ini melainkan sekawanan burung gagak yang mengisi pesisir pantai tersebut.


Burung gagak yang biasa menandakan sebuah kematian kini hadir di dekat pelabuhan itu. Dimana banyak orang-orang berjaga di daerah itu. Sebuah gelembung-gelembung muncul di daerah perairan. Gelembung yang berasal dari oksigen yang dilepaskan oleh mahluk hidup.


Tim pertama yang sudah menetap adalah bagian perairan. Tim yang terdiri dari 10 orang itu sudah sampai dan menyelam ke arah perairan. Bersembunyi di bawah kolong jembatan dan membuka kacamata selam mereka.


"Satu... dua... kelompok kedua sudah sampai di posisi mereka dan siap untuk memulai tugas" ucap Komandan II yang memimpin bagian perairan. Tangannya menekan tanda komunikasi dan memberi tau bahwa mereka sudah sampai ke titik tujuan.


"Laporan diterima mempertimbangkan permintaan dari kelompok kedua" ucap Komandan I dan meminta isyarat dari Vero. Vero yang merupakan ayah Alex ikut dalam penangkapan malam ini. Vero menggangguk memberikan izin untuk kelompok pertama menjalankan tugas pertama mereka.


"Izin diberikan" ucap komandan I dan mematikan alat komunikasi. Mobil Van hitam yang membawa mereka melaju dan sebentar lagi akan sampai ke daerah pelabuhan. Mempersiapkan senjata yang ada dan memegangnya kuat-kuat. Bukan karena mereka lemah hanya saja lawan yang mereka lawan berada dari jalur kegelapan. Dan jelas menggunakan cara yang licik untuk bertarung melawan mereka nanti. Membuat Kelompok pertama mempelajari rencana mereka dan membiarkan kelompok kedua menjalankan tugas mereka terlebih dahulu.


Kelompok pertama yang berada di bawah kolong jembatan mendekat ke daerah pesisir. Melepas tabung oksigen, kacamata selam dan lainnya. Tiga orang yang akan memasuki daerah daratan dan sisanya menunggu di dalam perairan.


"Berikan kepadaku tasnya" perintah Komandan II yang meminta tas yang terbuat dari bahan anti air.


"Ini komandan" ucap salah satu bawahan yang mendapatkan bagian untuk membawa barang-barang perlengkapan.


"Ingat jika terjadi sesuatu nyalakan kembang api ini dan tembakan ke atas. Jangan lupa setiap kembang api memiliki warna yang berbeda dan memiliki kegunaan yang berbeda juga" jelas Komandan II dan memberikan 3 kembang api yang memiliki warna Merah, Kuning dan Hijau.


"Paham, Komandan" jawab mereka bertujuh bersamaan. Dengan pakaian selam yang basah Komandan II bersama dengan dua anak buah lainnya mengendap-endap memasuki semak-semak yang ada di dekat mereka.


Pelabuhan yang sedang mereka datangi ini adalah pelabuhan yang di renovasi dan dekat dengan hutan buatan yang dipenuhi dengan pohon kelapa. Membuat mereka harus berpindah dari perairan menuju ke pepohonan.


Sesampainya di pepohonan Komandan II membuka tas miliknya dan mengeluarkan peralatan yang sudah di siapkan. Merakitnya kembali dan menentukan timer yang ada.


"Arah anginnya menunjukkan waktu terbaik dari sekarang adalah 12 menit" bisik tentara I yang merupakan bawahan. Tangannya membawa kompas dan melihat arah mata angin yang ada. Mempastikan agar saat ledakan terjadi bisa berefek besar.

__ADS_1


"Komandan sentuhan terakhir" ucap tentara II sambil memberikan tang kecil.


"Huft... selesai dan tinggal mengatur ke angka 12" jelas Komandan II. Tugas pertama kelompok kedua adalah memasang bom waktu di dekat pelabuhan yang bertujuan sebagai pengalihan. Agar memudahkan kelompok pertama menyelinap ke dalam pelabuhan.


"Baik, sudah selesai ayo kita kembali" perintah Komandan II yang sudah menyelesaikan tugas miliknya. Bom waktu yang dirakit sudah terpasang dan akan meledak dalam 12 menit atau 720 detik lagi. Membuat mereka bertiga harus secepatnya kembali ke sisi perairan dan melanjutkan tugas kedua dan selanjutnya.


Sambil memasuki perairan sepeti biasa komandan II akan memberikan laporan miliknya.


"Lapor tugas pertama selesai, waktu yang diberikan tersisa 11 menit 34 detik lagi" lapor Komandan II yang sudah menyelesaikan tugasnya.


"Laporan diterima, 11 menit 34 detik dikonfirmasi" jawab Komandan I dan meminta supir untuk mempercepat laju mobil. Jika bagi orang-orang jalan perairan paling mudah untuk menyelamatkan perempuan bernama Cyla. Sayangnya itu akan membuat jalur depan memudahkan orang-orang yang menangkap perempuan itu lari. Membuat mereka harus menggunakan jalur depan dan belakang dan menutup kemungkinan jalan pelarian milik orang-orang tersebut.



Di Tempat Lain~


Luka memar sudah menghiasi tubuh cantik miliknya. Nafas yang terengah-engah itu telah memenuhi ruangan yang diterangi cahaya bulan. Mata yang dulunya dipenuhi dengan kebahagian itu harus di penuhi dengan kesedihan. Bahkan air mata yang mengalir di pelipis matanya tidak membuat hatinya goyah untuk mempertahankan laki-laki yang dicintainya.


Sebuah tamparan lagi-lagi menghampiri wajah cantiknya. Membuat wajah perempuan itu menjadi bengkak kembali. Wajah yang diremas erat itu membuatnya meringis kesakitan. Luka yang baru diterimanya semakin banyak padahal waktu masih belum berjalan lama tetapi luka yang dia terima semakin banyak.


"Bahkan jika kau mencakar wajah ini dan melukai nya. Dia ya Alex akan tetap mencintai ku, Erika!" teriak Cyla. Entah sudah keberapa kalinya Erika melukai dirinya dan mengatakan bahwa Alex mencintai masih mencintai wanita yang ada dihadapannya ini. Tidak membuatnya berhenti untuk berharap bahwa di luar sana masih ada orang yang akan menyelamatkannya.


"Hahahaha kau pikir Alex akan mencintai wanita jelek seperti mu! kau bermimpi Cyla!" lantang Erika. Tangan yang berada di wajah Luna berpindah ke rambut perempuan itu. Menariknya kuat, membiarkan emosi yang ada pada dirinya sendiri itu meluap.


"Kenapa-kenapa dan kenapa! Alex harus menikahi wanita yang bahkan tidak sebanding denganku!" teriak kesal Erika. Dia marah dengan sikap Alex yang merugikan nya dan dia marah karena Alex lebih memilih menikah perempuan yang bahkan tidak memiliki nilai lebih seperti nya. Membuat Erika ingin mencabik-cabik perempuan yang ada dihadapannya saat ini.


Memperlihatkan kepada Alex bahwa dirinya lebih baik dari perempuan yang akan dia nikahi. Memperlihatkan bahwa pilihannya salah dan memberi tau bahwa dirinya yang lebih baik dari siapapun.


"Aarghhh!" ringis Cyla saat merasakan rambutnya seakan-akan dicabut dari tempatnya.

__ADS_1


"Pfftt hahahaha" tawa Cyla di sela-sela ringgisannya. Matanya menatap tajam ke arah Erika. Dia pikir wanita yang dinikahi Alex dulu adalah wanita yang sepeti apa. Tapi sayangnya imajinasi nya harus menghilang seketika saat mengetahui bahwa mantan istri laki-laki itu sepeti ini.


"Ke...kenapa kau tertawa?" gugup Erika dan berhenti menjambak rambut Cyla. Dia meneguk Saliva nya pelan. Tatapan mata perempuan yang tadinya hangat dan manis itu berubah menjadi mengerikan. Sorot matanya seperti orang yang memandang rendah sesuatu. Ditambah senyuman tipis milik perempuan tersebut membuat Erika sedikit merinding.


"Benar ternyata kau memang gila" sindir Cyla. Sudah lama dirinya tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar karena larangan Alex. Tapi manusia memiliki batas kesabarannya sendiri bukan?! dan juga Alex tidak ada di sini. Jadi biarkanlah dirinya mengeluarkan kalimat kasarnya bahkan jika orang-orang akan berpikir aneh tentangnya.


"A..apa maksudmu?" gugup Erika


"Ternyata kau benar-benar gila, Erika" ulang Cyla sambil tersenyum.


"Kau mengatakan aku gila, apa kau tidak salah!!" ucap Erika tidak terima. Bahwa perempuan yang lebih rendah dari dirinya mengatakan dirinya gila. Seharusnya bukan perempuan yang ada dihadapannya ini yang mengatakan ia gila tetapi dirinya.


"Ya kau benar aku tidak salah, aku... aku yang mengatakan kamu gila! kamu seorang wanita gila yang mengharapkan apa yang bukan miliknya! Seorang wanita yang meninggalkan laki-laki yang mencintainya dan lebih memilih selingkuhan nya dan kau Erika Mertinez yang merupakan seorang wanita yang tak memiliki harga diri! Seorang wanita yang ingin mengambil apa yang sudah dibuangnya, bukankah itu sama saja dengan..." ucapan Cyla terhenti dia menarik nafasnya pelan. Menatap tajam ke arah Erika dan mengeluarkan senyuman manisnya.


"Sampah, rendahan" lanjut Cyla penuh penekanan. Kalimat panjang lebar yang dia ucapkan sama dengan kalimat yang sering diucapkan oleh kalangan muda di negaranya dulu. Andai saja dia bukan berasal dari negara Indonesia sudah dipastikan kalimatnya tidak sepedas ini. Tapi sayangnya dia lahir di negara Indonesia dan dibesarkan dari negara Indonesia. Dimana pemahaman dan kalimat miliknya lebih pedas dari orang-orang yang ada di luar sana. Penyuka cabai rawit dan memiliki lidahnya yang tajam itulah Cyla saat di Indonesia.


"Kau...kau dasar j*l*ng! aku akan membunuhmu!" teriak Erika tidak terima. Kedua tangannya mengurung leher milik Cyla, mencekik Cyla. Emosinya semakin tidak bisa dikontrol dan membuatnya ingin membunuh Cyla secepatnya. Sebelum suara berat dari laki-laki itu membuat ruangan tersebut kembali hening.


"Erika, bukannya sudah ku katakan untuk bersabar" ucapnya


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


β€’Jangan Lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:


My Ex Secretary


β€’Oh ya fakta kalimat pedas Cyla, author dapatkan dari kehidupan author yaa. Dimana 7 dari 10 anak kalangan muda sering begitu. Ingat 7 banding 10 ya jadi bukan semuanya.


Jadi jangan terasa kesindir okay^^ mohon pengertiannya dan jangan hujat author hahahaha.

__ADS_1


Sampai jumpa besok lagi^^ Sayonara~


__ADS_2