
Mobil Alex berhenti di depan mansion, langkah kakinya membawanya ke ruangan dimana di sana ada suara tawa yang sangat dia kenal. Kemarin dia tidak tidur di mansion melainkan tidur di apartemen milik Leon untuk merencanakan beberapa hal.
Di saat pintu ruang keluarga terbuka terlihat tiga orang dan beberapa pelayan berada di dalamnya. Tiga orang yang sedang duduk dengan santainya mengeluarkan beberapa kata candanya. Hingga Alex mengeluarkan suara miliknya dan membuat ruangan yang hangat tersebut menjadi diam.
"Aku kembali" ucap Alex yang tidak di jawab oleh siapapun kecuali pelayan.
"Selamat datang, tuan Alex" ucap para pelayan menanggapi, mereka menunduk hormat dan kembali melakukan pekerjaan masing-masing di dekat sana.
Alex yang merasa heran dengan ketiga orang yang tidak menyambutnya seperti biasa. Bila ibunya maka akan ada tawa kegembiraan, bila Cyla suara hangatnya yang kadang menembus hati sedangkan anaknya pasti dengan suara dingin dan tatapan tajam miliknya.
"Ada apa kenapa kalian diam saja?" tanya Alex heran. Tetapi ketiga orang tersebut tidak mempedulikan dan memulai obralan mereka kembali.
"Oma apa Oma kenal orang yang dari tadi bicara dengan kita?" tanya Rei sambil menatap ayahnya.
"Tidak Oma tidak kenal dengan orang yang pulang pergi tanpa izin dan belum memberikan penjelasan kepada calon istrinya sendiri" sindir Irene pedas.
"Kalau mommy?" tanya Rei ke arah Cyla.
"Mungkin mommy tidak penting untuk hidupnya" jawab Cyla sendu. Jawaban yang membuat Alex langsung berjalan ke arah Cyla dan menggenggam tangan perempuan tersebut.
"Cyla jangan percaya dengan perkataan mom" pinta Alex.
"Tapi bukannya faktanya begitu" ucap Cyla membuat Alex memeluk perempuan yang ada di hadapannya dengan erat.
"Jangan seperti ini Cyla aku.. aku akan menjelaskan nya" ucap Alex terbata-bata. 'Sial benar kata kakaknya Cyla ternyata, sial. Tapi kenapa aku merasa bahu Cyla bergetar' pikir Alex aneh. Dirinya berpikir bahwa Cyla menangis karena dia yang tidak bertanggung jawab. Namun ekspetasi tidak sebanding dengan realitanya bukan, dimana Cyla malah mencoba menahan tawanya.
"a..ada apa?" tanya Alex bingung dan disambut oleh tawa merekah dari Cyla.
"pfft hahahaha hahaha" tawa Cyla.
"Oma perkataan Oma benar tentang cinta kadang membutakan perasaan" ungkap Rei yang ada di samping Ibunya.
__ADS_1
"Tentu saja lihat wajah bingung dan khawatir nya itu haha" ucap Irene yang juga tertawa. Alex yang bingung hanya bisa menyaksikan kedua orang yang tertawa sambil duduk di sebelah Cyla menyenderkan kepalanya tepat di bahu perempuan tersebut. Tidak lama setelah itu Irene menjelaskan apa yang terjadi dan cukup membuat Alex sadar bahwa ibunya mulai bermain-main lagi.
Flashback On~
Cyla, Irene dan Rei sudah selesai menonton konferensi pers yang dilakukan oleh Erika. Memberikan tanggapan dan pertanyaan yang ada di otak masing-masing.
"Apa aku saja yang merasa wartawan itu sangat pandai?" ucap Rei yang curiga dengan wartawan laki-laki berkacamata.
"Memang kenapa?" bingung Cyla.
"Itu..."
"Sudah-sudah daripada membahas masalah wartawan dan masalah wanita itu lebih baik kita melakukan hal yang menyenangkan" ucap Irene mengentikan pembicaraan yang dirinya juga tidak ingin mendengarnya. Dirinya terlalu malas mendengarkan tanggapan untuk wanita itu lebih banyak lagi. Karena baginya sudah cukup menonton konferensi pers secara langsung yang membuatnya ingin muntah.
"Hal yang menyenangkan?" bingung Cyla dan Rei bersamaan membuat Irene hanya tertawa ringan.
"Skenario?"
"Apa Oma tidak ingat yang waktu itu di saat Oma membuat skenario sakit, tetapi malah ketahuan oleh Daddy bahkan tidak perlu waktu 5 menit" ungkap Rei yang mencoba mengingatkan neneknya yang lebih sering bersikap kekanak-kanakan.
"Itu kan pas dia dalam kondisi orang normal, sedangkan sekarang dia sedang dalam kondisi cinta ya tepatnya mungkin cinta buta" jelas Irene yang yang yakin skenario kali ini akan berhasil.
"Huft... seterah saja aku ikut mommy yang pasti" pasrah Rei. Irene yang mendengar jawaban cucunya bersemangat dan menjelaskan beberapa hal untuk dipermainkan.
Flashback Off~
Hal tersebutlah yang membuat Cyla dan Irene tertawaan melihat tingkah lucu milik Alex. Jarang-jarang seorang CEO yang dikatakan adalah laki-laki dingin dan memiliki tatapan yang tajam menjadi lembek karena takut calon istrinya salah paham.
"Jadi mom telah merencanakan ini semua dan Cyla juga ikut membantu" dingin Alex.
__ADS_1
"Tentu sa..." ucapan Irene terpotong dimana dia merasakan aura dingin dari anaknya. Aura yang sama dengan suaminya dan bahkan bisa menembus tulang rusuk.
"Mom hanya bercanda Alex, jangan marah dan jangan bilang Daddy mu okay" minta Irene jika dia ketahuan membuat anak dan colon nya bertengkar. Maka dirinya harus siap-siap seharian di dalam kamar bersama suaminya, entah berapa ronde nantinya.
"Kalau begitu aku akan ambil Cyla" ucap Alex lalu menggendong Cyla ala bridal style. Membawa Cyla yang sedang melambaikan tangannya.
"Hati-hati Cyla, maaf mom tidak bisa membantu" ucap Irene pelan.
"Tidak apa-apa Rei akan menyusul" ucap Rei yang membuat Cyla hanya bisa tersenyum pasrah. Calon ibu mertuanya yang memberikan ide dan malah dia yang akan diberikan hukuman. Padahal dia hanya menjalankan rencana itu saja.
Entah apa yang akan terjadi bila Alex sudah menurunkan dirinya di suatu tempat. 'Aku berharap tidak akan terjadi apapun' harap Cyla dalam hati dan minat dimana dia sudah menaiki beberapa anak tangga yang artinya cuma ada beberapa ruangan di atas.
Ruangan kerja Alex, Ruang tamu, Kamar Alex dan kamar Rei yang berarti di salah satu ruangan tersebut Cyla akan memasukinya dan dia mati-matian berharap agar pikirannya salah. Namun sia-sia saja karena matanya sudah melihat pintu bewarna hitam yang merupakan pintu kamar Alex.
'Ahh tidak mungkin ini terjadi seperti di drama-drama yang ku tontonkan" jerit Cyla dalam pikirannya.
ππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya :
My Ex Secretary
β’Apa yang bakal dilakukan Alex dan Cyla di dalam kamar?
a. Saling bertukar pendapat.
b. Melakukan penjelasan.
c. Membuat anak?!
d. Memberikan Cyla hukuman romantis.
__ADS_1