My Hot Daddy

My Hot Daddy
Bab 182


__ADS_3

"Halo, ini siapa yaa?" tanya Bu Panti dan saat itulah Alex mengetahui kesalahan nya.


'Sial aku lupa aku tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia' ucap Alex dalam hati. Dia melupakan sesuatu yang penting yaitu dia tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia sedangkan istrinya berasal dari Indonesia. Jelas membuat Alex kesusahan dan tidak bisa berbicara dengan orang panti asuhan.


Saat pikiran Alex dilanda kebingungan dan telpon miliknya masih berbunyi di saat itulah Leon datang ke hadapan nya. Seperti seorang pahlawan yang membantu seseorang yang sedang dalam kesulitan.


"Alex aku sudah mendapatkan bukti..." belum selesai Leon mengucapkan kalimatnya sebuah telpon langsung diberikan kepadanya.


"Hah?" bingung Leon dan melihat wajah kebingungan Alex.


"Cyla dalam kondisi darurat dan membutuhkan riwayat penyakit miliknya untuk melihat dia mengidap sakit apa. Setelah itu aku menelepon panti asuhan yang merawat Cyla tetapi aku lupa aku tidak bisa berbahasa Indonesia" jelas Alex cepat dengan wajahnya yang murung. Leon yang melihatnya hanya bisa terkekeh kecil minat wajah Alex yang mirip seperti anak anjing dengan mata berkaca-kaca.


'Pffft, dek dimana kamu memungut anak anjing ini haha' tawa Leon dalam hatinya. Dia menyerahkan map yang dia bawa dan mengangkat telpon menggantikan Alex yang tidak menggunakan bahas Indonesia.


"Halo? apa masih ada orang di sana?" tanya Bu Panti bingung.


"Ah ada-ada Bu, perkenalkan nama saya Leon" ucap Leon memperkenalkan dirinya.


"Ada apa yang menelpon saya, nak Leon?" tanya Bu Panti.


"Apa Bu Panti tau Cyla mengidap penyakit apa?" tanya balik Leon.


"Saya bisa mengatakan nya tetapi nak Leon punya hubungan apa dengan nak Cyla ya" ucap Bu Panti.


'Seperti dugaanku Cyla masih belum menjelaskan dengan orang tua asuhnya' ucap Leon dalam hati.


"Ehem saya temannya Bu dan sekarang saya membutuhkan riwayat penyakit yang dimiliki oleh Cyla" jelas Leon.


"Oh temannya saya kira siapa" kekeh Bu Panti.


"Sebenarnya Cyla memiliki penyakit asma dan membuatnya sulit bernapas saat kecil, dikarenakan dia dikunci oleh temannya di lemari baju" jelas Bu Panti.


"Tetapi penyakit asmanya sudah tidak pernah kambuh lagi karena dia menjaga pola makan dan raganya, memangnya ada apa ya nak?" tanya Bu Panti.


"Ah .... baiklah terimakasih Bu, saya hanya ingin bertanya kali-kali ada hal darurat" ucap Leon.

__ADS_1


"Oh baiklah kalau begitu saya matikan dulu ya, ada yang bangun dari tidurnya" ucap Bu Panti.


"Maaf menggangu" ucap Leon dan mematikan teleponnya. Leon mengatakan kepada Alex penyakit yang pernah dimiliki oleh Cyla. Walaupun wajah Alex sedikit marah saat mendengar tunangannya itu terkunci di lemari saat kecil. Tetapi Alex bisa menahannya dan mengatakan kepada perawat yang sedang berlalu lalang di sana.


Kemudian, semua proses pengobatan Cyla dilakukan dan pemasangan alat-alat maupun pelepasan juga dilakukan. Mementingkan kesehatan pasien dan penyakit yang dimiliki oleh pasien. Semua yang ada di dalam ruangan bernuansa putih itu penuh dengan orang-orang yang berusaha menormalkan kondisi pasien.


Sedangkan dua orang yang sedang berada di luar ruangan darurat sedang menyelesaikan masalah tentang Felentino.


"Apa ini semua yang sudah kalian dapatkan?" tanya Alex dingin. Walaupun wajahnya berekspresi dingin tapi kebenarannya hatinya saat ini sedang kalut dan memikirkan kondisi kesehatan Cyla.


'Apa semuanya berhasil? kapan Cyla bangun?' pikir Alex yang semakin khawatir.



Beberapa menit kemudian suara langkah kaki mendekat ke arah mereka, dengan suara yang serupa seorang anak kecil memanggil Alex.


"Daddy, dimana mommy?" tanya Rei dingin.


Dia baru saja datang ke rumah sakit bersama neneknya. Melihat kondisi ayahnya yang menggunakan baju yang di warnai merah darah sambil berdirinya di ruangan darurat. Jelas membuat Rei khawatir dengan kondisi ibunya dan tidak ingin memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi.


"Astaga Rei kenapa kamu cepat sekali berjalannya, Oma jadi ketinggalankan" ucap Irene yang baru sampai.


"Maaf oma" singkat Rei.


"Dan juga Alex ganti baju yang kotor itu dengan baju baru dimansion" pinta Irene.


"Tapi mom..."


"Dad sudah menunggumu di mansion dan ada mom bersama Rei di sini" potong Irene.


"Huft baiklah, kabari aku jika Cyla sudah sadar" pasrah Alex dan pergi ke luar ruang sakit bersama Leon. Meninggalkan beberapa penjaga di depan ruangan rumah sakit untuk menjaga mereka dan beberapa orang lainnya kembali ke Mansion.


Di Mansion~


Alex, Leon, Rangga dan Mex yang sudah sampai berjalan memasuki ruangan bawah tanah mansion yang sudah lama tidak pernah digunakan lagi.

__ADS_1


Suara teriakan dari orang-orang yang kesakitan menggema di ruangan bawah tanah tersebut. Suara kesakitan karena tulang mereka dipatahkan dan suara tembakan untuk membuka mulut lawan juga terdengar di sana.


Hingga sampai mereka sampai ke salah satu sel yang memperlihatkan kondisi Felentino. Dimana peluru yang ada di perutnya sudah di keluarkan dan saat ini dengan infus yang terpasang di tangannya. Laki-laki itu berbaring di kasur tahanan dengan santainya.


"Sepertinya kamu tidak pernah menyesal dengan apa yang kamu dapatkan, Felen" dingin Alex saat memasuki sel yang dijaga ketat.


"....."


"Hah sia-sia aku bicara dengan orang yang tuli" sindir Alex dan keluar dari sel tahanan.


"Apa aku terlihat harus menyesal?" tanya Felentino balik. Dia menatap punggung Alex dingin, walau dirinya terluka tegap saja jiwa pemberontak nya tidak akan pernah memaafkan laki-laki yang ada di hadapannya.


"Jika kau memiliki hati maka kau akan menyesal dan jika kau tidak memiliki hati tidak perlu menyesal di sini karena tahanan di ruangan sana lebih baik untuk kamu tinggali" jelas Alex yang menandakan bahwa dirinya akan bawa masalah ini ke pengadilan.


"Sayangnya hatiku telah hancur saat ibuku melakukan itu kepadaku" ungkap Felentino. Dia menutup matanya dengan sebelah tangan yang tidak dipasang kampus. Wajah ibunya yang dulunya penuh dengan kasih sayang masih dia ingat sampai sekarang. Hanya saja saat dia mengingat wajah dengan kasih sayang itu pasti akan ada wajah ibunya yang selalu menyiksanya seperti binatang.


'Sial! aku ingin membunuhnya' pikir Felentino.


"Kau harus bersyukur aku tidak melakukan TKP kepadamu" ucap Alex yang sudah keluar dari sel tahanan dan menatap Felentino.


"Ya... ya aku akan bersyukur karena hari ini aku bisa melihat wajahmu yang menyedihkan itu dan aku bersyukur bisa melihat tunanganmu jatuh ke dalam laut" ucap Felentino tidak peduli dengan kebaikan hati Alex kepadanya.


"Kau...." tunjuk Alex.


"Pergilah kembali ke pelukan ibumu, aku ingin muntah melihat wajahmu lebih lama sepupu" ucap Felentino dan membalik tubuhnya.


"Yang lainnya selesaikan eksekusi dan untuk tanda bukti kita bicarakan di lantai atas" perintah Alex dan berjalan ke luar penjara bawah tanah. Meninggalkan Felentino yang menggerutu di samping dinding tahanan.


'Satu pion lagi yang kau lupakan Alex' smirk Felentino.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


β€’Jangan Lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:


My Ex Secretary

__ADS_1


β€’Yang gak suka baca silahkan mundur alon-alon, author gak maksa^^ Sayonara~


__ADS_2