My Hot Daddy

My Hot Daddy
Ep. 17


__ADS_3

James memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum kita mengakhiri sisa malam ini di rumahnya. Dia mengemudi dengan tangannya yang masih berada di pahaku.


Dia menyeringai, tahu kalau aku masih merasakan sentuhan kecilnya.


"Laura, kau baik-baik saja?" Dia menggodaku. Kami baru saja tiba di tempat parkir garasi gedung restoran. Jendela-jendelanya berwarna gelap, dan di luar jug mulai gelap.


"Aku baik-baik saja James," Kataku, terengah-engah. Dia ingin membantuku melepaskan sabuk pengamanku, tapi aku menolak.


Tangannya mukai membelai buah dadaku sampai ke pinggulku, sementara bibirnya semakin dekat dengan telingaku. Dia kemudian berbisik dengan suara serak yang mendalam. "Apa kau yakin sayang? Kau terlihat kebingungan?" Aku tidak tahan lagi. Aku akhirnya menyebut namanya.


"Tidak, James. Aku tidak baik. Aku ... aku menginginkanmu. Bisakah kita pergi saja ke rumahmu langsung?" Aku merengek, menyerah pada sentuhannya dan dia menyeringai padaku.


"Sabar Laura." Dia mulai mencium leherku, lalu turun ke dadaku, dia menjilat ke arah garis bra-ku. Blus berpotongan rendahku jelas menguntungkannya. Aku melengkungkan punggungku mencoba mendapatkan lebih banyak sentuhannya. Aku bisa merasakannya tersenyum di belakangku.


"Apa kau sudah terangsang? Biarkan aku merasakanmu." Dia tidak menunggu jawabanku dan dengan cepat membuka kancing celana jeansku dan menyelipkan tangannya dan menyentuhku, kewanitaanku mulai basah, membuatnya tersenyum. Tapi dia melakukan hal yang tidak terduga; dia mengancing kembali celana jeansku.


"James!" Aku merengek lagi, mataku membelalak melihat dia menjilat jari-jarinya.


"Lezat. Hahah. Ayo, kita makan malam dulu. Lalu aku akan menyantapmu sebagai makanan penutup." Dia mengedipkan mata padaku, dan memberiku ciuman. Aku pasrah dan mengikutinya keluar dari mobil.


Kami baru saja mau menghabiskan makan malam kami. Tiba-tiba aku mendengar ibuku, memanggil namaku. "Astaga!" Gumamku rendah. Aku memasang wajah tersenyumku yang terbaik dan menyapanya.


"Ibu."


James terkejut dengan salamku terhadap ibuku.


"Laura, Ibu lihat kau baik-baik saja. Baju yang bagus nak, sangat cocok untukmu." Aku tegang, di bawah tatapannya.


"Ya ibu."


James memanggil pelayan dan memberinya kartu kredit emasnya. Dia memainkan ponselnya, jelas menghindari percakapan kami.


"Ayo Laura, kita pulang." Aku bisa merasakan kalau James kesal denganku.


"Maaf, ibu, aku harus pergi." Aku bahkan tidak repot memperkenalkan James.


Aku menghela napas masuk ke mobilnya. "Maaf soal ibu ku. Dia bisa ...."


"Kau seharusnya tidak boleh membiarkan orang lain menginjak harga dirimu. Bahkan jika itu adalah orang tuamu sendiri. Kau lebih baik dari dia. Aku kesal denganmu Laura."


"Maaf." Aku merasa diriku sudah tak berharga lagi. Tapi entah bagaimana saat James menyebutkan kalimat itu. Itu lebih menyakitkanku.


Aku menangis.


"Sayang, dengarkan aku. Aku tidak kesal denganmu, aku ingin kau menjadi dirimu sendiri. Aku kesal karena kau di remehkan orang lain, maksudku ibumu. Kau harus membela dirimu sendiri. Adriana sudah memberitahuku tentang alasan kau bergabung dengannya. Itu sebabnya aku sangat kesal saat dia memperlakukanmu seperti itu. Dia tidak punya hak, tidak lagi. Mereka sudah punya keluarga baru sekarang. Kau harus mandiri, tidak hanya bijaksana secara finansial tapi juga secara mental." Dia membelai pipiku, lalu menanamkan ciuman lembutnya di rahangku.


"Jadi, kau harus baik-baik saja. Aku juga membutuhkanmu, untuk membicarakan masalah orang tuamu ini, dengan psikiatermu pada hari Sabtu. Aku sudah mengecek pesanmu. Terima kasih untuk itu."


"Ya. Aku baik-baik saja. Kau masuk akal juga. Aku mengerti. Tidak perlu lagi kita bicarakan hal ini, bicara tentang orang tua dengan psikiater di hari sabtu. Jadi, bisakah kita pergi ke rumahmu sekarang dan kemudian meniduriku? Aku sudah terlalu banyak bicara soal kehidupanku dan sekarang aku benar-benar bersemangat karena pria sepertimu menghidupkanku kembali."


Wajahku memerah dan berusaha mempertahankan kontak mataku dengannya. Dia tertawa dan menderu-deru mesin mobilnya, kemudian melaju melebihi batas kecepatan yang diizinkan ke rumahnya.


Aku terkejut melihat rumahnya. Tidak terlalu mencolok seperti mobilnya. Aku sebenarnya menyukainya. Garasinya penuh dengan mainannya. Jadi, aku senang mengetahui kalau barang-barangnya yang mencolok, berada di sisi lain rumah.


"Jadi, sampai di mana kita tadi?" Dia ada di belakangku, tas-tasku di dekat pintu. Aku berbalik menghadapnya, dan melingkarkan lenganku ke bahunya.


"Di sinilah, kau harus menciumku James." Dia tertawa kecil dan menundukkan kepalanya ke arahku. Bibirnya menyentuh bibirku, perlahan sampai kami berdua terengah-engah dan bernapas dengan kasar.


"Kamar tidur, kamar pertama di lantai atas di sebelah kanan. Aku akan mengambil barang-barangmu dan mengikutimu."


Dia menjatuhkan barang-barangku di lantai kamarnya beberapa menit kemudian. Aku mengagumi pemandangan kamarnya dari balik balkonnya. "Ini kamarmu James? Sangat indah, rumahmu indah sekali. Bahkan tamannya terlihat sangat terawat dengan baik."


"Kau lebih indah dari semua yang ada di sini, sayang." Tangannya menjuntai di bawah blusku, dan dia membuka bra ku dan membelai ****** dadaku. Seketika aku terangsang. Aku mengerang namanya dan menekankan punggungku ke tubuhnya, saat dia menempelkan batangannya yang keras di belakangku.


Dia mengambil tanganku dan membimbingku ke tempat tidurnya, sementara dia melepas blus dan braku dalam sekali jalan. Aku terkikik dan tersipu malu. "Bagus Laura, kita sudah melakukan banyak hal, dan wajahmu masih memerah setiap kali kita mau bercinta."


Dia mendorongku ke tempat tidur. Aku ada di bawahnya, dan dia mulai membuka pakaiannya.


Setelah itu, dia perlahan membuka kancing celana jinsku, dan menyelipkan tangannya di bawah celana jins dan celana dalamku. Dia mulai meniduriku dengan tangannya, sementara dia melebarkan kakiku dengan lutut. Ciuman kami menjadi lebih panas, saat kami berjuang untuk mengendalikan diri. Aku mencapai klimaks dalam waktu singkat, terengah-engah di bawahnya. Turun dari sentuhannya. Dia akhirnya menelanjangiku, dan merentangkan pahaku.


Dia tertawa saat aku menjerit, merasa malu dan mencoba menutup kakiku. "Laura, biarkan itu tetap terbuka. Aku akan menjilat punyamu. Lalu aku akan menidurimu. Aku akan membuatmu meneriakkan namaku berulang kali."


Dia melakukan hal itu. Kemudian dia membawaku ke kamar mandinya dan meniduriku lagi di dinding kamar mandi. Berteriak dan merintih namanya berulang kali. Suaraku sudah serak.


"Astaga James, sudah. Tolong ..." aku memohon saat dia membawaku ke tempat tidur.


"Ssst, diamlah. Sekali lagi sayang. Hanya berbaring saja Laura, aku senang kalau kita berdua klimaks bersama. Dia menciumku dengan napsu , meredam teriakan dan rintihanku dengan ciumannya yang dalam, sampai dia mengerang keras dan kami berdua klimaks bersama. Dia memberiku ciuman terdalam, lalu aku tertidur lelap sejenak setiap kali aku bersamanya, kemudian bangun duduk dan dipeluk dalam pelukannya.


"Kau adalah , milikku."


Setelah aku tertidur semalaman, selepas kami bercinta. Dia membangunkan ku keesokan harinya, dia terlihat tampan setelah mandi. Dia mematuk pipiku, aku panik dan menutup mulut, takut akan napas pagiku. Dia terkekeh dan mengangkatku ke kamar mandinya dan memberi ku sikat gigi cadangan dan meninggalkan ku untuk melakukan bisnis pagiku.


Aku kembali ke kamarnya, dan dia memberiku tangannya. Aku mengikutinya karena sarapan kami sudah diletakkan di atas meja balkonnya. "Aku meminta pelayan untuk membawanya saat kau masih di kamar mandi. Dua jam lagi aku berangkay, cepatlah sarapan." Dia menyuruhku duduk.


Aku masih malemakai setengah pakaian, aku tersipu. Malu duduk dengan pantat telanjangku, di kursi balkonnya. "Oh, Laura, aku pasti merindukan wajahmu. Kuharap aku bisa membawamu bersamaku akhir pekan ini. Kemarilah, sayang."


Aku duduk di pangkuannya, wajahku memerah lebih dalam. "James, aku nanti merusak celanamu. Aku belum berpakaian."


"Astaga Laura, tidak masalah, aku tidak bisa melepaskan tanganmu. Aku akan terlambat sayang. Sekarang, ayo makan saja. Aku selalu bisa menggantinya nanti." Kami sarapan bersama, tertawa dan berbicara. Tangannya menguasaiku. Tapi akhirnya kami berhasil menyelesaikan sarapan kami.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mengganti pakaianmu, aku akan mengantarmu ke apartemenmu, lalu aku akan pergi ke bandara. Tinggalkan saja barangmu di sini untuk sementara waktu. Pembantu akan mencuci pakaianmu yang lain." Aku mengangguk dan tersenyum padanya, aku melepaskan diriku dari pangkuannya.


Aku kembali ke apartemenku satu jam kemudian. Aku sudah menghabiskan beberapa hari terakhirku dengannya, dan itu berdampak mendalam padaku. Dampak seksual yang dalam. Aku belum pernah se-liar ini dengan Richard, aku sudah tidur dengannya selama dua tahun. tapi tidak sebanding dengan beberapa hari bersama James.


Aku segera mandi untuk menepati janjiku dan tiba dalam sepuluh menit kemudian. Aku memutuskan memeriksa ponselku. Tiba-tiba aku merasa kehilangan sosoknya, aku memutuskan untuk mengiriminya pesan.


'Hei kau. Sekarang aku ada di psikiaterku, aku masih punya beberapa menit untuk giliranku masuk. Aku kepikiran denganmu saja jadi makanya aku sms kamu. Miss U.'


Jawabannya datang beberapa detik kemudian.


'Hei sayang, pesawatku sudah mau terbang. Aku akan mengirimimu sms nanti, setelah aku tiba dalam beberapa jam. Aku merindukanmu juga.'


Dr. Evan merasa geli padaku. Dia senang bertemu dengan James. Tapi dia tidak tahu kalau James adalah Sugar Daddy ku. Aku mulai bercerita tentang apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Dengan Richard dan dengan ibu yang meremehkanku. Evan senang kalau aku memiliki seseorang yang mendukungku dan mengatakannya padaku untuk tidak melukainyam


Sesampainya di apartemenku, aku akhirnya mengatur pengeluaran ku, membayar tagihan rumah sakit, jasa pembantu, buku sekolah, aku membatasi diri untuk pengeluaran itu. Kemudian aku browsing di internet, untuk peluang bisnis yang memungkinkan.


Pikiranku bolak-balik pada situs sewaan, aku punya tas, koper, dan banyak sebagian darinya, seluruh ruangan penuh dengan barang mewahku, dan aku tahu aku akan mendapatkan lebih banyak uang dengan menyewakan semua barangku itu, daripada menjualnya dengan setengah harga tidak memiliki keuntungan lebih.


Sial! Sebenarnya aku bisa melakukan ini! Dan bisa menghasilkan banyak uang dari ini.


Aku menghabiskan sisa hariku menjelajahi situs lain yang menawarkan hal yang sama. Memeriksa kompetisi, peluang, dan pasar. Kemudian aku mulai mendaftar hal-hal yang harus aku periksa sebelum terjun ke bisnisku. Tapi aku pikir itu hal yang baik, karena hanya memiliki risiko yang rendah, aku tidak perlu lagi modal besar. Aku bahkan bisa mulai menjalankannya, jika aku memutuskan untuk melakukan ini secara online.


Alarmku berdering, saatnya membuka kulkas. Aku mengambil bir dan bersantai sambil mengirim pesan pada James.


'Hei, aku sudah ada di apartemenku. Aku juga sudah ke psikiater ku, dan sudaj membayar beberapa tagihan termasuk layanan pembantu. Sekarang aku sedang mempertimbangkan untuk membuka sebuah bisnis dengan risiko rendah, dan pastinya aku mau meminta pendapatmu terlebih dahulu dengan yang satu ini, saat kau kembali.'


Dia membalas pesanku setengah jam kemudian.


'Hei sayang, aku baru saja mendarat. Senang mendengarnya. Pendapatku sudah pasti. Senang kau kau membayar beberapa tagihan. Jauh di lubuk hatiku berharap kau membuat kesalahan jadi kau akan siap untuk diskusi denganku, Ohyah akan segera ada rapat, aku akan menghubungimu malam ini.'


Aku terkikik membuka pesannya. Aku tiba-tiba merasa cemas menunggu panggilannya malam ini. Aku dengan cepat beralih dan fokus kembali ke rencana bisnisku. Mencoba mencatat semua hal penting. Dan semua pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada James, tentang membangun bisnis.


Merasa bersemangat, aku bahkan tidak menyadari kalau aku sudah berada di depan laptopku selama berjam-jam sekarang. Leherku menjadi kaku. Jadi aku memutuskan untuk berendam air panas, dan bersantai dengan segelas anggur. Aku meletakkan ponselku di bangku samping bak mandi dan mulai bersantai.


"Hei, teddy bear..."


Enam kali panggilan telepon tak terjawab dari Jerri. Dia mantan pacarku waktu SMA, tapi sekarang dia menjadi sahabatku.


"Jerri! Ya Tuhan! Sudah bertahun-tahun yah! Bagaimana bisa kau mendapatkan nomorku ?!" Aku menjerit padanya.


"Aku Jerri si kutu buku yang kau cintai, dan sangat kau kagumi semasa SMA. Aku mencari nomormu, saat berjalan-jalan di taman."


"Pfft ... Kau seperti Jerri si penguntit. Tapi ya aku mencintaimu. Kau tahu aku masih melakukannya! Jadi ... apa kau kembali ke Amerika sekarang? Atau kau sudah ada di Jerman?"


"Sebenarnya aku sudah kembali ke Jerman, sejak kemarin. Sekarang, aku dalam perjalanan menjemputmu untuk pergi minum bir dan aku tidak akan membiarkanmu menolakku. Jadi pakailah sepatu, aku akan berada di sana dalam lima menit. "


Merasa terlalu bersemangat, aku segera menutup telepon dan mengganti pakaianku, dan memakai sepatuku. Dia memanggilku lagi, dan mengatakan kalau dia sudah ada di depan pintuku.


"Jerri !!"


"Laura, sayang, kau terlihat cantik seperti biasa. Suatu hari nanti, kau akan mengembalikanku menjadi kurus lagi." Katanya. Aku memukul lengannya dengan main-main.


Aku terkejut saat aku melihat tanda itu. Pelaut. Lingkungannya semua terlihat jantan, tapi sangat bagus dengan beberapa dekorasi sehingga terlihat mencolok.


"Jerri! Kau benar-benar membawaku ke bar! Brengsek!" Aku memeluknya erat-erat, membuatnya tertawa terbahak-bahak.


Jerri adalah salah satu dari mereka, cowok dengan otot-ototnya yang jelas, rahang yang dipahat, tatapan jantan, belum lagi kaki dan pantatnya yang kencang. Oh ya, juga lengan- lengannya yang seksi. Kau akan berpikir dua kali, jika ingin mengajaknya untuk berkelahi.


"Biarkan malam ini menjadi malam yang indah." Dia mulai memberi kami tempat duduk, dan membawa bir yang kami dapatkan sebelumnya dari bar. Syukurlah aku tidak mengenakan gaun pendekku, hanya beberapa jeans desainer dan atasan berkilauan, dan sebuah pompa Manolo yang benar-benar seksi. Orang-orang menatap kami, tentu saja menatap ke arah Jerri.


"Jadi, katakan padaku. Apa yang membawamu kembali? Jangan bilang, kau sudah bertemu seseorang dan akan menikah, dan hidup bahagia selamanya dengan wanita itu?" Kataku. Wajahnya mengatakan itu semua.


"Apa-apaan... Jerri . APA !! Selamat !!" Aku berteriak padanya. Dan dia tertawa keras. Orang-orang menoleh ke arah kami sekarang.


"Sorry boys! Mari beri tepuk tangan untuknya dan pengantin wanitanya!" Aku berdiri dan mengangkat gelasku ke Jerri. Dia tertawa, berterima kasih pada semua orang atas sorakan mereka. Kami akhirnya duduk kembali.


"Oh, btw, aku akan menunjukmu menjadi pendampingku di pesta pernikahanku. Aku sangat mencintaimu, baby bear." Dia mematuk pipiku dengan penuh kasih.


"Jadi. Bagaimana denganmu? Adakah hal yang istimewa akhir-akhir ini?" Lalu aku memberitahunya tentang orangtuaku, Richard, sahabatku, dan juga tentanh James. Tapi aku tidak memberi tahu dia kalau James adalah Sugar Daddy ku, karena alasan tertentu.


"Oh, sayang, aku minta maaf! Seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Tapi kedengarannya bagus jika kau dengan cowok bernama James itu?" Aku mengangkat bahu padanya.


"Ya aku rasa begitu, tapi aku tidak ingin meninggikan harapanku. Ada beberapa hal yang agak menyebalkan di akhir bulan ini. Tapi sekarang kau di sini !! Kau pasti menyukainya! Jadi kapan aku bisa bertemu dengannya? Kita bisa berkencan ganda, dengan cowok pasaran yang kaya rayamu?" Aku tertawa mendengar dia menyebut James, sebagai pria pasaran.


"Yah kita bisa, tapi aku harus memeriksa jadwalnya. Aku akan mengirimkanmu pesan nanti. Dia sedang berada di luar negeri, sepanjang akhir pekan ini. Mungkin aku akan bertemu dengannya pada Minggu malam, atau kemungkinan Senin. Dia sangat sibuk."


Kami bicara sangat banyak, dan tertawa terbahak-bahak, aku minum sangat banyak bir dan sayap ayam datang, ke meja kami. Perutku terasa penuh saat meninggalkan bar.


Langkah kami terasa ringan, saat itu aku menyelinap ke arah tumitku, dan pergelangan kakiku terasa terkilir. Tersa sakit sekali.


"Astaga! Oke kita pergi ke ruang gawat darurat dulu. Ayo bersandar padaku sayang, mobilku ada di sini."


Beberapa jam kemudian...


Sopirnya membawa kami kembali ke apartemenku setelah kunjungan darurat kami, ke rumah sakit. Dia membawaku kembali, dengan aman ke apartemenku.


Dia mendudukkanku di tempat tidur. Dan membawakanku segelas air dari dapur. Saat itulah teleponku berdering. Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas.


Astaga! Pasti James.

__ADS_1


"Hei sayang, Lagi apa?"


"Hei, James. Ya, aku ..." Aku mencoba memberi isyarat pada Jerri dengan tanganku untuk tutup mulut. Tapi dia sedang melihat obat-obatan, yang kami dapatkan sebelumnya.


"Sayang, ini airnya sekarang kau harus minum obat ini di pagi hari oke, jangan lupa. Aku akan ...." Dia akhirnya tutup mulut dan diam dengan mulutnya.


Pecah!


"Laura siapa itu? Apa ada seorang pria di kamar tidurmu di..... jam dua belas." Dia menghitung selisih waktu kami, lalu mengerang. Dia terdengar kesal.


"Itu Jerri. Tunggu. Dia baru saja pergi ..." Aku tidak menutup telepon dengan sengaja sehingga dia bisa mendengarkanku.


"Kurasa, aku harus meninggalkanmu. Aku akan menemuimu besok, oke? Panggil saja aku jika kau butuh bantuan, oke? Aku selalu memiliki waktu di akhir pekan. Rawatlah dirimu baby bear." Dia menciumku selamat malam, dan membiarkan dirinya keluar.


"Jadi, ya .. Jerri memanggilku sore ini dan kami pergi ..."


"Siapa itu Jerri?" Dia terdengar marah, gelisah, berusaha menahan emosinya.


"Jerri itu mantan pacarku waktu SMA, tapi sekarang dia menjadi sahabatku. dia berada di kota ini untuk pernikahannya, dia ingin aku menjadi pendampingnya saat dia menikah dan sekarang dia ada di sini karena tadi kita habis minum terlalu banyak bir dan pergelangan kakiku terkilir, dia tadi sedang membantuku sebelum dia kembali pulang. "


"Maaf sayang karena menuduhmu, kurasa aku capek. Jadi, kau mau bertemu dengannya lagi besok?"


"Ya, sekitar jam sepuluh pagi dengan organisator pernikahannya. Lagi pula, dia ingin bertemu denganmu. Aku bilang aku akan memberitahumu dulu. Aku tidak yakin dengan situasi kita. Aku tidak menceritakan apa pun tentang kita padanya. Tenang saja."


"Jadi sekarang pergelangan kakimu bagaimana? Apa sudah membaik sekarang? Mungkin seseorang harus tinggal bersamamu."


"Aduhh James yang perhatian. Kami tadi sudah pergi ke unit gawat darurat dan mendapatkan perban elastis untuk pergelangan kakiku, dan beberapa obat pereda sakit untuk besok, aku masih penuh dengan bir sekarang. Jadi, bagaimana harimu?"


"Membosankan. Aku merindukanmu. Aku akan kembali besok. Aku akan mencoba untuk datang ke pertemuanku. Terus aku berkemas besok, dan setelah aku kembali kau akan tinggal bersamaku. Aku akan merawat pergelangan kakimu sampai kamu merasa lebih baik. "


Baiklah kalau begitu...


"Morning, Teddy bear. Aku sudah ada di depan pintumu membawakanmu kopi dan roti." Jerri menelponku dan membangunkanku pada jam tujuh, kepalaku agak mual dari tadi malam.


"Aku bangun, sabar.... tunggu, biar aku yang bukakan pintu untukmu. Tapi tunggu sebentar, aku berjalan dengan lambat, sabar ya Jerri. Masih terlalu pagi." Aku melontarkan kata-kataku ke telepon, dan memaksakan diriku.


Akhirnya aku sampai di pintu, dan disambut oleh Jerri dan sepaket sarapannya. "Jerri ... kau masih mengingatnya." Aku memeluknya dan menariknya ke dalam rumah. Perlahan aku duduk, di bangku dapur.


Waktu kami berpacaran dulu, ada toko roti yang aku sukai. Breadsugar. Dia dulu selalu membawaku ke sana, setiap kali kami memiliki kesempatan.


"Mmm ... Ya Tuhan! Sama seperti yang dulu. Kau harus membuat roti ini sebagai kue pernikahanmu nanti. Aku akan memilih ini." Dia tertawa dan mencium pelipisku dengan penuh kasih, sementara aku mengunyah rotiku.


"Ini baby bear. Aku senang melihatmu memakan roti ini." Dia mengacak-acak rambut pagiku, dan aku menyeringai padanya.


"Bagaimana pertemuanmu dengan.... siapa pun.... waktu kita...." Aku bertanya dengan mulut masih penuh dengan roti.


"Laura, kau selesaikan makanmu dulu. Lalu minum obat. Kemudian mandi. Lalu kita pergi oke? Kita harusnya sudah bersiap-siap, sekarang waktunya sudah jam sembilan. Kita akan makan siang dengan Renata. Dia pasti senang bertemu denganmu."


"Ya, baiklah" Aku cemberut berlebihan, membuatnya tertawa.


Lalu dia memelukku. Oh, aku merindukannya. Aku merindukan kita. Aku menghirup bau parfumnya. "Aku selalu suka, karena kau berbau seperti musim semi, yang segar."


"Aku rindu pelukan beruangmu, Laura. Sekarang, mengunyah lah dengan pelan. Aku ingin membalas beberapa pesan dulu, sementara kau makanlah dan bersiap-siap." Dia menepuk bagian atas kepalaku seperti seorang ayah pada anaknya. Aku tersenyum, dan terus mengunyah dan minum kopiku.


Kami akhirnya tiba tukang penjahit, dan bertemu dengan penyelenggara pernikahannya, wanita kecil yang menarik itu tampak seperti terlalu banyak mengonsumsi kafein. Matanya lebar, gerakannya liar di semua tempat, saat dia menjelaskan segalanya padaku. Aku hanya mengangguk padanya, dan memintanya untuk menyalin semuanya dan mengirimkannya ke email ku. Aku pikir, aku akan membacanya nanti dan menyesuaikan semuanya dengan jadwalku.


Jadi sekarang aku sedang dipasangkan sebuah gaun "Bagaimana penampilanku Jerri ?!" Aku menyeringai padanya.


"Cantik seperti dulu. Itu salah satu gaun yang paling seksi yang pernah kulihat. Ini cocok untukmu. Pastikan panjang gaunnya bagus yah selutut lah. Akan ada alkohol di sana, dan aku tidak ingin kau jatuh pada hari pernikahanku." Hari pernikahannya tinggal beberapa bulan lagi.


"Ya, Big Teddy bear !!" Aku berteriak padanya. Dia tertawa keras dari kamar lain. Dia masih berdiskusi dengan perancang busananya. Tidak seperti Renata, dia tampak sangat boros. Aku bisa mendengar Jerri hanya bilang tentang dekorasi saja, Aku tidak habis pikir kalau pernikahannya bisa menjadi perayaan yang besar. Tapi aku belum bertemu dengan Renata


Aku baru saja selesai mencoba gaunku tiba-tiba James menelepon.


"Aku di tukang penjahit dengan Jerri, rupanya aku butuh gaun indah untuk jadi pendampingnya bulan depan." Aku terkikik padanya.


"Aku rindu mendengar kau tertawa Laura, aku menyelesaikan pertemuanku dulu kemudian langsung pulang. Aku akan menelepon saat aku kembali ke kota dan memberitahumu di mana kita akan bertemu. Aku masih tidak yakin soal jadwalku."


"Ya aku juga, kita akan bertemu dengan Ryu, juga pengantin wanitanya untuk makan siang. Mungkin kita akan bertemu besok?"


"Aku mau menggunakan jet carteran, dan aku akan tiba lebih cepat. Aku sangat lelah dan merindukanmu. Jadi aku berharap kita bisa makan malam, di rumahmu atau rumahku, aku tidak peduli. Aku hanya ingin tinggal untuk makan malam lalu langsung menidurimu. Mungkin, tidak pasti harus bercinta denganmu dulu lalu makan malam lalu bercinta lagi, aku mau bercinta denganmu di mana-mana Laura. Aku merindukanmu. Aku harus pergi. Sampai jumpa malam ini! "


Dia tidak menunggu jawabanku. Ini seperti yang kalian rasakan saat kalian berada di akhir cerita, semacam saat kalian sendirian menonton film, kemudian listrik tiba-tiba padam. hahaha. Terasa tergantung karena ponselku, mulut terbuka; masih syok.


"Oh, tidak! Aku tahu ekspresi itu!" Jerri menertawakanku.


"James, dia baru saja menelepon. Dia menyewa jet dan pulang sore ini. Katanya dia merindukanku, dan tampaknya mau meniduriku di semua tempat, dirumahku, dan dimana-mana" Aku menghela nafas memandang Jerri dengan penuh kerinduan.


Dia menertawakanku, dan menyuruhku membeli ****** yang banyak. Yah sebenarnya itu ide yang bagus, dan membeli obat sakit untuk pergelangan kakiku.


Kami melanjutkan hari itu dengan makan siang, dan bertemu Renata. "Ya Tuhan! Jerri dia sangat cantik, dia akan menjadi best-girl terbaik untukmu." Dia menarikku ke pelukannya. Dia sedikit lebih pendek dari Jerri, jelas sangat cantik, dia seperti model iklan wanita yang kalian serinh lihat di papan iklan, bersih, ramping, juga tinggi dan wajah yang indah.


Aku tersipu di bawah tatapannya. "Kalian terlihat cocok, kau sangat beruntung Jerri. Kau sempurna untuknya Renata. Oh, aku sangat bahagia untuk kalian." Aku menyeka air mata bahagiaku.


"Ya Tuhan, aku tidak percaya kalau mantan kekasihku saat SMA sudah mau menikah. Apa pun yang ada dalam diriku, yang membuatnya sadar kalau dia pasangan yang terbaik, sebaiknya kau berterima kasih padaku Renata!" Aku bercanda membuat semua orang tertawa.


"Jadi, kau sudah mengkonfirmasinya? Jerri bilang kita akan bertemu dengan pria pasaran itu." Aku tertawa dan menganggukkan kepala.


"Aku sudah mengecek jadwalnya pagi ini, kupikir dia bebas di hari itu. Tapi aku harus memastikan dia sudah mencatat jadwalku terlebih dahulu, sebelum diisi dengan janji temu yang lain. Jadi aku akan menghubungimu untuk yang satu itu."

__ADS_1


"Baiklah, sekarang mari kita memesan sesuatu dan setelah itu kita bisa mencoba makanan penutup. Kita masih belum menyetujui kue yang tepat, Renata, atau sayangku yang masih muda di sini akan menggunakan hak veto-nya untuk bread sugar sebagai kue pengantin kita."


Aku tertawa sangat keras, orang-orang mulai menatap ke arah meja kami. Aku tidak bisa berhenti tertawa, melihat kengerian di wajah Renata, mendengar tentang bread sugar sebagai kue pernikahannya.


__ADS_2