
Di Tempat Lain~
ruangan putih itu berbau obat-obatan dan infus terpasang di tangannya. Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan wajah seorang laki-laki yang sangat tenang. Matanya menatap tajam ke arah pasien yang tertidur di atas ranjang rumah sakit. Laki-laki itu baru menyelesaikan beberapa hal untuk mengkonfirmasi hal yang diperbuat oleh wanita tersebut tapi sayangnya usahanya hanya sia-sia dan tidak membuahkan hasil apapun.
Beruntungnya tempat yang dia pinjaki saat ini dijaga oleh keamanan dan para wartawan maupun reporter tidak bisa masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia harus menyelesaikan semuanya tanpa mengotori tangan miliknya dan tentunya dia tidak ingin membuat dirinya banyak rugi lagi.
"Aku tau kau sudah bangun, Erika" ucap Felentino yang masuk ke dalam ruangan kamar rumah sakit. Saat ini dia sudah berada di rumah sakit dimana Erika dirawat dan Nadya manajernya itu sudah lari dengan uang yang ada dan tidak mempedulikan Erika. Perempuan yang menjadi manager Erika itu tidak sanggup lagi mengurus Erika dan melarikan diri dengan uang yang dia miliki.
Tapi bukan Felentino jika dia tidak bisa menangkap perempuan itu dan menahannya di penjara bawah tanah miliknya. Dia harus menggunakan pion yang ada sebaik-baiknya dan tidak akan membiarkan pion-pionnya melarikan diri sebelum dia mendapatkan keuntungan.
"Cih"
"tidak perlu berdecih dan tidak perlu menunjukkan sikap ketidaksukaan mu itu. Seharusnya kamu senang aku datang ke sini dan khawatir kepadamu" tegur Felentino yang duduk di samping Erika.
"Dimana Nadya?" tanya Erika. Dia harus melepaskan amarahnya kepada managernya itu. Berani-beraninya perempuan itu memasukkan nya ke dalam ruangan yang berisi lebih dari 4 laki-laki. 'aku akan membuatmu membayarnya, Nad' pikir Erika kesal
"Nadya? siapa itu?" tanya Felentino pura-pura tidak tau.
"Apa kamu lupa dengan bawahanmu, Nadya manager ku masa kamu lupa" kesal Erika yang sudah membuka selimutnya. Pakaian rumah sakit murahan yang tidak mengenakkan saat di pakai sudah membuatnya kesal dan sekarang sikap Felentino yang menyebalkan membuatnya tambah marah.
"Oh maksud mu Nadya yang itu, dia sudah kabur bersama uangmu" jawab Felentino santai. 'walaupun aku sudah menangkap nya kembali' lanjut Felentino di dalam hati. Tidak mungkin dia mengatakan nya secara langsung dan membiarkan pion-pionnya bertindak dengan bebasnya.
"apa maksudmu dia lari dengan uangku?! beraninya dia!" pekik Erika kesal.
'ya Erika keluarkan terus amarahmu dan biarkan aku memanfaatkan ke amarahanmu itu sebagai keuntunganku' smirk Felentino.
"Ya dan juga apa kau tau bahwa ada seseorang yang menyebarkan video di internet dan mengunggahnya sebagai keuntungan nya" pancing Felentino.
"Jangan bilang Nadya juga yang melakukan nya! sial aku akan mencabik perempuan itu!" kesal Erika dan melempar selimut miliknya. Dia ingin menarik infus yang terpasang di tangan kanannya tapi sebuah tangan menghentikan gerakannya dengan lembut.
"sabar Erika aku akan memberitahu mu jika kau mendengarkan ku terlebih dahulu" bisik Felentino dan menahan tangan kiri Erika yang ingin mencabut infus di tangan kanannya.
"Baiklah tapi kau harus janji membunuh orang tersebut" ucap Erika.
"Aku... bukannya lebih baik jika itu menggunakan tangan mu sendiri" ucap Felentino yang mengeluarkan sebuah pistol yang dia sembunyikan di samping saku nya dan dibalik jasnya itu. Pistol bermerek Smith & Wesson 500 Magnum itu merupakan pistol yang memiliki kecepatan tembak 632 meter per detik. Jika orang yang handal atau sudah terbiasa menggunakan nya tentu saja akan sangat mudah untuk menembak ke arah target tetapi untuk orang yang tidak memiliki keahlian dan baru mencoba pertama kalinya pastinya memiliki cedera dan sedikit bengkak karena dorongan yang berasal dari gerakan menembaknya.
__ADS_1
Tapi bagi Felentino itu hanyalah hal biasa karena yang dia korbankan adalah Erika bukan dirinya. Jadi yang terluka berat mungkin Erika bukan dirinya.
"ini pistol bukan?" tanya Erika tidak percaya dan memegang pistol tersebut.
"Tentu saja kau ingin membalas mereka bukan, mereka yang telah membuat hidupmu menjadi seperti ini" bisik Felentino.
"Memang siapa orang yang melakukan hal ini? seharusnya mereka tau aku bukan?!" tanya Erika.
Felentino yang mendengar pertanyaan Erika hanya bisa menyunggingkan senyum nya. Sedikit lagi Erika akan kena jebakannya dan wanita ini akan melakukan hal kotor yang akan membuatnya rugi tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
"Mantan suamimu" bisik Felentino tepat di telinga milik Erika. Gertakan gigi yang dilakukan Erika, matanya yang penuh dengan amarah dengan cepat mencabut infus dan berdiri dari ranjang rumah sakit.
"Alexander Johnson" gertak Erika. Dirinya tidak pikir Alex, orang yang mencintainya dan menggila-gilainya itu menyerangnya dari belakang bahkan melakukan hal yang seperti ini.
"Hush tenang Erika, kamu bisa membunuh orang itu dengan mudahnya" ucap Felentino menenangkan Erika.
"tidak aku harus membunuh laki-laki itu sekarang! bagaimana bisa dia melakukan itu padaku!" teriak Erika.
"Tentu saja datang ke mansion miliknya dan membunuh laki-laki itu dihadapan keluarganya dan menyiarkan nya ke seluruh penjuru dunia sambil berkata Pemimpin John's company sudah mati!" jelas Erika sambil tertawa lantang. Ya dia akan membunuh laki-laki itu dan tidak akan membiarkan laki-laki itu dengan mudahnya bahagia di saat dirinya sedang menderita. 'aku akan membunuhnya ya aku akan membunuhnya!' pikir Erika.
"Bukannya itu sama saja dengan bunuh diri" ucap Felentino.
"Bukan aku yang mati tapi dia, dia!" lantang Erika tidak terima.
"Ya kau ingin membunuh Alex tapi kau harusnya sadar jika kau menginjakkan kaki di kediaman itu nyawamu sudah tiada! Sebelum kamu sempat membunuh laki-laki itu!" tekan Felentino.
"Tidak-tidak aku harus memikirkan nya, bagaimana aku harus membunuh laki-laki itu" gerutu Erika dan menggigit jarinya. Tidak, Erika tidak akan membiarkan dirinya mati terlebih dahulu sebelum laki-laki itu mati mengenaskan.
"Jika kau bingung aku akan memberitahumu caranya" ucap Felentino.
"Bagaimana bukannya katamu itu sama saja dengan bunuh diri?!" bingung Erika.
"Kau tidak harus membunuh Alex secara langsung tapi kau bisa membunuh orang yang dia sayangi" jelas Felentino. Kadang-kadang orang yang di sayangi merupakan kelemahan milik orang dan sekarang Alexander Johnson memiliki kelemahannya sendiri.
__ADS_1
"Irene tidak mungkin wanita paruh baya itu jarang keluar mansion kecuali acara tertentu dan suaminya ku dengar pergi ke luar negeri, sisanya Rei tapi yang ku tau anak itu memiliki 98% sikap seperti ayahnya" gumam Erika. Dia mengetahui berita-berita terbaru selama dia berada di Spanyol dan melihat berita tentang keluarga laki-laki itu sesekali. Tapi jika dia pikir ulang semua orang itu sama saja berada di dalam mansion.
"Ada yang kau lupakan, Erika" ucap Felentino yang dari tadi mendengarkan gumaman perempuan itu.
"Siapa?"
"Calon istrinya" senyum Felentino. Ya orang yang akan menjadi belahan jiwa Alex dan merupakan satu-satunya perempuan yang bisa membuat Alex menyukainya.
"Rosena Cylame" ucap Erika yang baru menyadari dan mengingat nya. Dia mengingat wajah dan nama perempuan itu, perempuan yang baru-baru ini sudah masuk ke dalam layar televisi maupun internet. Calon istri dari pemilik perusahaan John's Company.
"Ya kau betul dan seharusnya kau tau bukan dia orang seperti apa?" smirk Felentino.
"Tentu saja orang biasa yang bahkan berada di bawahku" jawab cepat Erika.
"Bukan itu maksudku, maksudku seharusnya kau tau bukan dia orang yang mudah untuk di apa-apakan" jelas Felentino sekali lagi. Erika yang mendengar pernyataan itu tersenyum lebar. Wajahnya berseri-seri dan dengan kepalan yang kuat dia sudah meremas pintol tersebut kuat.
"Kau benar seharusnya aku membunuh perempuan itu dan menikah dengan Alex lalu membuat Alex hidup dalam ke kangganku" smirk Erika. Roh jahat memasuki tubuhnya membuat pikirannya menjadi licik dan ingin berbuat jahat. Dia akan membalas semua perbuatan yang dilakukan Alex dan akan membuat orang tersebut sengsara karena kematian calon istrinya.
"aku akan membantumu dan kau hanya perlu datang ke alamat yang telah ku tentukan." jelas Felentino.
"kemudian aku akan menyelesaikan nya dalam satu tembakan" lanjut Erika yang memahami perkataan Felentino.
"Ya, kau benar Erika satu tembakan" senyum Felentino.
'cukup satu tembakan yang akan membuatmu masuk ke dalam penjara dan aku akan melihatnya dalam bayangan saja' lanjut Felentino di dalam hatinya. Pion-pion yang telah dia dapatkan akan dia gunakan dan akan membuat dirinya mendapat kan keuntungan.
'biarkan aku melihat kesengsaraan mu lagi, Lex' smirk Felentino.
ππππππππππππππ
β’Jangan Lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary
β’Hohohoho konflik bakal dimulai lagi nih dan juga jangan hujat aku wahai readers
__ADS_1
(;Β΄ΰΌΰΊΆΠΰΌΰΊΆ`)aku janji ini bakal jadi konflik terakhir kok jadi sabar ya dan kalau mau emosi, emosi( ΰ² ηΰ² ) aja di kolom komentar biar aku baca dan jadikan semangatku (>Ο<).