
William benar-benar terlihat seperti orang gila saat ini. Bagaimana bisa Derry pergi berkencan tanpa memikirkan dirinya di apartemen sendirian.
Dia sangat stres berada di apartemen ini sendirian. Andai saja dia bisa melakukan panggilan video dengan Olivia mungkin tidak akan sesuntuk ini dirinya.
" Aaahhkkk... Olivia...." William berteriak layaknya orang gila yang tidak memiliki arah dan tujuan hidupnya saat ini.
Dia benar-benar buntu tanpa Olivia di sisinya. Dan satu-satunya orang yang bisa membuatnya terhubung dengan Olivia saat ini tengah menikmati kencannya bersama Derry.
" Kenapa mereka lama sekali pulangnya ? tidak tahu bahwa mereka bahwa aku sangat merindukan Olivia ? " William berbicara pada dirinya sendiri.
Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya saat ini karena dia benar-benar sangat merindukan Olivia. dia sangat merindukan Olivia-nya, kekasih hatinya dan ibu dari anaknya.
William sangat merindukan wanita berperut buncit tersebut. Dia merindukan hari-harinya bersama Olivia saat mereka tertawa dan bersikap manjanya Olivia.
" Sampai kapan ini akan berakhir ibu ? aku benar-benar merindukan Olivia. " Dia kembali berbicara pada dirinya sendiri untuk meluapkan kekesalan hatinya saat ini.
Karena tidak tahan lagi dengan rasa rindu yang menyesakkan ini, akhirnya dia menghubungi ibunya.
Dia akan berusaha melakukan negosiasi bersama sang ibu untuk bisa bertemu dengan Olivia. setidaknya jika tidak memberikan izin untuk bertemu Olivia biarkan dia mendengarkan suaranya saja agar hatinya benar-benar tenang saat ini.
" Ibu...." William langsung merengek saat panggilan telepon darinya diangkat oleh sang ibu.
Sementara nyonya Matilda sendiri yang mendengar suara rengekan William seperti itu pun merasa jengah. Kenapa anaknya ini benar-benar menggilai Olivia ? tidak bisakah putranya ini menahan rasa rindu itu sebentar saja ?
" Jangan merengek seperti itu jika tidak ingin ibu membuat mu semakin jauh dari Olivia. "
" Ibu...." Bukannya menurut William malah semakin menjadi-jadi.
Dia semakin mempermainkan ibunya dengan rengekan-rengekan manja yang sangat dibenci oleh wanita itu. Berharap apa yang dilakukannya ini bisa membuat hati ibunya luluh dan membiarkan yang mendengarkan suara Olivia sebelum dia tidur.
" Sudah ibu katakan jangan merengek seperti itu. Usia mu sudah tidak pantas lagi untuk merengek seperti itu karena sebentar lagi kau akan kembali menjadi ayah. Jadi bersikaplah selayaknya. " Tegas nyonya Matilda.
__ADS_1
Sementara William sendiri dia tidak terlalu peduli lagi dengan semua itu karena yang diperlukannya saat ini adalah, bagaimana caranya dia bisa mendengar suara Olivia.
William tidak minta lebih, setidaknya biarkan dia mendengarkan suara Olivia saja dia sudah sangat bahagia.
Kenapa hidupnya di persulit seperti ini oleh ibunya sendiri ?
" Ibu, tolong biarkan aku menghubungi Olivia. biarkan aku mendengarkan suara manjanya. aku benar-benar merindukannya ibu. " Terdengar helaan panjang nafas nyonya Matilda di sambungan teleponnya.
William sendiri tahu bahwa saat ini ibunya tengah berpikir keras bagaimana caranya agar William mengerti. Dia melakukan ini semua demi kebaikan mereka.
Karena dia sangat berpegang teguh pada tradisi orang tua zaman dulu. Dia berharap bahwa William dan Olivia tidak akan merasakan hal yang pernah dirasakannya juga.
Untuk itu dia melakukan semua ini. Untuk putra dan putrinya.
" Tolong mengerti ibu William. Ibu melakukan ini semua demi dirimu dan juga Olivia. Ibu tahu bahwa kau sangat merindukannya tapi kau juga harus berpikir, biarkan Olivia beristirahat dengan tenang sampai hari pernikahan kalian tiba. Tidak lama lagi William, 2 hari dari sekarang kau akan sah menjadi suami Olivia dan kau akan bebas melakukan apapun bersamanya. Kau bisa mencurahkan rasa kasih sayang dan rindu yang kau pendam selama ini. Tolong William hanya 2 hari saja. " Akhirnya William pun mengalah karena dia tahu apa yang dilakukan ibunya saat ini itu semua demi kebaikan mereka.
Maka dari itu dia lebih baik mengalah saja pada ibunya dan biarkan ibunya yang mengurus semua tentang pernikahan mereka nantinya.
" Kau merindukan Olivia tapi tidak merindukan ibu mu. Dasar anak durhaka! "
" Ibu, Bukan begitu maksud ku ibu--"
Tut!
Nyonya Matilda langsung mematikan sambungan telepon dari putranya karena dia sudah terlanjur kesal dengan putranya itu.
William sendiri yang mendapatkan sindiran pedas dari ibunya hanya bisa menghela nafasnya saja.
Ternyata ibunya juga cemburu dengan Olivia yang mendapatkan begitu banyak perhatian darinya. Sementara ibunya sendiri, William tidak terlalu memberikan perhatian itu.
Ibu, maaf 🥺
__ADS_1
Hanya itu yang bisa di tulis William di ponselnya dan langsung mengirimkan pesan tersebut pada ibunya.
Nyonya Matilda sendiri yang mendapatkan pesan seperti itu dari William hanya bisa tersenyum saja karena mendapatkan pesan seperti itu dari putra tercintanya.
Dia begitu berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan William. Tidak ada kata terlambat dalam kehidupan selagi mereka ingin memperbaiki diri dan berusaha lebih baik lagi.
Dan itulah yang dipegang teguh oleh nyonya Matilda hingga saat ini.
" Dasar pria bodoh. " Umpatnya sambil tersenyum membaca pesan dari putranya.
William yang tidak mendapatkan balasan apapun dari ibunya semakin frustasi. Dia sudah sangat merindukan Olivia ditambah lagi dengan ibunya yang merajuk seperti itu. Dan hal ini benar-benar membuat dirinya stres.
" Tuan..." Melihat Derry yang baru saja pulang dari kencan, membuat emosi William langsung memuncak begitu saja.
" Sialan kau, bajingan, bangsat, brengsek..." Derry kewalahan sendiri untuk menangkis dan menahan serangan dari William.
Bukan sebuah pukulan keras tapi, sebuah pukulan bantal yang membuatnya benar-benar kewalahan untuk menghindari semua itu.
" Tuan, sudah saya minta maaf Tuan. Saya tau saya salah tapi tolong hentikan ini. " Mendengar permintaan maaf dari Derry membuat emosi William semakin membara.
" Maaf kata mu ? Tidak! Aku tidak akan memaafkan mu begitu saja. Aku tidak akan memaafkan mu sialan. Rasakan kau! Rasakan ini semua. " William pun kembali menghajar Derry hingga membuat keduanya berakhir terkapar di atas karpet bulu setelah perang banyak tersebut.
" Hah, nafas ku rasanya tinggal nol koma sekian saja. Aku benar-benar lelah. " Nafas William berlarian setelah apa yang dirasakannya saat ini.
" Bukan hanya anda saja Tuan, tapi saja juga. " Jawab Derry yang tak kalah lelahnya dengan William saat ini.
Mereka berdua sibuk mengatur nafas dan berbaring telentang di atas karpet bulu malah itu.
Keduanya sama-sama mencoba menenangkan diri tanpa sadar keduanya tertidur di sore hari karena memang Derry yang baru saja pulang karena mengantar Elisa yang seharian ini membuat kepalanya ingin meledak saat itu juga.
...💦💦💦...
__ADS_1