
Pertanyaan demi pertanyaan mulai dijawab oleh Erika. Dengan acting yang handal dengan mudah Erika mengelabui para wartawan. Wajah tanpa dosa, yang disakiti ataupun tangisan ketakutan.
"Hiks hiks saya benar-benar minta maaf, jujur saya tidak tau apa-apa" tangis Erika di depan para wartawan. Dia sudah membintangi banyak film dan serial drama membuatnya dengan mudah memanipulasi setiap wajah yang dia keluarkan.
Dari mata yang menurun 35° dan membiarkan bibirnya melengkung kebawah ditambah getaran tubuh yang ketakutan. Air mata yang dia keluarkan dari permainan yang sering dia lakukan di depan kamera saat melakukan shooting. Dengan mudah Erika keluarkan dan membuat para wartawan mempercayai semuanya.
Sampai di waktu yang sudah menunjukkan pertengahan momen wawancara. Seorang wartawan yang tidak memiliki sikap disiplin dan tidak mudah percaya. Mulai mengeluarkan pertanyaan yang tajam.
"Jika bukan anda yang melakukan nya lalu siapa yang melakukannya?" tanya wartawan tersebut.
"I..itu'" gugup Erika. Pertanyaan wartawan yang tidak terduga olehnya bahkan tidak ada di naskah yang sudah dibuatkan oleh manajer nya. 'Sial siapa wartawan ini membuatku susah saja' ucap Erika dalam hati dengan penuh rasa kekesalan. Jika ini bukan publik sudah dia lemparkan sepatu hak miliknya tepat di wajah wartawan yang sedang memulai pertanyaan.
"Jika bukan anda apa orang lain yang sama dengan anda? Bukankah dari bentuk wajah, potongan rambut, bentuk tubuh bahkan suara merupakan milik anda Nona Erika?" lanjut Wartawan tersebut dan membetulkan kacamata miliknya.
"Maaf itu mungkin saja orang yang kembar dengan artis saya. Anda tau bukan di zaman yang canggih ini banyak orang yang bisa memanipulasi bentuk apapun" ucap Nadra membantu Erika menjawab pertanyaan yang tidak dia sangka akan ada. Sebagai Manajer Erika tentunya dirinya tidak ingin rugi dan harus membantu reputasi artisnya kembali seperti semula.
"Kalau anda berkata bahwa zaman modern mampu membuat bentuk berubah, bukankah ini aneh" ungkap Wartawan terus tak ingin kalah.
"Maksud anda?" bingung wartawan lain yang ada disampingnya.
"Seperti ini zaman modern memang menghasilkan teknologi yang hebat. Namun apa kalian sadar bahwa postur tubuh, suara, potongan rambut tidak bisa berubah." jelas wartawan tersebut.
"Walaupun teknologi itu ada tetap saja itu menggunakan aplikasi dan tidak akan semudah itu. Seharusnya kalian semua yang ada di sini mengetahui untuk mengedit atau memanipulasi semua hal membutuhkan banyak waktu dan di video maupun gambar kalian bisa melihat waktu yang diambil." lanjut Wartawan tersebut dengan percaya diri.
Semua wartawan dan semua orang yang ada di sana mulai membuka handphone miliknya. Mencek semua foto dan video yang tertera tanggal pengambilan nya, bahkan ada yang baru diambil malam tadi. Suara penjelasan terdengar kembali dari mulut wartawan yang menggunakan kacamata miliknya.
"Jika anda lihat maka harusnya anda percaya tapi jika kalian semua masih tidak percaya tidak mungkin bukan orang-orang yang pernah tidur dengan nona Erika ada dua di dunia ini?" jelas wartawan dan mengakhiri nya dengan wajah yang penuh kepercayaan diri.
"Itu..." ucapan Erika langsung dipotong oleh para wartawan yang mempertanyakan semuanya. Penjelasan dari salah satu wartawan terbukti benar dan orang-orang yang tidur dengan Erika jelas-jelas adalah orang yang memiliki kuasa. Dari dunia perfilman, hotel, atau pengusaha. Orang-orang yang pernah tidur dengan Erika tidak mungkin ada dua dunia terlebih ada Felentino Richard. Pemilik industri perbintangan yaitu tempat lahirnya artis model maupun penyanyi bergengsi.
Erika menggengam kedua tangannya, menekan setiap jarinya untuk menembus kulit tangan miliknya. Dirinya tidak tau ini semua akan terjadi, membuat emosinya ingin keluar dan tidak bisa bertahan.
__ADS_1
'Sial-sial' geram Erika. Telinganya mendengar semua pertanyaan demi pertanyaan secara acak. Semua mulut seakan sedang menguji dirinya untuk menjawab pertanyaan dari orang-orang yang ada di hadapannya. Hingga semua emosi yang dirinya rendam sekuat-kuatnya tidak bisa menampung lagi.
"Nona.. nona" panggil wartawan-wartawan yang ada di hadapannya.
Brak*
Suara gebrakan meja mensunyikan ruangan konferensi pers tersebut. Dengan kamera yang menyala dan mic yang masih ada di atas meja. Erika mengeluarkan emosi dan menunjukkan sikap yang sebenernya.
"Bisakah kalian diam! sial siapa kalian hingga bertanya hal-hal ini terus! kalian bukan siapa-siapa untukku, bahkan kalian hanyalah segelintir sampah jika dibandingkan dengan ku! Dasar manusia yang tidak berguna!" emosi Erika dan berjalan keluar ruangan. Dirinya tidak peduli apapun dia hanya ingin menumpahkan semua emosinya.
Seakan-akan urat malunya sekarang sudah lepas dan tidak mempedulikan yang terjadi. Manager Erika terus menerus memanggil nama Erika untuk kembali, tetapi tetap saja Erika dengan tegas melangkahkan kakinya keluar.
"Erika! Erika!" panggil Nadra yang tidak di dengar sama sekali oleh Erika. 'Ahh dasar Erika!" pikir Nadra kesal dengan cepat berlari keluar. Meninggalkan wartawan yang mulai berbisik-bisik.
'*Apa itu sikap asli aktris yang katanya akan dinobatkan menjadi aktris terkenal?
'Aku tidak peduli apapun tapi ini akan menjadi berita terbaik'
'Kau benar mari kita kembali*'
Mobil tersebut berjalan keluar dari jalan sempit dan pergi menuju sebuah apartemen. Di dalam perjalanan laki-laki berkacamata tersebut melepaskan kacamata miliknya dan melepas wig yang dia pakai. Tangannya menekan beberapa angka dan menelpon seseorang.
"Kerja bagus" ucap seseorang di sebrang sana.
"Ingat tuan gaji saya harus dinaikkan 4× lipat dan jangan lupa liburannya. Anda tau perintah anda membuat paru-paru saya bernafas lebih cepat dari biasanya" ucap wartawan tersebut.
"Tenang saja Rangga aku akan memberikan mu gajih, bahkan calon adik ipar ku akan memberikan mu mobil sport berwarna hijaunya" santai laki-laki di seberang sana.
"Baik-baik saya menanti mobil saya, tuan Leon." ucap Rangga dan mematikan teleponnya. Rangga menyamar menjadi wartawan berkacamata, dirinya harus pergi dengan cepat dai apartemen menuju ruang konferensi pers. Jika bukan karena perintah tuan dan embel-embel gaji tidak mungkin dia membahayakan dirinya sendiri.
Flashback on~
Mereka bertiga fokus menonton televisi hingga Leon memecah kefokusan dengan ide-ide anehnya.
__ADS_1
"Rangga pergi ke acara itu" ucap Leon sambil menunjuk televisi yang sedang menayangkan konferensi pers milik Erika.
"Hah?!" terkejut Erika.
"Cepat ke sana dan jangan biarkan wanita yang akan menggangu adikku untung di wawancara ini" perintah Leon.
"Tidak-tidak saya tidak ingin" tolak Rangga cepat.
"Boleh juga idemu" setuju Alex sambil menggangukkan kepalanya.
"Ap.. tidak!" tolak Rangga lagi.
"2×" ucap Leon
"Tidak" tolang Rangga
"3×" ucap Leon.
"Tidak" tolak Rangga lagi.
"4× dan liburan" ucap Leon.
"Baiklah deal, ingat jangan dilanggar" terima Rangga dan menjabat tangan tuannya.
"okay deal"
Flashback Off~
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
•Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary
__ADS_1
•Dikasih 2 sama 3 gak mau, tapi pas dikasih angka 4 tambah liburan baru mau Rangga. Emang ya Rangga gaji naik 4× plus liburan bisa bikin dia mau melakukan hal apapun.
Ada yang mau jadi Rangga?