
"Perkenalkan nama saya Lionard Dicapri, ayah Leon sekaligus pemilik villa ini, salam kenal semuanya" ucap Lion dan mengeluarkan senyuman yang anggun. Rambut putih yang ada di rambutnya tidak memperlihatkan ketuaan. Dimana aura dan poros wajahnya terlihat muda dan penuh dengan wibawa. Membuat orang-orang yang ada di sana terkesima
"Tidak perlu menyebar pesona tuamu itu yah" sindir Leon yang sudah terbiasa melihat wibawa ayahnya dan mengganggap itu biasa saja. Terutama membuatnya sedikit jengkel karena setiap ayah nya menyebarkan pesona pasti ada orang yang akan terkesima dengannya. Padahal umur yang dimiliki ayahnya sangat tua sekali.
"Huh, ternyata anak laki-lakiku terlalu iri dengan aura milikku. Apa jangan-jangan kamu tidak memiliki aura sampai iri dengan ayah tuamu ini?" smirk Lion.
"Cih, lebih baik hentikan kepribadian bintang terlalu percaya diri itu dan mulai membahas tentang ibu" kesal Leon yang langsung masuk ke ruang keluarga. Meninggalkan ayahnya yang penuh dengan kebanggaan dan selalu mengejek anak paling sulungnya (tertua/ anak pertama).
"Psst, uncle Rangga apa uncle Leon memang seperti ini saat di rumah?" bisik Rei.
"Bukan hanya di rumah tapi tuan Leon akan mengeluarkan sikap seperti itu saat bersama ayahnya dimana pun berada" jawab Rangga yang sudah hidup bersama atasannya bertahun-tahun dan menemani atasannya di setiap langkah. Rei yang mendengar jawaban dari asisten pamannya hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Sekali lagi minta maaf atas ketidak nyamannya dan mari kita ke dalam untuk membicarakan beberapa hal" jelas Lion yang mempersilahkan tamunya masuk.
"Kalau begitu maaf menggangu" sopan Cyla dan ikut masuk ke dalam. Alex dan Rei yang berdiri di belakang Cyla mulai mengekori Cyla dan berjalan masuk ke ruangan yang tadi di masuki oleh Leon. Meninggalkan Rangga yang pergi mengurus barang-barang atasannya kembali.
Di Dalam Ruangan~
Mereka semua bisa melihat banyak foto terpajang di dinding maupun rak lemari. Dimana ruangan yang seharusnya merupakan ruangan kumpul keluarga tersebut malah menjadi galeri seni yang dipenuhi dengan gambar. Gambar-gambar yang memperlihatkan sebuah kesan keluarga yang hangat dan penuh dengan kegembiraan.
"Silahkan duduk, dan maaf istri saya tidak bisa menyambut kalian karena dua sedang berada di bawah pengawasan dokter" jelas Lion meminta maaf karena hanya dirinya saja yang menyambut kedatangan orang-orang yang bisa membantu istrinya sembuh.
"Tidak perlu meminta maaf lagi tuan Dicapri, karena bagaimanapun juga kami yang salah karena datang mendadak bukan?!" senyum Cyla yang tidak nyaman seseorang yang lebih tua dari dirinya selalu meminta maaf atas kesalahan yang bisa ditoleransi.
"Jangan panggil saya tuan Dicapri nak Cyla, seharusnya engkau memanggilku dengan sebutan lain kan?" senyum Lion yang membuat wajah Cyla menjadi gugup. Senyuman Lion terasa hangat dan berwiba membuat perasaan yang tadinya tenang menjadi kebingungan.
Cyla sadar akan perkataan jelas dari Lion yang menginginkan dirinya menyebutkan kata *a**yah*. Sebuah kata yang merupakan panggilan untuk orang tua kandungnya itu. Namun selama 25 tahun lebih Cyla tidak pernah mengucapkan panggilan tersebut sekalipun. Bahkan saat dirinya dibesarkan di panti asuhan hanya satu panggilan yang sering dia ucapkan yaitu Bu Panti.
Sisanya tidak ada, karena dirinya merupakan seorang anak yang entah itu ditinggalkan, dibuang, maupun orang tuanya meninggal. Cyla tidak mengetahui apapun tentang masa kecilnya dan keberadaan orang tuanya. Sampai dimana sebuah kejadian terjadi secara mendadak. Kejadian yang terjadi setelah Alex melamarnya dan itu cukup mengejutkan nya.
__ADS_1
Seorang kakak yang tidak ia kenal sama sekali datang tiba-tiba. Memberikan sebuah kertas yang bertuliskan hasil DNA dan menghasilkan jawaban Cocok. Jelas membuat Cyla ingin menangis ataupun bahagia saat itu. Panggilan kakak yang membuat lidahnya kelu dan sekarang panggilan ayahnya yang membuat perasaan nya kebingungan.
'Bagaimana ini? aku bahkan masih kesulitan memanggil sebutan itu untuk ayah Alex, tapi sekarang aku malah diminta untuk menyebut panggilan tersebut secara langsung. Astaga bagaimana ini?!' pikir Cyla gelisah dan tidak menyadari bahwa tangan kanannya kini sedang menggenggam erat tangan kiri milik Alex.
'Apa dia gugup? dia seperti seekor kelinci kecil yang lucu' pikir Alex yang merasakannya kegugupan Cyla dari tangan kiri miliknya. Ia tidak memprotes sama sekali dengan sikap mendadak Cyla. Malah sikap mendadak Cyla membuatnya tenang dan menyukainya.
Dimana Cyla sangat jarang mengambil inisiatif untuk memulai terlebih dahulu sebelum Alex. Membuat Alex terdiam dan hanya menatapi wajah Lion maupun Leon dengan tenang tanpa ekspresi.
'Ahhh aku ingin membawa Cyla ke kamar sekarang dan memulainya' pikir Alex yang mencoba menahan libidonya di balik wajah tanpa ekspresi miliknya.
'Daddy kau adalah hewan liar yang sangat langka dan sulit untuk ditemukan. Walaupun kau menyembunyikan keinginan mu di balik wajah papan itu aku tetap bisa melihat dari tatapan matamu' ucap Rei dalam hati dan melakukan pekerjaan santainya yaitu memakan biskuit yang diberikan oleh para pelayan.
'ehmm, ngomong-ngomong biskuitnya lebih enak dari dugaanku' lanjut Rei.
Krunc Krunc Krunc
"Jika kamu masih gugup atau tidak nyaman kamu bisa memanggil sebutan itu nanti" jelas Lion dan memberikan sebuah buku album ke arah Cyla.
"ehmm saya minta maaf, karena jujur saja saya masih sedikit kelu untuk mengucapkan kata tersebut" jelas Cyla dan mengambil buku album yang diberikan oleh ayah kandungnya.
"Tidak apa-apa nak, bagaimanapun ini juga bukan salahmu tapi salah kamu yang terlambat menjemput dan menemukanmu" hangat Lion.
"Dan juga kamu sangat mirip dengannya Cyla" lanjut Lion dan menatap Cyla hangat.
"Mirip?" bingung Cyla. Dia mencoba mengikuti jalur pembicaraan yang dimulai oleh ayah kandungnya. Walaupun perasaan gugup yang ada masih belum hilang tetapi Cyla ingin mengetahui tentang keluarganya.
"Ya kamu sangat mirip dengan ibumu saat muda dari rambut dan juga senyuman manis yang kamu berikan" jelas Lion, matanya memberikan sebuah tatapan kesedihan saat mengingat istrinya. Istri yang bukan sedang pergi jauh atau meninggalkan dunia melainkan seorang istri yang masih bernafas namun tidak memiliki jiwa sama sekali.
__ADS_1
Seakan-akan memperlihatkan sebuah kesakitan dan kefrustasian yang sangat dalam.
"Aku mirip dengan i..ibu" gugup Cyla. Tangannya mulai membuka foto album yang diberikan. Dari matanya dia bisa melihat foto seorang anak kecil yang sedang berdiri di depan sekolah sambil memakai seragam.
"sangat mirip" gumam Cyla yang melihat senyuman murni milik anak perempuan di foto tersebut.
"Foto yang kau lihat itu merupakan foto ibumu saat di muda dan kau pasti sudah melihatnya bukan senyuman ibumu sama dengan senyuman yang dimiliki mu saat ini ini" ucap Lion.
"Ehmm saya bisa melihatnya, tapi kenapa anda ingin memperlihatkan gambar ini kepada saya? anda pasti memiliki tujuan utama bukan?" tanya Cyla yang merasakan bahwa aura hangat dan tenang kini berubah menjadi aura kesedihan.
"Seperti nya IQ milikku turun kepadamu juga" kekeh Lion ringan.
"maksudnya?"
"Tidak apa-apa, hanya saja saya ingin mengatakan nya secara langsung bahwa..."
"Cyla, apa kamu bisa membantu keluargamu ini? terutama membantu ibumu saat ini?" tanya Lion dengan sekali hembusan nafasnya. Matanya menatap Cyla dengan penuh harapan. Sebuah harapan yang menginginkan seseorang sembuh dari sebuah kesakitan.
'Apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu? kenapa ayah kandungku memiliki wajah yang seperti itu?" bingung Cyla.
ππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary
β’Ingat yaa Cyla masih belum tau kondisi milik ibunya jadi tolong bersabar. Dan juga saya ingin mengucapkan terimakasih atas bantuan kak a. kusumaaa
__ADS_1
Makasih atas info bahasa Bali yang ada^^ dan maafkan saya bila telat karena kan kata saya siangan. Insyaallah jadwal update tengah malam akan kembali hari Senin ini^^ (bertepatan ujian saya berakhir)
Sayonara~