My Hot Daddy

My Hot Daddy
Epiloge


__ADS_3

"James sayang, kita harus berhenti melakukan ini." Astaga, sudah lama sejak kita menikah. Aku harus bisa mengatakan tidak kepadanya. Tapi aku selalu saja tidak bisa. Dia selalu saja tidak tahan jika bersamaku.


"Laura, sayang. Ayo, kita masih punya setengah jam lagi. Baiklah aku akan memepercepat temponya. Sshh ... jangan pikirkan itu. Rasakan saja penisku dengan baik." Katanya.. Sialan dia! Dia sudah mengangkat pakaianku dan menurunkan celana dalamku.


Dia mendorong punggungku ke meja. Dia membuka kancing depan ku dan mulai mengisap payudaraku. "James sayang, lebih keras lagi!" Dia melilitkan kakiku ke pinggangnya. Dia masih mengenakan celana setelannya, meniduriku seperti tidak ada hari esok.


Yah, dia sebentar lagi akan berangkat untuk perjalanan bisnis dan tidak akan berada di sini besok. Jadi ya ... tapi tetap saja. Hal ini selalu saja terjadi dalam setiap jam.


Dia pria yang sangat bersemangat, dia selalu meniduriku di mana saja dan kapan saja dia mau. Sementara aku hanya bisa pasrah.


Belakangan ini dia juga sangat sibuk dengan bisnisnya. Sementara aku memiliki kegiatan dengan beberapa asisten ku mengatur barang-barang bermerek ku untuk disewa.


"kamu tahu, aku perlu obatku dengan tetap terus bercinta denganmu. Dan kamu harus tetap tinggal di rumah dengan anak-anak. Jadi, kita akan selalu melakukan ini setiap waktu." Dan dengan kata-katanya kita mencapai klimaks satu sama lain dalam beberapa detik. Kami terengah-engah. Dia menciumku begitu lama, membuatku menggigil. Aku bisa merasakannya tersenyum di leherku.

__ADS_1


Dan seperti yang kami duga, anak-anak pulang.


"Bu! Ayah! Kita pulang !! Di mana kalian?"


Kami berdua menghela nafas, dan dengan cepat pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.


"Laura ku yang cantik, aku selalu suka penampilanmu saat kamu klimaks." Dia berbisik di telingaku dengan suara serak, tangannya bersandar di pinggangku, ketika kami berdua menuruni tangga dan menyapa anak-anak.


"Astaga! Ayah !! Kita sudah hampir dewasa, kita tahu apa artinya itu!"


"Dan kamu, Luna, putri kecilku. Bantu ibumu. Dia akan sibuk minggu ini dengan pembukaan toko barunya. Aku akan keluar kota untuk beberapa hari ke depan." Luna memeluk ayahnya saat dia mengacak-acak rambutnya dengan penuh cinta, membuatnya cemberut, dan dia tertawa kecil pada putri kecilnya.


"Ya, ayah! Aku akan membantu ibu! Dalbert, Darren! Dengarkan aku baik-baik karena aku satu-satunya perempuan! Kau harus mendengarku karena Ayah sekarang sedang memberiku tanggung jawab." Dia tersenyum jahat pada Dalbert.

__ADS_1


"Yah tapi hanya sepuluh menit. Kamu itu masih kecil dariku, adik perempuanku. Aku sudah pasti lebih tinggi darimu." Dia balas tersenyum. Jelas senyum ayahnya. Oh! Dia akan membuat gadis-gadis jatuh cinta padanya di masa depan.


"Anak-anak, ayo sekarang kalian. Duduk! Aku akan mengambil makanan kecilmu. Kemudian, kita akan mengantar ayah ke bandara lalu langsung ke kebun anggur. Kakek dan nenek sedang menunggu kita." Aku menyuruh anak-anak duduk dan makan makanan ringan mereka, sebelum kami pergi ke kebun anggur. James ada di belakangku, menyandarkan kepalanya di pundakku, dan mencium pipiku.


"Kau benar-benar ibu yang baik. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, James, selalu."


Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku bisa memiliki James sebagai suamiku, satu anak perempaun cantik dan dua anak cowok yang tampan bersamanya, dan pernikahan yang penuh gairah.


Ini dia ... akhir kisah hidupku yang, bahagia. Selamanya.


-Tamat-

__ADS_1


Note : Terima kasih sudah sejauh ini mau membaca tulisan saya yang masih berantakan ini. Semoga kalian merasa terhibur. Saya harap saya bisa melanjut kan cerita 'Sugar baby' ini dengan alur yang baru. Karena akhir-akhir ini saya ada banyak kegiatan, jadi sekali lagi terima kasih banyak ๐Ÿ˜‡๐Ÿ™‡๐Ÿ™


__ADS_2