
Dor** Dor** Dor**
Suara peluru dilepaskan dengan gerakan yang cepat. Darah yang memperlihatkan jati dirinya, mengalir di bagian kaki, tangan bahkan jantung. Setiap tetesan darah itulah yang menjadi arti perjuangan orang-orang yang ada di sana.
Pelabuhan yang menjadi arena permainan mereka semua untuk melakukan tugas yang diterima. Melindungi tubuh mereka agar tidak terkena tembakan musuh dengan berlindung di barang-barang yang ada di sekitar lokasi. Lampu pelabuhan yang tadinya berputar berhenti di satu tempat karena peluru yang mengenai penjaga paling atas.
Dor** Dor** Dor**
Peluru dari senapan AWSM melesat dengan cepat menuju area semak-semak. Mata lensa yang menangkap ada pergerakan di semak membuat salah satu penjaga tidak segan-segan menarik pelatuk miliknya.
"aaarhhhhh!" teriak salah satu tentara yang merupakan anak buah dari Komandan I. Kakinya terkena peluru dari senapan yang melesat ke arah rekannya. Membuatnya dengan cepat mengorbankan diri dan mengorbankan kaki miliknya.
"kamu..." terkejut Alex. Dia yang sedang bersembunyi di semak-semak tidak menyadari ada sebuah peluru yang melesat ke arahnya. Saat dorongan dari belakang membuatnya terdorong ke arah depan membuatnya terkejut dan menyadari ini bukan hanya sebuah permainan yang mudah.
"Saya tidak apa-apa, tuan harus cepat menyelamatkan calon istri anda tuan" ucap tentara tersebut kepada Alex. Walau kakinya berdarah dia dengan cepat mengeluarkan peluru tersebut dengan pisau miliknya. Menghentikan pendarahan yang ada di kakinya dengan perban yang dia bawa.
"Itu...."
"Tuan cepat, komandan I sudah memanggil anda" ucap tentara tersebut dan menunjuk ke arah komandan yang menatap mereka dengan tajam.
'Sial! Erika, Felentino akan ku buat kalian membayar hal ini' pikir Alex dan melanjutkan mengendap-endap nya. Dia kembali berjalan merangkak dan berganti posisi menjadi tiarap.
Tubuhnya ia rebahkan di tanah dan meletakkan senapan miliknya. Menembakkan ke arah lawan dan membiarkan darah mengalir lagi dan lagi di pelabuhan.
"Alex, cepat" perintah Vero yang sudah berada di depan. Sebentar lagi mereka akan sampai ke depan pintu ruangan Cyla berada. Entah sudah berapa Luka dan nyawa yang harus dihilangkan karena hal ini. Mereka semua memiliki keahlian dan kemampuan yang hebat. Membuat pertarungan ini tidak bisa berat sebelah dan selalu menjadi seimbang. Bahkan bom yang dirakit oleh kelompok satu ada yang sudah membongkar nya lagi. Menggagalkan setiap rencana yang disusun oleh lawan mereka masing-masing.
"Sedikit lagi" gumam Alex.
Kelima orang tersebut mulai berdiri dari posisi mereka. Langkah kaki yang sudah mencapai gagang pintu ruangan harus dihalangi kembali. Bukan senjata seperti pistol, senapan ataupun granat yang ada di sana. Tetapi sebuah bom waktu, bom yang memiliki batas waktu dan akan meledak jika waktu yang ditentukan sudah habis.
"Ini..."
"Komandan di belakang komandan!" teriak salah satu tentara.
__ADS_1
Jlebb**
Tusukan dari pisau belati yang diberikan oleh komandan I mengenai tepat di bagian perut penjaga tersebut. Orang yang tadinya ingin membunuh malah menjadi yang terbunuh. Baju yang tadinya kotor karena tanah berganti menjadi darah segar.
"Kalian berdua bantu aku melawan mereka dan sisanya potong kabel bom itu dengan benar" perintah Komandan I cepat. Beberapa penjaga mengepung mereka di titik ini. Jelas harus ada yang berkorban untuk melawan dan untuk menyelesaikan bom waktu tersebut. Menjadikan keputusan milik Komandan secara cepat cepat dilaksanakan.
Pisau belati yang dimainkan dan tang yang mencoba memotong sambungan kabel. Mereka terkepung dan keadaan mereka sangatlah mendesak. Ketiga orang yang tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari lawan sedangkan dua orang lainnya sedang mengatur nafas mereka.
Tang yang digunakan untuk memotong kabel itu harus digunakan secara berhati-hati. Dimana di saat mereka salah memotong kabel bisa menghasilkan ledakan atau waktu ledakan yang berhenti. Ini tergantung kedua orang yang memiliki hubungan darah, ayah dan anak yang sama-sama berada dari Marga Johnson.
"Potong yang merah dan jangan sampai kau mengenai kabel bewarna kuning" ucap Vero memberi tau anaknya. Alex menarik nafasnya pelan mengangkat tang kecil miliknya dan membawa tang tersebut ke area kabel merah. Sedikit saja kesalahan, bom ini akan membahayakan 5 nyawa di sini.
"Sabar Lex" ucap Vero.
"I...iya" gugup Alex. Dia menahan nafasnya dan menyentuh kabel bewarna merah. Dengan keadaan kabel yang terlilit membuat Alex harus berhati-hati dalam memotong kabel tersebut.
"Sabar Lex..." ucap Vero lagi.
"Iya Daddy aku tau!" kesal Alex yang akhirnya tampa sengaja menekan tang kecil miliknya. Membuat Vero yang sebagai ayah Alex langsung memeluk anaknya khawatir.
"Dad... dady... aku tidak bisa bernafas!" kesal Alex yang terkurung di pelukan ayahnya.
"Tuan Vero, bom nya sudah berhenti tenang saja" ucap salah satu tentara yang sudah menyelesaikan bagian menyerang mereka.
"Ah benarkah, maaf-maaf" ucap Vero cepat dan langsung melepaskan pelukannya. Setegas-tegasnya dia dengan anaknya, Vero masih memiliki sikap kemanusiaan di dalam dirinya.
"Bom nya sudah dilepas, tinggal dibuka" ucap salah satu tentara lainnya yang sudah membuang bom ke pinggir. Alex membuang tang kecil miliknya, mengambil pistol yang ada di sakunya dan memegangnya erat.
'sebentar lagi' pikir Alex
Memutar ganggang pintu itu pelan lalu menendangnya keras menggunakan kakinya. Membiarkan pintu yang terbuat dari kayu menampilkan penampilan dari dalam ruangan.
__ADS_1
Sinar rembulan yang bersinar lebih terang memperlihatkan orang-orang yang ada di dalam sana. Tidak ada awan yang menutupi sinarnya membuat orang-orang yang baru masuk bisa melihat penampilan perempuan yang sedang duduk di sana.
"A...Alex" panggil Cyla pelan. Cyla tidak bisa mengeluarkan senyuman tulusnya, senyuman yang ia keluarkan penuh dengan luka. Apalagi saat matanya menatap tubuh Alex yang penuh dengan bercak darah dan tanah membuatnya ingin meneteskan air mata.
"A...Alex maaf" ucap Cyla sekali lagi. Air mata yang ia tahan sudah menembus pelipis matanya. Membiarkan air mata itu keluar dengan sendirinya. Merobohkan pertahanan yang ia bangun sendiri nya.
Air mata yang menyakitkan itu membuat hati Alex sangat sakit. Bukan hanya itu saja mata Alex terkejut seketika saat sebuah pisau belati menyayat langsung lengan atas bagian milik Cyla. Sayatannya sangat tipis tapi mampu menyayat daging milik Cyla dan menghasilkan darah segar mengalir.
"Arghhhh!" ringis Cyla di sela-sela tangisannya. Dia mencoba menahan luka yang diberikan oleh Felentino selama belasan menit ini. Tetapi tetap saja membuat tubuhnya dipenuhi dengan darah segar.
"Cyla!" teriak Alex dan mencoba mendekat ke arah Cyla
"Sekali saja kau mendekat aku akan menyayat pisau belati ini tepat di leher calon istri mu ini" ancam Felentino yang sudah membawa pisau belati itu ke bagian bawah leher milik Cyla. Leher jenjang yang bersih mulai ditetesi darah bewarna merah terang.
"eshhmmmm" tahan Cyla saat dia merasakan nyawanya bertambah berbahaya.
"Baik aku tidak akan bergerak" dingin Alex yang membuat Felentino mengambil pisau belati nya kembali.
"Felentino, bisakah saya bertanya dengan anda?" tanya Vero yang memilih jalan aman.
"Tentu saja" senyum Felentino yang senantiasa membersihkan pisau belati miliknya dengan kain bersih.
"Apa alasanmu melakukan semua hal ini? bukankah seharusnya kita tidak pernah saling mengenal?" tanya Vero to the point. Pertanyaan yang diberikan Vero kepada Felentino menghasilkan suara tawa dingin di sana. Bahkan jika orang biasa saja sudah merinding mendengar tawa tersebut.
"Hahaha tidak pernah kenal?! serius paman? apakau benar-benar sudah melupakanku" tawa Felentino dingin.
"Paman?!" bingung Alex.
"Jangan bilang....."
ππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
__ADS_1
My Ex Secretary
β’Misteri Felentino bakal terungkap di Bab berikutnya, saya benar-benar tidak sabar untuk menguras otakku lagi! To be continued>>> Sayonara~