
Melewati malam bersama membuat hati William sangat bahagia.
Apalagi saat Olivia yang tidak lagi menunjukan rasa takutnya walau dia juga tau bahwa saat ini Olivia masih berusaha untuk berdamai dengan dirinya itu sudah sebuah kemajuan yang besar untuk William yang menyaksikan perubahan besarnya.
" Kau cantik Olivia..."
Blush...
Wajah Olivia tersipu malu saat mereka tengah menemani Andrew menggambar.
Mereka berdua sedang praktek langsung dengan kehidupan yang akan mereka jalani nantinya.
" Jangan seperti itu. Aku malu. " Sumpah demi apa pun William menyukai Olivia yang tersipu malu dan bersikap manja seperti ini.
Itu membuat William merasakan bahwa dia ikut merasa muda kembali dengan kehadiran calon istrinya.
Ahhh...Rasanya William sudah tidak sabar ingin menjadikan Olivia sebagai istrinya dan tidak lagi menyebut Olivia dengan sebutan calon istri. Melainkan istrinya.
Nyonya Olivia William Jhonson Piero.
" Kenapa Tuan melamun ?' Tanya Olivia yang melihat Willian seperti tengah melamunkan sesuatu yang ia sendiri tidak tau apa yang ada di pikirkan William saat ini.
" Aku tidak sedang melamun. Aku hanya sedang memikirkan kehidupan yang indah ini. Apa kamu tau seberapa bahagianya aku memiliki calon istri seperti ku ? Aku memang sudah menikah, Tapi aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini saat menikah dulu. Bahkan aku tidak mengerti bahagia yang bagaimana. " Olivia memperhatikan dengan lekat wajah pria yang akan menjadi suaminya ini.
__ADS_1
Dengan berani Olivia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi William dan meraba jambang yang menghiasi wajah pria tampan miliknya ini.
Miliknya ? Sejak kapan Olivia mengklaim William sebagai miliknya ?
" Aku juga tidak pernah merasakan bahagia. Tapi ibu bilang bahagia itu kita yang cari dan kita yang ciptakan sendiri bagaimana kebahagiaan yang kita inginkan. Jangan p pernah mengecewakan hati kamu demi melihat orang lain bahagia. Karena melihat orang bahagia itu bohong kata ibu. Tidak ada orang yang ingin mencintai tanpa di cintai jika mencintai dan di cintai adalah pilihan terbaik. " William memegang tangan Olivia yang masih membelai wajahnya saat ini.
Betapa luar biasa sekali rasanya kebersamaan ini.
Kebersamaan yang tidak pernah dirasakan oleh William.
" Betapa beruntungnya kamu bisa tinggal dengan ibu lebih dulu. " William berucap sangat tulus tapi Olivia menyalah artikan itu semua.
Dia berpikir jika William kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak bisa menemukan ibunya lebih dulu.
Dia berpikir bahwa Olivia merasa bersalah padanya pasti.
" Kenapa harus meminta maaf Baby ? Aku bahkan meras bahagia karena kamu di pertemukan dengan ibu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kamu hidup di luar sana dengan mengandung anak ku. " Olivia tertunduk menatap perut buncitnya saat ini.
Ini memang anaknya William dan Olivia hanya berhubungan badan dengan William saja. Jadi dia merasa bahagia karena Olivia hidup dengan ibunya.
" Aku bahagia Olivia. Bagaimana bisa kamu berpikir bahwa aku tidak bahagia. Sumpah demi apa pun aku sangat bahagia saat ini. Hadirmu membuat hidupku semakin berwarna. Apalagi anak yang berada di kandungan mu saat ini adalah anak yang luar biasa bisa bertahan di dalam kesulitan yang di alami ibunya. " Di usapnya perut buncit Olivia dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Sejenak tatapan mereka saling mengunci satu sama lain dan entah siapa yang memulainya lebih dulu.
__ADS_1
Tapi Olivia langsung memejamkan matanya saat melihat William yang memajukan wajahnya dan kini bibir mereka saling bertautan dan saling menjelajahinya satu sama lain.
Jika dulu William menciumnya dengan penuh nafsu dan gairah, Kini hanya ada ciuman lembut dan mesra yang membuat Olivia merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini.
" Daddy what is that ?" Tanya Andrew yang melihat orang tuanya saling bercumbu seperti itu.
William dan Olivia langsung melepaskan tautan bibir mereka saat mendengar suara Andrew.
William dan Olivia langsung melepaskan tautan bibir mereka dan melihat ke arah Andrew yang tengah menatap mereka dengan tatapan tidak percaya.
Olivia sendiri merasa sangat malu. Dia langsung menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang William karena tidak berani melihat Andrew.
" Jangan katakan ini pada nenek mu Son. Jika tidak nanti Daddy akan--"
" Aku sudah melihatnya dan kalian berdua tidak memiliki malu ! Berciuman panas seperti tanpa memikirkan lagi bahwa ada anak kalian di sini. Dasar tidak tau waktu dan tempat. "
" Ibu, Bukan seperti itu. William hanya--"
" Menikah lah maka kau akan bebas melakukan apapun setelah ini. " Nyonya Matilda langsung mengambil Andrew dan membawanya pergi dari kamar cucunya itu karena dia tidak ingin Andrew kembali melihat adegan yang tidak seharusnya dia lihat.
" Tuan, Aku malu. "
" Malu tapi mau !" Sahut Nyonya Matilda yang merasa kesal dengan anak dan menantunya itu.
__ADS_1
...💦💦💦...