My Hot Daddy

My Hot Daddy
Ep. 10 -


__ADS_3

Pada rabu sore, setelah aku bertemu Adriana. Aku mulai berpikir soal tawaran kerja yang ia tawarkan padaku. Ini sangat sulit bagiku atau apakah itu hanya karena aku malas saja, dan sangat bodoh untuk mencari pekerjaan lain.


Aku belum mengganti mobilku, bahkan belum mencoba mencari apartemen yang lain. Aku masih sibuk dengan menjual barang-barang desainerku, tugas kuliah, lalu memasak dan membersihkan sendiri, aku sangat kelelahan. Ya, itu semua karena aku orang yang suka mengontrol semuanya dan punya kecenderungan Obsessive compulsive disorder (OCD).


Aku biasanya pergi ke psikiater dan bicara tentang hal ini. Tapi karena aku sekarang miskin, maka aku hanya meminum obat saja. Aku juga biasanya membayar untuk layanan tata graha, untuk membersihkan apartemenku. Tapi sekarang aku tidak lagi memiliki kemewahan sekarang. Jadi, aku mengerjakan pekerjaanku dengan membersihkan tempat itu sendiri.


Ya Tuhan ! Aku harus pindah. Tempat ini sangat besar untuk aku bersihkan sendiri.


Aku pingsan dan dirawat di rumah sakit. Peter menemukanku, sebelum aku pingsan di lobi, melangkah keluar dari lift. Mana sekarang ada tagihan rumah sakit yang harus kupikirkan lagi uhhh.


Aku kembali dua hari kemudian, setelah bersikeras membersihkan apartemenku sendiri, aku tidak memiliki asuransi kesehatan. Dan aku tidak mampu membayar rumah sakit. Dan rumah sakit akan menagihku hari ini.


Ahhh Bagaimana bisa aku melakukan ini!


Saat itu pukul sepuluh. Aku memegang kartu Adriana, dan ingin meneleponnya. Aku memegang ponselku sejak satu jam yang lalu.


Aku menghubunginya. Aku tidak ingin kehilangan apa pun lagi. Aku akan mengakhiri semua ini. Aku akan menjalankan tawaran dari Adriana selama satu tahun. Lalu aku berhenti. Aku akan berhenti dari bisnis ini jika aku sudah punya cukup uang dalam satu tahun itu. Segera setelah aku lulus, aku akan mencari pekerjaan dan menopang diriku sendiri dan besok aku akan mulai mencari apartemen lebih kecil.


"Laura. Senang akhirnya kau menghubungiku."


"Ehmm ... ya lihat Adriana, bisakah kita bertemu? Ada yang ingin aku diskusikan. Sekarang? Yah kurasa aku bisa. Ya oke. Aku tahu tempatnya. Sampai jumpa dua puluh menit lagi. Sampai jumpa."


Shit! Apa yang baru saja aku lakukan.


Aku dengan cepat mengganti pakaianku dan bertemu dengannya di Popsa. Ini adalah salah satu klub malam kelas atas, yang dulu sering aku kunjungi dengan Richard, saat kami keluar bersama dengan para gadis. Saat itu jam pulang anak kuliah, semoga tidak ada orang yang aku kenal di sana. Aku hanya mengenakan jumpsuit top renda hitamku karena aku tidak pernah suka memakai pakaian minim. Aku hanya memakainya jika bersama Richard, karena dia suka melihatku jika mengenakannya.


Argghh! Aku selalu saja mengingat itu. Sial, aku sudah menghabiskan dua tahun hidupku untuk pria itu. Tapi hasilnya?


Adriana melambaikan tanganya padaku. "Laura, bagaimana kabarmu?" Dia memberiku senyum tulusnya.


"Aku baik-baik saja. Yah, tidak juga. Aku baru saja keluar dari rumah sakit. Aku pingsan di apartemenku, mungkin terlalu lelah dan stres." Aku mengangkat bahu ke arahnya, dan berusaha memberinya senyum terbaikku, tapi kurasa aku gagal, saat dia meraih tanganku dan mengelusnya dengan lembut.


"Hei ... hei, tidak apa-apa. Untuk itulah aku di sini. Jadi, bertanyalah."


"Yah, pertama-tama lingkup apa yang dibutuhkan Sugar Baby ini? Apa ini hanya teman? Atau apakah kita harus berhubungan intim dengan mereka? Dan apakah ada batasan?" Aku berhenti, dan menunggu jawabannya.


"Pertama-tama akan ada kontrak, mengenai ruang lingkup layanan yang disediakan. Hanya antara kamu dan perusahaan, dan juga Sugar daddy. Sugar daddy itu sendiri yah seperti mampu menyediakan keuangan untuk wanita muda yang ia temani kencan." Dia menghirup koktailnya, dan melanjutkan penjelasannya.


"Yang ingin ku katakan, kita memiliki seorang miliarder dan miliarder itu sebagai klien kami di sini, Laura. Tidak ada istilah wanita kupu-kupu malam, atau penari telanjang dalam daftar Sugar baby, Sebagian hampir dari mereka adalah sosialita seperti dirimu sendiri. Kebanyakan dari Daddy menginginkan untuk berhubungan intim denganmu. Sementara Daddy yang usianya lebih tua, biasanya hanya ingin pendamping seorang wanita muda yang cantik untuk menemani mereka. Hanya karena mereka mampu. Adapun batas-batas berhubungan intim, dan itu hanya kau dan Sugar Daddy mu yang tau, dan itu juga akan tetap menjadi pribadi di antara kalian berdua."


Giliranku menghirup soda murahanku. Tapi dia dengan cepat memesankan aku, ceri vodka favoritku. "Itu untukku, hanya karena kamu meluangkan waktu untuk bertemu denganku."


"Jadi, kau juga harus tahu kalau aku memiliki kecenderungan OCD Aku tidak bisa dipasangkan, dengan orang yang ceroboh. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa memilih Daddy ku sendiri, atau aku pikir ini dia yang akan memilih gadis yang dia inginkan untuk menghabiskan uangnya. "


"Kita bisa membuatnya memilih. Kita sebenarnya memiliki beberapa kandidat, yang mungkin cocok untukmu. Kemudian setelah salah satu dari mereka setuju, kalian berdua akan bertemu. Dan saat kontrak dimulai, kita akan memiliki keuntungan yang dinyatakan pada kontrak tertentu saja. Seperti yang aku katakan, ini merupakan keuntungan diatas keuntungan bagi kita semua. "


"Aku perlu membayar uang kuliah tahunanku bulan depan dan karena ini adalah perguruan tinggi Elit, jadi biayanya lebih mahal daripada yang lain. Dan aku harus pindah dari apartemenku saat ini, karena biayanya juga terlalu besar dan aku tidak mampu lagi membayar pelayanannya. Jadi aku ingin hal ini dilakukan secepatnya."


"Hei, tidak apa-apa, Laura. Kami juga pernah memiliki wanita yang lebih buruk darimu, dan kalau soal dirimu aku lihat kami bisa menanganinya. Kau benar-benar cantik, dan tenang, juga sangat santun. Itulah sebabnya aku memilihmu. Aku punya beberapa klien yang rela menghabiskan berjuta-juta, untuk satu malam bersamamu. "


Aku tertegun, tidak bisa berkata-kata.


"Bagi mereka sulit menemukan teman wanita, yang akan menghabiskan waktunya bersama mereka dan tidak ingin mengikat mereka. Tapi dengan bantuan kami mereka dapat memiliki itu, jangan khawatir, tidak ada tindak lanjut, tidak ada panggilan telepon yang mengganggu. Ini seperti sebuah transaksi bisnis. Dan pria-pria ini seperti bisnis. Jadi, jika ada salah satu gadis kami yang terlalu banyak berkomentar hal itu, mereka akan dikeluarkan dari kontrak, dan diberhentikan dari daftar kami. "


"Bagaimana jika aku ingin berhenti? Maksudku, aku melakukan ini hanya untuk biaya kuliahku, dan biaya hidupku saja, sampai aku lulus dari perguruan tinggi. Dan jika aku sudah merasa cukup, mungkin aku ingin berhenti sebelum satu tahun berakhir, untuk berkonsentrasi pada studiku dan untuk mencari pekerjaan yang sebenarnya. Maaf aku tidak bermaksud kalau aku tidak bisa tapi aku tidak ingin melakukan ini dalam jangka panjang."


"Tidak apa-apa Laura, kami akan memberimu waktu untuk membaca kontrak kami. Panggil saja aku setelah kau menandatanganinya." Dia memberiku sebuah amplop besar dan menutup tagihan kami. Lalu dia meletakkan tangannya di pundakku.


"Ini hal yang tepat untuk dilakukan Laura. Anggap saja ini pekerjaan musim panas yang dibayar sangat baik?" Dia terkikik saat mengucapkan selamat tinggal, dan memelukku mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


Aku tiba di apartemenku dan dengan cepat melihat-lihat isi kontraknya, semuanya tampak bagus. Aku sudah bekerja dengan program magang sebelumnya, dan aku juga sudah membaca beberapa kontrak yang terikat secara hukum untuk perusahaan besar, dan di dalam kontrak ini juga dijelaskan seperti itu.


Waaww.. ini benar-benar klien kaya raya. Ada beberapa klausa, yang membuatku terasa ngeri. Tapi pada akhirnya semua itu masuk akal. Mereka benar-benar miliarder, mereka menginginkan eksklusivitas semacam ini.


Saat itu pukul satu pagi, dan aku memutuskan untuk mencuci muka dan pergi tidur.


Aku akan menunda penjualan baranglu besok, dan untuk sementara waktu menyimpan semuanya yang sudah kutulis di dalam daftar. Dan beralih ke dunia Sugar Baby ini.


Oh! Kenapa tidak. Aku sekarang sendirian dan aku fikir aku harus sukses. Kemudian aku akan menunjukkan pada semua orang yang meninggalkanku, atas pencapaian sejati ku ini. Suatu hari.


Akupun bangun jam tujuh, dan memulai rutinitas pagi ku, menjadi pejangkit Obsessive Compulsive Disorder (OCD) sepertiku, aku memiliki pola hidup ketat yang selalu aku lalui. Melakukan semua hal, membuatku menjadi orang yang sangat ketat dan tepat waktu. Itu sebabnya aku tahu, aku bisa sukses di dunia bisnis. Tanpa psikiaterku, aku menjadi lebih tegang dengan penyakitku. Itulah sebabnya pagi ini pukul delapan aku harus sudah selesai melakukan pekerjaanku dibandingkan jadwalku yang sebelumnya.


Aku membutuhkan uang untuk membayar terapi mingguanku. Ini perlu ditangani. Tanganku gemetar saat aku mencoba menelepon Adriana. "Pagi Adriana, aku sudah selesai menandatangani kontraknya. Kau ingin aku memberikanmu dimana? Aku punya waktu tiga puluh lima menit sebelum kelas pertamaku."


Dia tertawa dan mengucapkan selamat pagi padaku. "Oh Laura, aku tahu kau adalah orang yang tepat. Aku akan mengirimimu alamat kantor kami, dan kami ingin mengambil beberapa foto dirimu untuk portofoliomu. Jadi, kapan saja kau memiliki waktu luang, katakanlah sekitar empat puluh menit dari waktumu, kami akan mengaturnya dengan fotografer kami. "


"Oh ... mm..baiklah, aku bisa bertemu setelah makan siang sekitar jam satu lewat lima belas menit?"


Dia tertawa lagi. Aku masih belum mengerti apa maksudnya itu. Jadi aku pikir, mungkin dia dalam suasana hati yang baik hari ini.


Akupun berangkat menuju kampusku, dan memulai hariku. Aku pasti akan melihat Richard disana dengan para gadis yahh kadang-kadang, tapi aku melihat semua orang tampak sibuk. Dan aku bahkan tidak ingin mencoba lagi untuk menemuinya. Ini lebih baik, aku akan lebih banyak belajar dari hal ini.


Astaga! Aku harus membeli beberapa buku baru untuk kelas soreku. Aku dengan cepat memeriksa saldoku dari m-banking ku. Aku pikir aku bisa menariknya, mungkin mengambil beberapa dan menahannya sebagian. Aku berharap Adriana menemukan seseorang untukku sesegera mungkin. Apalagi sebentar lagi aku mendapatkan tagihan rumah sakit, dan aku juga harus membayarnya.


Sisa pagi berlalu dengan begitu lancar. Kemudian tiba saatnya bagiku untuk makan siang sebentar, dan pergi ke kantor Adriana. Aku pergi ke McDonald's, harganya murah dan terjangkau dan dekat dari jangkauan Adriana. Aku memakan burgerku dengan damai, sampai pada akhirnya aku mendengar seseorang sedang bicara. Aku memperhatikan sekelilingku dan menemukan sumber suara itu, dan lihat itu si Pria yang aku jatuhkan telur pada sepatunya? Wow, tidak heran, dia tampak marah. Dia sedang makan di McDonald's. Lalu matanya bertemu mataku, dan aku bisa melihat seringai di ujung bibirnya.


Ia memiliki bibir montok yang sangatvsempurna. Umm ... kenapa aku menatapnya?


Aku kembali ke makan siangku, dan dengan cepat melihat jam tanganku dan memutuskan sudah waktunya untuk pergi ke Adriana.


Aku menyingkirkan sisa makananku, lalu kembali ke mobilku. Mobil convertible Mercedes-Benz ku jelas dengan sangat menonjol di jalan masuk restoran keluarga ini, juga Bentley hitam mengkilat di samping mobilku. Aku membuka pintu, aku merasakan seseorang berada di belakangku.


"Gadis pasaran, tidak habis pikir aku melihatmu lagi." Dia tersenyum padaku.


Wow.. Dia terlihat seksi.


"Kau pria yang waktu itu kan?;Tapi maaf aku harus pergi. Aku tidak boleh terlambat. Maaf lagi soal sepatumu." Aku tersenyum manis padanya dan cepat-cepat pergi. Aku tidak punya waktu untuknya. Sekarang aku hanya butuh uang. Bukan pria.


Uang.!


Aku tiba di kantor Adriana dengan tepat waktu. Dia tersenyum lebar ke arahku, dan dengan cepat mengantarku ke dalam kantornya. Wow. Mereka menghasilkan banyak uang dari bisnis ini. Aku masih tidak yakin apakah itu legal atau tidak, tapi sepertinya, karena kantor mereka tampak seperti salah satu kantor pengacara kelas atas yang sesungguhnya.


"Jadi, ini kontrak yang sudah ditandatangani." Aku memberikannya pada Adriana. Dia dengan cepat melihatnya dan memasukkan ke dalam laci-lacinya.


"Sekarang, mari kita ke bagian yang menyenangkan. Pemotretan. Ayo, Frans sudah menunggu kita. Kami punya beberapa pakaian untuk portofoliomu. Tapi kau bisa memilih yang mana yang paling nyaman bagimu . Ayo pergi." Dia meraih tanganku dan menarikku ke sebelah. Itu merupakan sebuah studio foto besar. Studio itu indah, seperti di mana seorang model profesional berpose untuk di foto dan akupun merasa kewelahan.


"Adriana, aku ini orang biasa. Apa aku harus memakai ini di portofolionku?" Aku bertanya padanya dengan tercengang.


Dia tertawa dan memelukku. "Oh Frans! Kau akan jatuh cinta padanya. Dia yang paling polos di antara yang lain."


Lalu aku melihat Frans, dia fotografer paling tampan yang pernah ku lihat. Tinggi, mata cokelat, dan tampan. Aku tersipu di bawah senyumnya.


"Ayo sayangku, biarkan aku memilih sesuatu yang akan cocok dengan warna kulit merahmu." Dia mengambil tanganku dan menciumnya. Membuatku lebih merah.


"Aku meninggalkanmu bersama Frans, oke? Aku punya klien yang perlu kencan darurat." Dia mengedipkan matanya padaku, tampak geli dengan dirinya sendiri.


Aku senang karena aku memiliki tekstur kulit seperti lilin di seluruh tubuhku. Dan aku mengenakan lingerie yang sangat minim.


"Ayo, kita hanya punya setengah jam lagi untuk pemotretanmu. Mari kita coba ini. Anggap saja itu sebagai bikini jika kau tidak nyaman oke?" Dia beralih ke mode kerjanya.


Aku hanya mengangguk.


"Jadi, apa kau ingat saat aku memberi tahunya kalau aku ingin bertemu dengan seorang klien dengan mendadak?"


"Ya, kau mengatakannya saat aku sedang ingin melakukan pemotretan." Aku meminum kopiku sambil menyandarkan diri.


"Yah, dia cukup tertarik denganmu. Dia melihatmu melalui cermin, saat kau sedang difoto."


"Tunggu, apa??" Aku sangat terkejut.


"Ya, dia tadi ada disini, disisi lain dari arah cermin. Dan dia akan menjadi teman kencanmu malam ini. Jadi, aku sarankan kau mengatur jadwalmu untuk malam ini. Akan ada jamuan formal. Jadi dia akan mengirimimu sebuah gaun, dan tentu saja kau mengambilnua untuk kau simpan. "


"Oh ... tuhan! Berapa usianya? Apa aku bisa melihat portofolionya, atau tidak? Aku agak panik di sini, Adriana. Oh OCDku. Inilah sebabnya kenapa aku tidak melakukan kencan buta. Aku harus mengendalikan diriku. Apa kau kuat minum?"


Dia tertawa, dan mengambilkanku segelas anggur. Aku meneguknya dalam sekali telan. Namun beberapa detik kemudian, detak jantungku mulai melambat.


"Aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih."


"Dia berumur empat puluh satu tahun, seorang pengusaha yang sangat sukses. Dia sudah bergabung bersama kami selama lebih dari lima tahun. Dia pria yang baik, Sugar Daddy yang sempurna bagi dirimu untuk memulai langkah kecil. Tidak ada keluhan dari gadis-gadis sebelumnya." Dia mengedipkan mata padaku.


"Baiklah kalau begitu, jam berapa malam ini? Sebaiknya aku harus bersiap-siap. Ada beberapa pekerjaan rumah yang harus aku lakukan untuk besok."


"Aku sudah memberitahunya alamat dan nomor ponselmu. Dia seharusnya berada di tempatmu tepat jam tujuh. Kalau begitu, aku harap kau beruntung malam ini, Laura." Dia memelukku dengan hangat, kemudian menemaniku kembali ke lift dan mengucapkan selamat tinggal.


Saat itu pukul dua lewat tiga puluh menit, aku membuka laptopku dan memasukkan daftar penjualanku di internet. Kemudian aku mulai mengerjakan tugas kuliahku. Dan aku mulai khawatir soal apartemen dan mobilku. Aku perlu menyelesaikan pekerjaanku, kemudian bersiap-siap untuk malam ini.


Aku mengetik dengan marah dan berusaha keras. Membuka buku ku, melihat catatan ku. Otak ku sedang bekerja di atas laptopku, sampai aku mendengar alarmku berbunyi.


Waktunya istirahat.


Aku pergi ke arah kulkas, dan memanjakan diriku dengan segelas jus. Aku perlu memperlambat waktuku sedikit untuk malam ini. Aku harus tetap waspada, dan tidak mempermalukan diri sendiri. Aku butuh uang, aku harus tetap bekerja, sampai biaya kuliahku terbayar, dan oh ya ... tagihan rumah sakitku juga.


Aku mengambil istirahat selama sepuluh menit, pada setiap jam kerja. Itu adalah tipuan yang diberikan psikiater padaku, untuk mengendalikan OCD-ku. Untuk membuatku tetap santai, dan fokus serta tidak overdrive.


Aku mulai menggulir ponselku, dan memutuskan untuk menindaklanjuti daftar apartemenku. Tetapi agenku bilang kau, dia masih belum menemukan pembeli untukku saat ini. Dia terus mempermasalahkan soal ekonomi, aku hanya bisa menghela nafas. Iklan untuk mobilku juga tertunda, tidak banyak orang tertarik untuk membeli mobil mewahku yang menggunakan bensin yang boros. Aku mencoba untuk membawanya ke ruang pameran, dan menjualnya kembali kepada mereka, tapi mereka mengatakan bahwa jenis mobilku hanya segelintir orang yang mau membelinya. Mereka lebih suka yang baru. Tapi mereka akan memanggilku, jika mereka memiliki pembeli.


Sial! Orang kaya yang sombong!


Alarm berbunyi. Waktu istirahat sudah berakhir. Kemudian aku mulai menggunakan laptopku lagi, dan melihat beberapa catatanku sampai aku mendengar alarm lagi.


Dan selesai!


Aku pikir aku melakukan yang terbaik, hanya perlu sedikit sentuhan akhir, yang dapat dilakukan setelah kencan malam ini.


Astaga, aku hanya punya satu setengah jam untuk mandi, mengeringkan rambutku dan bersiap-siap. Oh sial, ! Aku harap aku bisa melakukannya.


Ambil Napas dalam! Tenanglah! Fokus!


Aku baru saja keluar dari kamar mandi, aku mendengar Aryo di pintu ku, mengatakan ada paket untukku. Aku segera keluar dan mengambil paket darinya; terlihat mahal.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengantarnya, Yo. Sampai nanti."


Aku tidak yakin, kalau aku akan merasa nyaman dengan orang asing yang membelikanku barang. Aku merasa seperti dibeli.


Hufftt tenanglah. Aku butuh uang dan akan akan segera mengakhirinya.


Aku membuka gaun itu, dan melihat ada catatan di atasnya.


"Aku Akan tiba jam tujuh tepat, harap siap dan tepat waktu." -JS


Setengah jam lagi.


Aku membuka paketnya dan melihat pakaian dari pemotretan. Aku mengira, aku memakai ini waktu itu. Aku menelanjangi diri sendiri dan mengenakan pakaian dalam yang minim.


Aku mulai merias wajahku, dengan eyeshadow cokelat tua gelap dengan lipgloss pink muda yang cocok dengan gaun itu. Memasang kuku yang berwarna cokelat tua seperti bayangan mataku. Aku juga memutuskan untuk mengangkat rambut ku dan membuatnya tampak sedikit berantakan.


Terakhir, aku mengenakan gaun itu. Aku menyukai seleranya, sederhana namun seksi. Kemudian mengenakan kalung dan anting-anting desainerku.


Aku melihat kearah cermin. Yah, aku terlihat cantik. Mengingat kalau aku belum melakukan perawatan wajah, dan kecantikan dalam sebulan ini.


Malam yang mencengkeram.


Aku tersenyum mengkhayal tanda dolar dan berpikir berapa banyak yang bisa aku dapatkan darinya. Ponsel ku berdengung, tepat waktu. Bagus. Aku membuka pintu dalam hitungan detik. Aku masih tersenyum tentang tanda dolar itu. Saat dia menatapku.


"What?? Pria pasaran yang waktu itu? Maaf, kau pasti salah orang."


"Kurasa tidak, aku membeli gaun yang kau kenakan."


"Sial!" Aku berkata tanpa berpikir sebelum aku menyadarinya.


"Yah, ini akan menjadi pertama kalinya seorang wanita menyambutku dengan itu." Dia tersenyum, dan sepertinya terhibur olehku.


"Maaf, maksudku, aku tidak bermaksud untuk ... Dengar, kita bisa bicara di jalan. Kau bilang jam tujuh, kan. Kita akan terlambat, kita harus pergi sekarang."


"Tidak, aku mau bicara denganmu. Aku sudah meluangkan waktu tiga puluh menit, untuk mempersiapkanmu menjadi teman kencanku malam ini. Bisakah aku masuk?"


"Um ya tentu. Maaf ini yang pertama Kalinya. Silakan masuk. Apakah Anda ingin minum? Air, kopi, apa saja dari bar? Silakan duduk."


"Kau gugup. Ini menyenangkan sekali. Sekarang, wajahmu memerah. Aku James Logan. Kau bisa memanggilku James, atau sayang, atau daddy, terserah padamu. Dan aku akan meminum apapun pun yang kau beri." Dia tertawa kecil dari belakangku, dan mencium pundakku yang telanjang dengan ringan.


Aku meletakkan barang-barangku di atas meja dapur, dan mengambil dua gelas wiski. Aku perlu menenangkan saraf ku karena tanganku terasa basah.


Cowok itu baru saja mencium pundakku. Aku harus tenang. Bernafas. Satu. Dua. Tiga ... Bernafas ...


Aku duduk di depannya, tapi dia meraih tanganku, dan menyuruhku duduk di sebelahnya.


"Aku butuh seseorang menjadi teman kencanku, yang dengan rela berada di sisiku dan membiarkan aku menciumnya beberapa menit." Dia meminum wiskinya, saat aku melihat tindakannya. Dia mengambil gelasku dan meletakkannya di samping gelasnya.


"Jadi, aku harus memanggilmu apa?" Dia menangkap rahangku, dan menurunkan bibirnya ke leherku menghirup harum parfumku. Aku bisa merasakan napasnya membubung ke telingaku. Sementara tangannya memegang rahangku, ke leherku lalu menggosok ke bahuku.


"Aku Laura Baskara, kau bisa memanggilku Laura. Kau bisa memanggilku sayang, atau sayang, atau baby, terserah kau." Aku mencerminkan kata-katanya lagi, membuatnya terkekeh. Suaraku serak, saat aku berusaha menguasai diriku.


Ya Tuhan! Cowok ini sangat lihai dalam permainannya.


"Bisakah aku menciummu, Laura?"


"Uh huh Yah." Hanya itu yang bisa aku katakan dari mulutku, dan tiba-tiba dia perlahan-lahan menggerakkan bibirnya yang melayang-layang dari leherku, menelusuri dan merasakan seperti apa keabadian yang terasa di bibirku. Dia berbau seperti wiski yang enak, yang baru saja kita minum.


"Buka mulutmu untukku, sayang." Aku mengerang, dan melakukan apa yang dia minta. Parfumnya yang mahal memenuhi udara di sekitarku. Bibirnya akhirnya menyentuh bibirku. Tangannya mencapai pinggangku dan memelukku, saat dia melanjutkan ciumannya yang dalam. Lidahnya ada di dalam mulutku, menikmatiku perlahan. Mengambil waktu saat dia mematahkan ciuman kami, dan menggigit bibirku, lalu menghabiskan ciuman kami.


Ciumannya membuatku tersipu. Aku belum pernah mencium ini secara sensual, selama dua tahun terakhir. Dia menatapku, dan tampak senang dengan apa yang dia lakukan.


"Sayang. Kita harus pergi sekarang." Dia membantuku saat aku hendak mengambil barang-barangku dan menuju ke lift.


Kami tiba di ruang serbaguna. Lengannya melingkari posisiku dengan posesif. Aku sangat gugup, dan merasa tegang.


Aku membutuhkan air minum.


"Kau baik-baik saja, Laura? Tidak usah gugup." Dia tersenyum padaku, dan mulai mencium bahuku dan menggosok punggungku. Aku langsung rileks.


"Sekarang, mari kita berdansa dan memperlihatkan kehadiranku . Lalu kita bisa pergi untuk makan malam yang tenang, dan biarkan aku menikmatinya bersamamu untuk diriku sendiri." Ada kesenangan yang dijanjikan dalam kata-katanya. Gelap, menggoda, mengancam, membuat pahaku terkepal.


Dia mengantarku ke lantai dansa. Dia mengambil tanganku, dan memindahkannya lebih tinggi ke bahunya, sementara dia menarikku lebih dekat, dan meletakkan telapak tangannya ke punggung bawahku, hampir ke pantatku. Jika ini bukan acara formal, mungkin aku akan berpikir dia sudah meletakkan tangannya di pantatku. Kami menari untuk beberapa lagu lagi, lalu mundur ke bar.


Kami minum dan bicara tentang segala hal mulai dari hobi hingga liburan. Kemudian dia perlahan menyeretku untuk bergaul dan bergabung dalam obrolan teman-temannya, dan dengan cepat memperkenalkanku pada kenalannya. Sulit membayangkan kalau dia dua puluh tahun lebih tua dariku. Kami terlihat sangat cocok, dia membuatku lebih mudah untuk diterima oleh lingkungannya.


"Hai sayang, kau punya jiwa dewasa untuk wanita seusiamu. Dan itu hanya pujian, jangan salah paham. Ayo mari kita makan malam, kurasa aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu untuk hadir di sini." Dia mencium pipiku dan meraih tanganku, dan merangkulku di lengannya. Kami benar-benar terlihat, seperti sepasang kekasih.


Aku mengambil tasku, dan mengenakan mantelku saat kami berjalan kembali ke mobilnya. Aku tersenyum mengingat tanda dolar. Sekarang aku bahkan bisa melihatnya di mantelku.


"Apa ada yang lucu? Beritahu aku." Dia bertanya saat kami pergi ke tujuan kami berikutnya. Tangannya mengusap pahaku dengan santai.


"Tidak ada. Hanya saja aku sudah melihat tanda-tanda dolar sepanjang malam ini. Aku juga melihat dollar di mantelku, dan sebelumnya di dalam tasku. Aku yakin kalau Adriana yang sudah mengisinya. Aku juga menjual barangku semuanya di internet untuk yang terakhir kali dalam beberapa minggu terakhir, kurasa mataku mulai terbiasa melihat label harga sekarang. Aku bahkan melihatnya di botol minuman ku. Dan sepertinya aku bisa menjual semuanya sekarang." Aku menyeringai padanya dan melanjutkan. "-Yah, kecuali apartemenku dan mobilku. Aku benar-benar perlu berhemat dengan itu." Aku mengangkat bahu padanya dan tersenyum, sama sekali tidak merasa malu. Jika Adriana membiarkan dia melihat ku waktu aku sedang melakukan pemotretan, mungkin dia juga seharusnya sudah mengungkapkan situasiku kepadanya.


"Sebenarnya tidak, Adriana belum memberitahuku apa-apa tentangmu. Aku agak terdesak saat aku bertemu dengannya. Dia hanya bilang kalau kau wanita yang baru bergabung dalam bisnisnya, dan tentu saja sangat tepat dengan waktu desakanku, dan berhubung kau memiliki kecenderungan OCD. Itulah sebabnya dia berpikir kalau kau akan menjadi wanita sempurna untukku. Karena aku ini orangnya suka menghabiskan sebagian besar waktu untuk bekerja, dan orang yang sangat terbatas akan waktu. " Dia mengambil tanganku dan menciumnya.


"Tapi kau tidak perlu khawatir tentang itu sekarang. Aku mengerti." Secara naluriah aku mengambil kembali tanganku darinya.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Aku masih perlu berhemat. Aku masih tidak tahu bagaimana cara kerja Sugar Baby ini. Aku perlu rencana cadangan. Lihatlah, ini hanya gaya hidup. "


Kami melanjutkan percakapan kami, di restoran. Pelayan senior yang lebih tua mengantarkan makanan itu ke meja kami. Aku selalu suka restoran ini. Sangat nyaman, dan bergaya.


"Tuan James, selamat datang Nyonya Baskara Apa yang anda inginkan malam ini?"


"Baskara?" Dia mengangkat alisnya, tampak terkejut kalau pelayan itu tahu nama belakangku. Tapi dia menahannya, dan tidak bertanya lagi.


"Mmm ... Aku ingin minum anggur putih." Aku menatapnya yang tersenyum.


"Tentu saja Nyonya Baskara. Dan Anda, Tuan James?"


"Terima kasih sudah membawaku ke sini. Sudah lama aku tidak kesini."


Anggur kami tiba beberapa menit kemudian saat Sam menuangkannya ke dalam gelas untuk dicicipi James, setelah itu dia akhirnya menuangkan anggurku juga.


"Kau penuh kejutan, Laura?" Dia tersenyum dan meraih tanganku, dan menyimpannya di tangannya.


"Benarkah? Aku seperti buku yang terbuka James. Aku merasa seperti... aku tahu apa yang diharapkan dirimu dan aku berharap kau tahu apa yang diharapkan diriku. Aku menghabiskan dua tahun hidupku untuk seseorang, tanpa bayaran. Jika aku tahu perceraian orang tuaku akan membuatnya meninggalkanku, aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku dengan dia."


Kami berhenti makan malam setelah Sam membawakan kami makanan spesial. Makanan di sini selalu lezat. Aku menikmati rasanya.


"Tapi serius Laura, karena kau tahu aku kaya itu berarti kau bisa mempertahankan gaya hidupmu. Aku akan mendukungmu. Aku akan menjadi Sugar Daddy untukmu, sebagai ganti temanmu." Aku tertawa mendengar kata-katanya.


"Maaf, satu hal yang kudengar dari Adriana, ia berkata Sugar Daddy, tapi mendengarmu menyatakannya, itu seperti ketegaran lho. HmMm ... apa kau punya ketegaran yang harus kuketahui?" Wajahku memucat, membuatnya tertawa keras ke arahku. Ada beberapa pandangan, yang tertuju pada kami. Seperti tidak pernah tertawa keras selama bertahun-tahun.


"Tidak, tapi mungkin kau yang membuatku mengatakannya." Dia mengedipkan mata padaku menggodaku. Aku menepuk lengannya dengan main-main, lalu dia mengambil tangan yang sama, dan mencium jari-jari ku kemudian pelipisku.


"Semuanya sudah beres. Aku akan mendukungmu, karena aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu di rumahmu, aku tidak yakin aku bisa menyesuaikan diriku dengan apartemen yang kecil." Aku memutar mataku padanya.


"Kalau begitu, kau bisa membayarkan jasa layanan kamar, aku pingsan dan dirawat di rumah sakit terakhir kali saat aku mencoba membersihkan apartemenku. Lebih sulit dengan menjaga OCD-ku, aku tidak bisa membersihkan seluruh tempat itu." Aku cemberut dan bermain-main dengan gelas anggurku.


"Aku akan mengurus soal pelayanmu, Laura. OCD-mu, apa kau sudah pergi ke spesialis untuk itu?" Dia bertanya, mulai khawatir bahwa aku bahkan harus dirawat di rumah sakit untuk itu.


"Aku dulu pergi ke psikiater. Tapi sangat mahal. Jadi aku mengobati diri sendiri dengan minuman sekarang. Karena aku pikir itu akan bekerja lebih baik. "


Dia tertawa keras lagi. Aku mulai khawatir. Dan menenangkannya.


"Hei, kau baik-baik saja?"


"Maaf, Sayang, kau lucu sekali. Aku belum pernah tertawa sekeras ini dan bersenang-senang selama bertahun-tahun."


Akhirnya aku santai dan minum anggur lagi.


"Ayo, kita pulang," katanya.


Kami tiba di apartemenku satu jam kemudian. Aku merasa gugup saat kami berada di pintu depan Apartemenku. Itu seperti malam promnight, aku merasa seperti kembali menjadi anak remaja.


Aku bisa menghadapi ini. Tanganku terasa lembap.


Tekanan itu terus menakanku. Bagaimana jika aku .... Mmm ... Aku tidak melihat ada kesepakatan untuk kinerja intim dalam kontrak sih. Kalau bagi mantan pacarku dulu, melakukan hubungan intim hanya menjadi suatu kebutuhan, bukan keinginan atau nafsu. Aku tidak pernah merasakan kenikmatan jika melakukan itu dengannya. Dia tampan, tapi hanya saja butuh beberapa menit jika ingin melakukannya bersamanya, lalu kembali belajar atau pergi bersama teman-temannya.


"Hei Laura, kau baik-baik saja?"


"Emmm.. ya, jadi kau mau masuk? Maaf, untuk pertama kalinya aku. Aku tidak banyak berkencan." Aku mengoceh dan akhirnya dia mencium bibirku. Aku merasa kaku, mataku terkunci, bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut, lalu tegas dan menuntut. Dia kemudian mundur lalu menyentuh dahinya ke milikku.


Sangat seksi!


"Aku, ingin bercinta denganmu. Aku sudah membayangkan bercinta denganmu sepanjang malam. Buka pintunya sayang atau aku akan bercinta denganmu di sini, sekarang." Dia menghembuskan kata-katanya ke telingaku, mencium leherku, menggoda ciumannya ke pundakku.


Aku bergidik dan berhasil membuka pintu. Kami akhirnya masuk ke apartemenku. Aku kemudian meletakkan tas ku, dan melepas sepatuku. Dia dengan lincah bergerak di belakangku, dan meletakkan tangannya di pinggangku.


"James, aku harus memberitahumu kalau aku, aku tidak tahu apa aku akan sebagus yang kau harapkan. Kau akan menjadi orang kedua yang melakukan ini, karena mantanku orang pertama yang melakukan ini denganku." Lagi-lagi aku terus mengoceh.


"Laura." Dia mencium leherku, menarik napas panjang. Suaranya yang seksi membuatku basah, aku merasa diriku basah.


"Hmmm?"


"Tutup mulutmu sayang. Biarkan aku mengurus kebutuhanmu. Bisakah kau melakukannya untukku?" Dia membuka ritsleting gaunku, dan jatuh bebas ke lantai.


Aku tersipu malu, saat dia melihat ku. "James," aku benar-benar kacau. Aku tidak pernah merasakan hal ini dengan Richard sebelumnya. Aku tidak pernah menyangka akan melakukannya bersama pria yang lebih tua, artinya aku akan melakukannya bersama pria yang lebih berpengalaman.


"Laura, sangat tak tertahankan, bukan? Aku bertanya-tanya bagaimana perasaanmu jika kau merasakannya lewat mulutku ini, aku berfikir akan bercinta denganmu sepanjang malam setelah makan malam." Dia membawaku ke meja dapur, melebarkan kakiku secara terpisah, dan berdiri di antara kakiku. Tangannya menangkup pipiku, dia meletakkan bibirnya ke bibirku, secara sensual, menggoda, sementara tangannya yang lain bergerak turun ke area vitalku.


"James!" Aku mengerang di bawah sentuhannya.


"Kau basah sayang. Jangan khawatir, kau akan terlihat sempurna." Dia meluncur ke bawah tali rendaku, meninggalkan tubuhku dengan telanjang, dan melototiku dengan matanya. Dia berhenti menyentuhku, membuatku merengek. Dia tertawa kecil, lalu mengistirahatkan kedua tangannya di paha masing-masing, dan merendahkan dirinya sedikit dan mulai melahapku.


"Ya ampun! Ya ampun, James seperti itu ya ..." Aku terus menyebut namanya, berulang-ulang. Dia membuatku melambung jauh lebih tinggi sampai aku ada seperti cairan yang keluar di antarabkedua kakiku, dan dia tahu itu.


"Ayo, Laura, aku ingin kau mengeluarkannya ke mulutku, sayang. Sekarang!" Aku melakukan apa yang dia suruhkan. Aku terengah-engah dengan cepat. Dia menatapku, kemudian mengawasiku dari klim*ksku.

__ADS_1


Astaga! Dia sangat pandai dalam hal ini.


"Sekarang, kamar tidur. Aku harus melakukannya dengan benar." Dia mendorongku untuk berjalan di depannya. Aku tahu dia melihat pant*tku sampai ke kamar tidurku.


Aku berbalik menatapnya masih berpakaian lengkap, sementara aku hampir tidak mengenakan sehelaipun pakaian. Kemudian dia perlahan-lahan membuka seluruh pakaian ku lalu dia membelai rambut dan pipiku, membuatku merasa dikagumi. Sentuhan-sentuhan kecilnya, membuatku terengah-engah. Jarinya membuat tubuhku terasa tergelitik, sampai ke jari kaki terkecilku.


"Lucuti aku sayang, lalu duduk di tepi tempat tidur Laura." Dia tidak mengenakan apapun, dalam waktu singkat. Aku sangat terkesan dengan diriku sendiri. Mau tak mau aku menyentuh dadanya yang sempurna. Dia mengerang, saat tanganku menelusuri perut dan dadanya yang sempurna.


"Bisakah aku menyentuhnya?" Aku meminta izin padanya untuk menyentuhnya. Aku tidak yakin dia akan mengizinkanku, karena aku orang asing tapi dia mengangguk dan mengerang namaku, saat aku mulai menciumnya sambil menyentuh yang lain.


Aku mulai membuntuti tanganku ke perutnya, aku jadi berani. Lalu dia mengambil tanganku dan membimbingnya ke arah Vitalnya, "Laura, elus ke atas dan ke bawah sayang. Jangan seperti itu." Dia menatapku. Tangannya yang masih bertumpu di pinggangku, merambat ke pant*tku dan meremasnya. Aku mengerang, saat dia menabrakkan bibirnya ke arah bibirku. Tanganku yang lain memegangi wajahnya, agar tetap diam saat kami berciuman. Aku terus membelai miliknya yang mulai keras dan membesar.


"Duduklah, sayang. Aku ingin melihat bibirku di bibir seksimu." Aku duduk, saat dia memegang miliknya, dan menggodanya ke arahku.


Aku menjilatnya dan mengis*p miliknya, lalu aku memegang tangannya dan menuntunnya ke kepalaku. Dia mengerang keras, saat dia mengatur langkahku sementara aku melakukannya dengan mulutku.


"Astaga, Laura, cukup!" Aku terkejut, lalu mundur dengan tiba-tiba. Berpikir kalau dia tidak menyukainya.


"Sayang, tidak. Aku akan keluar begitu cepat, jika kau tidak berhenti. Kembali ke tempat tidur sekarang, aku ingin melakukannya dengan keras dan cepat. Kau membuatku gila." Aku seperti di atas bulan dengan kata-katanya. Lalu dia menyodorkan dirinya masuk ke diriku dengan begitu dalam dan keras, kami berdua mengerang.


"Sangat cepat, Laura! aku sudah keluar." Aku meneriakkan namanya, menyuruhnya untuk lebih keras dan lebih cepat, sampai kami puas satu sama lain.


Dia memerosotkan dirinya di sampingku. Kami berdua puas, santai, dan turun dari tempat tidur.


"Kau wanita muda yang terbaik yang pernah aku miliki. Kau akan menjadi milikku secara eksklusif Laura. Kau sangat bagus. Beri aku lima kali dan aku akan membuatmu keluar, lagi dan lagi."


Aku tersenyum di dalam hati. Aku senang kalau aku sudah membuatnya senang. Aku hanya perlu menyelesaikan pekerjaan rumah ku, sebelum pagi tiba.


"Hei, apa yang kau pikirkan?" Dia kembali ke tempat tidur, setelah membuang ******.


"Pekerjaan rumah. Maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Kau begitu hebat jadi aku berpikir, aku harus menyelesaikan PR-ku, sebelum ketiduran." Aku tersenyum padanya dan mencium pipinya.


Dia terkekeh dan menarikku ke dadanya, aku menikmati baunya. Aku menyukai aroma setelah bercinta, bercampur dengan parfum mahal miliknya.


Kami tetap terpuaskan selama sepuluh menit berikutnya, sampai aku mendengar napasnya yang stabil. Dia sudah menutup matanya dan tertidur kembali. Diam-diam aku ke kamar mandi, dan menyegarkan diri.


Kemudian aku melanjutkan tugas kuliahku di meja dapur, sambil meminum anggur. Aku mencoba untuk merilekskan diriku sendiri, sebelum tidur. Aku tahu aku tidak bisa tidur begitu saja, tahu kalau aku masih memiliki pekerjaan yang belum selesai.


Aku mematikan laptopku, menyelesaikan pekerjaanku, merasa puas dengan diriku sendiri. Tiba-tiba aku merasakan dia ada di belakangku.


"Hei, jadi kau serius memikirkan pekerjaan rumah?" Dia tersenyum dan mencium bahuku. Aku mengenakan kimono renda satinku, tanpa apa pun di bawahnya. Aku tidak bisa berjalan telanjang seperti dia. Ya! dia masih telanjang. Dia berjalan di ruang tamuku, dengan keadaan telanjang bulat.


Dia mengambil segelas anggur untuk dirinya sendiri, dan meminumnya dengan seksama di semua ketelanjangannya.


"Ya, aku minta maaf soal itu. Aku mau menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum bertemu denganmu lain kali. Maksudku jika kau menginginkanku lain kali."


Astaga! Adriana berkata jangan mengomel. Apakah ini dianggap mengganggu? Ya Tuhan.


Dia kemudian menjawabku, sebelum pikiranku kemana-mana.


"Kurang lebih seperti itu. Akan ada banyak waktu untuk hari berikutnya sayang. Aku bahkan belum memulainya denganmu."


Dia menutup laptopku dan menyimpannya. Dia mengangkatku ke meja dapur, dan menelusuri telapak tangannya dengan mudah di bawah kimonoku yang longgar, sampai ke dadaku. Aku meletakkan tanganku ke bahunya, membuka kaki ku, agar dia berdiri di antara kakiku.


Dia menarikku lebih dekat untuk melakukannya denganku lagi "James, astaga." Dia tertawa kecil padaku.


"Sabar Laura." James menyentuhku dengan jari-jarinya, sementara mulutnya mengecupku dan membisikkan kata-kata di telingaku.


"Kau sangat pandai dalam hal ini." Aku mulai membuntuti tanganku ke arah miliknya, menggerakkannya ke atas dan ke bawah, membuatnya menyebut namaku. Merasa berani, aku turun dari kursi dan menekan tubuh rataku padanya, sementara aku terus membelai dirinya. Aku tidak pernah termotivasi melakukan hal ini dengan mantanku sebelumnya.


"Bisakah aku menciumnya?" Aku bisa merasakan wajahku mulai memerah. Aku tidak menunggu jawabannya, aku segera berlutut di depannya. Perlahan membelainya. Aku tidak tahu kenapa aku begitu bersemangat. Tapi jauh di lubuk hatiku aku memang memiliki keinginan untuk membuatnya bern*fsu terhadapku.


Tangannya mencengkeram meja dapur, pembuluh darah di jarinya terlihat. Lalu aku bisa mendengar dengkurannya, dan aku melonggarkan tenggorokanku dan melakukannya dengan mulutku. Dia menyebut namaku lagi, dan memberitahuku kalau dia akan mencapai puncak. Aku meraih tangannya dan mengambilnya ke rambutku, mendorongnya untuk mengatur langkah.


"Aku bisa mengeluarkannya di mulutmu jika kau mau Laura, hmmm. "


Dia malah menciumku dengan keras. Aku senang saja karena aksinya itu. Aku tidak pernah sekeren ini sepanjang hidupku.


Apa aku akan menjadi seorang wanita nakal?


Apa hal ini akan memunculkan naluri wanita nakal dalam diriku?


Otak kecilku mengalami overdrive. Ada perubahan yang terjadi padaku dan penyakit OCD dalam diriku tidak suka perubahan. Ini seperti pola, keteraturan.


"Hei? Apa kau baik-baik saja? Apa yang kau pikirkan?" Dia bertanya saat tangannya menutupi pant*t tel*njangku, membelainya secara perlahan.


"Aku belum pernah sekeren ini sepanjang hidupku. Bahkan dengan mantanku. Aku pikir hal ini mengubahku menjadi seorang wanita nakal. Aku berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan di otakku."


Dia tersenyum, dan membawaku lebih dekat ke pelukannya.


"Sshh .... kau harus berhenti memikirkan segalanya. Mungkin kau harus bicara dengan psikiatermu lagi. Aku akan menjagamu sekarang. Hentikan semua itu. Kita sudah memiliki perjanjian. Kau telah menandatangani kontrak. Aku membutuhkan pikiranmu untuk bekerja dengan baik, dan menjaganya tetap baik, kotor dan jorok seperti yang aku sukai." Dia mencengkeram pundakku, dan membawaku kembali ke kamar saat aku memekik kebasahan tiba-tiba.


"Sayang, kau dan aku akan bersenang-senang sekarang!" Dia mengatakannya dan melemparku ke tempat tidur.


Dia berjalan perlahan ke arahku, aku mundur ke belakang, dan berhenti saat aku menabrak sandaran kepala ranjang. Dia tersenyum jahat dan melayang di atasku.


"Kau benar-benar hebat Laura, seorang wanita muda yang seksi dan cantik. Aku bisa bercinta denganmu sepanjang hari, sepanjang malam dan memilikimu sebagai makananku jika aku bisa. Aku jadi siap untuk melakukannya lagi." Kata-katanya begitu seksi yang membuat wajahku memerah lebih dalam. Aku tidak pernah memikirkan kata-kata seperti itu, dan itu membuatku menjadi sangat terangs*ng.


Kemudian dia melakukannya lagi dengan diriku dalam sekali jalan, mengisi tubuhku dan merentangkan diriku. "Astaga James, kau sangat pandai dalam hal ini. Aku tidak pernah membayangkan hal yang kita lakukan bisa sebagus ini. Ughh!" Aku mengerang namanya, karena dia terus mendorongnya masuk dan keluar dariku, membawaku ke tepi. Dia menarikku semakin dekat ke tepi, aku berusaha meraih klim*ksku setiap waktu. Tapi dia terus membuatku melambung jauh lebih tinggi, sampai dia menatap mataku. Dia mendorong lebih keras dan menyuruhku untuk mencapai puncakku, kami berdua melakukannya dengan sangat liar dan primitif. Aku bisa melihat hawa nafs*nya, kebutuhannya, saat dia memompakan badannya dengan malas turun dari ketinggiannya sendiri, sementara aku mengepalinya di dalam diriku.


"Kita harus tidur selama tiga jam, Laura, karena aku harus kembali bekerja. Kemarilah." Dia menarikku ke dadanya, aku menghirup aromanya seperti orang cabul. Tersenyum lebar dan menyapu lebih dalam ke pelukannya. Dia dengan cepat membalikku ke punggungku, dan mengusapku, saat dia mencium bagian atas kepalaku.


"Nah, ini lebih aman. Sekarang tidurlah Laura. Kita punya banyak hal yang harus dilakukan besok." Aku tersenyum dan tertidur lelap.


Aku terbangun karena alarm, sendirian di tempat tidur. Sinar matahari mengintip dari gordenku yang berwarna krem.


Apakah itu mimpi?


Aku kemudian meregangkan tubuhku dan mulai merasakannya. Rasa sakit di antara kedua pahaku. Aku membuka mata dan mengintip ke balik selimut.


Astaga aku tidak mengenakan sehelai pun pakaian? Ini bukan mimpi. Hubungan intim terbaik yang pernah aku lakukan seumur hidup dan dibayar.


Aku kemudian bangun dan mencoba untuk fokus pada tugas di depanku untuk hari ini. Aku mandi dan melanjutkan rutinitasku di pagi hari. Aku sedang menuju ke dapur, dan melihat ada catatan di meja dapur.


Meja dapur yang tidak begitu polos.


Aku tersenyum saat mengingat kejadian semalam. Dia pria yang luar biasa.


'*Pagi Laura, Maaf aku meninggalkanmu tanpa pamit. Aku tidak ingin mengambil risiko dengan membangunkanmu, soalnya nanti aku terkambat jika terus bersamamu untuk membuatmu senang di pagi hari. Tapi aku akan melakukannya denganmu lain waktu.


Aku sudah mentransferkan sejumlah uang ke rekening melalui Adriana. Harusnya semuanya sudah beres paling lambat sore ini. Dan tolong kirimkan aku pesan di emailku untuk jadwal kita, agar aku bisa merencanakan pertemuan kita ke depan.


Jangan ragu mengirimiku pesan.


-James*.'


Aku tersenyum, lalu mengerutkan kening dalam beberapa detik, membaca catatannya. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini, aku merasa seperti seorang wanita nakal. Nakal. Gelandangan. Dengan sensasi murahan.


Aku mengambil Napas dalam-dalam.


Aku bisa melakukan ini.


Setelah mengambil catatan itu dan meremasnya kemudian melemparkannya ke tempat sampah. Aku segera naik lift dan langsung menuju mobilku dan pergi ke kampus.


Hari berlalu sangat lambat. Setiap hari aku bermimpi beberapa kali di kelas. Adriana meneleponku sekitar jam sebelas dan mengatakan kalau uang itu sudah dikirim ke rekeningku. Aku mengucapkan terima kasih, dan mendengarkan obrolannya lalu menutup telepon. Aku berada di perpustakaan kampus dan aku memutuskan untuk membuka laptopku, dan memulai mengaktifkan pendaftaranku lagi di akun penjualan barang ku


Aku harus terus menjual barang-barangku. Aku jelas tidak nyaman dibayar untuk melakukan hubungan ****, meskipun seksnya sebagus itu.


Dua tas lagi terjual. Aku harus membungkusnya dan memberikannya ke Aryo yang menjadi kurirku sekarang. Aku pikir dia tahu apa yang ada di dalam paket ini. Tapi dia selalu menghormati privasiku.


"Hei, Laura, apa kabar?" Tiba-tiba Richard duduk di depanku.


"Ada apa?" Aku menjawabnya dengan malas.


"Ya, kau dan semua ucapanmu itu, omong kosong. Kau dan aku sudah berakhir. Dan aku tidak berharap kau menjadi temanku. Aku tidak mau menambah teman yang akan membuatku sesak. Bahkan teman-teman yang selama ini aku percaya meninggalkanku. Jadi, aku hanya ingin sendiri. "


"Laura, sayang."


"Tidak! Jangan menggangguku!" Tiba-tiba aku menutup mulut, dan tersadar kalau aku ada di perpustakaan kampus. Aku dengan cepat mengumpulkan barang-barangku dan keluar. Richard membuntutiku.


"Laura, dengarkan aku ?!" Dia dengan kasar meraih lenganku, membuatku meringis.


"Lepaskan aku, kau tahu betapa mudahnya aku memar. Kau tidak ingin aku berlari ke rumah orang tuamu, dan memberi tahu mereka kalau putra mereka yang tercinta menyiksaku kan?"


Menyebut orang tuanya, dia langsung melepaskan genggamannya padaku.


"Biarkan aku sendiri, Richard. Orang tuamu tidak menginginkan aku. Dan kau adalah anak yang manis dan penyayang, yang terlalu menghormati orang tuanya. Sayangnya itu juga yang membuatku tertarik padamu. Aku tidak bisa hadir di antara kalian. Jadi berakhir sudah sampai disini, Richard. Hubungan kita sudah selesai." Aku melangkah mendekat padanya, dan membelai pipinya untuk yang terakhir kalinya. Dia mengambil tanganku dan menciumnya.


"Aku benar-benar minta maaf Laura, kuharap aku bisa melakukan sesuatu hal untukmu. Aku merindukanmu. Aku rindu bersamamu." Dia akhirnya memelukku dan aku membiarkannya, berpikir kalau dia membutuhkan ini. Dia harus mengucapkan selamat tinggal padaku.


Dia mengantarku kembali ke mobilku, dan kami mengucapkan selamat tinggal. Aku kembali ke apartemenku dan menyiapkan makan siang, lalu menyelesaikan tugas sekolahku. Aku memeriksa ponselku, melihat pesan teks dari pria kaya itu.


Aku duduk di sofa, meneguk minumanku, mengambil napas dalam-dalam, dan membuka pesannya.


Laura, aku masih menunggu pesan darimu. Aku butub jadwalmu. Oh, dan kita akan dinner nanti malam. Kenakan saja sesuatu yang kasual. Hanya kita berdua. Aku akan menjemputmu jam tujuh. - James.


Aku melihat-lihat jadwal sekolahku dan mengirimkannya padanya.


Setelah aku mengirimkan jadwal kuliahku, aku tidak punya kesibukan lain. Aku bebas kapan saja, mungkin hanya beberapa tugas kuliah yang harus aku kerjakan. Yah, Ok. Jam tujuh malam. -Laura.


Aku menghela nafas dan pada perasaan tertentu aku merasa senang, tapi di sisi lain aku kecewa pada diriku sendiri. Aku membawa anggur ke kamar mandi dan bersantai. Aku meringis saat melihat lenganku. Tapi kemudian aku tenang, mengingat keputusasaan dalam diri Richard. Aku senang kalau dia akhirnya sengsara.


Mungkin tidak akan sampai seperti ini, jika aku masih memiliki Richard. Dia pasti akan mendukungku. Dia sudah memintaku untuk pindah ke rumah di kota tahun lalu. Tapi aku dan diriku yang OCD ini, langsung menolak idenya itu. Aku tidak bisa bertahan dalam seminggu.


Aku benar-benar tidak mood malam ini. Aku keluar dari bak mandi, dan memutuskan untuk menuang segelas anggur untuk diriku sendiri, mencoba untuk membangkitkan semangatku. Kalau begitu bersiaplah, sekarang sudah jam enam. Aku memutuskan untuk mengenakan jaket yang didalamnya gaun hitam kecilku untuk menyembunyikan memarku. Aku mengenakan make up ku, dan mengeringkan rambutku.


Aku melihat penampilanku dicermin. Yah tidak begitu buruk. Aku memutuskan untuk menuangkan segelas lagi untuk diriku sendiri, untuk meningkatkan kemampuanku dan mengenakan flat Toryku.


Tepat jam tujuh, dan aku masih saja sedang mempertimbangkan sesuatu, kemudian tiba-tiba pintu ku ada yang mengetuk.

__ADS_1


Chapter ini digabung dengan chapter selanjutnya. silahkan klik halaman Next. Terima kasih.


__ADS_2