My Hot Daddy

My Hot Daddy
Air Mata Kesedihan


__ADS_3

William mengambil cuti hari ini karena dia akan menemani Olivia ke butik untuk mencoba gaun pengantin yang akan di kenakan ya nanti.


Dan saat ini mereka tengah berada di meja makan untuk sarapan yang terlewat karena sudah jam 9 pagi. Nyonya Matilda sengaja melakukan hal ini untuk melihat beberapa peka anak dan menantunya ini.


Dan ternyata mereka cukup peka dengan kondisi yang tengah mereka hadapi saat ini.


" Jadi sudah tau apa kesalahan kalian berdua ?"


" Maaf Bu..." Hanya William yang menjawab dengan kata-kata karena Olivia hanya menganggukkan kepalanya saja.


Bahkan dia tidak berani memperlihatkan wajahnya untuk menatap sang mertua karena takut.


" Habiskan makanan kalian dan segera pulang sebelum jam makan siang. Jemput putra kalian sekolah. Dia tidak ada les tambahan hari ini katanya dan dia menyampaikan salam untuk kalian yang masih tertidur tanpa busana. "


Nyes...


Hati William seperti di siram air panas oleh setiap kata yang keluar dari bibir pedas ibunya. Entah mengapa jiwanya menciut saat mendapatkan kata-kata kritikan yang begitu pedas dari sang ibu.


Entah apa yang di makan ibunya hingga bisa memiliki mulut tajam dan pedas seperti itu. Rasanya William tidak habis pikir lagi dengan semua ini.


Dia langsung melihat ke arah calon istrinya yang mulai bisa bernafas dengan lega saat ibunya sudah pergi.


" Sudah jangan di ambil hati omongan ibu. Kamu harus memakluminya karena ibu melakukan hal ini demi kita semua. "

__ADS_1


" Iya Hubby. " Olivia pun melanjutkan makannya dengan di temani William yang terus saja mengusap punggung wanita hamil itu untuk menenangkan dirinya.


Setelah Olivia selesai makan William pun membantunya untuk membersihkan wajah wanita cantik itu lalu mereka langsung menuju butik untuk mencoba gaun pengantin mereka.


Sementara Nyonya Matilda sudah pergi lebih dulu. Tidak ada yang tau kemana ibunya itu pergi karena William dan Olivia pikir bahwa ibunya berada di kebun belakang.


Tapi ternyata tidak. Ibunya pergi ke makam pria yang begitu banyak menorehkan luka di hatinya hingga dia mati pun tidak ingin meminta maaf secara langsung padanya dan mengakui semua kesalahannya.


Entah apa yang membuat pria itu dengan mudahnya mati tanpa membawa maaf darinya.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama akhirnya nyonya Matilda telah sampai di makan mendiang sang suami.


Ya, Nyonya Matilda masih menganggap ayahnya William sebagai suaminya karena memang status mereka tidak pernah berubah menjadi sejak dulu hingga sekarang.


Pria yang telah tega membuatnya terpisah jauh dari William hingga William sedewasa ini.


Tidak ada yang di lakukan Nyonya Matilda untuk beberapa saat karena dia hanya menatap pada makam mewah itu.


Entah siapa yang membangunnya. Apa mungkin William ?


" Sejak dulu hingga sekarang hidupmu selalu terlihat mewah dan nyaman bahkan hingga makam mu saja pun semewah ini. Tidak pernah kah kau merasa bagaimana susahnya hidup di luar sana ? Pernah kah kau berpikir bahwa aku tidak baik-baik saja di luar sana dengan hidup ku ?" Nyonya Matilda langsung menghakimi makam mendiang suaminya.


Dia begitu sakit hati dengan perlakuan pria itu padanya. Perlakuan yang begitu kejam pada dirinya.

__ADS_1


" Apa kau tau Tuan Jhonson bahwa hidup ku begitu sulit karena perbuatan mu. Kau memang tidak melakukan itu secara langsung pada ku, tapi uang yang kau miliki membuat hidup ku begitu sulit karena ulah uang mu Jhonson. Hidup ku sangat sulit. Bahkan aku tidak bisa tidur selama sebulan karena merasakan sakit yang luar biasa di dada ku karena air susu ku tidak jatuh sedikit pun pada putra ku. Air susu ku hilang sia-sia karena mu Jhonson kesakitan yang ku rasakan semua itu karena mu!" Nyonya Matilda menjerit meluapkan perasaan sakit hatinya yang selama ini tidak bisa dia keluarkan pada siapa pun.


Ada penyesalan yang begitu luar biasa dalam diri Nyonya Matilda saat dia bertemu dengan Jhonson waktu itu saat dia pergi ke kota dan dia tidak memakai pria itu.


Dia malah lari dan bersembunyi agar tidak ketahuan oleh pria itu karena sangking takutnya.


" Demi Tuhan aku tidak ikhlas Jhonson, aku tidak ikhlas atas kematian mu ini. Aku akan mengejar mu sampai di alam baka sana. Aku akan mengejar dan menagih maaf mu Jhonson. Aku akan menagih itu untuk ketenangan batin ku. " Tanpa di sadari air mata Nyonya Matilda mengalir saat dia meluapkan semua perasaannya di makam yang indah ini.


Makam ini benar-benar indah dan terawat dengan baik. Tidak sesuai dengan tabiat dan perilaku sang pemilik raga yang sudah berada di alam baka sana.


" Aku bahkan masih memiliki rasa cinta terhadap mu Jhonson. Aku masih memiliki itu semua dan kenapa kau tidak sekalian membawa rasa cinta ku agar aku bisa hidup dengan tenang. Kenapa ?" Bentaknya lagi karena memang sejak dulu dia masih memiliki rasa cinta terhadap pria jahat itu.


Rasa cinta yang begitu luar biasa hingga membuatnya tidak bisa hidup dengan baik selama ini karena rasa cinta yang di milikinya terhadap pria yang bahkan sama sekali tidak pernah mencintainya sejak dulu bahkan mungkin saja hingga mati.


" Kau adalah pria paling kejam di dunia ini Jhonson. Kau benar-benar pria paling kejam di dunia ini dan aku membenci mu! Aku membenci diri ku sendiri yang tidak bisa menghilangkan perasaan cinta itu! Aku benar-benar membenci mu Jhonson Piero! Aku membenci mu!" Nyonya Matilda jatuh terduduk di tanah rerumputan dekat makam mendiang suaminya itu.


Dia meluapkan segala rasa yang bersarang di hatinya saat ini dan kini dia merasa bebannya sedikit terangkat dengan semua ini.


" Hatiku sakit Jhonson, hati ku sakit. " Air matanya terus mengalir menandakan bahwa saat ini dia benar-benar sangat terpuruk.


Dia terpuruk dengan segala perasaannya yang kini telah tersampaikan walau pria yang di bencinya sudah meninggalkan dunia ini.


...😭😭😭...

__ADS_1


__ADS_2