
Di malam hari, mereka berlima sudah berada di bandara internasional new York. Pesawat pribadi milik Leon sudah terparkir di sana dan siap mengantarkan ke Indonesia. Indonesia yang merupakan tempat asal Cyla dan tempat tinggal Leon.
"Barang bawaan sudah dimasukkan ke bagasi, tuan" jelas Rangga.
"Bagus, kalau begitu mari kita berangkat" ucap Leon sambil memegang tangan anak lelaki kecil.
"Uncle, apa kita akan benar-benar menggunakan pesawat mu bukan pesawat Daddy?" tanya Rei yang tangganya sedang digenggam erat oleh Leon.
"Tentu saja, apa kau pikir cuma ayahmu yang memiliki pesawat pribadi hebat" jelas Leon dan menggosok rambut Rei.
"Huh..." dengus Rei yang dengan cepat merapikan rambutnya yang berantakan dengan tangan kirinya.
"Dan buat kamu Lex, kalau tidak kuat mengendong Cyla biarkan aku yang menggendongnya" dingin Leon yang menatap adiknya masih berada di pelukan Alex dan sedang dalam kondisi tertidur pulas.
"Tidak perlu kakak ipar, aku bahkan bisa mengangkat nya dengan satu tangan saja" senyum Alex yang tidak ingin membiarkan istrinya di bawa maupun di sentuh oleh orang lain selain dirinya sedang.
"Alex, nanti kalau di Indonesia jangan terlalu liar. Walaupun bulan madumu juga di Indonesia tetap ingat kamu datang buat bantu keluarga Cyla bukan merepotkan" pesan Irene yang berada di bandara. Tubuhnya menggunakan pakaian musim dingin. Dan dengan lembut memperbaiki syal yang milik menantunya, Cyla.
"Tenang saja mom, aku akan memenangkan hati mereka" ucap Alex percaya diri yang membuat Irene mengganguk. Irene baru mendengar kabar ini tadi siang saat Rangga dan Rei datang ke tempatnya. Membuatnya sedikit syok kemudian menghela nafas lega karena mendengar penjelasan yang diberikan oleh Rangga.
"Jangan lupa berikan oleh-oleh tersebut" ingat Vero yang menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga Cyla di Indonesia.
"Apa aku terlihat sangat miskin? sampai-sampai aku tidak bisa membeli oleh-oleh?" tanya Alex dingin.
"Kali saja ini merupakan hari terakhir mu bersama Cyla, kan?" ejek Vero yang membuat Alex mengeluarkan senyum dinginnya.
"Hei pak tua, kenapa kau tidak cepat-cepat kembali ke mansion dan mencairkan otakmu itu" dingin Alex.
"Tidak ada yang tau bukan" ucap Vero enteng dan menatap Leon yang sedang mengganguki pendapat besannya.
"Benar-benar" ucap Rei yang juga ikut setuju.
"Hah, sudahlah aku tidak ingin berlama-lama dengan keluarga ini" dingin Alex yang langsung membawa Cyla masuk ke dalam pesawat.
__ADS_1
"Alex jangan lupa keluarga ini juga keluargamu!" teriak Irene yang terkekeh kecil. Melihat sikap anak laki-lakinya yang kembali normal seperti dulu. Dingin di luar hangat di dalam dan yang paling penting mudah di bawa bercanda oleh keluarganya.
Laki-laki dingin yang dulunya bagaikan gunung es di samudera Atlantik Utara kini telah berubah. Menjadi laki-laki dengan penuh kehangatan nya. Seakan-akan mengartikan bahwa musim dingin yang mereka lalui kini berubah menjadi musim semi.
"Kalau begitu kamu pergi dulu" sopan Leon yang menundukkan kepalanya sedikit lalu masuk sambil membawa Rei.
"Ingat jaga kesehatan dan berhati-hati lah!" teriak Irene yang melihat mesin pesawat sudah dinyalakan dan siap mengantarkan mereka pergi ke benua Asia.
Angin musim dingin menerpa mereka, di saat pesawat itu pergi menjauh dari bandara internasional New York City. Membawa keluarga kecil yang mengisi kekosongan yang ada di mansion. Tangan Irene melambaikan tangan nya pelan sambil melihat kepergian Alex dan keluarganya.
"Hati-hati" gumam Irene.
"Sudah, mereka pasti akan baik-baik saja dan ada Cyla di sana" senyum Vero yang menyakinkan istrinya bahwa keluarga kecil yang baru bersatu itu akan baik-baik saja.
"Hmmm" angguk Irene yang memeluk suaminya lembut. Ia juga yakin semuanya baik-baik saja, walaupun keberangkatan ini mendadak bagi dirinya
Cyla yang tertidur sudah diletakkan di tempat tidur pesawat. Dengkuran nya lembut seperti anak kucing yang jinak. Sehingga membuat hati orang-orang yang ada di sekitarnya tenang.
"Karena perjalanan ini akan lama, bagaimana kalau kita bermain kartu" ucap Leon yang mengeluarkan kartu miliknya.
"Jika kau percaya diri untuk menang aku akan menerimanya, karena aku sudah pasti akan mengalahkan mu" dingin Alex yang duduk di kursi pesawat.
"Tidak ada yang tau bukan, bahkan bisa saja malam ini Dewi Fortuna tidak memihak dirimu" ucap Leon yang membuka kotak kartunya dan mengocok kartu yang dipegangnya dengan cepat.
"Uncle aku juga ingin ikut" ucap Rei sambil memegang es krim yang diberikan oleh pramugari pesawat.
"Dapat darimana es krimnya?" tanya Alex.
"Tentu saja dari pramugari cantik yang ada di sana" tunjuk Rei dan melambaikan tangannya ringan. Kedua pramugari yang melihat lambaian tangan anak kecil itu hanya bisa menahan nafasnya. Melihat anak kecil yang menggemaskan dan memiliki ketampanan melebihi rata-rata.
'Ahhhh lucunya'
__ADS_1
'ini terlalu lucu' gemas kedua pelayan tersebut.
"Jangan menebar pesona mu dan ingat mommymu mengatakan kamu tidak boleh makan es krim banyak-banyak" ucap Alex mengingatkan anaknya.
"Tenang saja aku masih ingat Daddy dan juga mommy sedang tertidur karena kelelahan" dingin Rei.
"Kelelahan? bukannya dia hanya makan siang saja?" bingung Leon yang hanya tau bahwa adiknya makan siang terlambat dan mendengar hal lainnya yaitu adiknya berisitirahat sebelum ke Indonesia, bukan kelelahan.
"Ehhh apa uncle tidak tau Daddy tadi di ruang rapat melakukan I... ehmm" ucap Rei yang tiba-tiba terpotong di saat tangan besar ayahnya memasukkan es krim yang dia pegang ke dalam mulutnya secara kasar.
"Mulutmu butuh pendingin" jelas Alex yang mengeluarkan tatapan tajam miliknya. Dia sudah berusaha menutup-nutupi dan meminta kedua pelayan yang berusia di pintu ruang rapat untuk menutup mulut. Tapi tidak menyangka bahwa anak laki-lakinya juga mengetahui bahwa dirinya menerjang Cyla sekali lagi.
"Alex kau benar-benar melakukan itu lagi?" ucap Leon terkejut.
"Melakukan apa?" ucap Alex sambil mengangkat bahunya tidak peduli.
"Cih-cih, aku tidak tau bahwa kamu bisa seliar ini. Apa kau tidak bisa menahan nafsu mu itu?" sindir Leon yang tidak percaya suami adiknya akan melakukan hal-hal yang tidak berguna di dalam ruang rapat.
"Kau akan mengetahuinya saat kau menikah nanti" sindir Alex yang tidak ingin menjawab pertanyaan dari kakak ipar nya dan lebih memilih untuk mulai memainkan game kartu miliknya. Mengambil setiap kartu yang telah dibagi dan memulai permainan dengan santainya. Tanpa tau bahwa kedua orang yang ada di hadapannya sedang menatapnya dingin.
'Apa adikku akan marah jika aku memukul suaminya?' pikir Leon yang kesal dengan mulut Alex.
'Daddy kau terlihat seperti malaikat berhati iblis di sini' pikir Rei yang tidak percaya ayahnya sudah menyombongkan pernikahan nya.
πππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary
β’Maaf telah update saya mencari ilustrasi dan akhirnya jadi drop whahaha. Pasrah sih karena terlalu senang banget cari ilustrasi ehhh tiba-tiba drop gara-gara tidak tidur hampir seharian Β°^Β°
Maafkan saya, Sayonara~
__ADS_1