
Baju kaos bewarna putih menjadi atasannya, celana jeans pendek melengkapi penampilan miliknya. Dia menenteng sebuah tas berukuran sedang bewarna hitam glossy.
"Baiklah siap" gumam Cyla. Ya saat ini Cyla sudah bersiap-siap untuk pergi bertemu dengan Didi. Persiapan pernikahan yang membuatnya sulit berkomunikasi dengan orang-orang terdekat cukup membuat Cyla sesekali ingin berjumpa dengan mereka.
Seperti Didi teman satu-satunya yang ada di sini. Kalau di negara Indonesia mungkin dia akan bermain dengan anak-anak panti asuhan. Membantu Bu panti menjaga anak-anak dan mengajari mereka beberapa pengetahuan. Tapi sekarang di New York dia memiliki teman seperti Didi dan dia juga memiliki keluarga. Keluarga kandung yang menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Leon yang bersender di dekat pintu. Hari ini Leon akan mengantarkan adiknya ke tempat pertemuannya. Leon mengantarkan Cyla sekalian berangkat ke perusahaan lain untuk bertemu klien karena mereka satu jalur jadi Leon menawarkan dirinya untuk mengantarkan adiknya.
"Sudah, kak" senyum Cyla lalu merangkul kakaknya.
"Tidak ada yang ketinggalan kan?" tanya Leon hangat.
"tidak ada tapi kak seharusnya aku yang bilang begitu loh" ucap Cyla.
"Tidak perlu mengingatkan kakak, karena kakak sudah memiliki asisten yang selalu siap sedia" jelas Leon. Kebenaran nya kan memang seperti itu, bahkan sekretaris yang merangkap menjadi asisten nya ini sudah sangat hafal dengan makanan apa yang dia suka, berapa jam dia tidur dan lain-lain.
Jika ada perempuan seperti Rangga sudah dipastikan Leon akan melamarnya secepatnya. Tapi sayangnya tidak ada perempuan yang seperti Rangga. Membuatnya menjadi orang singel yang sudah menjabat selama bertahun-tahun.
"Tuan mobilnya sudah siap dan juga saya akan mengantarkan anda" sela Rangga.
"Tapi tadi aku bilangnya bahwa aku yang akan mengantarkan adikku"
"Tuan anda tetap mengantarkan nya hanya saja saya yang akan menyetir. Seharusnya tuan ingat bukan projects ini sangat penting untuk kita" senyum Rangga.
"Huft.... baiklah" pasrah Leon. Cyla yang melihat sikap kekanak-kanakan kakaknya hanya bisa tertawa kecil. Sungguh orang yang aneh tetapi membuatnya merasakan kehangatan keluarga yang nyaman.
'Senang memiliki kakak sepertinya' ucap Cyla dalam hati.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil milik Leon. Cyla membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya ke arah Rei.
"Hati-hati mommy" ucap Rei sambil melambaikan tangannya.
"Iya" ucap Cyla membalas lambaian tangan milik Rei. Alex dan Irene sedang mengurus beberapa hal penting untuk pernikahan yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Membuat kedua orang itu tidak bisa menemani kepergian Cyla dan Leon kecuali Rei yang bebas melakukan apapun. Karena dia masih anak-anak membuatnya tidak perlu mengurusi hal-hal yang namanya pernikahan dan memakan Snack saja.
'Apa mommy akan baik-baik saja, aku merasakan firasat yang buruk hari ini' pikir Rei dan berlari dengan cepat ke arah Cyla.
"ada apa Rei?" bingung Cyla yang hampir saja menutup kaca mobil.
"Itu... bawa ini bersama mommy" ucap Rei dan menyodorkan sekuntum bunga.
"Peony?" ucap Cyla yang menerima sekuntum bunga bewarna merah muda cantik itu.
__ADS_1
"Bunga itu melambangkan keberuntungan jadi mommy harus membawanya bersama" jelas Rei dan langsung masuk ke dalam mansion. Dia hanya membawa sekuntum bunga Peony saja tidak lebih dan bunga itu memiliki arti uang pas saat hari ini. Karena sejujurnya Rei dari tadi merasakan merasakan firasat yang buruk.
Berharap bunga itu akan menjadi keberuntungan ibunya dan menjaga mommynya dari mara bahaya. Hanya saja Rei tidak berharap akan ada kejadian buruk yang akan menimpa ibunya. Apalagi dengan tanggal pernikahan yang mulai mendekat dia tidak ingin kehilangan ibunya.
'Positif thinking Rei, semuanya akan baik-baik saja' ucap Rei meyakinkan dirinya
.....
Di tempat lain mobil bewarna merah itu berhenti tepat di kedai makan yang memiliki menu daging asap.
"Apa benar tempat ini Cyla?" tanya Leon mempastikan. Walaupun dia tau Cyla dibesarkan di panti asuhan dan memiliki selera kalangan masyarakat. Tetap saja kedai ini jauh dari kata makan yang biasanya Leon lakukan.
"Tenang saja kak memang benar ini kok, aku dan Didi sering ke sini untuk makan daging asap malam-malam jadi tidak perlu khawatir" senyum Cyla yang sudah keluar dari dalam mobil milik sang kakak.
"Ah baiklah kalau begitu jangan lupa telpon kakak jika kamu sudah selesai menyelesaikan urusan mu, okay"
"Baik, hati-hati kak Leon" hangat Luna dan membiarkan mobil itu pergi meninggalkannya. Melambaikan tangannya dan berbalik ke arah kedai. Kedai ini sangat ramai bila di malam hari karena daging berkualitas dan pastinya harganya yang merupakan standar mahasiswa. Dulu sekali saat dia masih anak kuliahan saat tour ke kota New York, banyak para mahasiswa maupun mahasiswa yang menginap di hotel. Termasuk Cyla dan di saat lapar Cyla tidak sengaja bertemu kedai daging tersebut, membuatnya sering mengunjungi kedai ini saat menyelesaikan tugasnya.
"Baiklah kalau begitu aku harus menghubungi Didi terlebih dahulu" ucap Cyla dan mengambil handphone miliknya. Mencari nomor Didi dan menelponnya.
Cyla mendengar suara telpon di dekatnya dan semakin mendekat. Membuat suara deringan itu terdengar jelas ada di dekatnya. Kaki kanannya berputar dan menoleh ke arah samping dan..
"Di.."
Tit** tit***
Panggilan terputus di saat itu jugalah kepergiannya menghilang. Handphone miliknya jatuh ke lantai dan kesadaran miliknya menghilang. Obat tidur itu memasuki Indra penciuman miliknya dan Cyla tidak bisa melihat siapa yang ada di sebrang sana. Hanya saja dia mengetahui perempuan itu, dia adalah mantan istri Alex.
"A..Alex" ucap Cyla terkahir kali sebelum matanya terpejam.
Prangggg**
Pecahan kaca berserakan di lantai beton bewarna putih tulang itu. Suara pecahannya terdengar jelas di sana membuat para pelayan dengan cepat mengambil alat pembersih.
"Astaga Alex apa kamu tidak bisa berhati-hati, itu gelas mahalh!" pekik Irene dan meletakkan beberapa cookies coklat di meja.
"Aku akan menggantinya dan juga aku tidak sengaja hanya saja..." ucap Alex terhenti.
"hanya?"
__ADS_1
"Aku merasakan firasat yang tidak enak" gumam Alex yang berjongkok ke lantai mengumpulkan pecahan-pecahan kaca tersebut dan memasukkan ke dalam wadah yang disiapkan oleh para pelayan.
"Awch" ringgisnya. Tangannya tergores pecahan kaca dan membuat hatinya bertambah tidak nyaman. Darah itu menetes di tangannya tetapi tidak terlalu membuatnya sakit melainkan perasaan nya yang malah tambah sakit.
'ada apa ini' pikir Alex tidak nyaman.
"Astaga anak ini, kalian bereskan pecahan kaca itu dan kepala pelayan bawakan P3K" perintah Irene dan menarik Alex untuk duduk di kursi.
"Ada apa denganmu Lex, apa ada yang menggangu pikiranmu hingga kamu memecahkan gelas?" tanya Irene sambil mengambil kapas dan juga alkohol yang diberikan oleh kepala pelayan.
"Tidak hanya..."
Kring** Kring**
"Astaga siapa yang menelpon di saat-saat seperti ini, kau angkat telepon itu" perintah Irene yang kembali fokus membalut luka anaknya dengan perban.
"baik nyonya" jawab pelayan itu dan menjalankan tugasnya. Mengangkat telpon rumah yang berdering di dekat mereka.
"Nyonya saya minta maaf tapi telpon ini sepertinya untuk tuan muda dan mungkin ini penting" ucap pelayan perempuan tersebut meminta maaf. Alex melepaskan tangannya dari ibunya dan berjalan ke arah telpon rumah itu berada. Mengambilnya kasar dari pelayan dan menjawabnya dengan dingin.
"Siapa?" tanya Alex singkat.
"Apa benar ini kediaman Johnson?" tanya penelpon di sebrang sana.
"ya memang benar, ada apa?" jawab Alex singkat. Dia tidak ingin membuang-buang waktunya ditambah mood miliknya yang mulai memburuk.
"........"
Alex yang mendengar penjelasan dari telpon tersebut mengepalkan tangannya. Matanya menggelap, aura kelam miliknya membuat aura di ruangan itu terasa mencekam dan dingin.
'sial!'
πππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary
β’Ara-ara author akhirnya memulai pertempuran ini, hohoho saya spoiler ya yang nelpon mas Alex bukan dari pihak Erika tetapi pihak orang lain jadi silahkan komen dan marahin author gara-gara bikin part yang tanggung dan membuat kalian pengen nabok author.
Whahaha saya sangat suka part ini, dan jujur saya sudah menghabiskan 2 jam 30 menit lebih untuk menulisnya karena mencari alur itu sangat sulit ^^ jadi silahkan di komen ya. Apalagi komen kalian itu sangat menyenangkan untuk dibaca :v
__ADS_1