
"Erika, bukannya sudah ku katakan untuk bersabar" ucapnya.
Matanya menatap tajam ke arah Erika yang mencoba mencekik Cyla. Senyuman nya manis tapi tidak dengan hati nya yang dipenuhi dengan kegelapan. Hanya wajah bagian bawahnya saja yang terlihat sisanya tertutupi kegelapan. Dimana cahaya bulan saat ini sedang ditutupi oleh awan-awan.
"Cih, dasar merepotkan" ucap Erika dan melepaskan cekikan miliknya. Erika berjalan ke arah luar dan tidak berhenti menatap benci Cyla. Erika sangat-sangat membenci perempuan yang akan dinikahi Alex itu. Padahal sedikit lagi dia sudah pasti membuat perempuan itu mati.
"Hah...hah....hah" nafas Cyla terengah-engah. Tidak menyangka kalimat yang dia dengar dari teman-teman mampu membuat Erika menjadi sepeti iblis. Sedikit lagi ya sedikit lagi sudah dipastikan pernafasan Cyla akan berdampak buruk.
'Aku harus berhati-hati' pikir Cyla dan menetralkan pernafasannya. Matanya menatap ke arah bawah dan melihat sepatu kulit bewarna hitam sudah ada di dekatnya.
"Maaf ya nona Cyla, Erika membuatmu ketakutan" ucap laki-laki itu dan menekan pundak Cyla kuat. Suaranya hangat tetapi Cyla bisa merasakan nyawanya terancam di genggaman orang ini. Bukan Erika yang dengan mudahnya ia pancing. Cyla merasakan bahwa laki-laki yang menekan pundaknya kuat ini sulit untuk dihindari.
"ah...ehm" gugup Cyla. Dirinya tidak bisa mengangkat kepalanya. Aura dingin yang mencekam ini membuatnya takut. Aura yang sama persis dengan Alex. Aura kuat yang mampu membuat lawannya tunduk itu bisa Cyla rasakan sektika. Membuat kaki Cyla tiba-tiba menegang dan bergetar.
"Ah sepertinya saya belum memperkenalkan diri saya dan apa anda bisa mengangkat kepala anda sedikit" sopan laki-laki tersebut yang sudah melepaskan genggaman di bahu Cyla.
"Perkenalkan nama saya Felentino Ricard" ucap Felentino memperkenalkan.
Cyla yang mendengarnya mendongak dan menatap ke arah Felentino. Tepat di saat itu awan yang tadinya menutupi bulan berlahan-lahan pergi. Sinar bulan yang tadinya tiada kembali menunjukkan keindahan sinar miliknya.
Di situlah mata Cyla bisa melihat jelas laki-laki yang mengenalkan namanya sebagai Felentino Ricard. Aura dingin yang mulai menipis membuatnya memberanikan diri untuk menatap wajah orang tersebut. Dari atas ke bawah mungkin tidak terlihat kecacatan nya tapi tidak dengan tangan kanan orang tersebut.
Tangan kanan yang dipenuhi luka itu terlihat menyakitkan. Luka yang ditutupi oleh jaket bewarna hijau itu dilepas dan dijatuhkan ke lantai. Memperlihatkan situasi yang berbeda dari sebelumnya. Mata yang dingin menyerupai Alex itu menatap Cyla tajam.
"A..apa aku mengenalmu?" tanya Cyla. Saat dia menatap wajah orang yang bernama Felentino membuatnya teringat dengan Alex. Mata tatapan tajam itu sangat-sangat memberikannya rasa nostalgia.
"Tidak, tidak ada yang mengenalku kecuali dia" senyum Felentino.
"Maksudnya?" bingung Cyla.
"Tidak perlu dipikirkan yang pasti saya harap anda betah di sini sambil menunggu calon suamimu itu datang" smirk Felentino.
"Alex..." gumam Cyla.
"Ya, Alex akan datang menyelamatkan mu dan akan ku bunuh di sini" bisik Felentino di telinga Cyla. Tubuh Cyla mendadak merinding mendengar perkataan milik Felentino. Jantungnya tidak berhenti berdegup keras, bukan karena dia memiliki perasaan cinta untuk orang di depannya ini. Tetapi Cyla ketakutan bila semua hal yang diungkapkan itu terjadi.
__ADS_1
Dirinya tidak ingin kehilangan Alex, karena sejujurnya Cyla sudah sangat mencintai laki-laki itu lebih dari apapun. Menyukai senyuman yang hanya diberikan kepadanya, sikap manja yang akan ditunjukkan kepadanya saja. Masakan yang dibuat dengan penuh cinta oleh Alex. Semuanya, Cyla sangat menyukai semua hal tentang laki-laki itu.
"Itu tidak akan terjadi bahkan aku percaya bahwa Alex akan tetap hidup" senyum Cyla gentir. Senyumannya bergetar tetapi tidak dengan matanya yang penuh dengan keyakinan itu.
"Sepertinya keyakinanmu itu tidak akan bertahan lama" smirk Felentino dan meninggalkan Cyla di ruangan sendirian. Membiarkan Cyla sendirian dan berdoa untuk keselamatan Alex. Berharap agar Alex selamat dan tidak akan terjadi apapun. Walau luka yang ada di tubuhnya menyakiti diri Ca perlahan-lahan tetapi tidak membuat Cyla berpikir positif untuk Alex.
'Hati-hati, Lex' ucap Cyla dalam hati.
Di Tempat Lain~
Mobil truk itu berhenti di pintu masuk pelabuhan. Dimana Bagain belakang truk yang sudah ditutupi terpal bewarna biru membuatnya tidak ketahuan.
"Apa benar ini pelabuhan xxxxxx?" tanya supir truk.
Penjaga yang ada di depan pintu utama pelabuhan berjalan ke arah truk tersebut. Dengan senjata sniper di tangan penjaga tersebut. Semasih supir dan dua penjaga lainnya menjawab pertanyaan yang diberikan. Di belakang truk yang disembunyikan oleh terpal bewarna biru tua, terdapat sebuah gerakan.
Dimana sebuah teropong kecil keluar dari sela-sela terpal dan memata-matai kedua penjaga tersebut.
"Senjata yang mereka gunakan adalah
"AWSM senjata yanh lumayan bagus, penglihatan mereka ternyata tidak buruk" ucap Komandan I.
"Tinggal 2 menit 43 detik lagi sebelum bom meledak, siapkan semua barang-barang" ucap Vero sambil melihat jam miliknya. Suara truk yang senyap dan terpal biru yang tadi menutupi itu hampir terbuka oleh orang luar.
"Apa benar isinya barang-barang kontruksi?" tanya salah satu penjaga. Membuat semua tentara yang ada di dalam truk menahan nafas mereka. Salah sedikit saja maka mereka semua akan ketahuan. Nafas yang mulai keluar perlahan-lahan itu tiba-tiba berhenti tepat saat suara bom terdengar keras.
Terpal yang hampir terangkat kembali ke tempat dan membuat para penjaga yang ada berlarian ke arah tempat ledakan. Dengan cepat komandan I menginstruksikan semua orang untuk turun ke bawah. Terpal yang dibuka membuat orang-orang mulai keluar dari dalam truk.
"Cepat... cepat" perintah Komandan I yang membuat semuanya turun dengan senjata masing-masing. Mengendap-endap dan bersembunyi secepatnya di tempat yang didapatkan. Dari kapal yang diderek karena berlubang, perahu yang di siapkan, tong kosong yang disusun rapi untuk menampung air hujan, semak-semak yang tumbuh lebat karena tidak ada yang merawat. Memberikan mereka semua keuntungan untuk bersembunyi di pelabuhan.
"Huft...Huft..."
"Apa kamu tidak apa-apa, Lex?" tanya Vero yang bersembunyi di semak-semak.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Dad" singkat Alex.
Kekompakan pertama sudah menyiapkan posisi mereka masing-masing. Karena terdiri dari 12 orang membuat 6 orang terpilih untuk berjaga di garis belakang dengan sniper milik mereka, 5 orang akan maju ke garis depan untuk menjemput Cyla dan 1 orang terakhir akan memasang atau mempastikan bom di sekitar pelabuhan.
Ledakan yang sudah dipadamkan membuat para beberapa penjaga kembali ke tempat mereka masing-masing. Memeriksa truk yang tadinya datang dan mengatakan bahwa truk itu adalah pengangkutan barang-barang di pelabuhan.
"Sepertinya tadi ada o..." ucapan penjaga terhenti saat membuka isi terpal yang kosong.
"Lihat tidak ada bukan, saya hanya trik angkutan barang saja. Jika anda begini sama saja dengan melanggar hukum pemerintah" ucap sang supir.
"Kalau begitu apa yang ada di belakangmu?" tanya penjaga lainnya yang melihat sesuatu yang aneh.
"Ini..." gugup supir tersebut dan...
Sssssttttt.....
Senjata senapan tanpa suara itu menembak tepat di bagian kepala penjaga. Peluru yang mengenai penjaga bukan peluru berbahaya. Hanya sebuah peluru yang merupakan obat bius agar tidak menyalahgunakan protokol negara.
"Arghhhh!" teriak penjaga tersebut dan pingsan. Supir yang dicurigai itu langsung menangkap penjaga yang pingsan. Tersenyum ke arah penjaga lainnya dan dengan cepat mengeluarkan pistol miliknya.
"kamu...." tunjuk penjaga yang tidak sempat menyiapkan senjata miliknya.
"Maaf teman" ucap supir dan menembakkan senjata miliknya. Hanya ada 3 senjata yang menggunakan peluru yang sudah diganti dengan obat bius yaitu satu pistol dan dua senjata senapan. Sisanya merupakan senjata yang menggunakan peluru asli dari logam.
Saat supir tersebut memasukkan kedua penjaga yang roboh itu ke dalam truk. Suara alarm pelabuhan berbunyi keras. Menandakan bahwa penyusup telah memasuki pelabuhan. Supir yang berada di dalam truk langsung menggeledah kedua penjaga tersebut. Seperti dugaan miliknya di tangan penjaga yang kedua ada sebuah tombol. Dimana tombol itu sudah ditekan lalu menghasilkan pemberi tahuan ke penjaga lainnya.
'ah sepertinya aku kelupaan, maaf komandan' ucap sang supir dalam hatinya.
Suara alarm pelabuhan yang menyala membuat lampu-lampu yang tadinya dimatikan. Dihidupkan kembali dan menerangi seluruh bagian pelabuhan. Posisi siap milik penjaga mulai dimulai dan suara tembakan dimulai di saat itu.
'Dasat anak itu' kesal Komandan I.
πππππππππππππππ
β’Jangan Lupa mampir novel author yang lainnya judulnya:
__ADS_1
My Ex Secretary
β’Uhuk.... komen kalian keren-keren semuanya astaga suka aku bacanya dan juga pertaruhan nyawa Cyla dan Alex besok....huft otakku terkuras padahal lagi Studyyyy uwu~