
Aku terbangun, James masih ada di sisiku. Aku tersenyum dan meringkuk lebih dekat dengannya. "Laura, jika kau terus mendekat, aku mungkin akan memberikannya padamu." Tapi dia tetap menarikku lebih dekat dengannya, saat dia menghela nafas dan memelukku lebih erat.
"Bagaimana perasaanmu pagi ini?" Dia membelai rambutku dan menggosok lenganku.
"Sangat baik, terima kasih. Tolong peluk aku sedikit lebih lama lagi."
"Kau bisa bersamaku untuk beberapa hari ke depan Laura, aku akan bekerja dari rumah. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku mencintaimu sayang, dan kau benar-benar membuatku takut tadi malam."
"Kau akan melakukannya? Kau yakin? Aku kan aman di sini. Aku tidak ingin membebanimu, James." Aku mulai bangun, tapi dia tidak membiarkanku pergi.
"Entahlah aku... atau bagaimana jika aku memanggil ibuku untuk menjagamu disini. Aku tidak mau membiarkanmu sendirian. Itu sudah keputusan final."
"Ok baiklah jika itu maumu." Dia tertawa kecil dan mencium rambutku.
Kami tinggal di tempat tidur selama lima belas menit berikutnya sampai aku merasakan dorongan untuk menggunakan kamar mandi, kemudian aku melakukan rutinitas pagiku, sementara dia ingin membuatkanku kopi.
"Aku serius sayang. Kau benar, tentang kemungkinan kehilangan satu sama lain, tentang perbedaan usia kita. Betapa dangkalnya pikiranku ini. Kau sebenarnya lebih realistis daripada diriku. Aku mencintaimu, Laura, dan aku tidak ingin kehilanganmu." Dia mengambil pinggangku dan menarikku mendekat, dan memberiku ciuman termanis yang membuatku menghela nafas setelahnya.
"Jadi, apa kau sudah mengecek keadaan Jerri? Dia semalam habis dipukuli. Kita bisa mengunjunginya jika kau mau?" Dia menyerahkan kopiku.
"Ya ampun, aku harus menghubungi mereka. Dan ya tolong, aku ingin melihat mereka." James berpakaian dan aku menelepon Renata dan bertanya tentang Jerri.
Satu jam kemudian kami berada di tempat Jerri. Dia tampak pucat, karena kepalanya habis dipukuli. Pernikahan akan tetap berjalan sesuai rencana, semuanya sudah dijadwalkan dan dibayar untuk itu, kata Jerri.
__ADS_1
"Jerri sayang, apa kau yakin? Renata? Dia benar-benar baik-baik saja?"
"Kami sudah melakukan semua pemindaian tadi malam, dokter mengatakan dia baik-baik saja. Laura, pasti tadi malam tampak mengerikan, kan? Tapi jangan khawatir, dia sebenarnya sudah membaik. Dokter sudah membersihkannya. Aku sebenarnya lebih khawatir tentang dirimu. Jerri bilang kau ditendang dan menjerit semalam? " Aku melihat James mengepalkan rahangnya, mendengar ini.
"Ya, itu sangat menakutkan, aku diseret ke bawah dan ditarik ke dalam perkelahian lalu ada seorang pria yang sedang mabuk , dan seterusnya, tapi aku baik-baik saja sekarang. James menemukanku, menjemputku dan merawatku." Aku mengambil tangannya dan mengelusnya.
James meninggalkanku di tempat Jerri dan pergi untuk suatu tugas. Kami terus mengobrol tentang detail pernikahannya, sampai James kembali hampir dalam dua jam kemudian.
Kami mengucapkan selamat tinggal, dan kemudian pergi untuk makan siang di restoran sebelum kembali ke rumah. Kemudian teleponnya berdering, dia mengangkatnya dan menelapak wajahnya lalu melihat arlojinya.
"Ya ibu, tidak. Ya, dia di sini bersamaku. Kami sedang makan siang. Benar, ya. Aku akan bertanya padanya. Sekarang? Benar. Tunggu ..." Dia menangkupkan ponselnya dan berbicara padaku.
"Laura, aku lupa tentang hal yang akan dihuni orang tuaku, dan ibu bertanya apa kau bisa ikut denganku? Katakan saja ya, tolong?" Wajahnya memohon padaku untuk mengatakan ya. Lalu aku memandangnya dengan jahat.
"Ya bu, kita akan segera kesana. Oke, aku juga mencintaimu. Sampai nanti." Dia akhirnya menutup telepon, dan dengan santai menyandarkan punggungnya ke kursinya.
"Terima kasih sayang. Oh .. Ibu dan ayah menitip salam untukmu." Dia memegang tanganku, dan menciumnya.
"Acara apa itu? Jam berapa dan di mana?" Aku bertanya kepadanya. Kami selesai makan siang dan menyesap kopi kami sekarang.
"Acara kegiatan amal tahunan, biasanya aku tidak pernah lupa. Tapi malam itu, kurasa terlalu banyak yang kufikirkan. Tapi apa kau yakin, kau baik-baik saja jika bersama dengan orang yang banyak? Acaranya tepat jam tujuh, di kebun anggur. Ini acara di luar ruangan." Dia menggosok tanganku, dan menatapku dengan penuh kasih.
"Sayang, Kita harus kembali ke tempatku. Aku akan mengambil momen, sebelum pergi. Aku akan membayar ini. Kau duduklah dulu di sini." Dia bangkit dengan cepat tapi tidak sebelum memberiku ciuman cepat yang dalam yang membuat jari kaki ku ikal di dalam flat ku. Pesona pipiku membuatnya senang.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian...
Kami tiba di rumahnya, semuanya terasa panas dan terganggu. Tangannya menutupi seluruh pahaku sepanjang perjalanan. Aku basah, aku sangat ingin dan siap dicabuli olehnya.
"Astaga Laura, apa yang kau lakukan dengan batanganku." Tangannya ada di pinggangku. Aku mengenakan gaun pembungkus bunga, yang dengan mudah dia lepaskan dari tubuh ku.
"Aku suka gaun ini Laura, aku harus membelikanmu yang seperti ini dengan warna yang berbeda-beda dan mengenakan ini setiap hari." Dia melempar gaun itu ke sofa, saat kami berjalan menuju kamar. Aku terkikik di bawah sentuhannya. Aku berhasil melepas kemejanya, dan memperlihatkan dadanya yang halus dan membelai telapak tanganku pada dadanya.
Sial aku jadi basah.
"Kau jadi basah, kan, Laura? Sayang sekali, Hahaha." Kami berdua mengerang, dia menyelipkan tangannya ke tali renda dan merasakan kebasahanku. "James, brengsek kau."
Kami akhirnya mencapai tempat tidur. Aku berhasil menelanjanginya. Dia dengan mudah memelukku dan menjatuhkan punggungnya ke tempat tidur, membawaku bersamanya, membuatku tertawa di atasnya.
Aku berteriak namanya dalam waktu singkat, dia menarikku dari belakang. Dia menjambak rambutku dengan main-main dan mulai mencium dan menjilati leherku. Aku sedang merangkak, mengepalkannya erat-erat di dalam diriku. Tangan lainnya menyentuh milikku yang sangat basah. "Uhh Laura sayang. Punyamu basah sekali. Kau menyukainya kalau aku melakukannya dari belakang, kan? Jawab aku sayang?"
"Ya, James, Ayolah lakukan lebih keras. Aku sangat dekat dengan puncak kepuasanku." Dia memompa dirinya masuk dan keluar, membuatku mengerang namanya lebih keras, dia meremas pantatku. Aku ingin dia melakukannya dengan kasar.
"Kau ingin aku menampar pantatmu? Kau ingin aku bermain kasar denganmu kan? Jawab aku sayang, apa kau ingin aku memukulmu sampai merah?" Aku mengepal lebih keras, bernapas lebih berat, mendengus, mengepalkan seprai. Aku sangat dekat.
"Auhhh James, aku sangat dekat." kemudian aku puas, dia juga menampar pantatku. Dan akhirnya membuatku merasa hancur berkeping-keping saat batangannya menyodok lebih dalam di dalam diriku, beberapa detik kemudian diapun juga merasa puas dan menggeram namaku, mendorong dirinya untuk terakhir kalinya, dan meledak di dalamku.
"Kau milikku sayang." Dia memberitahuku kemudian mencium bibirku dengan ringan.
__ADS_1