
Aku terbangun di pagi hari, aku merasa ingin buang air kecil, badanku terasa sakit. Aku bahkan tidak tahu berapa kali aku mencapai klimaks semalam. James kekasih yang luar biasa. Dia masih tertidur nyenyak, saat aku meninggalkannya di kamarku.
Aku meregangkan tubuhku, kemudian melanjutkan dengan membuat kopi. Setelah itu aku membuka laptopku dan membuat beberapa catatan, mengingatkan diri sendiri untuk mendiskusikan rencana bisnisku dengan James.
Mmm ... mungkin nanti.
Aku sedang meminum kopi, sambil melihat-lihat meja makan dan jendelaku, dan tiba-tiba aku menutup kaki ku.
Sial...
Laptopku tiba-tiba Log off, aku memutuskan untuk membuat secangkir kopi lagi, dan membawa kopi itu ke kamar. Mengesampingkan kopi itu, aku melepas jubahku dan bergabung dengan James di tempat tidur, aku telanjang di bawah selimut itu. Memeluknya dari arah belakang, merasakan punggungnya yang seksi. Mengayunkan lenganku di dadanya yang sixpack, menghirup aroma tubuhnya.
"Mmm .... pagi Laura, aku mencium bau kopi." Dia berbalik menghadapku. Tangannya menyapu tubuhku dan pinggulku, mengistirahatkan rahangnya yang membandel di lekuk leherku, menghirup aroma tubuhku dalam-dalam dan memberi ciuman kecil di leherku. Lalu dia melepaskan ku tiba-tiba, dan berguling ke sisi yang lain. Dia mengambil kopinya, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kepala ranjang, dengan semua ketelanjangannya.
"Kemarilah, Laura, duduklah di pangkuanku, aku mau meminum kopiku bersamamu." Dia mengedipkan mata padaku, menggodaku.
Aku memutuskan untuk mendekatinya dan berbisik di telinganya dengan menggoda. "Haha kau tau James, aku tadi sedang membuat kopi dan melihat ke arah meja makan, dan jendela. Lalu aku ingat, semua yang kau lakukan padaku tadi malam."
Perlahan aku meraih tubuhnya dan meraih cangkirku, meminum kopiku, lalu aku berlutut di sampingnya dan dia berbisik lagi di telingaku. "Jadi, kau mau aku menggilingmu lagi, membasahi milikmu yang sangat basah. Atau kau ingin aku menjilatimu terlebih dahulu?" Aku perlahan meletakkan cangkirku ke meja samping, menyilangkan tubuhnya dengan sengaja menyentuh buah dadaku ke dadanya.
Yahh akhirnya berhasil, dia meletakkan cangkirnya di samping cangkirku, dan menciumku dengan keras, mendorongku kembali ke tempat tidur. Tangannya bergerak ke arah kewanitaanku, menyentuh ku, kemudian aku mengerang, dan aku menjadi semakin terangsang.
"******." Katanya, tanpa bertanya padaku.
"Laci samping tempat tidur." Dia cepat-cepat meraih dan menaruhnya, lalu mengangkat kakiku ke dadanya dan mendorongku dengan keras dan cepat. "James!."
"Laura, kau tidak bisa menolakku. Aku tidak bisa berhenti menginginkanmu, sayang." Dia mencium dan mengisap pahaku dan memukuliku dengan keras pada saat yang sama. Aku merasa dibawa lebih tinggi dan sangat tinggi.
"Laura. Itu tadi bagus sekali."
Beberapa waktu kemudian setelah kami bercinta..
"Jadi apa yang kau pikirkan?" Kami duduk di meja makan setelah sarapan. Aku menunjukkan ide-ideku ke James untuk rencana bisnisku, tentang menyewakan barang-barang bermerekku.
"Aku pikir kau bisa melakukannya. Tapi, daripada melakukannya secara online. Aku menyarankanmu untuk membuat toko offline dibanding secara online. Karena itu lebih bagus apalagi jika terletak di dekat area kampus atau kawasan apartemenmu. Kau bisa memiliki target pasar yang besar, dan sekarang kau harus fokus dengan hal itu. Oleh karena itu, kau memerlukan pegawai, untuk mengatur stok, dan pengiriman, dan melayani toko. Ini akan menjadi pekerjaan penuh dan sangat menguntungkan, aku tidak berbohong. Dengan selera gayamu dengan koneksimu, orang-orang akan menyukainya. Aku akan membuatmu berpikir dan dengan OCDmu, kau memerlukan beberapa asisten, untuk membantumu. Aku percaya padamu. Kecil kemungkinan berhasil tapi kau harus mencobanya. Seperti mencelupkan jari-jari kakimu ke kolam sebelum kau menerjunkan dirimu dan tenggelam. Tidak ada salahnya mencoba, kan? Setidaknya kau tahu kalau kau gagal. "
Aku mencatat semua masalah penting yang ia kemukakan, semuanya masuk akal. "Wow, kau benar-benar pandai dalam hal ini. Jelas masuk akal."
"Dengar, aku melihatmu bersama Jerri dan Renata. Kau sangat baik dengan mereka. Kenapa kau tidak melihat, cara mereka mempekerjakan pegawai dalam mengatur pernikahan mereka. Maksudku, pengalaman kerja mereka adalah hal yang baik. Belajar tentang profesionalisme dan sebagainya. Aku akan menawarkanmu untuk bekerja di tambangku, tapi aku lebih ingin menidurimu sepanjang waktu daripada bekerja." Dia tertawa kecil, menjemputku dan mendudukkanku di pangkuannya.
"Dan kemudian mungkin setelah dua atau tiga tahun, kau bisa memulai bisnismu sendiri. Saat dimana kau bisa menangani orang-orangmu sendiri dengan lebih banyak pengalaman."
"Kurasa begitu ... kalau begitu, lebih baik mulai dengan CV-ku kalau begitu."
__ADS_1
"Hmmm ... tapi kau akan sibuk bekerja, mungkin kau harus memegang pemikiran itu. Tapi aku masih membutuhkanmu untuk diriku sendiri. Mari kita kembali lagi ke barang-barang sewaan bermerekmu. Aku pikir kau harus tetap fokus pada itu dulu." Dia menyeringai padaku.
"James !! Yang sedang kita bicarakan ini adalah masa depanku." Aku cemberut, tapi dia menggerakkan tangannya ke seluruh tubuhku sambil menanam ciuman kecil di leherku. Aku mengerang namanya dalam waktu singkat, membuatnya terkekeh.
"Aku akan selalu ada untukmu, sayang. Jangan khawatir. Coba saja dulu. Kau masih bisa menggunakan otakku untuk berpikir. Kalau aku sih hanya perlu dirimu, Haha. Kau ingin aku membujukmu? Kau tahu aku bisa lakukan itu dengan mudah." Dalam satu gerakan halus dia melepaskan kain berendaku, dan membelai pentilku.
Kami akhirnya bercinta lagi, dan lagi. Sampai akhirnya kami meninggalkan apartemenku untuk pergi makan siang.
Hari Senin pun tiba. James meninggalkan tempatku lebih awal pada pagi itu, setelah bercinta.
Dia mengadakan pertemuan dengan teman bermain golfnya, yang akan dimulai sekitar setengah jam. Menurut perhitunganku, dia akan terlambat sekitar sepuluh hingga lima belas menit, dengan lalu lintas pagi yang biasa. Dia akan marah saat dia menyadarinya. Aku menyeringai pada diriku sendiri, membayangkan wajahnya, yang terjebak kemacetan dan mengetahui kalau dia akan terlambat.
Aku memberi tahu Aryo di lobi tentang layanan kebersihan, dan mengizinkan mereka masuk seperti biasa. Aku berkendara ke kampus dan memarkir mobilku di tempat biasa. Richard sudah ada di sana.
Addeuhh!
Richard pake datang segala lagi.
Astaga!
Aku membawa tas ku di bahuku, dan buku-buku ku kemudian mengambil ponselku di mobil, sebelum aku mengunci pintu.
"Pagi Laura, di mana pacar barumu?" Dia memintaku mencari jawaban atas pertanyaannya. Dan mengambil buku-buku ku dan membawanya untukku
"Bermain golf dengan teman-temannya. Di mana pacarmu Ashley?"
"Dia bukan pacarku, ini hanyalah akal-akalan ibuku. Dia temanmu. Kau tahu bagaimana perasaanku padanya." Dia mencoba membela diri.
"Ya, tapi itu keinginan ibumu Richard. Aku yakin suatu saat pada akhirnya kau pasti menyukainya," Aku baru saja akan mengakhiri percakapan kami, tiba-tiba James menelepon. Aku tersenyum secara naluriah, sudah tahu kengapa dia menelepon.
"Laura sayang, apa kau tahu tentang ini? Aku terjebak macet. Aku akan terlambat ke pertemuan ku." Aku terkikik.
"Sayang, kenapa kau tertawa. Astaga, kau tahu kan? Akan ada diskusi dan hukuman lebih lanjut tentang ini kan?" Aku tersipu merah padam atas kata hukuman, teringat bagaimana dia membuatku terus mencapai klimaks.
"Aku mengingatnya, James. Lihat, aku tidak bisa bicara sekarang. Aku harus pergi ke kelas. Aku akan mengirimkan pesan padamu sebelum kelasku dimulai, oke? Sampai jumpa James." Aku berkata manis padanya. Aku berbalik, dan Richard masih ada di sana menungguku.
Sampah! Aku lupa soal dia ..
"Jadi, kau benar-benar bahagia dengan dia sekarang? Kurasa aku tidak pernah membuatmu tersipu sebanyak itu." Dia mulai berjalan di sampingku, mengantarku ke kelas dan membawa buku-bukuku.
Apa yang dia coba lakukan sekarang?
"Ya, kurasa begitu. Dia membuatku bahagia." Aku hanya mengangkat bahu. Mencoba terlihat ceria, tapi jauh di lubuk hatiku aku mulai merasakan perasaan yang mengerikan ini sehingga aku mungkin benar-benar menyukai James.
__ADS_1
Richard membawa buku-bukuku ke tempat dudukku, pada saat yang sama Ashley sudah ada di kelas, dan dia tampak marah menatap ke arahku.
"Richard, kurasa aku baik-baik saja. Ashley tampak kesal. Kau harus pergi padanya." Dia menatapku kecewa, berbalik dan mulai berjalan ke Ashley. Dia cemberut, dan berjalan keluar dari kelas, dengan Richard mengikutinya di belakang.
Aku berpikir masalahku di antara Richard hanyalah masalah kecil di bandingkan masalahku yang sebenarnya; masalah uang, James, Sugar Daddy, sial! Hidup baru saja dimulai tapi semuanya tampak begitu sangat rumit bagiku.
'James, mungkin waktu aku menyuruhmu cepat-cepat, kau sudah terlambat, tapi kau tetap bersikeras meniduriku untuk ketiga kalinya. Bukannya aku mengeluh. Tapi yah maaf karenaku kau jadi terlambat.'
Jawabannya langsung datang.
Wow.
Dia pasti masih terjebak kemacetan.
Aku masih belum terbiasa denganmu. Tapi aku akan mempertimbangkan masukanmu untuk waktu berikutnya. Aku tidak menyesal kok. Aku suka bercinta denganmu. Lagi. Malam ini. Di tempatku.
Ya Tuhan. Orang ini!
Aku benar-benar merasa tersesat. Pikiranku ada di mana-mana.
Tiba-tiba sesaat Adriana meneleponku saat makan siang, dia mengecekku melalui telepon. Aku mengatakan semua padanya kalau semuanya berjalan baik dengan James. Panggilannya mengingatkan ku lagi kalau James adalah Daddyku. Kemudian aku merasa sedih, sepanjang sisa sore itu.
Aku sedang mengerjakan tugasku di kafe kampus, sembari menunggu kuliah terakhir dimulai, tiba-tiba Ashley dan Natalia melangkah ke arahku.
"Jadi, bagaimana bisa kau menyukai pria yang lebih tua, Laura? Dia terlihat cukup kaya. Apa karena uangnya, yang cukup mengompensasi mu dengan segala kekuranganmu melalui tempat tidur?" Dia duduk di depanku, dan Natalia mengikuti.
"Kau harusnya tidak bertanya, pertanyaan yang akan jadi bumerang untuk dirimu sendiri, aku bahkan tidak akan menjawabnya. Cukup jelas apa yang kau tahu."
Wajahnya memerah, marah. Sementara Natalia sedang berusaha memikirkan sesuatu yang cerdas untuk meludahiku. Tapi aku bisa melihatnya dia sedang berjuang.
Aku mengumpulkan buku-buku ku, dan memutuskan untuk menunggu di kelas.
"Lagipula, bagaimana bisa kau bertemu dengannya? Apa itu dari salah satu klub Om-om. Usianya pasti sudah memenuhi syarat, untuk menjadi anggota seperti itu." Aku dicap, oleh tuduhannya yang terakhir, itu memang benar. Bagaimana dia tahu, apa itu hanya salah satu tebakannya saja.
Aku mencoba membuat wajahku setenang mungkin. "Dan kau tahu ini karena... hmmm ya apa kau pernah memiliki pengalaman sebelumnya? Aku pikir ibu Richard tidak akan menyetujuinya, kau menjadi pacarnya begitu aku memberitahunya tentang ini. Aku masih punya nomor teleponnya lho, kau tahu kan. Kami dulu sangat dekat." Aku mengedip padanya. Dia mau menamparku, ketika Richard melihat kami dan dengan cepat datang, dan memegangi telapak tangannya beberapa inci dari wajahku.
"Ashley, apa yang kau lakukan?" Dia mendengus. Richard menatap kami bolak-balik, mencoba mencari titik permasalahan.
"Dia menjadi ganas. Aku bahkan tidak akan memberitahumu apa yang kami bicarakan, itu mungkin akan merusak hubunganmu di masa depan dengannya." Aku berjalan menjauh dari mereka dengan cepat, sangat sangat cepat.
Tapi dia benar-benar memukul ku dengan keras. Aku bukan apa-apa bagi James, sementara aku benar-benar merasakan sesuatu terhadapnya. Dia hanya Sugar Daddy ku. Dan kami memiliki perjanjian bersama, perjanjian keuangan, di mana aku dibayar untuk melakukan intim. Dia bilang kalau dia tidak akan terlalu memedulikanku. Tapi aku tetap melakukannya, karena memang begitulah aku.
Mataku berkaca-kaca. Aku menangis tersedu-sedu, aku memutuskan untuk meninggalkan kelas terakhir ku dan pergi ke mobilku. Tiba-tiba Richard dari arah belakang, meraih tanganku.
__ADS_1
"Laura sayang, aku minta maaf. Apa kau baik-baik saja?" Aku menggelengkan kepalaku, dia membawaku ke pelukannya. Sementara aku menghirup aroma tubuhnya. Dia mencium pelipisku dan terus membelai rambutku, sementara aku terisak di dadanya.