
"James. Di mana sopan santunmu. Kami ini orang tuamu. Kau bukan lagi anak yang baru berumur sepuluh tahun." Seorang wanita tua dengan suara terputus-putus keluar dari dapur yang indah, pinggangnya terbungkus celemek. Dia memberinya pelukan paling hangat yang bisa diberikan seorang ibu kepada seorang anak. Ayahnya keluar dari ruangan lain, dan bergabung dengan kami, dia memeluk putranya dan mengelus punggungnya.
"Putraku, apa kabar James? Tunggu, kau terlihat bahagia. Diana, apa kau melihat ini?" Dia bertanya pada wanita yang lebih tua itu.
"Ya Tuhan, kau benar. Dia memang terlihat bahagia." Kemudian mereka berdua menatapku. James sudah menertawakan ku, karena wajahku memerah.
"Ya ampun! Kaulah orangnya? Kau membuat anak kami yang pemarah itu jadi bahagia? James! Jangan kasar padanya." Dia memukul lengannya.
"Benar ... ehmm, ibu, ayah ini pacarku Laura. Sayangku Laura, ini ibuku Diana dan ayahku Johnson." Dia mendorongku ke depan orang tuanya.
Tuhan pria ini!
Ibunya dengan cepat memelukku, lalu menyerahkanku pada ayahnya untuk dipeluk olehnya. Lalu ayahnya, mengembalikanku ke James.
Mereka satu keluarga yang aneh.
"Jadi, Laura. Kau bisa memanggil kami Diana dan John, atau ibu dan ayah seperti James." Dia memberiku senyum paling manis di wajahnya.
"Ya, aku akan memanggilmu Ibu dan Ayah, jika kalian tidak keberatan?" Aku tersipu lagi.
"Ya! Ya tentu saja. Ya Tuhan James, aku sangat menyukainya. Ayo Laura. Mari kita memasak untuk makan siang bersama dengan lelaki kita. Apa kau bisa memasak?" Aku menggelengkan kepala dengan sedih padanya.
"Kalau begitu, aku akan mengajarimu. Ayo Anak-anak lelaki, kau bisa melakukan pekerjaanmu dan kembali ke sini dalam satu jam."
__ADS_1
Ibunya James, orang paling hangat yang pernah ku kenal. Dia bahkan lebih baik daripada pengasuh ku yang merawat ku sampai remaja. Ibu dan Ayah ku dulu hampir tidak bersamaku, jadi aku berpegangang dengan pengasuhku saat aku tumbuh dewasa. Kami adalah keluarga sosialita yang khas. Aku tidak pernah tahu James tumbuh dewasa, dengan pasangan orang tua seperti ini.
"Laura sayang, aku tahu James kadang-kadang agak sedikit ribet. Sikapnya itu sangat berbeda dari kami." Ibunya bercakap-cakap denganku, sambil memotong bawang, dan menyuruh ku menyiapkan makan siang.
"Dia menganggap semuanya terlalu serius, aku bahkan tidak tahu dari mana dia menemukanmu. Kau adalah wanita pertama yang pernah kami temui. Aku khawatir, jika dia akan hidup sebagai seorang pertapa. Sendirian." Dia menertawakan leluconnya sendiri.
Kami hampir selesai dengan masakan kami. Aku sedang menyiapkan meja, karena aku tidak bisa berbuat banyak.
"Setelah dia bercerai dengan istrinya dulu. Kami pernah melihat James dengan beberapa wanita lainnya dengan sekilas. Tapi dia tidak pernah memperkenalkan mereka sebagai pacarnya. Kamulah orang yang pertama. Jadi, terima kasih ya! Untuk tetap bertahan di sisinya." Dia memelukku lagi, aku merasa meleleh di lengannya. Aku tidak pernah mendapatkan pelukan keibuan selama ini. Mataku mulai berair.
"Bu. Apa yang kau lakukan? Laura, kau baik-baik saja?" James dengan cepat datang ke sisiku, melihat mataku yang berlinang air mata.
"Aku baik James. Maaf aku terlalu emosional. Aku merasa pelukan ibumu lebih baik daripada ibuku. Aku menyukai ibumu." Aku mengucapkan kata-kataku, mengoceh, lalu dengan cepat menyembunyikan wajahku di dadanya. Jelas malu kalau aku menangis, karena aku mendapat banyak pelukan dari ibunya.
"Kemarilah, Laura. Semuanya baik-baik saja, Sayang. Mari kita selesaikan makan siang kita, oke." Kami melanjutkan kegiatan kami dan dia mematuk pipiku.
"James orang yang sangat penyayang , jangan sampai kau kehilangan nya." Dia berkata. Membuat wajahku memerah. Dia tertawa.
James akhirnya membawaku ke sekitar kebun anggur. Kami mencicipi beberapa anggur, dan sebenarnya ada banyak skali anggur disana. Dan aku sudah merasa mabuk saat kami mencapai rumah utama. Kami kemudian makan malam bersama. Orang tuanya menginap di sana, tapi kami tidak. Saat kami mengucapkan selamat tinggal pada mereka, Ibunya memelukku sedikit lebih lama dan membisikkan ucapan terima kasih karena sudah membuat putranya bahagia.
"Kau punya orang tua terbaik. Aku sangat menyukai mereka." Kataku, sedikit mencerca kata-kataku padanya. Aku memiliki botol anggur ditanganku, ibunya tadi sangat bersikeras memberiku setelah makan malam.
"Kamu menanyakan pertanyaan yang sama pada dirimu sendiri, sayang. Melihat orang tuamu, dan melihat bagaimana keadaanmu, itu membuatku bertanya-tanya. Mereka begitu dingin terhadapmu, sementara kau begitu penuh kasih sayang. Jadi, aku rasa itu hanyalah karena faktor keadaan, lingkungan dan yang lainnya." Dia meraih tanganku, dan mencium tanganku.
__ADS_1
"Aku merasa diriku agak mabuk, James. Kau harus membantuku. Tadi aku tidak bisa menahan ibumu untuk tidak memberiku anggur kesukaannya untuk dicicipi." James tersenyum padaku dan menciumku.
"Kau begitu polos sayang. Aku akan membawamu ke tempat tidurku."
"James! Jangan bilang begitu, aku sedang haid."
"Laura sayang, ada hal-hal lain yang bisa kita lakukan, saat kau sedang haid." Dia membuka mobil dan menggendongku.
"Hmm. Mari kita meringkuk dan menonton beberapa film."
"Tentu, kita bisa melakukannya jika kau mau." Dia menggendongku dan menurunkanku, begitu kami sampai di sofa.
"Es krim, cokelat, atau popcorn?" Dia memintaku berjalan ke dapur.
"James sayang, bahkan kau bisa berbicara menggunakan bahasaku sekarang. Es krim lah. Tapi aku mau mandi dulu. Kau bisa memilih film apa yang ingin kau tonton."
Setengah jam kemudian kami meringkuk di depan TV, dengan es krim di tangan dan menonton beberapa film horror. Aku menahan napas setiap tiga detik. "James, film ini sangat membuatku frustrasi."
Dia terkekeh dan menarikku lebih dekat padanya, dan menyendokkanku es krim lalu menciumku, mencicipi es krim di mulutku.
"Terima kasih untuk hari ini James. Aku sangat suka menghabiskan waktu bersama keluargamu hari ini."
"Aku juga sayang. Aku juga." Dia membelai rambutku, sampai akhirnya aku menutup mataku dan tertidur di pelukannya.
__ADS_1