My Hot Daddy

My Hot Daddy
Menginap


__ADS_3

Karena sudah terlalu sore dan tidak memungkinkan lagi untuk mereka kembali ke desa, Akhirnya Olivia mau menginap di rumah Yang pernah menjadi saksi betapa kejamnya William memperlakukannya.


Tapi kembali lagi karena Olivia harus bisa menghilangkan ketakutannya terhadap William. Apalagi Olivia yang sudah memutuskan untuk menerima William kembali.


Maka dari itu dia harus bisa mengatasi ketakutannya saat ini.


Tapi William tau, Bahwa saat ini Olivia tengah ketakutan dengan masa lalu yang pernah di tinggalkannya.


" Mommy..." Andrew langsung berlari menghampiri Olivia saat dia mendapatkan kabar bahwa Daddy-nya pulang bersama Olivia.


Dan karena itu pula Andrew langsung berlari menghampiri Mom Liv kesayangannya.


" Hey Son, Jangan terlalu erat memeluk perut Mommy mu. Adik bayi bisa terjepit. " Apalagi maksud William ini ?


Tadi saat dia banyak makan di restoran William juga mengatakan bahwa anak mereka akan kekenyangan nanti.


Lalu ini apalagi ? Terjepit bagaimana maksud William ini ?


" Oh ya ? Sorry Baby Pink. " Andrew mengusap perut Olivia yang di dalamnya ada sosok adik bayi yang selalu di nantikan Andrew.


" Bukan Baby Pink, Tapi Baby boy. "


" Really ?" Tanya Andrew dengan wajah terkejutnya.


Dia sudah sangat bahagia memiliki adik perempuan yang di katakan William, Dan kini malah mendapatkan adik laki-laki.


" Apa Andrew tidak bahagia memiliki adik laki-laki ?" Olivia terlihat sedih karena melihat reaksi Andrew saat ini.


Begitu juga dengan William, Dia takut jika Andrew juga kecewa dengan kebenaran calon adiknya.

__ADS_1


Namun di luar dugaan, Andrew malah berseru heboh saat mendengar adiknya laki-laki.


" Wow ! Kami akan menjadi brotherhood. Kami akan menjadi adik kakak yang hebat nantinya. " Luar biasa sekali memang Andrew.


Dia bisa bersikap sangat dewasa seperti ini walau kehidupannya tidak mudah untuk di laluinya.


" Ayo Mom, Kita masuk ke rumah. Temani Andrew di kamar. Andrew akan tunjukan kamar Andrew yang baru saja selesai di renovasi. "


" Biarkan Mommy Olivia mandi dulu Andrew. Setelah itu kita akan bermain bersama. "


" Oke. " Jawab Andrew karena Daddy-nya yang mengatakan bahwa Mom Liv-nya akan mandi dan membersihkan diri lebih dulu.


Olivia yang memang sudah mengetahui di mana kamarnya pun langsung menuju tempat tersebut.


Tempat yang begitu banyak memberikannya kenangan buruk. Tapi dia tetap memberanikan dirinya untuk ke kamar tersebut karena dia akan memulai hari selanjutnya di kamar ini nantinya.


" Wanita itu tidak akan berkurang kecantikannya jika kau tidak melihatnya. " William yang langsung mengalihkan pandangannya dari sosok Olivia kini beralih pada sang ibu yang langsung mendudukkan tubuhnya di sofa.


William juga mengikuti ibunya dan mereka saling duduk bersisian dengan posisi yang sama pula.


" Apakah begini rasanya hidup bahagia ibu ?" William bertanya dengan posisi yang bersandar di sofa dan tatapannya menatap ke langit-langit rumah besar miliknya.


" Bahagia seperti apa yang kau maksud. Bahagia itu banyak versinya. Jadi bahagia yang bagaimana maksud mu ini ?" Ibunya kembali bertanya pada anaknya yang terlihat mulai menemuka kebahagiaannya.


Dia juga ikut bahagia jika emang benar bahwa kebahagiaan William terletak pada Olivia.


" Hey, Apa maksudnya ini ? " Ibu Matilda terkejut saat tiba-tiba William merebahkan tubuhnya di pangkuannya seperti ini.


" Apakah seindah itu belaian hangat seorang ibu ? Jika memang iya bisakah aku merasakannya kali ini ?"

__ADS_1


" Apa seperti ini ?" Tanya ibunya sambil mengusap kepala William yang sama sekali tidak pernah merasakan sentuhan wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


" Ibu..." Tanpa terasa sudut mata William berair saat merasakan kehangatan yang memang benar-benar dirasakannya saat ini.


" Jangan menangis. Jika kau menangis seperti ini ibu juga ikut sedih. Seharusnya kau tidak menangis seperti ini. " William langsung mengusap sudut matanya yang berair karena memang dia merasa sangat terharu dengan apa yang dirasakannya kali ini dan belaian seorang ibu memang sangat luar biasa sekali hangatnya.


" Mungkin jika aku merasakan kasih sayang ini sejak dulu, Hidupku tidak akan semenyeramkan ini. "


" Jangan pernah menyesali takdir apa yang telah kau lalui. Seberat apa pun takdir yang tengah kau hadapi jangan pernah mengeluh. Jika ingin mengeluh, Berkeluh kesah-lah pada Tuhan. Karena hanya Tuhan yang bisa memberikan mu jawaban atas kegelisahan mu. " William setuju dengan ini.


Dia semakin membenamkan wajahnya di perut sang ibu karena dia merasa sangat rendah.


Dia bahkan tidak mengerti bagaimana caranya berkeluh kesah pada Tuhan jika tidak Andrew yang mengajarinya


Sungguh miris sekali bukan hidupnya ?


" Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya berkomunikasi dengan Tuhan jika tidak Andrew yang mengajari ku. "


Plak !


" Awww..." William merasa heran karena tiba-tiba saja punggungnya di pukul oleh ibunya seperti ini.


" Ayah macam apa kau ini ? Berdoa pada Tuhan saja kau tidak tau. Lalu apa yang kau tau ?" Suara yang tadinya haru kini sudah berubah mencekam saat ibunya berubah menjadi garang lagi.


" Maaf Ibu, Aku benar-benar tidak tau bagaimana caranya berdoa pada Tuhan. Tapi aku sudah berubah. Aku sudah mulai belajar berdoa pada Tuhan "


" Itu memang harus dan sebuah kewajiban. Jadi jangan pernah merasa kau kaya di dunia jadi tidak membutuhkan Tuhan lagi. Jika Tuhan sampai marah dia bisa dengan mudah menghabisi semua yang kau miliki dan kau akan menjadi gelandangan. "


...💦💦💦...

__ADS_1


__ADS_2