
Di Tempat Lain~
Ruangan bernuansa putih dengan bau obat antiseptik itu memperlihatkan seorang perempuan yang terbaring di atas tempat tidur. Luka yang ada di wajah, kaki maupun tangannya sudah dibalut oleh perban. Mengobati semua luka dan berfungsi untuk menghindari infeksi.
Apalagi lukanya yang terkena larutan garam dengan jumlah banyak membuat luka tersebut sedikit iritasi. Penyakit yang dulunya sudah sembuh kembali hadir karena perempuan tersebut hampir menelan jumlah air laut dalam porsi banyak. Membuat kondisinya kritis dan detak jantungnya turun mendadak.
Ada empat orang di dalam ruangan bernuansa putih tersebut. Dimana seorang anak kecil terus-menerus menggenggam tangan perempuan yang terbaring lemah di atas ranjang. Hingga tangan yang dia genggam mengeluarkan sedikit gerakan. Mata yang berjam-jam tertidur akhirnya terbuka. Dengan pelan mengerjap beberapa kali.
Samar yang dia liat masih belum terlalu jelas, hanya ada sebuah bayangan dan cahaya putih yang sangat terang saat matanya terbuka. Tenggorokan nya kering dan sedikit gatal membuatnya menggumamkan sebuah kata.
"a...ir" pinta Cyla. Perempuan yang terbaring di tempat itu adalah Cyla dengan kondisi yang baru saja sadar dan menyelesaikan pengobatan nya.
"Mom ini airnya, minumlah perlahan-lahan" ucap Rei yang sudah melepas genggaman tangannya dan menyangka air secepat kilat.
Dia masih khawatir dengan kondisi ibunya yang baru keluar dari ruangan darurat dan melihat ibunya dengan kondisi penuh dengan perban. Cukup membuatnya semakin dingin dan membenci orang-orang yang melakukan semuanya kepada ibunya. Apalagi ibu kandung yang bahkan tidak pernah menyayanginya yang melukai orang tersayang nya. Membuat Rei ingin mencabik-cabik wanita yang meninggalkan nya tapi sayang nyawa wanita yang merupakan ibu kandungnya itu sudah pergi terlebih dahulu. Sebelum dihukum secara ilegal dan legal oleh keluarganya.
Gluk*** gluk***
Suara tegukan air yang masuk dari mulut dan mengalir di tenggorakan. Memberikan rasa segar dan nyaman di dahaga miliknya. Dengan posisi duduk, Cyla sudah bisa melihat dengan jelas orang-orang yang ada di hadapannya. Dengan senyuman yang manis dan hangat Cyla tersenyum ke arah anak kecil yang meletakkan gelas minum miliknya tadi.
"Apa kabar, Rei"senyum Cyla hangat.
Rei yang melihat senyuman ibunya yang hampir setengah hari tidak ia lihat hanya bisa tersenyum tipis dan meneteskan air mata miliknya.
"Eh...jangan menangis Rei, mommy tidak apa-apa" ucap Cyla yang melihat anak laki-lakinya menangis di dekatnya.
"Ma...maaf mommy, seharusnya Rei menahan mommy saat pergi tadi hiks" tangis Rei dan memeluk erat tubuh ibunya. Dia merasakan rasa bersalah karena tidak menahan ibunya pergi saat itu. Membiarkan ibunya tetap pergi walau dia tau dia memiliki firasat buruk.
__ADS_1
"Sudah....sudah jangan menangis nanti mommy sedih loh" kekeh Cyla ringan sambil mengusap rambut Rei lembut. Setiap elusan hangatnya malah membuat Rei memeluk erat ibunya di sana.
"Aku...tidak ingin kehilangan mommy lagi" ucap Rei pelan. Suaranya yang kecil membuat Cyla hanya bisa tersenyum manis. Melihat anak kecil yang begitu mengkhawatirkan nya sekarang membuat perasaan nya senang. Cyla merasa bahwa sang maha kuasa memberikan nya hidup satu kali lagi untuk melihat senyuman anak laki-laki yang memeluknya. Pelukan yang penuh dengan rasa sayang cukup membuat perasaan Cyla tenang berada di ruangan bernuansa putih ini.
Hingga sampai di detik dimana dia bisa melihat teman satu-satunya berdiri di hadapannya. Teman perempuan yang sebelumnya mereka saling chattan dan telponan itu sedang dalam kondisi di infus juga.
Mata temannya sudah berair dan menggigit bibir bawahnya. Dia adalah Didi, orang yang menjanjikan sebuah tempat pertemuan dan malah menjadi bencana. Tetapi Cyla tau pasti ada sebuah alasan kenapa bukan Didi yang datang dan alasan kenapa Didi juga terluka selain dirinya.
"Ingin jelaskan?" tanya Cyla sambil menatap Didi yang dipegangi oleh kakak laki-laki nya, Lana. Dengan langkah yang cepat dan dorongan infus, Didi menjatuhkan tubuhnya di dekat Cyla. Menangis sambil meminta maaf karena kondisi miliknya.
"Huwaaaaa.... maaf... maafkan aku Cyla aku... hiks" tangis Didi pecah sambil memeluk Cyla di sebelah kanan.
"Astaga jangan menangis lagi, aku tidak tahan dengan tangisan kalian ini. Sudah-sudah jangan menangis, okay?!" ucap Cyla yang merasakan telinga miliknya akan menjadi tuli karena mendengar suara tangisan orang-orang yang ada di dekatnya.
"Maaf..aku minta maaf... malam itu aku tidak tau aku diikuti dan tiba-tiba.... huwaaaaa maaf Cyla....maaf" tangis Didi yang membuat Lana yang menemani adiknya, menepuk pundak adiknya tersebut.
"Sadar diri siapa di sini yang paling jelek" sindir balik Didi yang kesal dengan kakaknya. Nuansa yang tadinya penuh dengan tangisan kedua orang berubah menjadi suasana lucu dari kedua kakak beradik.
"Jelek-jelek gini kakakmu sudah pernah berkencan dengan banyak orang" ucap Lana membanggakan dirinya.
"Cyla aku jadi ingin menginap di tempatmu saja, bisa-bisa aku gil..."
"Jaga omongannya anak kecil nih" potong Cyla cepat sambil mengisap kepala Rei.
"Huft... kenapa aku yang disindir di sini" pasrah Didi dan memeluk Cyla kembali. Menjelaskan semua yang terjadi pada diri Didi kepada Cyla dengan baik dan benar. Sehingga Cyla mengerti kenapa orang yang ada di tempat pertemuan dan menerima telpon miliknya bukan Didi tetapi pihak Erika.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong Cyla, aku tadi liat pak Alex khawatir banget sama kamu pas nunggu di ruangan darurat tadi" bisik Didi.
"Kamu ini mau di kantor, mau di jalan tetap aja bicarain gosip" kekeh Cyla yang mendengar ucapan Didi. Padahal jantungnya saat ini berdetak kencang karena mengetahui bahwa Alex sangat mengkhawatirkan dirinya.
'Apa hari ini panas sekali ya, semoga wajahku tidak terlihat merah' ucap Cyla dalam hati dan mengibaskan tangannya di dekat wajahnya.
"Mommy, sebenarnya Rei punya permintaan" ucap Rei dan menatap wajah ibunya serius.
"Permintaan apa sampai kamu berwajah seperti itu?" tanya Cyla.
"Aku ingin......" bisik Rei di telinga ibunya. Dia sudah merencanakan ini bersama neneknya tadi dengan bantuan dokter dan suster. Sudah cukup membuat rencananya berjalan lancar untuk mengerjai ayahnya yang dingin itu.
"Ehh tapi bukankah akan ketahuan kalau Daddy mu bertanya ke..."
"Rei, semuanya sudah selesai" senyum Irene dan sudah menutup kembali pintu ruangan.
"Okay Oma, mommy semangat dan lakukan yang terbaik karena kali ini aku sudah membawa kamera beneran" senyum Rei yang langsung menjauh dari tempat tidur ibunya. Kembali ke sofa tunggu yang ada di sebrang dan menyiapkan kamera yang sudah dibawanya.
Rei merencanakan ini agar memiliki sebuah hal yang bisa mengancam ayahnya. Jangan salahkan dirinya melakukan hal-hal yang nakal. Karena dirinya hanyalah seorang anak kecil yang berharap ayahnya menjaga ibunya dengan baik melebihi dirinya sendiri.
'Hehehe Daddy mari kita putar video kekanakan mu nanti' smirk Rei sedangkan Cyla hanya bisa menghela nafas melihat orang-orang dekatnya suka sekali mengerjai Alex.
'Drama apalagi yang mereka buat ini' ucap Cyla sambil menghela nafas.
πππππππππππππππ
β’Jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
__ADS_1
My Ex Secretary
β’Besok bakal penuh dengan kekeluargaan dan keromantisan dari pasangan konflik kita jadi silahkan pantengin ya. Jangan lupa kalau gak suka silahkan untuk mundur alon-alon. Sayonara~