
beberapa hari sudah berlalu, hari-hari yang dulunya penuh dengan keterkejutan sudah kembali menjadi normal. Leon yang merupakan kakak kandung Cyla membantu Alex mengurus beberapa hal dan kadang-kadang datang ke mansion untuk bertemu dengan adik kandungnya.
Sebenarnya Leon ingin membawa Luna secepatnya ke Indonesia lalu mempertemukan Cyla dengan keluarga kandungnya. Hanya saja perkataan dari ibu Alex yaitu Irene Johnson cukup membuatnya berpikir kembali. Menunda kepulangan nya dan menyelesaikan pekerjaannya di New York bersama sekretaris andalannya Rangga.
Dia juga harus mengetahui kondisi saat ini, dimana Erika dan Felentino masih berkeliaran dan cukup membahayakan untuk adik perempuan nya yang tidak tau apapun itu. Membuat Leon menjadi wali Cyla di saat pernikahannya datang nanti, menggantikan kedua orang tuanya yang tidak bisa datang di sini dan karena beberapa kendala juga.
Leon juga sudah memberi tau ayahnya tentang Cyla dan yang dia dapatkan jelas adalah teriakan dari sang ayah karena dirinya merahasiakan hal ini. Beruntungnya ayahnya mengizinkan nya menetap di New York sampai pernikahan adiknya selesai dilaksanakan. Ayahnya juga ikut membantu dia mengurus perusahaan, membuat Leon tidak akan kesulitan selama pernikahan terjadi.
"Sepertinya ada yang tidak sabar untuk menikah, nih" goda Leon sambil mengupas buah pir.
"jangan menggodaku kak" malu Cyla. Beberapa hari ini hubungannya dengan kakak kandungnya itu semakin baik. Memberikan perasaan tentram dan hangat untuknya. Menjadikan kehidupan yang damai menjadi semakin tenang terkendali. Cyla senang orang-orang yang berada di sekitar nya selalu memberikan support untuknya dan membuat nya bisa menjalani hari-harinya dengan mudah tanpa kesedihan.
"ini" beri Leon ke pada Cyla. Potongan buah pir itu sangat sempurna memberikan kesan tangan yang terampil untuknya.
"Terimakasih dan juga apa kakak sudah terbiasa memotong buah, sehingga Serapi ini?" tanya Cyla lalu memasukkan potonga buah pir itu ke dalam mulutnya.
"Ibumu sangat suka memakan buah-buahan dan kondisinya membuat kakakmu ini terbiasa memotong buah-buahan seperti ini" jawab Leon dan mengambil buah jenis lainnya yaitu buah apel.
"Kalau paman memiliki keterampilan seperti ini, kenapa paman masih sendiri?" tanya Rei yang datang tiba-tiba dan mengambil buah pir yang telah dipotong oleh pamannya.
"Karena pamanmu itu memiliki penyakit HIV yang mematikan, makanya dia sampai sekarang sendiri" timpal Alex yang berjalan ke arah Cyla dan ingin duduk di samping calon istrinya. Tetapi seperti biasanya anak laki-lakinya itu sudah membalapnya dan duduk di tempat Alex ingin duduk.
Rei menjulurkan lidahnya ke arah ayahnya dan merangkul ibunya dengan tangan kiri miliknya. Tidak mempedulikan tatapan tajam dan mematikan dari ayahnya. Rei hanya fokus dengan makanannya dan juga kedua orang lainnya.
"Sepertinya aku memang harus mengatakan tidak setuju di pernikahan nanti" dingin Leon.
"aku akan mendukung mu paman" setuju Rei.
"Karena kau setuju berarti kamu tidak ingin memiliki ibu baru ya, Rei" ucap Irene yang juga duduk di sana. Mengambil buah pir dan memakannya pelan.
"Tentu saja ingin Oma, hanya saja aku yang akan menikahi mommy" jawab Rei tegas. Menghasilkan sebuah tawa di sana.
"Hahaha kau masih terlalu dini untuk menikahinya Rei" tawa Alex tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh anak laki-lakinya.
"Tidak sebentar lagi aku dewasa" tegas Rei.
"Kalau itu artinya di saat umurmu 20 tahun maka mommy mu itu akan berumur 40 tahunan loh" ucap Irene dan diangguki oleh Alex.
"Tidak apa-apa aku akan menikahi mommy walaupun mommy berumur 40" ucap Rei yakin.
"Tapi sayangnya saat kamu berangkat sekolah nanti, daddymu ini akan menikahi mommy itu" ucap Alex mematahkan keyakinan Rei. Like a father like a son, jelas saja jika Rei berucap maka dia juga akan berucap dan tentunya dia akan mematahkan jawaban anaknya itu.
__ADS_1
Berani-beraninya dia mengambil tempat duduk miliknya dan sekarang ingin menikahi Cyla. Maka semua itu tidak akan terjadi karena yang berhak untuk menikahi Cyla adalah dirinya seorang yaitu, Alexander Johnson. Bukan orang lain dan bukan anak semata wayangnya.
"Sudah-sudah lebih baik makan buah apel ini saja" sela Leon dan mengakhiri pertentangan antara ayah dan anak itu.
"Benar sekali tidak perlu bertengkar dan juga Leon bisa potongin tante buah pir lagi, tidak?" tanya Irene dan menyerahkan buah pir bewarna kuning keemasan.
"baik" hangat Leon.
"Tunggu apa ini benar-benar buah apel?" tanya Alex yang mengambil potongan pertama buah apel.
"Ya bukannya ini kelinci?" bingung Rei yang mengambil potongan buah apel kedua.
"kelinci?" gumam Cyla yang melihat potongan buah apel tersebut.
"Tenang saja itu memang buah apel, hanya saja aku memotongnya menjadi bentuk kelinci dan itu akan untuk dikonsumsi" jelas Leon yang masih memotong buah pir milik ibunya Alex.
"Imutnya" puji Cyla saat melihat potongan apel yang cantik itu.
"Benarkah? syukurlah kau menyukainya karena aku mempelajari itu dari ibuku saat masih anak-anak" ucap Leon dan meletakkan potongan buah pir di piring. Mereka bertiga berbicara tentang keunikan potongan milik Leon dan memuji laki-laki itu sesekali. Sedangkan kedua orang yang lainnya hanya fokus untuk menghabisi potongan apel.
Potongan kedua, potongan ketiga dan potongan yang lainnya. Alex dan Rei saling bertatapan tajam, keduanya berlomba menghabiskan potongan apel tersebut. Dari tatapan ke tatapan hanya kedua orang itu yang mengetahui apa yang diucapkan masing-masing.
'aku tidak akan kalah' tatapan Rei.
'bermimpilah' tatapan Alex.
Plak Plak
Irene memukul tangan kedua orang tersebut, mendengus melihat sikap kekanakan mereka.
"awch" ringgis kedua orang tersebut bersamaan.
"Jangan bermain-main dengan makanan" tegur Irene.
"Tidak apa-apa Tante aku akan memotong buah apel nya lagi, saya tidak tau bahwa Tante memiliki bayi besar di sini" sindir Leon membalas ejekan Alex tadi.
"pfftt" tawa Rei.
"cih" decih Alex.
__ADS_1
"Anu... semasih kita berkumpul di sini, aku ingin minta izin" sela Cyla.
"Izin?" bingung Leon.
"Mommy ingin kemana, Rei ikut"
"Kalau dari laki-laki langsung aku tolak" jawab mentah-mentah Alex.
"Bukan-bukan begitu, kalian tau Didi bukan?" jelas Cyla.
"Teman sekantormu itu bukan" tebak Alex.
"Ya teman sekantor dan juga satu-satunya temanku di sini, tadi pagi dia mechat ku" ucap Cyla.
"Dia bilang ingin bertemu denganku di sebuah cafe langganan kami, semacam pertemuan gitu" lanjut Cyla.
"ah maksudmu pertemuan terkahir sebagai gadis lajang bukan?" paham Leon.
"Ah benar, itu pertemuan penting dan dilakukan bersama teman dekat. Kau harus datang sayang" ucap Irene mengizinkan.
"Tapi..."
"apa tidak boleh? ini Didi loh dan aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Kami hanya saling mengirim pesan lewat aplikasi chat setelah itu tidak ada hubungan kontak apapun" ucap Cyla dengan nada sedihnya. Dia ingin bertemu dengan Didi, dia sangat kangen dengan perempuan yang satu itu. Perempuan yang mengajaknya berkeliling menggunakan mobil Lamborghini putihnya dan berjalan-jalan di mall hanya untuk membeli beberapa pakaian yang sayangnya semuanya memiliki harga fantastis.
"huft baiklah, aku akan mengizinkan mu" pasrah Alex. Dia juga percaya bahwa Didi merupakan orang yang bisa dia percaya dan tidak mungkin dia bisa mengelak dari tatapan memelas Cyla.
"Benarkah? senangnya" senyum Cyla.
"Tapi ingat untuk berhati-hati dek, ingat pernikahan mu sebentar lagi akan datang" ucap Leon mengingatkan Cyla.
"tenang saja aku akan mengingatnya, kalau begitu aku harus bersiap-siap dulu" semangat Cyla dan beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan cepat ke arah kamarnya. Jadwalnya untuk hari ini juga sudah selesai artinya dia memiliki waktu senggang. Dia harus menyiapkan banyak hal dan dia akan memberikan undangan miliknya kepada Didi secara langsung.
'Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya' pikir Cyla senang. Wajahnya tidak henti-hentinya tersenyum dan aura kebahagiaan muncul di sekitarnya. Sudah lama dirinya tidak bertemu dengan Didi dan tentunya itu akan menjadi hari yang menyenangkan sekali.
πππππππππππππππ
β’Jangan Lupa mampir ke novel author yang lainnya judulnya:
My Ex Secretary
β’Seriusan dah author kasih spoiler bahwa konfliknya bakal dimulai dan Cyla berhati-hati lah xixixi.
__ADS_1