
"James." Aku sedikit mencerca kataku
"Laura, apa kau sudah minum?" Dia masuk, dan menangkup wajahku.
"Ya, hanya beberapa gelas. Aku mengobati diriku. Aku sudah memberitahumu tentang hal ini. Aku baik-baik saja. Aku memakai flat. Aku bisa berjalan lurus. Alkoholnya akan terbakar pada saat kita tiba di restoran, ke mana pun kita pergi. " Aku tersenyum lebar padanya.
"Kenapa kita tidak memesannya saja? Dan kenapa kau masih mengobati dirimu sendiri. Adriana sudah mengkonfirmasi pemindahan." Aku meringis mendengarnya.
"Ah ... tentang ini semua. Lihat Laura, kau sudah menandatangani kontrak. Kupikir kau mengambil jurusan bisnis?"
Dia membuntuti tangannya ke leherku, yang lain ke punggungku.
Dia dengan ahli membawa tubuhku dekat dengannya. Menghirup aroma tubuhnya, aku mengerang namanya. Aku mengangguk pada pertanyaannya, dan meletakkan kepalaku ke dadanya, mencium aroma cologne-nya yang mahal.
"Ya bisnis, mm .Aku suka aroma mu. Sangat harum." Aku bisa merasakannya di antara kakiku. Aku mulai mengusap tanganku ke dadanya lalu turun ke perutnya.
"James, kau sangat tampan untuk usia orang tua sepertimu." Lalu aku mendengarnya tertawa.
"Oh, Laura, kau begitu mabuk. Dan aku menyukai Laura yang mabuk. Kau masih sangat muda. Ayo makan dulu baru kita bisa bercinta. Apa kau tidak lapar. Kau mau makan apa?"
"Ya James, aku lapar, kelaparan karenamu." Aku mulai membuka kancing kemejanya dan mencium dadanya, sementara dia membiarkanku menjelajahi tubuhnya.
Aku mendorongnya ke sofa dan kami mulai bercumbu.
"Laura, Kau sangat seksi. Kau harus melepaskan pakaianmu, jika kau ingin meniduriku, sayang."
"Mmm ... ya, aku suka itu ... aku menunggumu ... Berada di atas ... Ya ... Ayo lakukan itu." Aku berhenti di antara kata-kataku, dan memberinya kecupan yanh penuh gairah
Aku melemparkan jaket dan bajuku ke lantai, dan mengenakan pakaian berenda. Dia melihat isi dadaku dari balik baju rendaku. Dia menarikku ke bawah, dan dia melihat memarku.
Oh tidak!
"Apa ini? Siapa yang melakukan ini padamu?" Dia duduk, dan berhenti seketika saat kami masih ada dalam sesi bercinta kami yang penuh gairah. Kemudian aku tiba-tiba sadar. Matanya menatapku dengan penuh tanya, jelas dia tidak akan suka jika mainannya rusak.
"Maaf. Aku lupa menutupinya."
"Itu bukan pertanyaanku Laura."
"Richard, mantanku. Kami bertengkar sengit di kampus siang ini. Tapi sekarang semuanya baik-baik saja." Aku menyerah dan mengatakan kepadanya tentang hal itu.
Aku turun dari pangkuannya, dan berjalan ke bar untuk meminum lebih banyak anggur. Aku merasakan tanganku mulai goyah.
Aku tidak suka berbagi perasaan dengan orang asing. Sepertinya aku akan kehilangan kendali dengan semua ini. Meskipun dia tahu semua sudut dan celah tubuhku, dia masih asing bagiku. Kami menghabiskan lebih banyak waktu, lalu berbicara bersama.
"Aku pikir perasaan ku agak baik untuk saat ini. Tapi aku akan memberitahumu, jika dia menggangguku lagi. Dia hanya merindukanku. Dia terlalu menghormati orang tuanya, dan dia akan tunduk pada setiap keinginan mereka. Kurasa jauh di lubuk hatiku aku senang dia meninggalkanku. Aku menghabiskan dua tahun tanpa hasil. "
"Jadi, cukup bicara tentang mantanku. Dia sudah cukup membuang waktuku." Aku memberinya segelas wiski, sementara aku mengambil gelas anggur dan meminumnya.
"Jepang atau Cina? Aku pikir, aku masih punya brosur untuk makanan gourmet di sekitar sini." Aku memutuskan untuk mengubah topik dan melanjutkan makan malam terlebih dahulu. Aku membungkuk untuk menemukan brosur, tiba-tiba dia meletakkan tangannya, di pipiku.
"Aku bisa makan apa yang ada di hadapanku sekarang, sayang dan aku sedang tidak ingin menunggu." Dia mengangkatku ke pangkuannua dan mulai mengecup pipiku lagi, sementara kakiku melingkari dia.
"James sayang, tolong sentuh aku."
"Dengan apa Laura? Apa kau ingin jari pertama, lidahku, mulut, atau ...? Mmm ...?"
Suaranya kedengaran jantan, dengan nafsu yang dalam membuatku menginginkannya. Aku sudah sangat tenggelam dengan gairah. Aku mengerang namanya, dan dia mulai menggigit telingaku, menurunkan jejak ciumannya dan menjilati sampai ke garis berendaku. Punggungku terasa dingin di dinding dapur, tapi dengan sentuhannya seluruh tubuhku terasa hangat.
"Laura, pertanyaanku. Kau belum menjawabnya."
"Mmm ya, jari, lalu mulut lalu Milik mu. Sekarang, cepatlah."
"Sayang, kau pasti menyukai keadaan mabukmu ini." Dia terkekeh sambil menurunkan dahiku dengan mudah. Dan menyentuhku dengan jarinya. Aku gemetaran di bawah sentuhannya. Sementara dia terus berbicara tentang hal-hal yang akan dia lakukan pada tubuhku, menggoda di telingaku.
Aku merengek, saat dia tiba-tiba bangkit dan membuka kancing celananya, dan mengambil alat kontrasepsi dan memasangkan pada dirinya yang sudah mengeras. Kemudian perlahan-lahan menyejajarkannya dengan milikku, dan memasukannya kedalam diriku dengan cepat.
"Sayang, ini akan terjadi dengan cepat. Kau membuatku sangat terangsang. Aku membutuhkanmu. Kita akan bercinta lagi nanti. Tapi sekarang, aku ingin kau mencapai puncaknya sekarang. Laura. "
Dia memegang pergelangan tanganku di atas kepalaku lagi, sambil terus melakukannya dengan keras dan cepat, membawaku lebih dekat ke tepi. Aku merasa dia bergerak-gerak di bawahku. Lalu aku mencapai puncakku begitupun juga dia, dia membiarkan tubuhnya merosot ke tubuhku. Membaringkan kepalanya di lekuk leherku. Merasakan napas dan tubuhnya.
Lalu dia menatapku dan mengecup bibirku, pelan-pelan, lalu mematuk pipiku, sementara dia menarik diri dariku. Membuang alat kontrasepsinya, dia mengenakan kembali pakaiannyam Meninggalkanku dalam keadaan lelah saat dia masih berpakaian lengkap.
Dia tersenyum puas padaku, tapi kemudian dia medekap ku dalam pelukannya dan menyuruhku untuk mengenakan sesuatu.
"Cepat Laura, kita tidak akan makan malam jika kau terus menatapku, kau tidak mengenakan apapu dan baru saja bercinta." Dia menampar lenganku dengan ringan, membuatku terkesiap dan tersipu, saat aku membungkuk untuk mengumpulkan pakaianku.
Wow! Apa itu tadi?
Dia memperhatikan itu juga saat dia mengangkat alis, dan menanyaiku. Aku cepat-cepat berlari ke kamar tidurku untuk menyegarkan diri dan mengenakan jubahku dan kain satin hitam tanpa apa pun di bawahnya.
__ADS_1
Dia memesan sushi untuk kita berdua, sementara aku sendiri pergi untuk menyegarkan diri dan mengenakan gaunku.
Kami kemudian makan malam dengan menyenangkan dan berbincang tentang kejadian terkini di seluruh dunia, sambil menonton berita malam. Aku membuatkannya kopi dan kemudian kami duduk di sofa. Kemudian dia mulai menanyaiku tentang kejadian sore ini.
"Sekarang kau sudah sadar. Ceritakan padaku kenapa kau tidak mau menyentuh uang itu, yang sudah aku setorkan melalui Adriana?"
"Erm ... ya, aku belum mengecekmya. Adriana sudah meneleponku sore ini dan memberitahuku tentang hal itu. Lalu aku merasa seperti sedang dibeli. Maksudku, aku suka menghabiskan waktu bersamamu. Tapi aku benar-benar ragu tentang uang itu. Itu sangat banyak. "
"Dengar, kau wanita muda yang cantik dan pandai. Aku tidak pernah menganggapmu kurang dari itu. Dan jika kau suka menghabiskan waktu bersamaku seperti yang baru saja kau katakan, aku sarankan kau menggunakan uang itu. Merawat dirimu, kau akan melukai ego seorang priaku di sini, dengan tidak mengambil apa yang sudah ku tawarkan padamu dan apa yang sudah kutanda tangani. " Dia memelukku dan merasakan kehangatannya.
"Sayang, aku membutuhkanmu, untuk merawat dirimu sendiri. Aku suka kau dalam keadaan mabuk. Selain itu, kau juga bisa melakukan apapun yang kau inginkan, dengan uang itu. Kau adalah bisnis utamaku, aku yakin kau bisa memikirkan sesuatu yang kau inginkan. Kita sedang bicara tentang stabilitas untuk dirimu di sini. Kau sudah bicara tentang ini sebelumnya. Jika aku adalah dirimu, aku akan menaruh uang itu dan memulai sesuatu, untuk diriku sendiri. Aku tahu, kalau kau akan memikirkan sesuatu. Pikirkan saja. Sementara itu, kau juga harus ke psikiatermu."
Wow ... Apa yang dia katakan benar-benar masuk akal.
"Kau benar sekali. Oke. Aku akan mengatur janji temu besok denga psikiaterku. Terima kasih sudah meyakinkan ku. Aku membutuhkan itu. Kau sangat bijaksana. Aku pikir, aku akan menyukai pria yang lebih tua sekarang. Kau membuat argumen yang sangat baik. "
Dia tertawa keras dengan pernyataanku.
Dan aku suka tawanya.
"Sekarang setelah kau tahu aku membuat argumen yang sangat baik, biarkan aku meyakinkanmu kalau aku juga membuat sebuah kemajuan dalam hal seksual." James menampar keras pantatku. Aku menjerit, dan wajahku masih memerah, saat dia meletakkanku di tempat tidur.
"Kau benar-benar sangat menarik, Laura,"
Aku melakukan apa yang dia suruh dan aku melakukannya. Aku membiarkan diriku di habis-habiskan bersamanya. Aku tidak membuang waktu lagi untuk siapa pun. Aku tersenyum menggoda padanya, bangkit dan melepaskan gaunku memperlihatkan slip seksi berendaku. Dadaku menegang, saat dia menempelkan matanya dan menatapnya, lalu kembali ke mataku.
Aku mulai melepas kemejanya, lalu membuka celananya, dan aku bisa melihat mikiknya menegang. Aku kemudian menoleh dan mendorongnya ke bawah saat dia duduk di tepi tempat tidur.
Lalu aku berlutut di depannya. Dia mengerang namaku lagi, dan lagi saat aku memasukkannya ke dalam mulutku, sementara tanganku menggenggamnya, mencoba untuk mendapatkan semuanya, tapi masih belum tampak. Tanganku yang lain memegangi pahanya, rileks dan membiarkannya perlahan mencobanya agar tidak tersumbat.
"Aku ... aku menginginkannya James. Aku ingin." Aku bahkan tidak tahu di mana aku memiliki keberanian untuk bilang seperti itu padanya.
Dia tidak menjawabku, karena pukulan pertama mengenai pantat kananku, dia menciumnya, membuatku menggeliat. Lalu dia mundur dan aku merengek, dia memberiku pukulan lain, ke pantatku yang lain membuatku tersentak ke depan. Tapi dia memegang pinggangku dengan tangan yang kuat, dan mulai mencium bokongku dan mengerang namanya.
"Laura sayang, kau benar-benar seksi. Aku ingin merasakan gairahmu dipunggungmu sayang. Kau terangsang karena tamparanku? Kita akan melakukan ini sepanjang malam, "
"Yah Kau bisa mulai melakukannya sebanyak yang kau inginkan. Sekarang, hanya kau yang kubutuhkan didalam hidupku, James."
"Saking bersemangatnya dirimu, aku tidak menyangka malam ini akan bisa menjadi malam yang lebih baik. Astaga, mari kita selesaikan ini sekarang." Dia menceburkan diri dalam diriku, aku merasakannya sepenuhnya, tanpa penghalang. Dia menyebut namaku sekarang. Aku tersenyum, berpikir bagaimana aku bisa mendaratkan seorang pria seksi di antara kedua kakiku.
"Laura, berhenti menatapku seperti itu." Dia mendorong dengan keras dan cepat, mengambil masing-masing pergelangan tanganku dalam genggamannya, memegangnya dengan kuat di atas kepalaku.
"Aku mau keluar, James." Aku mengepalkannya lebih keras, saat matanya gelap dan dia bergerak-gerak di dalam diriku.
"Jangan dulu sayang, kita harus melakukan ini dengan lambat. Aku akan membuatmu puas di akhir permainan ini. Ini akan menjadi puncak demi puncak untukmu. Ini adalah hukuman untukmu, karena kau berpikir untuk tidak menerima kesepakatan yang sudah kau tandatangani sendiri. Malam ini kau akan belajar, untuk menerima kontrak dengan serius. Sekarang berikan aku 0uncak pertamamu. Ayo sekarang!"
Lalu dia dengan kasar membalikku dan melakukannya dari belakang. Aku merasa puasku mereda, saat dia mendorong dirinya dengan keras dan cepat di dalam diriku. Aku meneriakkan namanya berulang kali, memohon padanya. Sangat keras, memenuhi keinginanku, meregangkanku, sementara dia membisikkan pikiran kotor di telingaku. Tangannya menyentuh pantatku, buah dadaku, area kewanitaanku, membuatku tegang, tinggi, dan lebih dekat dengan klimaksku.
"Sekali lagi sayang, sekarang!" Aku mencapai klimaks lagi saat dia menyenandungkan apresiasinya, pada kepatuhanku pada kata-katanya. Kemudian dia berada di atasku saat aku berbaring telentang lagi, mencoba menikmati semuanya.
Dia tertawa kecil dan tersenyum puas.
"Astaga, James! Ohh.. Uhhhh... Tolong berhenti." Lalu dia berhenti., dia perlahan-lahan menelusuri ciumannya kembali ke arahku dan mulai mencium mulutku dengan kasar, dengan rasa posesif yang belum pernah aku alami.
"Kau akan mengambilnya sayang, kau akan mengambil semua puncak yang kuberikan padamu malam ini. Ini adalah hukumanmu. Aku harus memastikan itu tidak akan terjadi lagi. Aku akan membuatmu mengingat konsekuensinya." Aku menggeliat dari kata-katanya.
Aku bahkan tidak bisa menghitung berapa kali aku mencapai puncakku malam itu sampai dia akhirnya membiarkan dirinya puas juga dan kami berdua selesai, merosot, santai di tangan masing-masing.
Mataku perlahan mulai terbuka saat aku merasakannya berada di bawahku, terasa seperti pagi yang indah. "Astaga ... Ini bukan mimpi. Ouhh. James." James menyeringai, aku bisa melihat seluruh tubuhnya yang indah di bawah cahaya pagi.
Ohh Dia benar-benar tampan! Tunggu.. jam berapa sekarang?
"Kita masih punya waktu, Laura, ini masih jam tujuh. Kau tidak ada kelas sampai jam sebelas kan. Aku sudah bilang akan ada waktu untuk diriku bersamamu di pagi hari, sayang, kau baik-baik saja kan? Apa kau masih merasakan sakit sejak tadi malam?" Dia melayang di atasku, mencium leherku, menggodaku di atasku.
"Hooaaammm" Aku menggenggam mulutku, dan bergumam padanya, menggelengkan kepalaku. Dia tertawa, dan membawaku ke kamar mandi. Dia menurunkanku di depan wastafel marmer besar. Aku melihatnya menyikat giginya dengan cepat dan selesai sebelum diriku.
Aku masih menyikat gigiku, dan dia mulai mencium pundakku. Dia tertawa melihat ekspresiku yang terkejut dari cermin kamar mandi. "Cepat sikat gigimu,"
Dia mulai membelai tangannya ke punggungku, sementara yang lain turun di antara kedua kakiku. Dia menggilingku dari belakang, dia membuka dan memaksa kakiku terpisah dengan lututnya. Aku mulai panik dan dengan cepat membasuh mulutku membuat tawanya bergema lebih keras di seluruh kamar mandi.
"Selesai!" Kataku terlalu bersemangat. Dia menyeringai sekarang, merasakan kebasahanku dari belakang.
"Aku ingin kau melihatnya sendiri, melalui cermin Laura. Kau bisa melakukan itu untukku kan? Kau mau melakukannya lagi, kan? Kau pasti berpikir aku melakukan hal-hal kotor kepadamu? Jawab aku." Dia menatapku melalui cermin, menunggu jawabanku.
"Ya, lakukan, James. Aku akan melihatnya dari arah cermin. Aku suka kalau kau melakukannya." Aku terkesiap, kaget pada diriku sendiri, wajahku memerah lebih dalam, malu pada diriku sendiri mengatakan semua hal ini. Tapi aku sangat menginginkan dia dalam diriku. Aku bisa melihatnya menatapku. Dia memegang tubuhku, saat dia dengan kasar mendorong dirinya ke dalam diriku, membuatku meneriakkan namanya dengan keras.
"Oh Laura, hal-hal yang kau lakukan padaku.. Astaga. Tunggu sebentar. Ini akan terasa sangat menyenangkan." Aku mengepalkannya dengan erat-erat saat dia memegangi leherku, memaksakan pandanganku kearah cermin. Aku sangat terangsang dan dia tahu itu, karena dia terus melakukannya lebih keras dan lebih cepat dari belakang. Aku bilang padanya kalau aku sudah mau mengakhiri permainan ini, aku mengerang dan meneriakkan namanya berulang kali.
"Sekali lagi sayang, kau bisa melakukan ini." Aku merosot tapi dia masih memegangi tubuhku, menjagaku. Aku bisa melihat otot-ototnya membentang dari balik cermin kamar mandi.
Aku menahan napas, aku sangat dekat dengan ujung kepuasanku. Sampai dia menyuruhku keluar, kita kemudian bersatu saat tangannya yang lain menjaga tubuhku agar tidak jatuh ke lantai. Dia bilang padaku untuk melihat tubuh kita dari balik cermin.
Aku bisa melihat air mengalir keluar ke pahaku. Dia akhirnya melepaskan kakiku dengan lembut, memastikan aku baik-baik saja dan berdiri sendiri. Lalu dia membalikkan tubuhku menghadap ke dirinya, dan menarikku ke pelukannya.
__ADS_1
Dia menundukkan kepalanya ke bawah dan mengecup pipiku perlahan.
Tanganku bergerak ke dadanya, merasakan riak ototnya membuatnya mengerang. Dia terus menciumku lebih dalam dan lebih keras, membuatku terengah-engah, kami berhenti beberapa kali hanya untuk saling menatap dan melakukan ciuman panas yang lebih panas. Aku melingkarkan tanganku ke punggungnya, punggungnya yang seksi dan berotot.
Dia mengerang dan mengangkatku untuk duduk di meja marmer. Aku tidak pernah mencium seorang pria dengan sebanyak ini, tapi aku tidak bisa membuat diriku berhenti menciumnya. Dia mengambil pipiku dengan tangannya dan menciumku lagi dan lagi, tangannya yang lain mencengkeram pinggangku.
"Kau membunuhku Laura, aku tidak bisa berhenti melakukannya padamu. Tapi hari ini kurasa cukup."
Dia membersihkanku dan kami mandi bersama, dan akhirnya kami menyelesaikan permainan kecil kami di pagi hari.
"Ayo, kita berpakaian. Lalu, aku mengambil pakaianku yang bersih dari mobilku, kenapa kau belum bersiap-siap untuk sarapan sebelum aku mengantarmu ke kampus. Nanti biar aku yanh menjemputmu lagi, kita akan pergi ke rumahku malam ini. Jadi, kemasi barang-barangmu dan kita akan membawanya ke mobilku. Aku akan pergi ke luar negeri sepanjang akhir pekan ini, jadi aku membutuhkanmu sebelum pergi. "
Tidak ada pertanyaan dalam kalimatnya. Baiklah. Aku harus mengingatkan diriku pada Sugar Baby ini berulang-ulang. Semoga saja OCD ku dapat menangani satu malam di tempatnya.
Setelah petualangan intim yang kami lakukan tadi pagi, dia menurunkanku di depan kampus. Aku beruntung karena James mengantarku tepat saat Richard keluar dari mobilnya, tapi aku enggan keluar dari mobil James.
Karena aku tahu dia akan buat masalah besar, jadi sebagai seorang wanita, aku akan keluar dari mobilnya, tapi tidak sebelum dia menarikku untuk berciuman dan mulai banyak meraba-raba dan mengerang sampai dia melepaskan dirinya dariku, tapi nyatanya aku tidak bisa melepaskannya.
Astaga, James dengan segala caranya yang seksi.
Aku berharap Richard sudah masuk ke dalam kelas lebih duku. Tapi tidak, dia malah sedang bicara dengan temannya, dan dia melihatku keluar dari mobil.
"Ternyata sudah ada penggantiku." Dia menawarkan untuk membawakan buku-buku ku, tapi aku menolak. Dia berjalan di sampingku dan mencoba membuat obrolan ringan, tapi aku aneh. Jadi kami berpisah di aula.
Aku memutuskan untuk mengecek ponselku sebelum kelas dimulai. Ada pesan dari James.
'Siapa yang mengantarmu ke kelas? Apakah itu Richard?'
Aku langsung menjawab.
'Ya, dia Richard. Dia hanya menyapaku dan bilang kalau ternyta sudah ada pengganti dirinya dihidupku. Jangan khawatir, dia baik kok'
'Baiklah, aku akan menjemputmu jam tiga. Miss you.'
'Baiklah. Sampai jumpa jam tiga. Aku mematikan ponselku. Kelas akan dimulai. Miss you too.'
Aku tersenyum seperti orang bodoh, saat aku mematikan ponselku. Ashley dan Natalia menatapku dengan lucu.
Ya, dasar wanita murahan! Aku bisa bahagia tanpa kalian berdua.
Pukul tiga kurang seperempat, aku sudah menunggunya, menyandarkan punggungku di dinding, sambil menjelajah ponselku. Aku memutuskan untuk menghubungi psikiaterku dan mengatur janji temu untuk hari Sabtu, karena James akan ke luar negeri.
Aku sedang bermain di ponselku, menunggu James, tiba-tiba Richard menyambutku dengan Ashley menggantung di sisinya.
Jadi inilah kenapa Ashley dan Natalia memutuskan persahabatan kami. Karena dia ingin dekat dengan Richard dan Natalia adalah antek Ashley sebelum dia memutuskan untuk meninggalkanku.
Aku tersenyum pada Richard, dia tampak terkejut saat tangan Ashley melingkar di lengannya dan berusaha melepaskan tangannya dari lengannya. Tapi dia memelototinya, dan berbalik arah dan berjalan ke arahku, merangkulnya, dengan Natalia di sisinya yang lain. Aku berusaha mengalihkan pandanganku, dan berusaha tetap diam, dan memainkan permainan kecil mereka.
"Laura, aku mau bicara denganmu sebentar. Bagaimana kabarmu? Aku minta maaf soal masalah keuanganmu, aku mendengar dari orang tuaku, mereka sering membicarakanmu. Aku benci saat orang-orang membicarakanmu. Jadi, aku kira kau pernah mendengar kalau Richard dan aku sedang berkencan sekarang. Yah, ibunya bersikeras membuat kami bersama. Jujur, aku masih tidak nyaman dengan hal itu." Dia menyerangku dengan kata-kata sindirannya yang jahat.
Aku hanya tersenyum padanya, sikapku santai sambil melihat arlojiku, dan berusaha sebaik mungkin untuk tampak bosan dengan obrolannya.
James menelponku.
"Laura, aku sudah ada di tempat parkir. Kamu di mana?"
"Aku di sini, aku tidak melihat mobilmu." Ashley perlahan-lahan menoleh, dan aku tahu dia mencoba mendengarkan percakapanku. Tapi aku hanya mengangkat bahu padanya. Richard terlihat sangat tidak nyaman dengan situasi ini.
"Lambhorgini hitam sayang. Aku mengganti mobil, aku baru saja membelinya dari toko. Maaf lupa memberitahumu."
"Itu terlalu mencolok sayang, pasti banyak yang melihatnya. Biar aku yang mendatangimu." Aku menutup teleponnya.
"Maaf, jemputanku sudah datang. Sampai ketemu lagi." Aku memberikan mereka senyum termanisku. Ashley sepertinya akan pingsan, sementara Natalia tidak bisa menutup mulutnya. Richard, yah dia hanya tampak cemburu.
Dia sudah menungguku, menyilangkan kakinya, bersandar di luar mobilnya, melihat arlojinya.
"Aku sudah menunggumu selama lima belas menit."
"Maaf sayang." Dia menarikku untuk ciuman panasnya yang khas, membuatku menjatuhkan tas dan buku-bukuku.
"Astaga, James! Lihat apa yang kau lakukan." Dia tertawa, menarikku dan menciumku, saking nafsunya, dia sampai meremas pantatku dan menggiling batangannya ke arahku.
"Sayang, batanganku tiba-tiba mengeras hanya dengan menciummu saja."
Dia akhirnya menarik diri dan mencium pelipisku. Dia mengambil barang-barangku dan memberikannya padaku kemudian membukakan pintu mobil untukku.
"Ohya, mereka yang melongo pada kita di sana, apa mereka temanmu?" Aku melihat ke belakang dan Ashley tampak seperti akan marah. Sementara Richard dan Natalia berusaha menenangkannya. James menyalakan mesin mobil dan melaju dengan mulus dan cepat. Dia tersenyum puas, dan terus menatap jalan dan tangannya di pahaku.
Aku menertawakannya dan menggelengkan kepala. "Itu Richard, dan pacar barunya, yang merupakan sahabatku sendiri dan anteknya Natalia sahabatku yang lain. Aku sengaja membuatmu mondar-mandir, membuat mereka menjadi sangat iri."
"Jadi, kau sudah merasa baikan karena Richard sudah punya pacar?" Dia bertanya dengan hati-hati.
"Yah baik-baik saja, tapi agak sedikit kaget saja dan hanya tertawa di dalam hati. Waw aku hampir lupa betapa banyaknya masalah kecil yang menimpaku saat aku masih muda seperti ini." Aku tertawa dan memukul lengannya, membuatnya tertawa.
__ADS_1
"Wah sayang, sepertinya aku ingat teriakanmu juga saat kau menyuruhku mengeluarkannya lebih cepat, berulang-ulang." Dia dengan jahat meletakkan tangannya di pahaku. Tangguh dengan balutan jeans, aku bisa merasakan tangannya naik dengan lambat ke arah kewanitaanku.