
“ Huh huh huh.” Suara nafas ketiga anak yang berlari cukup
kencang untuk menerobos hutan lebat itu mengikuti semua tanda merah yang gadis
kecil itu tempel pada pohon. Pohon-pohon besar dan ilalang yang menghadang
mereka lewati dengan tebasan dari pisau membantunya untuk menyingkirkan
ranting-ranting yang menghalang.
Dua Pria kekar terlihat mengejar mengikuti suara langkah
para anak-anak itu. Merasa jika ada orang yang mengejarnya Vico memberi ide
untuk sementara mengalihkan perhatian mereka dan bersembunyi dulu untuk
menyelamatkan diri. Gadis kecil itu menyetujuinya dan mencoba membuat jebakan
dengan tali yang dimilikinya hingga mengurangi kecepatan orang-orang yang
mengejar mereka saat ini itu.
Orlando yang selalu menjadi angka ikut hanya mengangguk dan
mengikuti rencana dengan patuh. Usai jebakan selesai mereka berjalan pelan dan
bersembunyi di dekat sebuah batu besar. Para pengejar yang mencoba mencari arah
anak-anak yang sudah tidak terdengar jejaknya itu berhenti dan mencoba
menentukan arah ke mana mereka mengejar. Keduanya pun berpencar tidak disangka
salah satunya melewati jebakan yang telah anak-anak itu buat.
“ Ahhhhhhhhhhh.” Suara Pria kekar itu kini terperosok masuk
ke dalam kubangan yang sebelumnya ditutupi ranting dan daun kering hingga sulit
diketahui kalau di tempat itu ada lubang yang cukup dalam. Tali yang sebelumnya
digunakan untuk menjebak juga memakan korban pria kekar satunya hingga dia
sekarang tergantung di atas pohon. Merasa ide cerdik keduanya berjalan gadis
kecil, Vico dan Orlando pun sangat puas dan melakukan tos tanpa suara.
Walaupun mereka sementara aman mereka tetap jalan
mengendap-endap agar tidak diketahui para pria yang sudah terjebak itu
meloloskan diri. “ Dasar anak-anak kurang ajar beraninya menjebakku.” Ucap Pria
yang tergantung sambil mencari alat untuk melepaskan ikatan pada kakinya dari
saku celananya.
“ Woy tolong aku.” Teriak pria satunya yang kesulitan keluar
dari lubang cukup dalam itu. Walaupun melompat-lompat berkali-kali dia terlihat
tidak dapat menjangkau bibir lubang itu hingga akhirnya dia meminta tolong.
Anak-anak yang sudah terlihat menjauh dari lokasi jebakan
mereka kemudian kembali berlari untuk kembali ke tempat kakek gadis kecil itu
harusnya berkumpul. Sebuah kalung kecil terjatuh menghentikan langkah Vico lalu
memungutnya, dia fikir itu milik gadis kecil itu dan ingin mengembalikannya
saat mereka sudah keluar dari Hutan dia pun menyimpan dalam saku celananya.
__ADS_1
“ Apakah masih jauh ?” Tanya Orlando yang terlihat berlari
paling belakang mengikuti gadis kecil itu. Gadis kecil itu berucap “ Tenang
sebentar lagi sampai.” Vico dan Orlando terlihat pasrah dan mengikuti berlari
hingga mereka merasa kelelahan.
“ Katamu dekat kenapa belum sampai juga ?” Tanya Orlando
lagi merasa sudah kelelahan berlari dari tadi.” Kamu itu cerewet sekali,
diamlah sebentar lagi sampai.” Jawabnya jengkel dengan anak laki-laki yang
selalu bertanya dari tadi itu.
“ Huh huh huh akhirnya sampai juga. Kita tunggu di sini
nanti kakekku dan beberapa orang akan ke sini.” Ucap gadis kecil itu sambil mendudukkan
tubuh mungilnya pada sebuah batu yang terlihat berwarna abu-abu itu. Vico dan
Orlando terlihat kelelahan keringat bercucuran di sekitar dahi mereka berdua.
“ Ke mana mereka ? apakah masih lama, aku tidak mau kita
tertangkap lagi.” Ucap Orlando lagi yang memang selalu cerewet sejak bertemu.
Dia terlihat menyandarkan tubuhnya pada pohon besar sambil mengatur nafasnya
dan menyeka keringatnya. Vico terlihat duduk di batang pohon besar yang sudah
tumbang juga menyeka keringat dengan pakaiannya.
“ Mereka sedang berburu di dalam, seharusnya mereka akan
segera kembali mengingat sebentar lagi akan sore hari.” Jawab gadis kecil itu
menghilangkan dahaganya karena berlari dari para penculik itu.
“ Apa kamu mau ?” Ucapnya menawarkan pada Vico dan Orlando.
Air pada botol kecil itu pun di sambut hangat oleh kedua anak laki-laki itu
dengan senang bagaikan mendapat hadiah berharga. Tidak terasa isi dalam botol
itu sudah habis dan tersisa botolnya saja.
“ Apa kamu sering ikut ke hutan ?” Tanya Vico yang merasa
heran dengan gadis yang menurutnya masih kecil tapi berpetualang sendiri masuk
ke dalam hutan itu. Bahkan dia membawa sebuah pistol dan dapat mengoprasikannya
dengan mudah dan tepat sasaran.
“ Lumayan, aku sangat menyukai berpetualang seperti ini. “
Jawabnya sambil memasukkan botol minuman miliknya beserta pisau yang sebelumnya
dia pegang tadi. Dia terlihat melihat waktu yang tertera pada jam yang
melingkar pada pergelangan mungilnya dia juga ingin segera bertemu dengan
kakeknya agar segera meninggalkan hutan itu.
Para pria dewasa terlihat keluar dari dalam hutan. “ Eh
siapa mereka ?” Tanya kakek gadis kecil itu bertanya. Sambil terlihat memegang
senapan angin dan tangan satunya membawa buruannya.
__ADS_1
“ Kek mereka tadi di culik, saat aku masuk hutan ada sebuah
rumah dan mereka ada di dalamnya dan aku menyelamatkan mereka.” Ucapnya pada
kakeknya. Terlihat Kakeknya mengeryit melihat kedua anak laki-laki yang
terlihat kumal itu.
“ Kalian siapa ?” Tanya kakek itu kala sudah
duduk di batang kayu dekat Vico beserta beberapa temannya yang terlihat lelah
setelah berburu.
“ Perkenalkan saya Vico.”
“ Saya Orlando kek.”
“ Jika saya boleh tahu ini ada di mana ya Kek ?” Tanya Vico yang
masih penasaran dengan keberadaan mereka itu.
“ Belanda. Memang kalian dari mana ?” Tanya kakek gadis
kecil itu bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan anak laki-laki itu.
“ Saya dari Jerman dan teman saya dari Itali. Kami tidak
tahu sama sekali beberapa hari di sekap di sana.” Ucap Vico merasa bingung
berpikir bagaimana cara mereka pulang ke rumah.
“ Wah kebetulan teman-temanku hari ini akan kembali ke
negaranya kalian ikut dengan mereka saja. Rodrigo bawa anak ini dan pertemukan
dengan orang tuanya. Dan Sean bawa anak ini juga bersamamu dan pertemukan
dengan orang tuannya.” Ucap Kakek gadis kecil itu pada para teman-teman
berburunya yang memang dari beberapa negara berbeda itu.
“ Oke tenang saja.” Jawab keduanya setuju. Keduanya membawa
Orlando dan Vico ke mobil mereka masing-masing untuk segera kembali ke negara
mereka masing-masing.
Akhirnya hari itu berakhir dengan perpisahan dari ketiga
anak kecil yang baru bertemu dalam sebuah kemalangan itu. Tidak ada komunikasi
antara ketiganya bahkan nama gadis kecil itu pun tidak sempat mereka ketahui.
Itulah awal mula Orlando dan Vico bertemu hingga keduanya kembali berkomunikasi
saat sudah kembali ke negaranya masing-masing karena informasi yang mereka
tukar saat berada di ruangan penyekapan.
“ Hah aku lupa memberikan kalung ini.” Ucap Vico mengambil
kalung yang tersimpan di sakunya dan memasukkannya lagi. Karena tidak mungkin
dia merepotkan orang yang baru dia kenal untuk membantunya pulang ke Jerman itu
mengantarkan ke rumah gadis kecil tadi. Dia berpikir mungkin ada lain kali bisa
bertemu dengan gadis penyelamatnya itu. Tapi ternyata sangat sulit sampai ia
dewasa tidak menemukan keberadaan gadis kecil itu walaupun mereka sudah
__ADS_1
menggunakan semua sumber untuk menemukannya.