My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Bertemu Kakek


__ADS_3

“ Huh huh huh.” Suara nafas ketiga anak yang berlari cukup


kencang untuk menerobos hutan lebat itu mengikuti semua tanda merah yang gadis


kecil itu tempel pada pohon. Pohon-pohon besar dan ilalang yang menghadang


mereka lewati dengan tebasan dari pisau membantunya untuk menyingkirkan


ranting-ranting yang menghalang.


Dua Pria kekar terlihat mengejar mengikuti suara langkah


para anak-anak itu. Merasa jika ada orang yang mengejarnya Vico memberi ide


untuk sementara mengalihkan perhatian mereka dan bersembunyi dulu untuk


menyelamatkan diri. Gadis kecil itu menyetujuinya dan mencoba membuat jebakan


dengan tali yang dimilikinya hingga mengurangi kecepatan orang-orang yang


mengejar mereka saat ini itu.


Orlando yang selalu menjadi angka ikut hanya mengangguk dan


mengikuti rencana dengan patuh. Usai jebakan selesai mereka berjalan pelan dan


bersembunyi di dekat sebuah batu besar. Para pengejar yang mencoba mencari arah


anak-anak yang sudah tidak terdengar jejaknya itu berhenti dan mencoba


menentukan arah ke mana mereka mengejar. Keduanya pun berpencar tidak disangka


salah satunya melewati jebakan yang telah anak-anak itu buat.


“ Ahhhhhhhhhhh.” Suara Pria kekar itu kini terperosok masuk


ke dalam kubangan yang sebelumnya ditutupi ranting dan daun kering hingga sulit


diketahui kalau di tempat itu ada lubang yang cukup dalam. Tali yang sebelumnya


digunakan untuk menjebak juga memakan korban pria kekar satunya hingga dia


sekarang tergantung di atas pohon. Merasa ide cerdik keduanya berjalan gadis


kecil, Vico dan Orlando pun sangat puas dan melakukan tos tanpa suara.


Walaupun mereka sementara aman mereka tetap jalan


mengendap-endap agar tidak diketahui para pria yang sudah terjebak itu


meloloskan diri. “ Dasar anak-anak kurang ajar beraninya menjebakku.” Ucap Pria


yang tergantung sambil mencari alat untuk melepaskan ikatan pada kakinya dari


saku celananya.


“ Woy tolong aku.” Teriak pria satunya yang kesulitan keluar


dari lubang cukup dalam itu. Walaupun melompat-lompat berkali-kali dia terlihat


tidak dapat menjangkau bibir lubang itu hingga akhirnya dia meminta tolong.


Anak-anak yang sudah terlihat menjauh dari lokasi jebakan


mereka kemudian kembali berlari untuk kembali ke tempat kakek gadis kecil itu


harusnya berkumpul. Sebuah kalung kecil terjatuh menghentikan langkah Vico lalu


memungutnya, dia fikir itu milik gadis kecil itu dan ingin mengembalikannya


saat mereka sudah keluar dari Hutan dia pun menyimpan dalam saku celananya.

__ADS_1


“ Apakah masih jauh ?” Tanya Orlando yang terlihat berlari


paling belakang mengikuti gadis kecil itu. Gadis kecil itu berucap “ Tenang


sebentar lagi sampai.” Vico dan Orlando terlihat pasrah dan mengikuti berlari


hingga mereka merasa kelelahan.


“ Katamu dekat kenapa belum sampai juga ?” Tanya Orlando


lagi merasa sudah kelelahan berlari dari tadi.” Kamu itu cerewet sekali,


diamlah sebentar lagi sampai.” Jawabnya jengkel dengan anak laki-laki yang


selalu bertanya dari tadi itu.


“ Huh huh huh akhirnya sampai juga. Kita tunggu di sini


nanti kakekku dan beberapa orang akan ke sini.” Ucap gadis kecil itu sambil mendudukkan


tubuh mungilnya pada sebuah batu yang terlihat berwarna abu-abu itu. Vico dan


Orlando terlihat kelelahan keringat bercucuran di sekitar dahi mereka berdua.


“ Ke mana mereka ? apakah masih lama, aku tidak mau kita


tertangkap lagi.” Ucap Orlando lagi yang memang selalu cerewet sejak bertemu.


Dia terlihat menyandarkan tubuhnya pada pohon besar sambil mengatur nafasnya


dan menyeka keringatnya. Vico terlihat duduk di batang pohon besar yang sudah


tumbang juga menyeka keringat dengan pakaiannya.


“ Mereka sedang berburu di dalam, seharusnya mereka akan


segera kembali mengingat sebentar lagi akan sore hari.” Jawab gadis kecil itu


menghilangkan dahaganya karena berlari dari para penculik itu.


“ Apa kamu mau ?” Ucapnya menawarkan pada Vico dan Orlando.


Air pada botol kecil itu pun di sambut hangat oleh kedua anak laki-laki itu


dengan senang bagaikan mendapat hadiah berharga. Tidak terasa isi dalam botol


itu sudah habis dan tersisa botolnya saja.


“ Apa kamu sering ikut ke hutan ?” Tanya Vico yang merasa


heran dengan gadis yang menurutnya masih kecil tapi berpetualang sendiri masuk


ke dalam hutan itu. Bahkan dia membawa sebuah pistol dan dapat mengoprasikannya


dengan mudah dan tepat sasaran.


“ Lumayan, aku sangat menyukai berpetualang seperti ini. “


Jawabnya sambil memasukkan botol minuman miliknya beserta pisau yang sebelumnya


dia pegang tadi. Dia terlihat melihat waktu yang tertera pada jam yang


melingkar pada pergelangan mungilnya dia juga ingin segera bertemu dengan


kakeknya agar segera meninggalkan hutan itu.


Para pria dewasa terlihat keluar dari dalam hutan. “ Eh


siapa mereka ?” Tanya kakek gadis kecil itu bertanya. Sambil terlihat memegang


senapan angin dan tangan satunya membawa buruannya.

__ADS_1


“ Kek mereka tadi di culik, saat aku masuk hutan ada sebuah


rumah dan mereka ada di dalamnya dan aku menyelamatkan mereka.” Ucapnya pada


kakeknya. Terlihat Kakeknya mengeryit melihat kedua anak laki-laki yang


terlihat kumal itu.


“ Kalian siapa ?” Tanya kakek itu kala sudah


duduk di batang kayu dekat Vico beserta beberapa temannya yang terlihat lelah


setelah berburu.


“ Perkenalkan saya Vico.”


“ Saya Orlando kek.”


“ Jika saya boleh tahu ini ada di mana ya Kek ?” Tanya Vico yang


masih penasaran dengan keberadaan mereka itu.


“ Belanda. Memang kalian dari mana ?” Tanya kakek gadis


kecil itu bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan anak laki-laki itu.


“ Saya dari Jerman dan teman saya dari Itali. Kami tidak


tahu sama sekali beberapa hari di sekap di sana.” Ucap Vico merasa bingung


berpikir bagaimana cara mereka pulang ke rumah.


“ Wah kebetulan teman-temanku hari ini akan kembali ke


negaranya kalian ikut dengan mereka saja. Rodrigo bawa anak ini dan pertemukan


dengan orang tuanya. Dan Sean bawa anak ini juga bersamamu dan pertemukan


dengan orang tuannya.” Ucap Kakek gadis kecil itu pada para teman-teman


berburunya yang memang dari beberapa negara berbeda itu.


“ Oke tenang saja.” Jawab keduanya setuju. Keduanya membawa


Orlando dan Vico ke mobil mereka masing-masing untuk segera kembali ke negara


mereka masing-masing.


Akhirnya hari itu berakhir dengan perpisahan dari ketiga


anak kecil yang baru bertemu dalam sebuah kemalangan itu. Tidak ada komunikasi


antara ketiganya bahkan nama gadis kecil itu pun tidak sempat mereka ketahui.


Itulah awal mula Orlando dan Vico bertemu hingga keduanya kembali berkomunikasi


saat sudah kembali ke negaranya masing-masing karena informasi yang mereka


tukar saat berada di ruangan penyekapan.


“ Hah aku lupa memberikan kalung ini.” Ucap Vico mengambil


kalung yang tersimpan di sakunya dan memasukkannya lagi. Karena tidak mungkin


dia merepotkan orang yang baru dia kenal untuk membantunya pulang ke Jerman itu


mengantarkan ke rumah gadis kecil tadi. Dia berpikir mungkin ada lain kali bisa


bertemu dengan gadis penyelamatnya itu. Tapi ternyata sangat sulit sampai ia


dewasa tidak menemukan keberadaan gadis kecil itu walaupun mereka sudah

__ADS_1


menggunakan semua sumber untuk menemukannya.


__ADS_2