My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Kencan Berdua 3


__ADS_3

Mereka lalu pergi ke Bioskop untuk menonton Film romantis


yang Vico siapkan, menurutnya Arini menyukainya.


“ Kamu ingin nonton Film apa ?” Tanya Vico pada Arini, ingin


memancing bahwa pilihan yang dia pikirkan sesuai keinginan Arini.


“ Aku ingin nonton itu saja.” Tunjuk Arini pada poster Film


Action yang menampilkan Vin Diesel yang merupakan aktor kesukaan Arini.


Arini menjadi sosok semakin periang dan memperlihatkan sisi


lainnya saat Vico semakin mengenalnya. Terlihat emosi yang tidak pernah Arini


tampilkan selama ini. Wajah bahagia, sedih, marah, dan lainnya berbeda dengan


wajah datar yang susah di tebak saat awal menjadi pasangan suami istri.


Duarrr semua bayangan Vico buyar saat Arini menjawabnya “


Kamu menyukai film seperti itu ?” Tanya Vico heran pada Arini.


“ Iya, aku sangat menyukai film action apalagi kalau


aktornya Vin Diesel, aku selalu menontonnya dengan kakak.” Jawab Arini dengan


wajah lugunya.


“ Biar cepat kamu pilih antre tiket atau antre beli makan


dan minum ?” Tanya Arini seperti kebiasaannya yang dilakukan dengan kakaknya


saat menonton di bioskop.


“ Apa ? Antre ? kita pesan saja satu bioskop, dan makanannya


kamu tinggal bilang saja ke pelayan mereka akan membawakannya padamu, ini kan


Mallku kenapa harus repot-repot mengantre.” Ucap Vico bangga akan kekayaan yang


dimilikinya itu dan malas dengan yang namanya mengantre, apalagi ini adalah


teritorial miliknya.


“ Kamu itu, pilih saja tidak usah sombong siapa juga yang


ingin menonton hanya berdua denganmu di satu gedung bioskop itu tidak menyenangkan.”


Jelas Arini sambil menepuk lengan Vico yang berbicara aneh menurutnya.


“ Aku tidak suka menonton dengan banyak orang.” Ucap Vico


pada Arini, seperti toko-toko yang dikunjungi Arini dan Vico tadi setelah


keduanya masuk toko itu dibuat tutup agar tidak ada pengunjung lain yang masuk


dan hanya melayani mereka berdua, siapa lagi kalau bukan kerjaan sekretaris


Kim.


“ Ya sudah tidak jadi menonton Filmnya, kita pulang saja.”


Ucap Arini dengan wajah cemberut dan tangan bersedekap dan menatap Vico erat.


“ Oke-oke kita ikuti keinginan kamu. Aku akan mengantre


untuk membeli makanan saja.” Jawab Vico mengalah pada Arini dan mengacak rambut


Arini.


“ Oke, aku akan beli tiketnya.” Jawab Arini lalu melangkah


ke tempat penjualan tiket.

__ADS_1


Setelah keduanya selesai mereka lalu duduk di kursi tunggu


sambil menunggu waktu panggilan masuk ke gedung bioskop.


“ Kamu kenapa suka film action, aku kira suka film romantis


seperti wanita kebanyakan?” Tanya Vico pada Arini yang terlihat menyedot


minuman susu coklat kocok dingin yang menjadi kesukaannya ketika menonton Film.


“ Aku suka mempelajari ilmu bela diri dan lebih meningkatkan


adrenalin saat menyaksikan aksi-aksi menantang.” Jawab Arini tanpa menatap Vico


dan fokus dengan susu coklatnya tersebut.


“ Ohhh.” Respon Vico hanya membentuk bibirnya berbentuk O


tanda dia mengerti dengan penjelasan Arini.


“ Mohon perhatian Anda pintu teater satu telah dibuka para


penonton yang sudah memiliki karcis dipersilahkan untuk memasuki ruangan


teater, terima kasih.” Bayangkan kalian di gedung bioskop untuk cara


penyampaiannya.


“ Ayo sudah waktunya masuk.” Ucap Arini lalu mengambil


makanan dan menarik lengan Vico untuk masuk teater yang di sebutkan dari


pengeras suara.


Arini dan Vico lalu duduk berdampingan, mereka sangat


menikmati alur cerita Film itu, terdengar Arini yang mengomentari berbagai aksi


yang dilakukan oleh aktor utama kesukaannya itu. Vico hanya menanggapi dengan


itu.


“ Hai Ar, kamu terlihat sangat bahagia.” Ucap seseorang


entah dari mana membuat Arini terdiam dan mencari asal suara yang dia cukup


kenal itu.


Melihat perubahan wajah Arini terlihat Vico memandangnya


erat dan bertanya-tanya karena tidak ada suara yang dia dengar seperti


sebelumnya sehingga dia memandang wanita itu.


“ Kamu kenapa kok diam ?” Tanya Vico sambil menyentuh kepala


Arini lembut.


“ Tidak ada apa-apa.” Jawab Arini menggelengkan kepalanya


dan mengubah wajahnya yang semula ceria kembali ke wajah datar sulit ditebak


seperti sebelumnya.


“ Apa kamu ingin ke toilet ?” Tanya Vico memastikan lagi.


“ Tidak.” Jawab Arini singkat pada Vico.


“ Apa kamu tidak nyaman, ingin keluar sekarang ?” Tanya Vico


lagi pada Arini karena perubahan tiba-tiba mood Arini itu.


“ Iya, ayo kita pulang sekarang.” Jawab Arini dan memandang


Vico ada tersirat ketakutan di wajahnya.

__ADS_1


“ Baiklah, apa kamu tidak lapar, bagaimana kalau kita makan


dulu ?” Ajak Vico karena mereka belum makan malam.


“ Tidak, kita makan di rumah saja.” Jawab Arini lalu segera


berdiri dan menarik lengan Vico mengajaknya meninggalkan teater bioskop itu dan


kembali ke rumah.


Arini terlihat berjalan cepat meninggalkan gedung bioskop


menuju tempat valley dengan tangannya tetap menarik lengan Vico erat.


“ Hei kamu kenapa ?” Tanya Vico saat sudah berada di dalam


mobilnya bersama Arini dan melajukannya pulang. Sambil tangan kirinya


menggenggam tangan kanan Arini.


“ Tidak ada apa-apa aku hanya ingin segera pulang saja.”


Jawab Arini pada Vico dengan wajah sedikit cemas.


“ Baiklah.” Jawab Vico kembali fokus dengan kemudinya agar


segera sampai di rumah.


Setelah mobil yang Vico kendarai memasuki rumah mereka dan


berhenti, Arini terlihat terburu-buru masuk ke dalam rumah, bahkan tidak


menunggu Vico dulu seperti biasanya.


Arini langsung menuju kamarnya, setelah melepas sepatu dan


tasnya ia langsung masuk ke kamar mandi.


Kucuran air ditadahnya dengan kedua tangan setelah terlihat


penuh dia menggunakannya untuk membasuh wajahnya yang terlihat pucat karena


kecemasannya pada suara dan ancaman yang sebelumnya dia dengar.


“ Apakah itu dia ? Kenapa dia sampai di sini, apa yang harus


aku lakukan ? apa aku perlu bilang ke kakak ?” Gumam Arini beberapa kali di


depan kaca.


“ Arini kamu tidak apa-apa ?” Tanya Vico yang masih cemas


dengan tingkah laku Arini yang berubah 180 derajat itu.


“ Iya tidak apa-apa, aku hanya ingin mandi dan beribadah


dulu Vic, tidak perlu kawatir.” Jawab Arini dari dalam kamar mandi tidak ingin


membuat Vico kawatir dengannya.


“ Baiklah setelah itu segeralah turun, aku sudah menyuruh


bibi menyiapkan makan malam kita.” Teriak Vico dari balik pintu kamar mandi


lalu meninggalkan Arini untuk mandi di kamar mandi lain karena merasa lengket


dengan tubuhnya yang seharian belum mendapat guyuran air.


“ Iya oke.” Sahut Arini.


Setelah beberapa saat Arini memutuskan untuk tidak


membicarakannya dan merasa itu mungkin bukan dia, dia lalu melakukan ibadah dan


terlihat Vico duduk di sofa kamar menunggu Arini lalu mengajaknya makan ke

__ADS_1


bawah.


__ADS_2