
Mereka lalu pergi ke Bioskop untuk menonton Film romantis
yang Vico siapkan, menurutnya Arini menyukainya.
“ Kamu ingin nonton Film apa ?” Tanya Vico pada Arini, ingin
memancing bahwa pilihan yang dia pikirkan sesuai keinginan Arini.
“ Aku ingin nonton itu saja.” Tunjuk Arini pada poster Film
Action yang menampilkan Vin Diesel yang merupakan aktor kesukaan Arini.
Arini menjadi sosok semakin periang dan memperlihatkan sisi
lainnya saat Vico semakin mengenalnya. Terlihat emosi yang tidak pernah Arini
tampilkan selama ini. Wajah bahagia, sedih, marah, dan lainnya berbeda dengan
wajah datar yang susah di tebak saat awal menjadi pasangan suami istri.
Duarrr semua bayangan Vico buyar saat Arini menjawabnya “
Kamu menyukai film seperti itu ?” Tanya Vico heran pada Arini.
“ Iya, aku sangat menyukai film action apalagi kalau
aktornya Vin Diesel, aku selalu menontonnya dengan kakak.” Jawab Arini dengan
wajah lugunya.
“ Biar cepat kamu pilih antre tiket atau antre beli makan
dan minum ?” Tanya Arini seperti kebiasaannya yang dilakukan dengan kakaknya
saat menonton di bioskop.
“ Apa ? Antre ? kita pesan saja satu bioskop, dan makanannya
kamu tinggal bilang saja ke pelayan mereka akan membawakannya padamu, ini kan
Mallku kenapa harus repot-repot mengantre.” Ucap Vico bangga akan kekayaan yang
dimilikinya itu dan malas dengan yang namanya mengantre, apalagi ini adalah
teritorial miliknya.
“ Kamu itu, pilih saja tidak usah sombong siapa juga yang
ingin menonton hanya berdua denganmu di satu gedung bioskop itu tidak menyenangkan.”
Jelas Arini sambil menepuk lengan Vico yang berbicara aneh menurutnya.
“ Aku tidak suka menonton dengan banyak orang.” Ucap Vico
pada Arini, seperti toko-toko yang dikunjungi Arini dan Vico tadi setelah
keduanya masuk toko itu dibuat tutup agar tidak ada pengunjung lain yang masuk
dan hanya melayani mereka berdua, siapa lagi kalau bukan kerjaan sekretaris
Kim.
“ Ya sudah tidak jadi menonton Filmnya, kita pulang saja.”
Ucap Arini dengan wajah cemberut dan tangan bersedekap dan menatap Vico erat.
“ Oke-oke kita ikuti keinginan kamu. Aku akan mengantre
untuk membeli makanan saja.” Jawab Vico mengalah pada Arini dan mengacak rambut
Arini.
“ Oke, aku akan beli tiketnya.” Jawab Arini lalu melangkah
ke tempat penjualan tiket.
__ADS_1
Setelah keduanya selesai mereka lalu duduk di kursi tunggu
sambil menunggu waktu panggilan masuk ke gedung bioskop.
“ Kamu kenapa suka film action, aku kira suka film romantis
seperti wanita kebanyakan?” Tanya Vico pada Arini yang terlihat menyedot
minuman susu coklat kocok dingin yang menjadi kesukaannya ketika menonton Film.
“ Aku suka mempelajari ilmu bela diri dan lebih meningkatkan
adrenalin saat menyaksikan aksi-aksi menantang.” Jawab Arini tanpa menatap Vico
dan fokus dengan susu coklatnya tersebut.
“ Ohhh.” Respon Vico hanya membentuk bibirnya berbentuk O
tanda dia mengerti dengan penjelasan Arini.
“ Mohon perhatian Anda pintu teater satu telah dibuka para
penonton yang sudah memiliki karcis dipersilahkan untuk memasuki ruangan
teater, terima kasih.” Bayangkan kalian di gedung bioskop untuk cara
penyampaiannya.
“ Ayo sudah waktunya masuk.” Ucap Arini lalu mengambil
makanan dan menarik lengan Vico untuk masuk teater yang di sebutkan dari
pengeras suara.
Arini dan Vico lalu duduk berdampingan, mereka sangat
menikmati alur cerita Film itu, terdengar Arini yang mengomentari berbagai aksi
yang dilakukan oleh aktor utama kesukaannya itu. Vico hanya menanggapi dengan
itu.
“ Hai Ar, kamu terlihat sangat bahagia.” Ucap seseorang
entah dari mana membuat Arini terdiam dan mencari asal suara yang dia cukup
kenal itu.
Melihat perubahan wajah Arini terlihat Vico memandangnya
erat dan bertanya-tanya karena tidak ada suara yang dia dengar seperti
sebelumnya sehingga dia memandang wanita itu.
“ Kamu kenapa kok diam ?” Tanya Vico sambil menyentuh kepala
Arini lembut.
“ Tidak ada apa-apa.” Jawab Arini menggelengkan kepalanya
dan mengubah wajahnya yang semula ceria kembali ke wajah datar sulit ditebak
seperti sebelumnya.
“ Apa kamu ingin ke toilet ?” Tanya Vico memastikan lagi.
“ Tidak.” Jawab Arini singkat pada Vico.
“ Apa kamu tidak nyaman, ingin keluar sekarang ?” Tanya Vico
lagi pada Arini karena perubahan tiba-tiba mood Arini itu.
“ Iya, ayo kita pulang sekarang.” Jawab Arini dan memandang
Vico ada tersirat ketakutan di wajahnya.
__ADS_1
“ Baiklah, apa kamu tidak lapar, bagaimana kalau kita makan
dulu ?” Ajak Vico karena mereka belum makan malam.
“ Tidak, kita makan di rumah saja.” Jawab Arini lalu segera
berdiri dan menarik lengan Vico mengajaknya meninggalkan teater bioskop itu dan
kembali ke rumah.
Arini terlihat berjalan cepat meninggalkan gedung bioskop
menuju tempat valley dengan tangannya tetap menarik lengan Vico erat.
“ Hei kamu kenapa ?” Tanya Vico saat sudah berada di dalam
mobilnya bersama Arini dan melajukannya pulang. Sambil tangan kirinya
menggenggam tangan kanan Arini.
“ Tidak ada apa-apa aku hanya ingin segera pulang saja.”
Jawab Arini pada Vico dengan wajah sedikit cemas.
“ Baiklah.” Jawab Vico kembali fokus dengan kemudinya agar
segera sampai di rumah.
Setelah mobil yang Vico kendarai memasuki rumah mereka dan
berhenti, Arini terlihat terburu-buru masuk ke dalam rumah, bahkan tidak
menunggu Vico dulu seperti biasanya.
Arini langsung menuju kamarnya, setelah melepas sepatu dan
tasnya ia langsung masuk ke kamar mandi.
Kucuran air ditadahnya dengan kedua tangan setelah terlihat
penuh dia menggunakannya untuk membasuh wajahnya yang terlihat pucat karena
kecemasannya pada suara dan ancaman yang sebelumnya dia dengar.
“ Apakah itu dia ? Kenapa dia sampai di sini, apa yang harus
aku lakukan ? apa aku perlu bilang ke kakak ?” Gumam Arini beberapa kali di
depan kaca.
“ Arini kamu tidak apa-apa ?” Tanya Vico yang masih cemas
dengan tingkah laku Arini yang berubah 180 derajat itu.
“ Iya tidak apa-apa, aku hanya ingin mandi dan beribadah
dulu Vic, tidak perlu kawatir.” Jawab Arini dari dalam kamar mandi tidak ingin
membuat Vico kawatir dengannya.
“ Baiklah setelah itu segeralah turun, aku sudah menyuruh
bibi menyiapkan makan malam kita.” Teriak Vico dari balik pintu kamar mandi
lalu meninggalkan Arini untuk mandi di kamar mandi lain karena merasa lengket
dengan tubuhnya yang seharian belum mendapat guyuran air.
“ Iya oke.” Sahut Arini.
Setelah beberapa saat Arini memutuskan untuk tidak
membicarakannya dan merasa itu mungkin bukan dia, dia lalu melakukan ibadah dan
terlihat Vico duduk di sofa kamar menunggu Arini lalu mengajaknya makan ke
__ADS_1
bawah.