
Semua orang terlihat menikmat pesta pertemuan mereka di
dalam Klub Elit milik Vico tersebut. Tidak terasa waktu yang telah mereka
habiskan sudah merangkak dini hari. Vico yang kini sudah berstatus menikah
ingin mengundurkan diri dari pesta itu. Beberapa kali dirinya melihat jam
tangan hitam yang melingkar pada pergelangan tangan kekarnya. Mike yang memang
sudah biasa dengan berbagai minuman keras itu terlihat masih belum teler
sedangkan beberapa yang lain sudah merancu berkata tidak karuan terutama Orlando.
“ Kim kita pulang dulu saja aku tidak ingin membuat Arini
kawatir. Mike antar Orlando kembali ke Hotelnya ya jika dia sudah puas di sini
.”
Vico memandang Orlando sambil menghela nafas kasar melihat
sahabat kecilnya terlihat tersenyum-senyum dengan pipi sedikit merona merah
pada kulit putihnya karena efek dari alkohol yang dikonsumsinya. Sekretaris Kim
yang memang hanya meminum sebotol jus terlihat masih bugar dan tidak mengantuk
sama sekali dengan waktu yang telah larut itu.
Mike yang sudah mendapat titah dari yang mulia Vico hanya
mengangguk dan mengungkapkan agar Vico tidak perlu kawatir dengan keadaan
Orlando. Vico yang sudah mendapat jawaban itu pun lalu berdiri dan melangkahkan
kaki panjangnya keluar dari ruangan yang dipenuhi dengan bau alkohol yang
sangat menusuk hidung itu. Sekretaris Kim pun juga ikut beranjak dari tempat
duduknya dan mengikuti Vico dari belakang.
Suara musik yang memekakkan telinga terdengar saat Vico
melewati bagian utama Klub malam itu. Waktu larut yang hampir dini hari itu tidak
membuat Klub itu terlihat sepi pengunjung. Banyak muda-mudi dan setengah baya
terlihat asyik berjoget mengikuti alunan musik keras dengan memegang sebotol
minuman. Atau sekedar duduk-duduk menikmati suasana dan menghilangkan kepenatan
dalam hidup mereka karena kepenatan dan stres yang melanda.
Vico yang berjalan dengan diikuti sekretaris Kim terlihat
berjalan dengan acuh dengan pemandangan itu. Beberapa gadis muda mencoba
menggoda Vico yang berjalan melewati mereka. Hanya dengan tatapan dingin yang
dapat mencabik-cabik hati membuat gadis-gadis itu mengurungkan niatnya. Vico
terus berjalan ke arah pintu keluar dengan melepas jas yang sebelumnya disentuh
oleh gadis-gadis itu lalu menyerahkan pada sekretaris Kim dia merasa jijik
dengan para wanita yang menggodanya itu. Vico terlihat kesal kala mendudukkan
tubuhnya pada kursi belakang mobil yang dikemudikan sekretaris Kim. Melihat hal
itu sekretaris Kim hanya melirik dari kaca spion dan mulai menjalankan
kendaraannya tersebut untuk mengantarkan Vico pulang.
__ADS_1
Rumah
Arini yang kini sudah sampai di rumah merasa sedikit kesal,
dirinya segera menuju ke kamarnya dan berjalan masuk ke kamar mandi untuk
membasuh muka.
“ Apakah Vico sama saja dengan para pria hidung belang
lainnya, yang hanya suka bermain wanita.”
Gumam Arini sambil menatap kaca besar di depanya. Wajahnya
menyiratkan kekecewaan dan sedikit kesedihan mengingat mantan kekasihnya yang
ia tahu punya hobi ke tempat hiburan seperti itu dahulu. Semua keburukan Valdo
baru Arini tahu usai mereka berpisah. Ia Valdo memang selalu terlihat baik di
depan Arini. Bahkan orang lain juga hanya tahu Valdo adalah mahasiswa yang
tidak aneh-aneh dan baik di kampus. Tapi ternyata dibalik semua itu dia adalah
anak dari konglomerat yang kaya yang suka dengan dunia malam dan obat-obatan
terlarang.
“ Apakah Vico mungkin
juga seperti Valdo terlihat baik di depanku saja ?”
Arini merasa frustasi dan takut jika apa yang dia kawatirkan
benar-benar Vico lakukan tanpa sepengetahuan Arini, bagaimana pun selama ini
Arini memang selalu percaya dengan Vico jika dia pulang telat atau lainnya.
dan kembali memandang cermin yang menampakkan wajah cantiknya.
“ Tidak Vico tidak mungkin seperti itu, Baiklah besok aku
akan bertanya padanya, bagaimana pun suami istri harus saling terbuka satu sama
lain, dan pernikahan ini juga baru saja kami bina belum sampai setahun. Iya aku
harus percaya pada Vico. Sudahlah aku istirahat saja.”
Arini yang sudah menenangkan hati dan pikirannya kemudian
kembali ke ranjang empuknya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Walau
rasanya sangat sulit mata indahnya terpejam Arini tetap berusaha untuk
menutupnya hingga tidak terasa dirinya sudah terbuai pada dunia mimpi. Tubuh
indah terbalut pakaian tidur tertutup selimut terlihat kala Vico masuk ke dalam
kamarnya usai dari tempat dia dan teman-temannya menyambut Orlando.
Vico yang tidak ingin istri tercintanya mencium bau alkohol
dari pakaian yang sebelumnya ia kenakan itu segera berjalan ke kamar mandi untuk
membersihkan diri dan kini tubuh segarnya setelah terbasuh air hangat sudah
berbalut piama tidur yang mulai ia biasa gunakan sejak menikahi Arini. Tubuh
lelahnya langsung merangkak ke ranjang empuk mendekati tubuh Arini dan mencium
puncak kepala wanita manis itu. Tangan kekarnya menarik tubuh langsing Arini
agar tidur di pelukannya.
__ADS_1
Surya yang terbit di ufuk barat terlihat bersinar terang
menandakan pagi telah tiba. Kedua sejoli yang masih menikmati indahnya masa
awal pernikahan terlihat sudah bangun dan berolahraga berdua mengelilingi rumah
yang banyak ditumbuhi tanaman itu. Tidak seperti biasanya di mana wanita cantik
berambut panjang itu terlihat ceria dan membicarakan beberapa hal pagi ini
terlihat diam saja.
Vico sebenarnya ingin bertanya dengan keadaan istrinya
tersebut tapi entah kenapa bibirnya sulit untuk terbuka. Arini pun juga
sepertinya masih bingung menyiapkan pertanyaan untuk Vico perihal keberadaannya
semalam serta apa yang dia lakukan di tempat seperti itu. Karena saling membisu
dari keduanya olahraga pagi ini terasa sangat sepi dari keduanya. Kebisuan itu
berlangsung hingga keduanya usai pada kegiatan berlari pagi. Arini segera
membersihkan diri dan berpakaian rapi untuk berangkat ke kantor dia pun usai
menyiapkan pakaian untuk Vico lalu ke bawah untuk sarapan.
Di meja makan keheningan masih berlangsung hingga akhirnya
bibir Vico tidak bisa tahan jika di diamkan istri cantiknya itu. Walaupun di
awal pernikahan Arini memang orang yang pendiam tapi seiring berjalannya waktu
dia tahu jika istrinya tidak seperti itu. Walau baru beberapa jam dia seperti
di diamkan dia tidak tahan jika wanita bermata coklat itu tidak berbicara
dengannya.
“ Apakah kamu ada masalah ?” Tanya Vico mencoba memancing
pembicaraan dengan Arini yang tengah makan, sampai dia lupa kalau memang saat
makan tidak biasanya mereka saling mengobrol. Wajah penasaran Vico menatap
Arini yang duduk di sampingnya sambil kedua tangannya berhenti menyuapkan
makanan.
Arini yang mendengar pertanyaan itu menghentikan kegiatan
sarapannya. Wajahnya yang sebelumnya tertunduk untuk berkonsentrasi dengan
makanan yang tersaji di piringnya terangkat dan menatap wajah Vico. Sorot mata ragu-ragu
tersirat dari bola mata coklat miliknya.
“ Mmm maaf bukan aku tidak mempercayaimu, tapi kemarin malam
aku terlalu penasaran dengan keberadaanmu dan aku melacaknya dan menunjukkan
jika kamu berada di sebuah klub malam, aku lalu mendatangi tempat itu semalam
dan mencarimu karena ingin tahu apa yang kamu lakukan di tempat seperti itu.
Lalu di dua pintu terakhir yang belum aku lihat aku mengurungkan niatku untuk
mengetahuinya lalu aku pulang.” Arini akhirnya menceritakan apa yang ia lakukan
semalam pada Vico setelah merangkai kata-kata yang sangat ia ingin katakan pada
suaminya itu.
__ADS_1