My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Arini Diam


__ADS_3

Semua orang terlihat menikmat pesta pertemuan mereka di


dalam Klub Elit milik Vico tersebut. Tidak terasa waktu yang telah mereka


habiskan sudah merangkak dini hari. Vico yang kini sudah berstatus menikah


ingin mengundurkan diri dari pesta itu. Beberapa kali dirinya melihat jam


tangan hitam yang melingkar pada pergelangan tangan kekarnya. Mike yang memang


sudah biasa dengan berbagai minuman keras itu terlihat masih belum teler


sedangkan beberapa yang lain sudah merancu berkata tidak karuan terutama Orlando.


“ Kim kita pulang dulu saja aku tidak ingin membuat Arini


kawatir. Mike antar Orlando kembali ke Hotelnya ya jika dia sudah puas di sini


.”


Vico memandang Orlando sambil menghela nafas kasar melihat


sahabat kecilnya terlihat tersenyum-senyum dengan pipi sedikit merona merah


pada kulit putihnya karena efek dari alkohol yang dikonsumsinya. Sekretaris Kim


yang memang hanya meminum sebotol jus terlihat masih bugar dan tidak mengantuk


sama sekali dengan waktu yang telah larut itu.


Mike yang sudah mendapat titah dari yang mulia Vico hanya


mengangguk dan mengungkapkan agar Vico tidak perlu kawatir dengan keadaan


Orlando. Vico yang sudah mendapat jawaban itu pun lalu berdiri dan melangkahkan


kaki panjangnya keluar dari ruangan yang dipenuhi dengan bau alkohol yang


sangat menusuk hidung itu. Sekretaris Kim pun juga ikut beranjak dari tempat


duduknya dan mengikuti Vico dari belakang.


Suara musik yang memekakkan telinga terdengar saat Vico


melewati bagian utama Klub malam itu. Waktu larut yang hampir dini hari itu tidak


membuat Klub itu terlihat sepi pengunjung. Banyak muda-mudi dan setengah baya


terlihat asyik berjoget mengikuti alunan musik keras dengan memegang sebotol


minuman. Atau sekedar duduk-duduk menikmati suasana dan menghilangkan kepenatan


dalam hidup mereka karena kepenatan dan stres yang melanda.


Vico yang berjalan dengan diikuti sekretaris Kim terlihat


berjalan dengan acuh dengan pemandangan itu. Beberapa gadis muda mencoba


menggoda Vico yang berjalan melewati mereka. Hanya dengan tatapan dingin yang


dapat mencabik-cabik hati membuat gadis-gadis itu mengurungkan niatnya. Vico


terus berjalan ke arah pintu keluar dengan melepas jas yang sebelumnya disentuh


oleh gadis-gadis itu lalu menyerahkan pada sekretaris Kim dia merasa jijik


dengan para wanita yang menggodanya itu. Vico terlihat kesal kala mendudukkan


tubuhnya pada kursi belakang mobil yang dikemudikan sekretaris Kim. Melihat hal


itu sekretaris Kim hanya melirik dari kaca spion dan mulai menjalankan


kendaraannya tersebut untuk mengantarkan Vico pulang.

__ADS_1


Rumah


Arini yang kini sudah sampai di rumah merasa sedikit kesal,


dirinya segera menuju ke kamarnya dan berjalan masuk ke kamar mandi untuk


membasuh muka.


“ Apakah Vico sama saja dengan para pria hidung belang


lainnya, yang hanya suka bermain wanita.”


Gumam Arini sambil menatap kaca besar di depanya. Wajahnya


menyiratkan kekecewaan dan sedikit kesedihan mengingat mantan kekasihnya yang


ia tahu punya hobi ke tempat hiburan seperti itu dahulu. Semua keburukan Valdo


baru Arini tahu usai mereka berpisah. Ia Valdo memang selalu terlihat baik di


depan Arini. Bahkan orang lain juga hanya tahu Valdo adalah mahasiswa yang


tidak aneh-aneh dan baik di kampus. Tapi ternyata dibalik semua itu dia adalah


anak dari konglomerat yang kaya yang suka dengan dunia malam dan obat-obatan


terlarang.


“ Apakah Vico  mungkin


juga seperti Valdo terlihat baik di depanku saja ?”


Arini merasa frustasi dan takut jika apa yang dia kawatirkan


benar-benar Vico lakukan tanpa sepengetahuan Arini, bagaimana pun selama ini


Arini memang selalu percaya dengan Vico jika dia pulang telat atau lainnya.


dan kembali memandang cermin yang menampakkan wajah cantiknya.


“ Tidak Vico tidak mungkin seperti itu, Baiklah besok aku


akan bertanya padanya, bagaimana pun suami istri harus saling terbuka satu sama


lain, dan pernikahan ini juga baru saja kami bina belum sampai setahun. Iya aku


harus percaya pada Vico. Sudahlah aku istirahat saja.”


Arini yang sudah menenangkan hati dan pikirannya kemudian


kembali ke ranjang empuknya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Walau


rasanya sangat sulit mata indahnya terpejam Arini tetap berusaha untuk


menutupnya hingga tidak terasa dirinya sudah terbuai pada dunia mimpi. Tubuh


indah terbalut pakaian tidur tertutup selimut terlihat kala Vico masuk ke dalam


kamarnya usai dari tempat dia dan teman-temannya menyambut Orlando.


Vico yang tidak ingin istri tercintanya mencium bau alkohol


dari pakaian yang sebelumnya ia kenakan itu segera berjalan ke kamar mandi untuk


membersihkan diri dan kini tubuh segarnya setelah terbasuh air hangat sudah


berbalut piama tidur yang mulai ia biasa gunakan sejak menikahi Arini. Tubuh


lelahnya langsung merangkak ke ranjang empuk mendekati tubuh Arini dan mencium


puncak kepala wanita manis itu. Tangan kekarnya menarik tubuh langsing Arini


agar tidur di pelukannya.

__ADS_1


Surya yang terbit di ufuk barat terlihat bersinar terang


menandakan pagi telah tiba. Kedua sejoli yang masih menikmati indahnya masa


awal pernikahan terlihat sudah bangun dan berolahraga berdua mengelilingi rumah


yang banyak ditumbuhi tanaman itu. Tidak seperti biasanya di mana wanita cantik


berambut panjang itu terlihat ceria dan membicarakan beberapa hal pagi ini


terlihat diam saja.


Vico sebenarnya ingin bertanya dengan keadaan istrinya


tersebut tapi entah kenapa bibirnya sulit untuk terbuka. Arini pun juga


sepertinya masih bingung menyiapkan pertanyaan untuk Vico perihal keberadaannya


semalam serta apa yang dia lakukan di tempat seperti itu. Karena saling membisu


dari keduanya olahraga pagi ini terasa sangat sepi dari keduanya. Kebisuan itu


berlangsung hingga keduanya usai pada kegiatan berlari pagi. Arini segera


membersihkan diri dan berpakaian rapi untuk berangkat ke kantor dia pun usai


menyiapkan pakaian untuk Vico lalu ke bawah untuk sarapan.


Di meja makan keheningan masih berlangsung hingga akhirnya


bibir Vico tidak bisa tahan jika di diamkan istri cantiknya itu. Walaupun di


awal pernikahan Arini memang orang yang pendiam tapi seiring berjalannya waktu


dia tahu jika istrinya tidak seperti itu. Walau baru beberapa jam dia seperti


di diamkan dia tidak tahan jika wanita bermata coklat itu tidak berbicara


dengannya.


“ Apakah kamu ada masalah ?” Tanya Vico mencoba memancing


pembicaraan dengan Arini yang tengah makan, sampai dia lupa kalau memang saat


makan tidak biasanya mereka saling mengobrol. Wajah penasaran Vico menatap


Arini yang duduk di sampingnya sambil kedua tangannya berhenti menyuapkan


makanan.


Arini yang mendengar pertanyaan itu menghentikan kegiatan


sarapannya. Wajahnya yang sebelumnya tertunduk untuk berkonsentrasi dengan


makanan yang tersaji di piringnya terangkat dan menatap wajah Vico. Sorot mata ragu-ragu


tersirat dari bola mata coklat miliknya.


“ Mmm maaf bukan aku tidak mempercayaimu, tapi kemarin malam


aku terlalu penasaran dengan keberadaanmu dan aku melacaknya dan menunjukkan


jika kamu berada di sebuah klub malam, aku lalu mendatangi tempat itu semalam


dan mencarimu karena ingin tahu apa yang kamu lakukan di tempat seperti itu.


Lalu di dua pintu terakhir yang belum aku lihat aku mengurungkan niatku untuk


mengetahuinya lalu aku pulang.” Arini akhirnya menceritakan apa yang ia lakukan


semalam pada Vico setelah merangkai kata-kata yang sangat ia ingin katakan pada


suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2