
Hari Keberangkatan ke Bali.
“ Apakah sudah semua Ar ?” Vico yang kala itu sudah selesai
melakukan rutinitas paginya membersihkan diri terlihat baru keluar dari kamar
ganti sudah memakai kemeja dan celana panjang sambil memegang handuk putih ditangan
kanannya untuk mengeringkan rambut basahnya yang terlihat masih meneteskan air.
Dengan pandangan antusias akan kepergiannya dia mendekati
Arini yang tengah berjongkok menutup koper yang menyimpan semua kebutuhan yang
mereka akan gunakan di Bali.
“ Sudah,” Jawab Arini singkat lalu berdiri dan menatap Vico
dengan tersenyum mata kecoklatan miliknya seperti menghipnotis Vico beberapa
saat terpatung akan pandangan Arini tersebut.
“ Aku bantu keringkan.” Arini mencoba membantu Vico
mengeringkan rambutnya mengambil handuk putih lalu meminta Vico untuk duduk di
tempat riasnya setelah itu Arini pergi mengambil hair dryer dan mengeringkan
rambut Vico dengan telaten.
Pria tinggi kekar itu hanya menurut dan menikmati perlakuan
sederhana tapi sangat membuat hatinya senang itu.
“ Sudah yuk.” AjakArini setelah meletakkan alat
pengering rambut tersebut kembali ke dalam laci.
“ Oke.” Vico kini terlihat sudah berdiri lalu menarik koper
miliknya untuk turun.
Terlihat sekretaris Kim sudah menunggu keduanya sambil memangku
leptop kerjanya, dia memang tidak pernah sekali pun melupakan semua tanggung
jawabnya akan pekerjaannya membantu Vico tersebut. Melihat kedua pasangan muda
itu sudah keluar dari dalam kamarnya sekretaris Kim terlihat mematikan benda
persegi panjang itu lalu meletakkan di atas nakas lalu berdiri dan melangkahkan
kaki panjangnya mendekati mereka berdua.
“ Selamat pagi Tuan dan Nona muda.” Sapa Sekretaris Kim
sopan sambil membungkuk, selalu tanpa ekspresi dan hanya melakukan secara
formal.
“ Pagi sekretaris Kim.” Jawab Arini selalu mendengar sapaan
sekretaris Kim dan melangkahkan ke ruang makan untuk dia dan Vico mengisi
asupan gizi sebelum mereka berangkat ke Bali.
“ Sekretaris Kim mari ikut sarapan dengan kami ?” Ajak Arini
yang memang memperlakukan sekretaris Kim secara formal karena memang keduanya
belum dekat satu sama lain kecuali itu berhubungan dengan Vico.
“ Terima kasih nona, silakan nona dan tuan saja, selamat
menikmati sarapannya.” Tolak Halus sekretaris Kim yang kembali ke sofa duduknya
untuk menunggu Tuan muda dan nona mudanya selesai sambil dia mengerjakan
tugasnya.
Merasa mendapat penolakan ekspresi Arini terlihat berubah
__ADS_1
ada tersirat kekecewaan dan sedikit kerutan dekat bibirnya. Vico yang melihat
hal itu lalu memberi perintah pada sekretaris Kim.
“ Kim ikutlah makan, kamu pasti belum sarapan juga. Cepatlah
ke sini !”Perintah yang mulia raja yang tak ingin siapa pun menolak dengan
tatapan tajam tersorot untuk sekretaris Kim yang sudah mengalihkan pandangannya
dari benda persegi panjang dalam pangkuannya kepada tuan mudanya tersebut.
“ Baik Tuan.” Sekretaris Kim kembali mengurungkan niatnya
bekerja dan segera menutup leptop miliknya dan meletakkannya kembali lalu
melangkah ke ruang makan mengikuti tuan muda dan nona mudanya untuk sarapan
pagi.
Vico sudah duduk di tengah, Arini berada di samping kanan
Vico sedangkan sekretaris Kim berada di seberang Arini.
Arini selalu seperti biasa mengambilkan semua makanan yang
ingin Vico nikmati. Terlihat kemesraan dari keduanya yang terpampang nyata di
depan sekretaris Kim. Sekretaris Kim yang kehadirannya tak dihiraukan lalu
mengambil makanannya dan menikmatinya.
Selesai menikmati sarapan pagi mereka lalu pergi ke bandara.
“ Arini apa kamu kemarin sangat mengawatirkanku ?” Vico
mencoba mendapatkan pengakuan dari Arini dengan wajah penasaran dia menunggu
jawaban yang akan keluar dari mulut kecil Arini.
“ Tentu saja, suhu tubuhmu sangat tinggi bahkan kamu
mengigau berkali-kali.” Jawab Arini dengan wajah sendu mengingat keadaan Vico
“ Aku mengigau apa ?” Vico yang sebelumnya senang berubah
kawatir jika yang menjadi ucapan saat dia tertidur itu berhubungan dengan
Poppy, bisa membuat hubungannya dengan Arini bermasalah.
“ Tidak tahu, kamu hanya berteriak ..Tetaplah Bersamaku..
begitu beberapa kali, memangnya apa yang kamu mimpikan saat kamu tertidur
sampai seperti itu.” Arini terlihat kawatir jika mimpi buruk yang Vico alami
seperti dirinya yang memiliki trauma akan sesuatu sehingga sulit untuk di
lupakan.
“ Oh hanya mimpi biasa, tidak penting.” Vico mencoba
menenangkan Arini selain itu dia juga belum siap untuk menceritakan segalanya
dengan Arini jadi dia hanya ingin menyimpan sisi tergelapnya itu dari Arini
saat ini.
“ Oh “ Arini merasa lega jika mimpi itu bukanlah hal penting
mungkin itu hanya bunga tidur yang bertepatan saat Vico sakit, tidak mungkin
seorang Vico dari Perusahaan Angkasa bisa punya masalah yang rumit, begitulah
pemikiran Arini.
“Tuan semua sudah siap di bandara, waktunya kita berangkat.”
Sekretaris Kim yang sudah menyelesaikan sarapan paginya beberapa kali melihat
jam tangan warna hitam yang melingkar di tangannya dan melihat Arini dan Vico
__ADS_1
yang sudah menyelesaikan makan mereka tapi masih terlihat saling mengobrol
mencoba mengingatkan keberangkatan mereka.
“ Ayo Ar kita berangkat.” Vico terlihat sangat bahagia
karena janjinya dengan Arini untuk mengajaknya pergi melihat sun set yang
menjadi pemandangan idaman dari berbagai turis internasional itu akan segera
terwujud.
“ Iya Vic.” Arini terlihat tersenyum lalu berdiri bersiap
meninggalkan meja makan.
Vico menghampiri Arini dan menggandeng tangan Arini erat
sambil tangan kirinya mengusap rambut Arini lembut diselingi senyuman keduanya
dan tatapan saling mencintai dari sejoli yang sedang menikmati manisnya cinta
itu.
Aku bersyukur Tuan Vico bisa bersama nona Arini yang bisa
membuatnya tersenyum semanis itu, walaupun awalnya aku sempat ragu mengingat
sifat tuan yang sangat dominan dan sifat tertutup nona Arini dan bahkan
keprotektifan kakaknya Nona Arini. Batin sekretaris Kim dari belakang
mengikuti mereka berdua.
Mereka menaiki mobil yang di kendarai sekretaris Kim menuju
bandara pribadi tempat pesawat pribadi Vico berada.
Terlihat sebuah Bandara yang luas juga bisa dikatakan
seperti bandara Internasional, terlihat banyak Pesawat berjajar rapi di bandara
Pribadi milik Vico tersebut.
Bandara ini memang khusus di gunakan secara pribadi untuk
keluarganya, rekan bisnis dan beberapa orang penting yang menyewa secara
ekslusif untuk penerbangan pribadi.
Vico, Arini dan sekretaris Kim disambut dengan semua Tim
yang akan melayaninya di penerbangan hari ini.
“ Selamat Pagi Tuan dan nona.” Ucap para wanita berpakaian
seksi berwarna merah mencoba bersikap profesional sebagai pramugari yang
menyediakan berbagai kebutuhan mereka selama di penerbangan ke Bali.
“ Selamat Pagi Nona dan Tuan saya Adly yang menjadi pilot
untuk penerbangan ini, semoga dapat memberikan pelayan terbaik saya.” Seorang
laki-laki dengan tubuh tegap tampan dan berambut plontos berpakaian hitam putih
menyambut kedua orang nomor satu di tempat dia bekerja tersebut.
Seorang Co Pilot juga memperkenalkan diri pada sejoli yang
ingin bulan madu kedua itu.
Setelah mendapat balasan senyuman manis dari Arini dan
tatapan mengusir dari Vico mereka kembali ke tempat masing-masing untuk
melaksanakan tugasnya.
Terlihat Arini dan Vico mengobrol di selingi canda tawa
membuat manusia bagai tembok yang selalu berwajah datar itu hanya mengela nafas
__ADS_1
kasar sambil berkali-kali melihat jam tangannya melihat waktu ingin sekali
mengakhiri pemandangan yang membuatnya merasa iri itu.