My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Nostalgia


__ADS_3

“ Iya, buktikan kata-katamu.” Ucap Kakek Arini yang masih


dipeluk Vico sambil menepuk punggung Vico.


Setelah momen mengharukan itu terlihat Arini datang


menghampiri kakek dan juga Vico yang masih berada di ruang tamu.


“ Apa yang kalian bicarakan ?” Tanya Arini sambil


mendudukkan tubuhnya di samping kakeknya.


“ Ini urusan para laki-laki perempuan tidak boleh


ikut-ikut.” Jawab sang kakek sambil memberi kode kepada Vico dan tersenyum pada


Arini.


“ Kakek masa baru bertemu Vico saja sudah main rahasia-rahasiaan,


kalian membicarakan keburukanku ya ?” Tanya Arini yang mulai bersungut menatap


dengan selidik pada Kakek dan Vico.


“ Tidak nak Kakek dan Vico membicarakan soal perusahaan .”


Jawab Kakek sambil mengusap rambut Arini.


“ Kakek saya dan Arini pamit dulu ya kek, nanti lain kali


Vico akan mengajak Arini datang kesini.” Jelas Vico pada kakek Arini


“ Baiklah, hati-hati dan segera berikan kakek Cicit .” Ucap


Kakek sambil tersenyum.


“ Ah kakek Arini akan sangat merindukan kakek, Kakek jaga


kesehatan ya, Arini sangat menyayangi Kakek.” Ucap Arini manja pada kakeknya


dan memeluknya.


“ Aduh cucu kakek mulai manjanya, sudah punya suami juga


kamu harus lebih dewasa.” Ucap Kakek Arini.


“ Baik kakek, Arini dan Vico pamit dulu.” Ucap Arini masih


memandang kakeknya dengan wajah sendu karena waktu yang pendek untuk melebur


semua rindu yang Arini rasakan karena berpisah dengan kakeknya selama ini.


Kakek yang sudah melepas kepergian kedua cucunya


mengantarkannya ke depan rumah dan melambaikan tangan.


Arini dan Vico meninggalkan rumah kakek Arini dengan


ditemani sekretaris Kim dan sopir pribadi yang sudah disewa sekretaris Kim.


“ Kita akan kembali ke Hotel ?” Tanya Arini yang sebelumnya


duduk manis memandang arah jendela mobil melihat pemandangan Belanda yang lama


tidak dia kunjungi.


“ Tidak kita akan pergi ke taman bunga.” Ucap Vico yang kala


itu sedang memainkan benda pipih persegi panjang di tangannya.


Tidak memakan waktu lama Arini dan Vico telah sampai di


Taman Bunga yang menjadi primadona para wisatawan yang berkunjung ke Belanda,.


Terlihat banyak bunga warna-warni bermekaran di taman yang sangat luas itu.


Arini yang sangat senang dan merasa bernostalgia lalu berlari dengan riang

__ADS_1


melihat bunga-bunga tersebut.


Vico hanya berjalan mengikuti Arini dari belakang. Suasana


siang yang cukup terik tidak membuat keduanya terlihat kelelahan.


Senyum mengembang di bibir Arini dan membuatnya Vico


tersenyum karena kebahagiannya melihat Arini bahagia.


Italia


“ Tuan Pagi ini Tuan Vico meninggalkan Paris dan terbang ke


Belanda.” Ucap anak buah Fernando paman Vico lewat panggilan telepon genggamnya


saat dia sampai di Hotel Vico pagi itu.


“ Bagaimana informasi yang kamu sampaikan bodoh.” Umpat


Fernando mendengar laporan anak buahnya yang dia rasa tidak becus bekerja


mengikuti keponakannya, dimana ini bisa menjadi kesempatan yang bagus


menghancurkan kekuasaan keponakannya tersebut.


“ Maaf Tuan, sepertinya kepindahaannya mendadak, menurut


informasi dia mengetahui rencana kita tuan sehingga mereka pindah ke Belanda.”


Jelas anak buah yang terlihat berpakaian hitam dan bertopi itu.


“ Bagaimana dia bisa tahu rencana kita ? Apakah ada


mata-mata di Grup kita ? Segera cari orang yang membocorkan dan habisi.” Ucap


Fernando memerintah anak buahnya.


“ Baik Tuan akan segera saya selidiki dan bereskan masalah


“ Anak buah kita di Belanda segerakan untuk bersiap kita


ubah rencana.” Ucap Fernando memberi perintah lagi dengan suara tegas.


“ Akan saya laksanakan Tuan.” Laki-laki yang menjadi


mata-mata itu menjawab.


“ Aku tidak mau gagal saat kita menculiknya di Belanda.”


Perintah Fernando lagi lalu mematikan panggilan anak buahnya tersebut.


Belanda


“ Apa kamu sangat bahagia ?” Tanya Vico yang masih selalu


memandangi Arini yang berjalan kesana-kemari menghampiri setiap jenis bunga


yang mekar.


“ Tentu saja, aku sudah lama tidak pernah ke Belanda, hanya


kakak yang kadang kesini, aku harus berusaha mengembangkan Perusahaanku karena


itu impianku sejak dulu.” Jelas Arini dengan antusias dan tersenyum menjelaskan


perasaan yang dirasakan saat ini seperti bernostalgia saat dia berada di


Belanda, dia biasanya ke sana dengan Kakak atau Kakek Neneknya.


“Apa kamu tidak lapar ?” Tanya Vico yang masih tetap setia


terduduk di kursi panjang berwarna putih yang tersedia di taman itu.


“ Lapar.” Jawab Arini tanpa menoleh tapi masih memperhatikan


kupu-kupu yang hinggap di bunga sedang menghisap nektar di dalamnya.

__ADS_1


“ Ayo kita makan dulu.” Ucap Vico sudah mulai berdiri


menghampiri Arini untuk mengajaknya makan.


“ Baiklah, Ayo ada tempat makan yang sangat enak di sini


biasanya aku makan di sana bersama kakak atau Kakek dan Nenek dulu.” Ucap Arini


yang sudah menggandeng Vico berjalan pergi meninggalkan Bunga-bunga yang


bermekaran di sana.


“ Baiklah.” Jawab Vico singkat


“ Kalau di Belanda serahkan saja padaku aku sangat tahu


tempat ini, bagaimana jika setelah makan kita pergi ke Walibi Holand kita naik


roller coaster pasti menyenangkan sekali.” Jelas Arini dengan semangat


membayangkan berbagai wahana di tempat itu yang menurutnya menyenangkan.


“ Baiklah, aku akan mengikuti, dan menemanimu bermain di


semua wahana yang kamu suka.” Jawab Vico dan tersenyum pada Arini.


Mereka lalu memasuki mobil warna hitam yang menjadi


kendaraan yang membawa mereka mulai dari bandara dan selama di Belanda.


Terlihat rumah makan yang sederhana tapi terlihat sudah


berdiri sangat lama walaupun sederhana terlihat para pelanggan ramai menyantap


makanan mereka di dalamnya.


Arini dan Vico masuk ke dalam ditemani sekretaris Kim


sedangkan sisanya berjaga di luar.


Aku kira rumah makan yang mewah dan berkelas ternyata


rumah makan yang dimaksdu Arini sangat sederhana. Batin Vico


“ Walaupun rumah makan ini terlihat sederhana tapi Kakek


bilang rumah makan ini sudah ada sejak kakek remaja makanya Kakek sering


mengajak kesini menurutnya seperti bernostalgia, selain itu makanan di sini


sangat enak, Jadi aku sering mengunjunginya juga bersama kakakku saat dia


berkunjung ke Belanda.” Jelas Arini kala itu masih melihat menu yang ingin dia


pesan.


“ Kamu ingin makan apa ?” Tanya Arini pada Vico.


“ Aku terserah kamu.” Jawab Vico yang duduk di depan Arini


melihat keramaian sekeliling tanpa melihat buku menu di depannya.


Arini lalu memberitahukan beberapa pilihan menu yang dia


ingin nikmati dengan Vico, Sekretaris Kim terlihat duduk di meja sebelah mereka


dan hanya memesan minuman, walaupun Arini menawarinya beberapa menu makanan


tapi sekretaris Kim tetap tidak mau.


Makan yang mereka pesan pun saat itu sudah di hidangkan.


Vico terlihat bersemangat untuk mencoba makanan yang di


rekomendasikan Arini dan merupakan makanan yang sering dia dan keluarganya


nikmati di sini.

__ADS_1


__ADS_2