
“ Iya, buktikan kata-katamu.” Ucap Kakek Arini yang masih
dipeluk Vico sambil menepuk punggung Vico.
Setelah momen mengharukan itu terlihat Arini datang
menghampiri kakek dan juga Vico yang masih berada di ruang tamu.
“ Apa yang kalian bicarakan ?” Tanya Arini sambil
mendudukkan tubuhnya di samping kakeknya.
“ Ini urusan para laki-laki perempuan tidak boleh
ikut-ikut.” Jawab sang kakek sambil memberi kode kepada Vico dan tersenyum pada
Arini.
“ Kakek masa baru bertemu Vico saja sudah main rahasia-rahasiaan,
kalian membicarakan keburukanku ya ?” Tanya Arini yang mulai bersungut menatap
dengan selidik pada Kakek dan Vico.
“ Tidak nak Kakek dan Vico membicarakan soal perusahaan .”
Jawab Kakek sambil mengusap rambut Arini.
“ Kakek saya dan Arini pamit dulu ya kek, nanti lain kali
Vico akan mengajak Arini datang kesini.” Jelas Vico pada kakek Arini
“ Baiklah, hati-hati dan segera berikan kakek Cicit .” Ucap
Kakek sambil tersenyum.
“ Ah kakek Arini akan sangat merindukan kakek, Kakek jaga
kesehatan ya, Arini sangat menyayangi Kakek.” Ucap Arini manja pada kakeknya
dan memeluknya.
“ Aduh cucu kakek mulai manjanya, sudah punya suami juga
kamu harus lebih dewasa.” Ucap Kakek Arini.
“ Baik kakek, Arini dan Vico pamit dulu.” Ucap Arini masih
memandang kakeknya dengan wajah sendu karena waktu yang pendek untuk melebur
semua rindu yang Arini rasakan karena berpisah dengan kakeknya selama ini.
Kakek yang sudah melepas kepergian kedua cucunya
mengantarkannya ke depan rumah dan melambaikan tangan.
Arini dan Vico meninggalkan rumah kakek Arini dengan
ditemani sekretaris Kim dan sopir pribadi yang sudah disewa sekretaris Kim.
“ Kita akan kembali ke Hotel ?” Tanya Arini yang sebelumnya
duduk manis memandang arah jendela mobil melihat pemandangan Belanda yang lama
tidak dia kunjungi.
“ Tidak kita akan pergi ke taman bunga.” Ucap Vico yang kala
itu sedang memainkan benda pipih persegi panjang di tangannya.
Tidak memakan waktu lama Arini dan Vico telah sampai di
Taman Bunga yang menjadi primadona para wisatawan yang berkunjung ke Belanda,.
Terlihat banyak bunga warna-warni bermekaran di taman yang sangat luas itu.
Arini yang sangat senang dan merasa bernostalgia lalu berlari dengan riang
__ADS_1
melihat bunga-bunga tersebut.
Vico hanya berjalan mengikuti Arini dari belakang. Suasana
siang yang cukup terik tidak membuat keduanya terlihat kelelahan.
Senyum mengembang di bibir Arini dan membuatnya Vico
tersenyum karena kebahagiannya melihat Arini bahagia.
Italia
“ Tuan Pagi ini Tuan Vico meninggalkan Paris dan terbang ke
Belanda.” Ucap anak buah Fernando paman Vico lewat panggilan telepon genggamnya
saat dia sampai di Hotel Vico pagi itu.
“ Bagaimana informasi yang kamu sampaikan bodoh.” Umpat
Fernando mendengar laporan anak buahnya yang dia rasa tidak becus bekerja
mengikuti keponakannya, dimana ini bisa menjadi kesempatan yang bagus
menghancurkan kekuasaan keponakannya tersebut.
“ Maaf Tuan, sepertinya kepindahaannya mendadak, menurut
informasi dia mengetahui rencana kita tuan sehingga mereka pindah ke Belanda.”
Jelas anak buah yang terlihat berpakaian hitam dan bertopi itu.
“ Bagaimana dia bisa tahu rencana kita ? Apakah ada
mata-mata di Grup kita ? Segera cari orang yang membocorkan dan habisi.” Ucap
Fernando memerintah anak buahnya.
“ Baik Tuan akan segera saya selidiki dan bereskan masalah
“ Anak buah kita di Belanda segerakan untuk bersiap kita
ubah rencana.” Ucap Fernando memberi perintah lagi dengan suara tegas.
“ Akan saya laksanakan Tuan.” Laki-laki yang menjadi
mata-mata itu menjawab.
“ Aku tidak mau gagal saat kita menculiknya di Belanda.”
Perintah Fernando lagi lalu mematikan panggilan anak buahnya tersebut.
Belanda
“ Apa kamu sangat bahagia ?” Tanya Vico yang masih selalu
memandangi Arini yang berjalan kesana-kemari menghampiri setiap jenis bunga
yang mekar.
“ Tentu saja, aku sudah lama tidak pernah ke Belanda, hanya
kakak yang kadang kesini, aku harus berusaha mengembangkan Perusahaanku karena
itu impianku sejak dulu.” Jelas Arini dengan antusias dan tersenyum menjelaskan
perasaan yang dirasakan saat ini seperti bernostalgia saat dia berada di
Belanda, dia biasanya ke sana dengan Kakak atau Kakek Neneknya.
“Apa kamu tidak lapar ?” Tanya Vico yang masih tetap setia
terduduk di kursi panjang berwarna putih yang tersedia di taman itu.
“ Lapar.” Jawab Arini tanpa menoleh tapi masih memperhatikan
kupu-kupu yang hinggap di bunga sedang menghisap nektar di dalamnya.
__ADS_1
“ Ayo kita makan dulu.” Ucap Vico sudah mulai berdiri
menghampiri Arini untuk mengajaknya makan.
“ Baiklah, Ayo ada tempat makan yang sangat enak di sini
biasanya aku makan di sana bersama kakak atau Kakek dan Nenek dulu.” Ucap Arini
yang sudah menggandeng Vico berjalan pergi meninggalkan Bunga-bunga yang
bermekaran di sana.
“ Baiklah.” Jawab Vico singkat
“ Kalau di Belanda serahkan saja padaku aku sangat tahu
tempat ini, bagaimana jika setelah makan kita pergi ke Walibi Holand kita naik
roller coaster pasti menyenangkan sekali.” Jelas Arini dengan semangat
membayangkan berbagai wahana di tempat itu yang menurutnya menyenangkan.
“ Baiklah, aku akan mengikuti, dan menemanimu bermain di
semua wahana yang kamu suka.” Jawab Vico dan tersenyum pada Arini.
Mereka lalu memasuki mobil warna hitam yang menjadi
kendaraan yang membawa mereka mulai dari bandara dan selama di Belanda.
Terlihat rumah makan yang sederhana tapi terlihat sudah
berdiri sangat lama walaupun sederhana terlihat para pelanggan ramai menyantap
makanan mereka di dalamnya.
Arini dan Vico masuk ke dalam ditemani sekretaris Kim
sedangkan sisanya berjaga di luar.
Aku kira rumah makan yang mewah dan berkelas ternyata
rumah makan yang dimaksdu Arini sangat sederhana. Batin Vico
“ Walaupun rumah makan ini terlihat sederhana tapi Kakek
bilang rumah makan ini sudah ada sejak kakek remaja makanya Kakek sering
mengajak kesini menurutnya seperti bernostalgia, selain itu makanan di sini
sangat enak, Jadi aku sering mengunjunginya juga bersama kakakku saat dia
berkunjung ke Belanda.” Jelas Arini kala itu masih melihat menu yang ingin dia
pesan.
“ Kamu ingin makan apa ?” Tanya Arini pada Vico.
“ Aku terserah kamu.” Jawab Vico yang duduk di depan Arini
melihat keramaian sekeliling tanpa melihat buku menu di depannya.
Arini lalu memberitahukan beberapa pilihan menu yang dia
ingin nikmati dengan Vico, Sekretaris Kim terlihat duduk di meja sebelah mereka
dan hanya memesan minuman, walaupun Arini menawarinya beberapa menu makanan
tapi sekretaris Kim tetap tidak mau.
Makan yang mereka pesan pun saat itu sudah di hidangkan.
Vico terlihat bersemangat untuk mencoba makanan yang di
rekomendasikan Arini dan merupakan makanan yang sering dia dan keluarganya
nikmati di sini.
__ADS_1