
“ Ini memang milik Arini tapi seharusnya kalung ini telah
hilang saat dia masih kecil, hal itulah yang membuatku membuat kalung yang sama
untuk Arini lagi pada orang yang membuat kalung ini dan menomorinya angka 2
karena memang kalung kedua itu aku buat saat istriku sudah tiada pada orang
yang aku suruh membuat kalung ini. Bagaimana kamu bisa memilikinya ?” Tanya
Kakek Arini yang memang merasa teringat dengan istrinya yang sangat sayang pada
Arini walau mengetahui jika Arini bukanlah cucu kandungnya. Keluarga itu
menyayangi Arini seperti keluarga mereka sendiri. Arini juga tidak tahu jika
dia bukanlah anak dari Mamah Papah yang membesarkannya selama ini sampai sekarang.
“ Benarkah ini benar-benar milik Arini kek ?” Vico masih
tidak percaya dengan kenyataan yang barusan dia dengar itu. Ia mencoba
memastikan apa yang kakeknya ucapkan itu benar. Wajah Vico terlihat sangat
senang jika hal itu benar-benar terjadi.
“ Benar ini milik Arini, saat dia masih bayi aku dan istriku
meminta teman kami yang biasa membuatkan perhiasan membuatkan kalung ini dan
dia biasanya memakainya ke mana pun tidak pernah melepaskannya tapi entah ke
mana kalung ini hilang saat dia kecil dan kami sudah mencarinya tapi tetap
tidak menemukannya. Hingga Arini melupakannya lalu dia bersama orang tuanya pindah
ke Indonesia tapi tidak beberapa lama dia kembali ke sini dan menjadi anak yang
pendiam karena hal itulah kakek membuat kalung baru yang sama untuk Arini untuk
membuatnya senang dengan kalung yang sangat dia sukai ini karena memang dia
sangat dekat denganku dan istriku dibandingkan orang tuanya kala itu.” Kakek
menjelaskan panjang lebar kisah masa lalu Arini.
“ Kakek apakah masih ingat dengan anak kecil yang pernah
kakek selamatkan dulu di hutan dengan Arini ?” Vico mencoba mengingatkan kakek
Arini dengan kejadian yang dia alami saat ini di hutan bersama Orlando pada
kakek Arini.
“ Hmm anak kecil, di Hutan.” Kakek Arini terlihat mengingat
kejadian masa lalu dengan kata kunci yang Vico berikan. Dia terlihat berpikir
serius mengembalikan ingatan masa lalunya itu. Kerutan di dahinya terlihat
sangat jelas menandakan dia berpikir sangat keras, bagaimana pun usianya tidak
__ADS_1
bisa di bohongi mengingat masa lalu cukup sulit di usianya saat ini.
“ Iya kek benar, dua anak kecil yang berasal dari Italia dan
Jerman saat kakek berburu dengan Arini di hutan.” Vico mencoba memberikan kata
kunci tambahan agar mempermudah ingatan kakek Arini. Vico terlihat menunggu
kalimat yang akan keluar dari mulut kakek Arini dengan kedua mata
berbinar-binar dengan kedua alis terangkat ke atas.
“ Oh kakek ingat, jadi kamu mengenal anak itu ya ? Kakek
menanyakan mereka usai di antarkan teman-teman kakek dan mereka bilang sudah
mengantarkan mereka ke keluarga masing-masing dengan selamat.” Ucap kakek
setelah mengingat kejadian saat Arini masih kecil di mana pada masa itu Arini
adalah gadis kecil yang selalu semangat, ceria dan sangat menyukai berpetualang
dengannya itu. Tapi kejadian di Indonesia membuat karakter Arini berubah
menjadi lebih pendiam hingga akhirnya dia bisa mulai menjadi ceria lagi saat
dia sudah menginjak remaja semua itu berkat kakek, nenek dan kedua orang tua
serta Kakak Arini yang selalu berusaha membuatnya bahagia.
“ Kakek kedua anak laki-laki itu salah satunya adalah Vico
kek, Vico selama ini mencari kakek dan Arini selain ingin mengembalikan kalung
jika bukan karena kakek dan Arini Vico dan teman pasti tidak bisa selamat dan Vico tidak bisa di depan kakek
sekarang.” Vico terlihat senang dan juga sedih jika mengingat kejadian yang
membuatnya sangat membenci pamannya setelah mengetahui dalang dari kejadian
itu, Hal itu juga yang membuatnya menetap di Indonesia dan jarang berkunjung ke
Jerman untuk menemui kakeknya. Karena kakeknya juga tidak ingin memperpanjang
masalah keluarga yang bisa mempengaruhi Perusahaan yang ia kelola saat itu.
Itulah hal yang juga membuat Vico tidak menyukai Kakeknya karena merasa tidak
adil dengan perlakuan kakeknya yang membela Pamannya yang harusnya di hukum
karena telah membuatnya hampir saja celaka. Tapi mau bagaimana lagi saat itu
Vico tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak bisa membalas perlakuan Pamannya
itu.
“ Benarkah ? Maafkan kakek karena kakek merasa hal itu tidak
seperti kejadian penculikan biasa dan itu melibatkan cucu kesayangan kakek jadi
kakek tidak ingin ada orang tahu tentang latar belakang kakek, dan teman-teman
__ADS_1
kakek pun tidak ingin ikut campur sehingga merahasiakan semua informasi pribadi
semua anggota kami yang biasa berburu.” Ucap Kakek Arini sambil menepuk
punggung Vico merasa jika anak laki-laki yang terlihat malang kala itu bahkan
sekarang sudah menjadi orang hebat dan juga menjadi cucu menantunya.
“ Iya kek, Terima kasih banyak ya kek saat itu tanpa
mengenal kami Kakek dan teman-teman kakek mau membantu Vico dan Orlando, Tapi kek
kenapa Arini tidak bisa mengingat kejadian itu ya kek ?” Tanya Vico penasaran
karena Arini sama sekali tidak ingat dengannya walau dia pernah melihat
foto-foto masa kecilnya di kamar saat malam pertama Arini bermalam di rumahnya.
“ Oh Arini setelah itu ikut orang tuanya ke Indonesia dan
ada kejadian yang membuatnya trauma dengan masa-masa sekolah di Indonesia itu
hingga membuat ingatan masa kecilnya beberapa terhapus dan membuatnya menjadi
anak yang lebih pendiam mungkin kejadian itu juga terhapus sehingga dia tidak
mengingatnya juga.” Kakek Arini mengingat masa-masa terburuk Arini waktu kecil
itu di mana dia terkurung seharian hingga di temukan satpam saat dicari di
sekolahnya. Setelah kejadian itu Arini kembali ke Belanda dan bersekolah di
sana diurus oleh kakek dan neneknya di mana orang tuanya memang selalu sibuk
untuk mengembangkan usaha mereka dan kurang bisa memperhatikan Arini dan Putra
tapi karena Putra lebih dewasa dia bisa mengurus segalanya sendiri berbeda
dengan Arini.
Usaha kakeknya di Belanda lebih stabil dibandingkan Papah
Arini sehingga membuat banyak waktu mereka untuk mengurus Arini kecil hingga
membuatnya kembali ceria lagi. Karena hal itulah Arini memang sangat menyayangi
Kakek dan neneknya. Bahkan karena kepergian neneknya yang tiba-tiba karena
penyakit jantung yang diderita tanpa sepengetahuan Arini dirinya mengurung diri
dan menolak makan beberapa hari tapi akhirnya mau usai dibujuk oleh kakaknya.
Mamah Papah Arini sering mengunjungi Arini setelah kepergian
neneknya itu mereka juga setiap hari saling berhubungan melalui telepon walau
hanya sekedar mengingatkan ibadah, ya memang Papah Arini sangat tegas akan
masalah yang satu ini membuat Arini sedikit demi sedikit kembali bahagia bahkan
kakaknya juga pindah ke sana saat dia memasuki bangku sekolah menengah atas.
__ADS_1
Happy minta maaf pada semua pembaca dan terima kasih sudah selalu dukung karya Happy.
I Love You All