
Rumah Baru
Terlihat dua insan yang baru mengenal beberapa hari terlelap
tertidur dengan saling berpelukan, begitulah yang terjadi setelah permintaan
Vico di angguki oleh Arini setiap malam mereka selalu tidur dengan berpelukan.
Terdengar burung-burung sudah berkicau walau matahari tak
terlihat tampak karena memang masih petang. Arini yang selalu terbangun lebih
dulu lalu pergi ke kamar mandi dan menjalankan rutinitasnya.
“ Aku hari ini akan pergi bulan madu, apakah dia akan
meminta haknya sebagai suami, aku takut tapi itu memang kewajibanku sebagai
istri untuk melayaninya, beberapa hari ini aku memang mulai nyaman bersamanya
bahkan berpelukan saat tidur, tapi untuk lebih dari itu aku tidak tahu.” Ucap
Arini ragu saat berhadapan dengan cermin di depannya. Terlihat ada buliran
bening jatuh di pipinya.
Arini membersihkan diri dan sholat lalu berolah raga pagi
karena di sini hanya mereka berdua jadi Arini merasa tidak harus menunggu Vico
untuk ke bawah seperti saat di rumah Vico.
Terlihat pria bertubuh kekar dengan wajah yang mengeryit
baru bangun tidur dan mencari istrinya yang tak terlihat di setiap sudut
kamarnya, tak terdengar juga dari kamar mandi atau ruang pakaian.
Vico lalu turun dan mencari istrinya, dia menanyakan ke
pelayan yang terlihat pagi itu menyiapkan sarapan.
“ Istriku kemana bi ?” Tanya Vico kepada pelayan yang kala
itu sedang memotong buat untuk hidangan sarapan pagi yang menjadi kesukaan
Arini dan meminta pelayan menyiapkannya setiap pagi.
“ Nona olahraga di luar tuan.” Jawab pelayan tersebut
setelah menghentikan aktivitasnya.
Vico yang mendengarnya berlalu ke luar mencari Arini, karena
pagi sebelumnya Arini berlali di tempat GYM itupun menunggu Vico bangun, tapi
pagi ini saat Vico mencari di ruangan tersebut Arini tidak ada, membuat Vico
takut istrinya kabur pada hari keberangkatan bulan madu mereka berdua hari ini.
“ Vico, kamu sudah bangun ?” Tanya Arini yang baru selesai
berolah raga, pagi itu saat Arini ingin melakukan lari pagi di ruang GYM dia
merasa ingin berlari di luar seperti di rumahnya karena udara pagi sangat segar
dan lebih menyenangkan menurutnya dari pada olahraga di dalam ruangan.
“ Iya, kenapa kamu berlari di luar tidak di rumah GYM saja?”
Tanya Vico yang sudah menemukan istrinya yang terlihat keringat berkucuran di
dahi dan seluruh tubuhnya.
__ADS_1
“ Aku menyukai lari di luar dan sebenarnya kalau di rumah
aku biasa melakukan itu bersama kakak.” Jawab Arini
“ Baiklah, lain kali bangunkan aku, agar aku bisa menemanimu
berlari.” Ucap Vico agar dia bisa lebih dekat, pikirnya dia akan melakukan apa
yang biasa kakak Arini lakukan.
“ Kamu tidak keberatan bangun lebih pagi dari biasanya ?”
Tanya Arini yang memang tidak pernah berani membangunkan Vico dan selalu
menunggu Vico bangun sendiri.
“ Tentu saja tidak apa-apa Arini.” Jawab Vico lalu mengusap
puncak rambur Arini yang dibasahi keringan.
“ Baiklah, aku akan membangunkanmu lain kali dan kita
berlari bersama.” Jawab Arini sambil tersenyum memandang Vico.
Vico yang dipandang Arini dengan senyuman sejuta watt yang
menggoda membuatnya ingin sekali mencium bibir merah yang ranum yang Arini
miliki.
“ Ya sudah ayo masuk ke dalam dan segera sarapan , kita
harus berangkat ke bandara.” Ucap Vico lalu menggandeng istrinya masuk ke rumah
lalu menuju kamar mereka untuk membersihkan diri dan sarapan.
Mereka berdua lalu masuk ke rumah Arini masuk ke kamar mandi
dan membersihkan diri lalu berganti dengan Vico.
berangkat agar tidak ada yang tertinggal.
Vico yang sudah siap lalu membawa koper tersebut ke bawah.
Terlihat Vico dan Arini memasuki bandara, terlihat jet
pribadi terparkir untuk membawa mereka pergi bulan madu ke Paris. Paris menjadi
pilihan Vico karena terkenal akan keromantisannya dan surga belanja untuk
barang-barang mewah bagi wanita.
Arini dan Vico serta beberapa pengawal dan tak lupa
sekretaris Kim keluar dan Pesawat yang membawa mereka sampai ke Paris.
Mereka keluar dari Bandara dan memasuki mobil yang sudah
terparkir menunggu kedatangan mereka disertai sopir yang sudah menunggunya.
Mereka menginap di salah satu Hotel yang sangat mewah dengan
Balkon langsung menghadapkan setiap orang yang berada disana pemandangan menara
Eiffel yang sangat cantik.
Terlihat Arini berdiri cukup lama di balkon itu memandang
menara eiffel .
“ Apa kamu menyukainya Arini?” Tanya Vico terlihat berdiri
dari sofa yang dia duduki dan menghampiri Arini yang berdiri di balkon sejak
__ADS_1
mereka memasuki kamar hotel tersebut.
“ Mmmm.” Ucap Arini sambil menganggukkan kepalanya menjawab
pertanyaan Vico, karena memang ini pertama kalinya Arini pergi ke Paris.
Vico yang tak kala melihat respon Arini yang terlihat senang
membuatnya terlihat sedikit tersenyum.
Vico memeluk Arini dari belakang, karena menurut Arini itu
sangat tiba-tiba Arini lalu menghepas tangan Vico dan pergi meninggalkan Vico
yang masih mematung dengan tidakan Arini barusan.
Vico lalu masuk kedalam dan menemui Arini yang terlihat
duduk di tepi ranjang.
“ Maafkan aku.” Ucap Vico singkat dan mencium puncak kepala
Arini.
“ Iya, bisakah lain kali kamu berbicara denganku lebih dulu
seperti biasanya, maafkan aku Vico.” Ucap Arini yang terlihat sedikit
meneteskan air matanya.
“ Jangan menangis, maafkan aku, iya lain kali aku akan
meminta ijin denganmu seperti biasanya, jangan menangis lagi.” Ucap Vico lalu
mengusap air mata Arini yang terlihat mengalir ke pipi Arini dengan ibu
jarinya.
“ Aku ke kamar mandi dulu.” Ucap Arini lalu pergi
meninggalkan Vico dan pergi ke kamar mandi.
Vico yang sebelumnya duduk di ranjang lalu berdiri dan
mengutuk kebodohannya yang membuat wanita yang kini menjadi istrinya menangis.
“ Maafkan aku Vico, bukannya aku tidak mau kamu peluk tapi
entah kenapa tubuhku masih merasa asing denganmu, aku akan berusaha untuk bisa
melakukannya denganmu.” Ucap Arini saat menutup pintu kamar mandi dan
menahannya dengan tubuhnya membelakangi pintu itu.
Italia
“Tuan Orlando saya mendapat informasi ada yang melihat tuan
Vico berada di Paris baru tiba hari ini.” Ucap anak buah Orlando yang baru
masuk ke ruangan Orlando. Dia adalah perwakilan dari grup mafia Orlando yang
bertugas di Paris
“ Banarkah ?” Tanya Orlando yang tidak percaya hal itu,
karena dia tidak diberi tahu Vico kalau Vico akan pergi ke Eropa karena
biasanya Vico akan mengabarinya jika ada urusan di Eropa.
“ Coba kamu ikuti dulu, aku akan menghubungi Vico.” Ucap
Orlando pada anak buahnya.
__ADS_1
Lalu anak buahnya tersebut pergi meninggalkan Orlando dan
melaksanakan tugas yang sudah diberikan padanya.