
Mobil sudah berhenti di depan sebuah gedung yang menjulang
tinggi berwarna abu-abu, benar gedung itu adalah milik Perusahaan Horison.
“ Terima kasih untuk tawarannya Do, tapi aku akan dijemput
sopir nanti, untuk jalan-jalan maafkan aku saat ini sedang sangat sibuk.” Ucap
Arini memandang Aldo dan tersenyum padanya lalu dia membuka pintu kendaraan itu
lalu keluar dan menuju pintu masuk Perusahaan Horison.
“ Arini kenapa kamu sangat susah di dekati.” Ucap Aldo yang
masih memandang punggung Arini yang terlihat semakin menjauh, wajahnya tampak
lesu dengan semua penolakan dari Arini itu.
Arini yang sudah masuk ke perusahaan itu lalu menghampiri
resepsionis yang sedang duduk di mejanya.
“ Permisi nona saya Arini dan Queen desain ingin bertemu
tuan Haris, kemarin saya sudah membuat janji dengannya.” Ucap Arini pada
resepsionis yang terlihat sangat cantik dan rapi itu.
“ Baik nona mohon tunggu sebentar kami akan konfirmasi
dengan sekretarisnya sebentar.” Ucap resepsionis itu ramah lalu menelepon
sekretarisnya Haris untuk konfirmasi setelah disetujui resepsionis itu
mempersilahkan Arini dan menunjukkan ruangan Haris.
Tok tok tok
“ Tuan ada nona Arini dari Queen desain.” Ucap sekretaris
dari luar ruangan Haris.
“ Biarkan dia masuk.” Ucap Haris lalu dia berdiri dan
merapikan penampilannya, ya karena Arini adalah pujaan hatinya selama ini,
terlihat sudah sempurna dia duduk dengan berwibawa di kursinya. Terlihat Arini
masuk ke ruangan Haris.
“ Selamat pagi Tuan Haris, untuk perbaikan desainnya
kira-kira Tuan ingin perubahan bagaimana ?” Ucap Arini yang masih berdiri di
depan meja Haris.
“ Duduklah dulu Arini.” Ucap Haris berdiri dari kursi
kekuasaannya dan menghampiri Arini mempersilahkan duduk di sofa depannya. Arini
lalu mengikuti arahan Haris dan mendudukkan tubuhnya pada sofa warna putih yang
terlihat empuk itu.
“ Bagaimana kabarmu ?” Tanya Haris yang juga duduk di
samping Arini tidak menjawab pertanyaan Arini.
“ Saya baik.” Jawab Arini singkat.
“ Ayolah Arini kita kan teman, kamu tidak perlu sekaku itu
denganku ?” Gerutu Haris karena ekspresi dan tindakan yang diberikan Arini saat
__ADS_1
bertemu dengannya itu terlihat sangat formal.
“ Maaf Ris, tapi kan aku kesini untuk membahas desain yang
ingin kamu ubah ?” Ucap Arini sedikit melunak, ya bagaimanapun Haris adalah
temannya semasa SMA yang selalu mengejar-ngejarnya tapi ditolak Arini karena
dia ingin fokus dengan sekolahnya kecuali sudah menjadi mahasiswa, tapi
sayangnya saat kuliah Haris tidak bisa dekat dengan Arini karena dia di paksa
kuliah bisnis setelah itu tidak ada kontak sama sekali.
“ Aku tidak ingin mengubah desainmu, aku hanya ingin bertemu
denganmu, aku sangat merindukanmu, aku beberapa kali mendatangi kantormu lagi
tapi kata resepsionis kamu tidak ada, dan sebelumnya hanya sekretarismu yang
akan kesini.” Jelas Haris yang berusaha mendekati cinta pertamanya itu.
“ Ris, aku sibuk saat ini kamu jangan mempermainkanku, dan
seperti yang sudah aku bilang padamu, kita hanya bisa berteman tidak lebih .”
Ucap Arini setelah mengambil nafas panjang karena penjelasan dari Haris
tersebut.
“ Kenapa ? apakah kamu sudah memiliki kekasih ?” Tanya Haris
dengan ekspresi sedih dengan penolakan Arini tersebut.
“ Tidak, bukan begitu, tapi aku memang tidak bisa menjalin
hubungan denganmu sekarang.” Ucap Arini lagi menjelaskan keadaannya.
“ Kamu dulu bilang kita bisa bersama saat kamu kuliah,
masih ingin memperjuangkan keinginannya mendekati Arini.
“ Aku sudah menikah Ris .” Jawab Arini membuat Haris sangat
kaget terlihat matanya melebar begitu juga bibirnya.
“ Tidak mungkin, kenapa tidak ada kabar akan hal itu selama
ini, dan siapa suami kamu ?” Tanya Haris masih tidak percaya dengan pernyataan
Arini.
“ Aku tidak perlu menceritakan kehidupan pribadiku saat ini
Ris, maafkan aku.” Ucap Arini merasa bersalah.
“ Kamu pasti bohong, kamu hanya ingin menolakku kan ?” Suara
Haris sedikit meninggi karena Arini tidak memberitahu siapa suami yang dia
nikahi.
Arini terlihat hanya terdiam bingung harus menjelaskan
bagaimana lagi pada Haris yang memang sangat keras kepala selama ini.
“ Arini aku masih sangat menyayangimu, walau kita mulai dari
awal lagi juga tidak apa-apa oke ?” Ucap Haris mendekat dan menggenggam kedua
tangan Arini menampakkan wajah memohon agar Arini membuka hatinya untuk Haris.
“ Hah Jika aku kesini untuk mendengarkan ini sebaiknya aku
__ADS_1
pergi saja.” Ucap Arini yang sudah tidak nyaman berada di sana mendengar
permintaan Haris yang menurutnya sudah tidak masuk akal itu, dia juga
melepaskan genggaman Haris dan sudah berdiri dari duduknya yang sebelumnya
nyaman itu.
“ Arini jangan pergi, ayo kita makan dulu.” Ucap Haris menggenggam tangan Arini yang
terlepas dan memasang wajah sangat memohon pada Arini.
“ Ris aku tidak bisa, jika suamiku tahu dia akan sangat
marah padaku.” Tolak Arini mengingat kejadian sebelumnya yang dia terima saat
makan dengan Arga dan diketahui Vico.
“ Oke kita makan di sini saja, aku akan menyuruh
sekretarisku menyiapkan makanan untuk kita.” Paksa Haris dan mendudukkan Arini
kembali di sofanya, dan dia mulai berdiri untuk memanggil sekretarisnya
menggunakan telepon kantor yang berada di meja kerjanya.
“ Ris aku tidak bisa, aku akan pergi sekarang.” Ucap Arini
terlihat sedikit marah dengan paksaan Haris itu yang membuatnya seperti
menghianati suaminya. Dia lalu berdiri dan melangkah sudah berada di ambang
pintu dan akan membuka pintu ruangan itu tapi di cegah Haris dan mengunci pintu
tersebut.
“ Aku tidak akan macam-macam tenanglah, aku hanya ingin
makan denganmu, aku mohon anggap saja makan bersama teman, bukankah kita masih
bisa berteman ?” Tanya Haris menarik tubuh Arini duduk kembali di sofa. Arini
akhirnya tidak menolak dan duduk di sofa menunggu makanan dari sekretaris
Haris.
“ Arini siapa suamimu ? kapan kamu menikah ?” Tanya Haris
masih tetap penasaran dengan pasangan Arini.
“ Maaf aku tidak ingin membicarakan itu.” Ucap Arini
memasang wajah sedih dengan pertanyaan Haris.
“ Baiklah, kita akan tetap menjadi teman ya, kalau kamu ada
masalah kamu bisa menghubungiku.” Ucap Haris yang sebenarnya tidak rela jika
hanya berteman dengan Arini tapi menurutnya itu lebih baik untuk mengetahui
siapa sebenarnya suami Arini karena dia masih belum percaya dengan fakta itu.
“ Baiklah.” Jawab Arini yang sudah malas berdebat dengan
Haris.
Tok tok tok
“ Tuan makanannya sudah siap.” Ucap sekretarisnya yang
berada di depan pintu yang terkunci itu.
“ Sebentar Arini, aku ambil makanannya.” Ucap Haris lalu
__ADS_1
membuka pintu itu dan membawa makanan dari sekretarisnya, menghidangkannya di
meja dan mengajak Arini makan siang bersamanya.