My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Perusahaan Horison


__ADS_3

Mobil sudah berhenti di depan sebuah gedung yang menjulang


tinggi berwarna abu-abu, benar gedung itu adalah milik Perusahaan Horison.


“ Terima kasih untuk tawarannya Do, tapi aku akan dijemput


sopir nanti, untuk jalan-jalan maafkan aku saat ini sedang sangat sibuk.” Ucap


Arini memandang Aldo dan tersenyum padanya lalu dia membuka pintu kendaraan itu


lalu keluar dan menuju pintu masuk Perusahaan Horison.


“ Arini kenapa kamu sangat susah di dekati.” Ucap Aldo yang


masih memandang punggung Arini yang terlihat semakin menjauh, wajahnya tampak


lesu dengan semua penolakan dari Arini itu.


Arini yang sudah masuk ke perusahaan itu lalu menghampiri


resepsionis yang sedang duduk di mejanya.


“ Permisi nona saya Arini dan Queen desain ingin bertemu


tuan Haris, kemarin saya sudah membuat janji dengannya.” Ucap Arini pada


resepsionis yang terlihat sangat cantik dan rapi itu.


“ Baik nona mohon tunggu sebentar kami akan konfirmasi


dengan sekretarisnya sebentar.” Ucap resepsionis itu ramah lalu menelepon


sekretarisnya Haris untuk konfirmasi setelah disetujui resepsionis itu


mempersilahkan Arini dan menunjukkan ruangan Haris.


Tok tok tok


“ Tuan ada nona Arini dari Queen desain.” Ucap sekretaris


dari luar ruangan Haris.


“ Biarkan dia masuk.” Ucap Haris lalu dia berdiri dan


merapikan penampilannya, ya karena Arini adalah pujaan hatinya selama ini,


terlihat sudah sempurna dia duduk dengan berwibawa di kursinya. Terlihat Arini


masuk ke ruangan Haris.


“ Selamat pagi Tuan Haris, untuk perbaikan desainnya


kira-kira Tuan ingin perubahan bagaimana ?” Ucap Arini yang masih berdiri di


depan meja Haris.


“ Duduklah dulu Arini.” Ucap Haris berdiri dari kursi


kekuasaannya dan menghampiri Arini mempersilahkan duduk di sofa depannya. Arini


lalu mengikuti arahan Haris dan mendudukkan tubuhnya pada sofa warna putih yang


terlihat empuk itu.


“ Bagaimana kabarmu ?” Tanya Haris yang juga duduk di


samping Arini tidak menjawab pertanyaan Arini.


“ Saya baik.” Jawab Arini singkat.


“ Ayolah Arini kita kan teman, kamu tidak perlu sekaku itu


denganku ?” Gerutu Haris karena ekspresi dan tindakan yang diberikan Arini saat

__ADS_1


bertemu dengannya itu terlihat sangat formal.


“ Maaf Ris, tapi kan aku kesini untuk membahas desain yang


ingin kamu ubah ?” Ucap Arini sedikit melunak, ya bagaimanapun Haris adalah


temannya semasa SMA yang selalu mengejar-ngejarnya tapi ditolak Arini karena


dia ingin fokus dengan sekolahnya kecuali sudah menjadi mahasiswa, tapi


sayangnya saat kuliah Haris tidak bisa dekat dengan Arini karena dia di paksa


kuliah bisnis setelah itu tidak ada kontak sama sekali.


“ Aku tidak ingin mengubah desainmu, aku hanya ingin bertemu


denganmu, aku sangat merindukanmu, aku beberapa kali mendatangi kantormu lagi


tapi kata resepsionis kamu tidak ada, dan sebelumnya hanya sekretarismu yang


akan kesini.” Jelas Haris yang berusaha mendekati cinta pertamanya itu.


“ Ris, aku sibuk saat ini kamu jangan mempermainkanku, dan


seperti yang sudah aku bilang padamu, kita hanya bisa berteman tidak lebih .”


Ucap Arini setelah mengambil nafas panjang karena penjelasan dari Haris


tersebut.


“ Kenapa ? apakah kamu sudah memiliki kekasih ?” Tanya Haris


dengan ekspresi sedih dengan penolakan Arini tersebut.


“ Tidak, bukan begitu, tapi aku memang tidak bisa menjalin


hubungan denganmu sekarang.” Ucap Arini lagi menjelaskan keadaannya.


“ Kamu dulu bilang kita bisa bersama saat kamu kuliah,


masih ingin memperjuangkan keinginannya mendekati Arini.


“ Aku sudah menikah Ris .” Jawab Arini membuat Haris sangat


kaget terlihat matanya melebar begitu juga bibirnya.


“ Tidak mungkin, kenapa tidak ada kabar akan hal itu selama


ini, dan siapa suami kamu ?” Tanya Haris masih tidak percaya dengan pernyataan


Arini.


“ Aku tidak perlu menceritakan kehidupan pribadiku saat ini


Ris, maafkan aku.” Ucap Arini merasa bersalah.


“ Kamu pasti bohong, kamu hanya ingin menolakku kan ?” Suara


Haris sedikit meninggi karena Arini tidak memberitahu siapa suami yang dia


nikahi.


Arini terlihat hanya terdiam bingung harus menjelaskan


bagaimana lagi pada Haris yang memang sangat keras kepala selama ini.


“ Arini aku masih sangat menyayangimu, walau kita mulai dari


awal lagi juga tidak apa-apa oke ?” Ucap Haris mendekat dan menggenggam kedua


tangan Arini menampakkan wajah memohon agar Arini membuka hatinya untuk Haris.


“ Hah Jika aku kesini untuk mendengarkan ini sebaiknya aku

__ADS_1


pergi saja.” Ucap Arini yang sudah tidak nyaman berada di sana mendengar


permintaan Haris yang menurutnya sudah tidak masuk akal itu, dia juga


melepaskan genggaman Haris dan sudah berdiri dari duduknya yang sebelumnya


nyaman itu.


“ Arini jangan pergi, ayo kita makan dulu.”  Ucap Haris menggenggam tangan Arini yang


terlepas dan memasang wajah sangat memohon pada Arini.


“ Ris aku tidak bisa, jika suamiku tahu dia akan sangat


marah padaku.” Tolak Arini mengingat kejadian sebelumnya yang dia terima saat


makan dengan Arga dan diketahui Vico.


“ Oke kita makan di sini saja, aku akan menyuruh


sekretarisku menyiapkan makanan untuk kita.” Paksa Haris dan mendudukkan Arini


kembali di sofanya, dan dia mulai berdiri untuk memanggil sekretarisnya


menggunakan telepon kantor yang berada di meja kerjanya.


“ Ris aku tidak bisa, aku akan pergi sekarang.” Ucap Arini


terlihat sedikit marah dengan paksaan Haris itu yang membuatnya seperti


menghianati suaminya. Dia lalu berdiri dan melangkah sudah berada di ambang


pintu dan akan membuka pintu ruangan itu tapi di cegah Haris dan mengunci pintu


tersebut.


“ Aku tidak akan macam-macam tenanglah, aku hanya ingin


makan denganmu, aku mohon anggap saja makan bersama teman, bukankah kita masih


bisa berteman ?” Tanya Haris menarik tubuh Arini duduk kembali di sofa. Arini


akhirnya tidak menolak dan duduk di sofa menunggu makanan dari sekretaris


Haris.


“ Arini siapa suamimu ? kapan kamu menikah ?” Tanya Haris


masih tetap penasaran dengan pasangan Arini.


“ Maaf aku tidak ingin membicarakan itu.” Ucap Arini


memasang wajah sedih dengan pertanyaan Haris.


“ Baiklah, kita akan tetap menjadi teman ya, kalau kamu ada


masalah kamu bisa menghubungiku.” Ucap Haris yang sebenarnya tidak rela jika


hanya berteman dengan Arini tapi menurutnya itu lebih baik untuk mengetahui


siapa sebenarnya suami Arini karena dia masih belum percaya dengan fakta itu.


“ Baiklah.” Jawab Arini yang sudah malas berdebat dengan


Haris.


Tok tok tok


“ Tuan makanannya sudah siap.” Ucap sekretarisnya yang


berada di depan pintu yang terkunci itu.


“ Sebentar Arini, aku ambil makanannya.” Ucap Haris lalu

__ADS_1


membuka pintu itu dan membawa makanan dari sekretarisnya, menghidangkannya di


meja dan mengajak Arini makan siang bersamanya.


__ADS_2