
Flash Back On
Terlihat anak kecil tengah duduk di kursi panjang yang
terbuat dari kayu di depan rumah yang terlihat megah tersebut.
Wajahnya tampan dan imut terlihat tersenyum sambil melihat
ikan kecil yang berada di dalam kolam dengan air jernih di depannya tersebut.
Anak kecil tersebut menggunakan celana pendek jeans dan kaos lengan pendek
berwarna merah dan bertopi hitam sambil menggenggam makanan ikan.
Beberapa kali dia menyebarkan makanan ikan tersebut dan di
sambut dengan berbagai ikan emas yang memiliki berbagai warna di tubuhnya
tersebut.
Seorang wanita cantik dengan baju berwarna merah muda keluar
dari rumah besar itu dan menghampiri anak kecil yang terlihat sangat senang
itu.
“ Ayo masuk, kita tunggu papah di dalam saja.” Ajak wanita
yang tak lain adalah mamah dari anak yang tampan dan imut itu sambil mengusap
punggung si kecil yang keasyikan dengan ikan-ikan kecil yang dia beri makan
itu.
“ Jack ingin di sini mah menunggu papah seharusnya dia sudah
pulang dan mengajakku pergi ke taman bermain seperti janjinya.” Tolak anak
kecil tersebut pada mamahnya yang masih setia menunggu papahnya pulang dari kantor.
“ Sayang kita tunggu di dalam saja, sebentar lagi malam kita
bisa pergi besok dengan papah.” Mamah Jack masih mencoba mengajak Jack masuk ke
dalam rumah sambil menunggu suaminya.
“ Jack tidak mau mah, papah kemarin janji sama Jack untuk
pergi hari ini dan seharusnya sudah berangkat dari tadi siang tapi sampai
sekarang belum pulang.” Jawab Jack sambil cemberut karena biasanya papahnya
tidak pernah mengingkari janjinya pada Jack.
“ Sayang papah mungkin masih sibuk, jadi belum pulang kita
masuk dulu ya, nanti kalau anak kecil masih di luar saat malam bisa dibawa
hantu ke rumahnya lho.” Bujuk wanita muda itu dengan menakut-nakuti anak
lelakinya agar mau masuk ke dalam rumah.
Terlihat matahari sudah berada di ufuk timur karena ingin
kembali ke peraduannya, adzan magrib mulai berkumandang bersaut-sautan dari
masjid-masjid sekitar. Langit yang semula masih berwarna jingga kelamaan
terlihat menggelap menandakan waktu mulai malam.
Jack yang terlihat berpikir sambil memandang ke sekitar
terlihat bergidik ngeri jika dia di culik hantu yang menurut teman-temannya
sangat menakutkan hingga akhirnya dia mengikuti mamahnya tersebut masuk ke
dalam rumah.
Langkah kaki kecilnya dengan tangan kanannya di gandeng
__ADS_1
mamahnya mulai berjalan meninggalkan kursi panjang dari kayu dan kolam ikan
dengan berbagai ikan mas warna-warni yang menemaninya dari siang itu. Ada
sedikit perasaan yang masih mengganjal darinya karena papahnya yang tak kunjung
pulang dari siang.
“ Mah, bisakah mamah menelepon Papah ?” Tanyanya dengan
mulut kecil miliknya yang cemberut kecewa pada papahnya tersebut.
“ Iya sayang.” Jawab Mamahnya dan mendudukkan putra semata
wayangnya di ruang tamu dan dia berjalan menuju telepon rumah miliknya saat
ingin mengambil gagang telepon rumah miliknya tiba-tiba telepon tersebut
berdering.
Mendengar dari sang penelpon jika suami tercintanya
mengalami kecelakaan dan sudah tidak bernyawa saat berada di rumah sakit yang
memberikan berbagai pertolongan untuk mencoba menyadarkannya membuat wanita
cantik itu menjatuhkan telepon rumah tersebut dengan mulut masih terbuka karena
tidak percaya dengan kabar dari perawat yang sedang mengabarinya itu.
Air mata mengalir dari wajah cantiknya tubuhnya lunglai
hingga membuatnya terduduk lemas pada lantai keramik berwarna putih itu.
Melihat mamahnya yang bertingkah aneh, Jack kecil mencoba mendekatinya dan
bertanya dengan kawatir.
“ Kenapa mamah menangis ?” Tanyanya sambil mengusap air mata
mamahnya tersebut.
dengan erat sambil mengusap kepala putranya dengan lembut dan mencoba tegar
mengembalikan kesadarannya dan bergegas ke rumah sakit dengan mengajak Jack.
Terlihat seorang pria terbujur kaku tertutupi selembar kain
putih sudah pucat pasi di seluruh tubuhnya begitu pun bibirnya sudah mulai
membiru keunguan menandakan nyawanya sudah tidak menyatu dengan raganya.
Tangisan kembali pecah pada wanita yang masih terlihat
cantik, sedangkan anaknya terlihat menunggu di luar dengan seorang pria tua
yang menjadi orang tua satu-satunya yang masih hidup dari suaminya tersebut.
Pemakanan telah dilakukan, wanita yang sebelumnya selalu
ramah dan berlaku keibuan semakin hari menjadi wanita dengan gangguan mental
yang semakin hari semakin parah hanya minuman keras yang selalu menemani anak
kecil yang sebelumnya mendapat banyak kasih sayang terabaikan hingga kakeknya
mendatanginya dan menemukan menantunya yang sudah tidak waras itu sering
melakukan kekerasan pada Jack jika sedang kumat.
Wanita itu akhirnya meninggal bunuh diri. Jack kecil semakin
terpuruk kehidupannya ditinggal kedua orang tuanya di usia mudanya. Kakeknya
membesarkan dengan kasih sayang, perusahaan dan rumah besar miliknya sudah
lenyap karena harus membayar kerugian yang timbul. Jack remaja kembali
mengalami kehilangan karena kakek yang selama ini menemaninya jatuh sakit dan
__ADS_1
meninggalkannya selama-lamannya.
Dia sangat dendam dengan orang yang menyebabkan papahnya
kecelakaan hingga akhirnya dia menyelidiki penyebab ayahnya tersebut mengalami
kecelakaan dan menemukan fakta jika penyebab kecelakaan tersebut adalah orang
tua Vico yang membuat perusahaan Papahnya hancur hingga ayahnya mabuk-mabukan
dan mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya tersebut.
Sejak saat itu Jack mengubah namanya menjadi Zack dan
mencoba bekerja pada Vico semakin hari bekerja keras dan membuatnya menjadi
orang kepercayaan Vico sampai saat ini. Dibalik semua kerja kerasnya ada dendam
yang membara dari dalam hatinya. Mengetahui jika Paman Vico juga menginginkan
kehancuran Vico dan keluarganya membuat Zack bekerja sama dengan Fernando untuk
menyingkirkan Vico dan keluarganya.
Setelah dia menculik Arini dia menghubungi Fernando agar
dapat melaksanakan pekerjaan selanjutnya mendapatkan harta Vico dan
menyingkirkannya dari dunia ini.
Kembali ke waktu sekarang.
Vico yang sudah sampai di Pulau tersebut bergegas ke titik
tempat kalung Arini berada, dengan kecepatan penuh dia mengendarai motor cross
miliknya menembus hutan sambil mengikuti arahan ponsel pintarnya. Sekretaris
Kim tidak kalah cepat mengikuti Vico dari belakang dengan beberapa orang karena
memang hanya dapat membawa beberapa motor saja di dalam pesawat kecil miliknya
yang mengantar ke pulau tak berpenghuni itu.
Saat sudah dekat terlihat sebuah rumah yang terlihat kosong
di depannya membuat Vico menghentikan laju motornya dan menaruhnya sembarang
langsung berlari ke dalam untuk mencari keberadaan Arini tapi sayang setelah
membuka beberapa ruangan Arini tidak di temukan hanya sebuah kalung yang sudah
dia berikan tergeletak di lantai yang sudah tertutupi debu tebal dekat kursi
abu-abu.
“ Hahhhhhh.” Vico berteriak kesal karena belum bisa
menemukan istrinya tersebut dan hanya menemukan kalung milik istrinya tersebut.
“ Kim Arini tidak ada.” Pria bertubuh tegap dan tampan itu
terlihat sangat kecewa dan bercampur marah butiran bening menetes dari kelopak
matanya karena masih gagal menemukan istrinya tersebut.
Vico terlihat terduduk lemas sambil menggenggam kalung yang
dia pakaikan Arini semalam itu. Sekretaris Kim yang mengetahui perasaan kacau
Vico mencoba menenangkan tuannya tersebut sambil mengangkat tubuh Vico agar
meninggalkan tempat itu.
“ Tuan, kita tinggalkan tempat ini.” Sekretaris Kim masih
mencoba menarik tubuh Vico untuk pergi dari rumah yang semakin gelap karena
malam akan tiba itu.
__ADS_1