
“Oke thanks infonya, untuk selanjutnya kita akan saling
menghubungi lewat telepon ya. Dan tetap awasi Pamanku jangan sampai menyerang
Orlando.” Ucap Vico.
“ Vic ada masalah lagi, mata-mata yang kemarin kamu minta
ditangkap seseorang, menurut beberapa sumber dia ditangkap komplotan mafia dari
Belanda. Kita belum tahu motif dan tujuan dari penangkapan itu.” Ungkap Rezky
lagi.
“ Segera cari tahu, jangan sampai itu ulah paman. “ Ungkap
Vico.
“Kim saham di luar negeri ada pengalihan atau pembelian yang
aneh ? Tanya Vico.
“Untuk saat ini belum tuan, sepertinya paman Tuan belum
sampai ke tahap itu.” Jawab sekretaris Kim.
Pembicaraan seputar bisnis gelap Vico memang biasa diadakan
di sini. Setelah pembicaraan dan pengaturan strategi selanjutnya selesai Vico
pergi pulang meninggalkan keempat temannya yang masih asyik di ruangan
tersebut.
Rumah Arini
Seperti biasa di kediaman keluarga permana setelah mereka
menyelesaikan makan malam akan saling berbincang bincang di ruang keluarga.
“Arini kamu sudah punya kekasih ?”Tanya Papah Arini
“Belum pah.” Jawabnya singkat
“ Sebenarnya papah mau menjodohkan kamu dengan anak rekan
bisnis Papah, apakah kamu mau ?” Tanya Pak Permana lagi.
“ Aduh papah apa masih jaman untuk sekarang perjodohan
seperti itu, biarkan Arini memilih pasangannya sendiri.” Ungkap mamah Arini
yang kurang setuju dengan rencana suaminya tersebut.
“Arini sih terserah papah.” Jawab Arini
“Jadi kamu mau ya nak ? kamu ingin mengenalnya dulu atau mau
langsung menikah ?” Tanya ayahnya lagi.
“Arini terserah papah sama mamah saja Arini percaya Papah
akan menjodohkan Arini dengan orang yang baik.” Jawab Arini lagi
“Iya anaknya baik, sopan dia anak rekan bisnis papah kemarin
yang kita bertemu di bandara.” Ucap Pak permana.
“ Uhuk uhuk maksud papah Pak Vico dari Perusahaan Angkasa
Grup ?” Tanya Arini kaget mendengar pernyataan papahnya tersebut.
“Iya Arini, bagaimana kalau besok kita adakan pertemuan
keluarga di rumah ini mah, biar Arini dan Vico bisa lebih dekat.” Ungkap pak
permana pada istrinya.
“Mamah setuju saja pah, biar besok mamah siapkan untuk makan
malamnya. “ Jawab mamah Arini.
Terlihat Putra belum pulang karena dia menyelesaikan
__ADS_1
tugasnya sebelum keberangkatannya ke Belanda .
Pembicaraan soal perjodohan pun sudah selesai dan mereka
saling bercerita masalah lain hingga terlihat Arini sudah menguap dan pamit
pergi meninggalkan kedua orang tuanya menuju ke kamarnya.
Pagi di kediaman Arini
Terlihat kedua orang tua Arini sudah berada di meja makan,
Putra keluar dari kamar dan Arini berada di tangga baru akan menuju ruang
makan. Setelah mereka berkumpul di meja makan mereka mulai menyantap sarapan
paginya masing-masing. Usai sarapan Putra pamit pada kedua orang tuanya dan
adik kesayangannya Arini karena akan ke Belanda selama 1 minggu. Arini pun
memeluk kakaknya dan merasa akan sangat merindukannya, ya begitulah Arini
karena memang hanya kakaknya yang selalu ada di samping Arini dan menemaninya
serta tempat Arini selalu berbagi cerita.
“Arini kakak cuma seminggu di Belanda, kamu tidak perlu
sampai menangis seperti itu.” Ledek Putra pada adiknya yang memang tidak suka
kalau dia tinggal.
“Iya Kak, jangan lupa salamkan pada kakek ya kalau Arini
sangat merindukannya, kalau saat ini perusahaanku tidak disibukkan dengan tender
aku pasti ingin ikut dengan kakak.” Jawab Arini.
“Sayang hati-hati ya selama di Belanda jangan lupa selalu
kasih kabar mamah.” Pinta mamahnya sambil melepas kepergian putra semata
wayangnya. Karena memang hanya mamahnya saja yang mengetahui apa yang akan
dilakukan Putra di Belanda.
dikawatirkan akan papah urus, segera selesaikan urusan di sana, jangan lupa
ibadahmu.” Ungkap papahnya dan memeluk Putra.
Begitulah pemandangan yang akan terjadi jika ada anggota
keluarga yang meninggalkan rumah tersebut cukup lama.
“Siap Bos.” Ucap Putra sambil hormat pada papahnya ala
tentara yang diberi perintah oleh atasannya.
Akhirnya Putra berangkat ke bandara untuk menaiki jet
pribadinya dengan diantar sopir.
Arini pun pamit kepada kedua orang tuanya untuk berangkat
kerja.
“Hati-hati ya sayang tidak usah ngebut bawa mobilnya.”
Teriak mamah Arini dari pintu keluar.
“Iya mah.” Sahutan Arini yang sudah berada di parkiran
mobilnya.
Kediaman Vico
Vico terlihat kurang bersemangat pagi itu saat sedang
sarapan dengan kedua orang tuanya di meja makan.
“ Kamu kenapa sayang ?” terlontar pertanyaan dari mamah Vico
yang memang lebih peka dibandingkan suaminya.
__ADS_1
“ Tidak apa-apa mah , Vico hanya sedikit lelah saja.” Ungkap
Viko dibarengi senyum yang dipaksakan.
“ Kamu begitu saja sedih Vic, nanti Papah carikan yang
lain.” Ucap Papah Vico yang mengetahui penyebab muka masam dan tidak bersemangat
itu.
Papah akan membuat kejutan untuk kamu Vico, nanti siang
akan Papah beritahukan kalau perjodohan papah dengan Permana telah sepakat
begitu juga anaknya yang menyetujui perjodohan itu, Selain itu nanti malam akan
diadakan makan malam keluarga untuk kalian, Pasti kamu akan sangat senang. Batin papah Vico
“ Tidak perlu pah, tidak perlu membicarakannya lagi.” Jawab
Vico malas
“ ya sudah sayang mungkin belum rezekinya jadi jangan sedih
begitu, nanti pasti akan dapat yang lebih baik” Mamah Vico menyemangati anaknya
tanpa tahu apa yang dimaksud, membuat Vico tambah terlihat sedih dengan
nasibnya.
Setelah sarapan mereka selesai, terlihat sekretaris Kim
datang.
“Kim, sarapan dulu. “ Ajak mamah Vico, karena mamah Vico
sudah menganggap Kim anaknya sendiri.
Kim merupakan anak dari temanya di Korea yang saat itu
meninggal dunia dan menitipkan Kim padanya. Kim tumbuh besar bersama dan selalu
menemani Vico sejak dia ditinggal ibunya dan menetap di Indonesia. Selain itu
Vico memang pernah trauma saat kecil sehingga mamahnya Vico sangat senang
dengan adanya Kim.
“Terima kasih, Nyonya saya sudah sarapan tadi di rumah.”
Jawab Kim
“Pah, mah Vico berangkat ke kantor dulu ya. “ Pamit Vico
pada kedua orang tuanya.
“ Iya kalian berdua hati-hati ya.” Jawab mamah dana papah
Vico
Vico masuk ke dalam mobilnya dengan wajah malas. Kim yang
melihat itu heran karena dari kemarin siang dia melihat wajah tuannya itu
tampak tidak bahagia, ya walaupun biasanya dia berwajah dingin, tapi saat dia
berwajah sedih membuat orang di sekitarnya merasa iba.
‘Apakah tuan kurang sehat hari ini, atau kita perlu ke rumah
sakit untuk periksa, atau perlu saya panggilkan Dokter Miko untuk datang ke
Kantor? “ Ucap sekretaris Kim pada Vico.
“Tidak perlu Kim.” Jawab Vico singkat.
“Agenda hari ini apa Kim ?” Tanya Vico.
“Hari ini tuan perlu menyetujui desain akhir Proyek tender
kemarin, siang akan pergi ke Pabrik untuk melakukan inspeksi bulanan, setelah
itu ada rapat dengan Klien dari Jepang tentang kerja sama hotel kita di sana
__ADS_1
dan makan malam dengan Pak Handoko untuk membahas Proyek Pertambangan.” Jawab
sekretaris Han menjelaskan Agenda Vico hari itu yang memang selalu sepadat itu.