
Arini segera menark tubuh pria yang selalu menjadi pusat
perhatian itu ke salah satu toko yang ingin dia kunjungi. Terlihat dia ingin
membelikan kue yang biasa menjadi kesukaan kedua orang tuanya. Beberapa kali
mereka pergi selalu saja berakhir tidak sesuai keinginan sehingga tidak sampai
bisa memberikan oleh-oleh untuk kedua orang tua Arini.
“ Mbak tolong ini di bungkus ya.” Ucap Arini sambil menunjuk
kue yang telah dia pilih. Sang pelayan yang terpesona dengan Vico terlihat
tidak memperhatikan Arini. Hingga membuat wanita cantik itu sedikit cemberut.
Vico yang merasa tidak bersalah terlihat melihat ponsel miliknya untuk melihat
beberapa laporan dari anak buahnya. Sedangkan sekretaris Kim terlihat berdiri
tegak bagai gapura perumahan di depan toko mencegah pelanggan lain masuk sesuai
instruksi yang mulia Vico Marleno.
“ Mbak ,,, mbak ... Halooo. Ini ya di bungkus.” Ucap Arini
lagi sedikit kesal dengan pelayan wanita tersebut. Arini melambaikan tangan di
depan pelayan itu hingga menyadarkan lamunannya.
“ Ah iya, maaf.” Ucap Pelayan menerima permintaan Arini dan
segera mengambil kue yang Arini maksud dan membungkusnya. Walaupun terlihat
sudah mulai fokus dengan pekerjaannya lagi tapi pelayan itu tetap beberapa kali
curi pandang pada Vico. Arini yang tidak ingin berlama-lama di toko tersebut
segera membayarnya dan menarik Vico untuk segera meninggalkan tempat itu.
Sekretaris Kim terlihat mengekor di belakang kedua sejoli di mana sang perempuan
sedikit cemberut sedang sang pria terlihat tidak peka.
Usai memasuki kendaraan Vico terlihat memandang Arini yang
mengubah ekspresi cerianya.
“ Kenapa cemberut ?” Tanyanya yang memang sebelumnya tidak
memperhatikan kegiatan istrinya membeli kue itu. Tugas kantornya kali ini
sedang dalam taraf padat karena banyak proyek yang tengah ditangani hingga
sedikit berkurang perhatiannya pada istrinya tersebut.
“ Aku kalau ke Mall sama kamu atau kakak selalu saja semua
wanita selalu memandangi kalian, bahkan tadi pelayan sampai tidak fokus saat
bekerja dan malah fokus memandangmu.” Ucap Arini dengan bibir manyun. Wajah
Arini menjadi terlihat lucu jika sifat manjanya itu muncul hingga membuat Vico
mencubit hidung mungilnya.
“ Ya kan kamu memiliki suami dan kakak yang tampan jadi
pasti selalu membuat mereka tertarik, apa perlu pelayannya diberhentikan karena
tidak bisa bekerja dengan baik ?” Goda Vico pada Arini agar sang pujaan hati
itu luluh dan tidak cemberut lagi.
__ADS_1
“ Tidak jangan bukan begitu, huh pokoknya aku sebel saja
selalu seperti itu membuatku kurang leluasa kalau pergi ke tempat keramaian,
bahkan aku biasa hanya makan di restoran yang sama dengan kakak karena semua
orang pasti memandanginya seakan ingin memakannya aku sungguh sebal, sekarang
bahkan saat aku bersama denganmu hal itu juga terjadi .” Ucap Arini lagi
mencurahkan isi hatinya.
“ Hahahaha sudahlah nanti kalau kamu ke Mall lagi kita tutup
dulu untuk orang lain dan kamu bisa sesuka hati berbelanja tanpa perlu melihat
hal itu bagaimana yang mulia apakah kamu senang ?” Ucap Vico serius sambil
menatap Arini dan menangkupkan kedua tangannya pada wajah mungil Arini.
“ Huh jangan begitu, nanti perusahaanmu akan merugi jika
berhenti operasi hanya untukku.” Ucap Arini merasa tidak setuju dengan ide gila
Vico. Seakan dalam hati berkata Sultan bebas bisa berbuat sesuka hati bahkan
menutup Mall sebesar itu hanya untuk dirinya belanja kadang level keanehan Vico
meningkat jika sudah pamer kekuasaannya. Arini merasa suaminya kadang-kadang
terlalu berlebihan padanya untuk banyak hal.
“ Semua itu tidak penting, yang penting kamu bahagia itu hal
terpenting untukku Ar. Bilang saja padaku jika kamu ingin ke sana lagi untuk
berbelanja nanti aku akan minta Kim atur, atau jika kamu malas ke Mall orang
?” Vico seakan menganggap hal itu sangat mudah.
“ Benar Tuan, Nona bisa melakukan hal tersebut.” Ucap
sekretaris Kim dengan tetap Fokus dengan kemudinya.
Kedua orang ini memang selalu kompak dalam keanehannya,
kakak saja tidak seaneh ini dalam menanggapi hal seperti ini, Hah kadang aku
tidak sadar jika Vico memang bisa melakukan berbagai hal gila melampaui kakak. Batin Arini merasa aneh dengan keduanya.
“ Hah sudahlah.” Ucap Arini tidak mau memperpanjang masalah
itu. Tidak terasa kendaraan sekretaris Kim sudah memasuki halaman rumah Arini.
Arini yang sudah tidak sabar segera menggandeng Vico untuk masuk ke dalam
rumahnya. Dia juga meminta sekretaris Kim untuk ikut sekedar beristirahat di
dalam tapi sayang sekretaris Kim menolak dan berlalu kembali ke kediamannya.
Ting tong ting ton Suara bel rumah Arini berbunyi menandakan
ada tamu yang datang pelayan pun bergegas untuk membukakan pintu tersebut.
“ Non Arini den Vico silakan masuk.” Sambut pelayan yang
sudah bekerja bertahun-tahun itu.
“ Iya bi, mamah, papah dan kakak di mana ? Oiya ini oleh-oleh
untuk bibi dan yang lain ya ucap Arini memberikan tas berisi kue yang dia bawa
untuk pelayan yang selalu ada untuknya itu.
__ADS_1
“ Terima kasih non, Tuan Besar dan nyoya ada di ruang
keluarga den Putra belum pulang non.” Ucap pelayan tersebut lalu berjalan kembali
ke arah dapur. Sedang Arini segera berjalan menuju tempat yang disebutkan.
“ Mamah Papah Arini kangen kalian.” Arini terlihat langsung
menghambur pada kedua orang tuanya tersebut. Arini memeluk mamah dan papahnya
erat melampiaskan kerinduan dalam hatinya. Vico terlihat menjabat kedua tangan
mertua dan orang tua wanita yang dicintainya itu.
“ Bagaimana kabar kalian ? Aduh mamah sangat merindukanmu my
little princess.” Ucap mamah Arini yang sangat menyayangi putri yang kini sudah
menikah tetapi selalu menganggapnya sebagai putri kecilnya.
“ Baik mah, Oiya ini kue kesukaan kalian tadi Arini mampir
ke tempat biasa kita membelinya.” Ucap Arini sambil meletakkan kue tersebut di
atas meja.
“ Bagaimana Vic kabarmu ?” Tanya Papah Arini pada Vico.
“ Baik Om. “ Ucap Vico yang menjadi sedikit kaku dengan
kedua orang tua Arini itu.
“ Aduh jangan om dong kita kan sudah jadi keluarga panggil
mamah sama papah saja, kamu kan anak kita juga sekarang.” Mamah Arini yang
memang selalu ramah terlihat mencairkan suasana yang terasa canggung untuk Vico
tersebut, karena memang ini kedua kalinya dia berkunjung di rumah tersebut.
“ Iya, mah pah.” Ucap Vico yang merasa menyepakati projek
bernilai Triliyunan tidak semendebarkan ini. Dia baru sadar apa yang biasa
dikatakan orang lain dan dia kini baru mengalaminya.
“ Nah begitu dong, Oiya kalian menginap saja di sini ya
malam ini sampai beberapa hari mamah sangat rindu padamu my Little princess.”
Ucap mamah Arini yang selalu merindukan Arini sejak berpindah rumah itu,
Walaupun dulu Arini tinggal dengan kakek dan neneknya tapi orang tuannya setiap
minggu selalu berkunjung atau maksimal satu bulan sekali. Sekarang setelah
menikah hal itu sulit terjadi bahkan karena kesibukan masing-masing karena
anak-anak mereka sudah dewasa dan memiliki tanggung jawab masing-masing .
Jangan Lupa dukung HAPPY yaaa.
dengan Like
kasih komentar
favoritkan
kasih rate dan Vote ya...
Thank You
Happy Reading with Happy Blue
__ADS_1