My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Kuta


__ADS_3

“ Ayo kembali ke Hotel saja untuk makan.” Ajak Vico menarik


tangan Arini yang tengah duduk sambil menyalakan kipas portable untuk


menghilangkan gerah yang tengah melandanya.


“ Bukankah di sini terkenal dengan bebek bengil yang sangat


enak dan crispi ?” Tanya Arini masih belum beranjak sambil menatap Vico yang


berdiri memegang tangan kanannya.


“ Apakah benar Kim ?” Vico menatap sekretaris Kim yang


tengah duduk di bangku sebelah karena Vico memang tidak terlalu mengetahui


berbagai hal remeh kecuali perusahaan dan berbagai hal yang berhubungan dengan


grup mafianya.


“ Iya Tuan, apakah mau coba makan ke sana ?” Sekretaris Kim


yang semula duduk lalu berdiri mendekati Vico dan menjelaskan menu makanan di


restoran Bebek yang terkenal di Ubud tersebut.


“ MMMm.” Vico terlihat kembali menarik tangan Arini menuju


tempat parkir untuk pergi ke restoran yang mengolah bebek menjadi crispi yang


sangat nikmat itu.


Semua pengawal, Kim, Arini dan Vico menuju restoran


tersebut. Suasana restoran sangat kental dengan budaya bali, terdapat berbagai


sesaji di sudut-sudut tempat itu. Tempat makan tersebut juga sangat asri karena


memberikan pemandangan sawah yang tengah menghijau dengan gazebo-gazebo sebagai


tempat para tamu menikmati bebek krispi tersebut.


Terlihat sekretaris Kim memesankan makanan untuk pasangan


yang tengah bercanda ria dengan romantis di gazebo sambil sesekali menampilkan


keusilan satu sama lain membuat tidak hanya sekretaris Kim iri juga beberapa


pengawal yang melihat drama secara langsung tersebut.


Tidak beberapa lama semua hidangan sudah di hidangkan di


meja makan Arini dan Vico. Arini yang belum pernah memakan masakan tersebut


mencoba mengambil sedikit untuk mencobanya.


“ Wah ini sangat enak, cobalah AAAA.” Arini yang merasa


olahan bebek itu sangat enak memadukan bebek yang mendapat ramuan bumbu yang


meresap sampai ke dalam tulang karena sebelumnya direbus sebelum di goreng dan


rasa garing saat pertama menggigitnya dengan ditemani berbagai sambal khas bali


yaitu sambal mattah dan beberapa sambal tambahan membuatnya sangat bisa


memanjakan lidah. Arini mencoba menyuapkan makanan tersebut pada Vico. Terlihat


Vico yang selama ini juga tidak pernah memakan unggas satu ini terlihat


mengeryit karena tidak ingin memakannya karena mengetahui gaya hidup bebek yang


menurutnya jorok.


“ Nggak nggak kamu makan saja.” Vico yang sebelumnya ingin


membuka mulut mengurungkan niatnya dan menolak suapan Arini tersebut.


“ Enak coba dulu.” Arini tidak menyerah dengan penolakan


Vico tersebut. Terlihat dia beringsut menghindar sampai mencoba berdiri dan


pergi dari gazebonya.


“ Vico Coba.” Arini terlihat menurunkan alisnya dan cemberut


agar Vico menerima suapan dari tangannya tersebut. Akhirnya Vico memakan suapan

__ADS_1


dari Arini dan ternyata rasanya tidak seperti yang dia fikirkan cukup nyaman di


lidahnya tersebut.


“ Kenapa yang lain tidak ikut makan ?” Tanya Arini pada Vico


setelah memandang para pengawal dan sekretaris Kim yang hanya menyaksikan


mereka berdua menyantap olahan bebek tersebut.


“ Mereka kerja.” Jawab Vico sambil menikmati bebek bengil


dengan lahab bersama Arini.


Arini yang mendengar jawaban Vico lalu memanggil pelayan dan


meminta mereka juga menyajikan makanan pada para pengawal dan sekretaris Kim.


Semua terlihat senang dan kenyang setelah menyantap bebek


bengil tersebut. Arini, Vico dan rombongan akhirnya sudah kembali ke hotel


mereka untuk beristirahat.


“ Ar ?” Vico yang barusan keluar dari kamar mandi terlihat


mendekati Arini yang tengah mengeringkan rambutnya yang basah setelah


berkeramas menggunakan handuk putih.


“ Mmmm.” Arini hanya menoleh pada sosok Vico yang sudah


mulai memeluknya dari belakang.


Wajah keduanya pun sekarang sudah berhadap-hadapan dengan


lembut Vico mencium bibir Arini menyalurkan energi hangat pada seluruh tubuh


keduanya membuat mereka berharap lebih pada satu sama lain. Ciuman hangat


berpindah  Vico mencoba menyusuri leher


Arini yang jenjang dan putih bagai susu itu. Arini yang mulai terbiasa dengan


suaminya tersebut terlihat menikmati semua perlakuan dari Vico.


menggendongnya dengan posisi Arini masih duduk sambil masih tidak memindahkan


semua kecupan pada bibir dan leher Arini.


Meletakkan tubuh indah istrinya dengan lembut ke ranjang


dengan seprai warna putih. Keduanya yang memang masih belum berpakaian hanya


menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya mempermudah keduanya melakukan


hubungan menggairahkan tersebut.


Hanya dengan sekali tarik terlihatlah tubuh polos keduanya,


ranjang besar tersebut menjadi saksi bisu seberapa besar gairah keduanya


tersalur hingga akhirnya Vico yang sudah menyelesaikan aksinya terlihat sudah


lemas dan terbaring di samping Arini sambil tersenyum dan mengecup puncak


kepala Arini sambil memeluknya untuk beristirahat.


Kuta


Sesuai agenda yang sudah sekretaris Kim buatkan mereka kali ini


sudah berpindah ke daerah Pantai Kuta. Terlihat laut luas dengan warna biru dan


pantai pasir putih menjadi pemandangan saat Arini membuka pintu kamarnya. Karena


mereka memang menginap di ressort yang menghadap langsung keindahan pantai Kuta


tersebut.


Arini yang barusan tiba langsung menarik tangan Vico untuk


berjalan-jalan di pantai tersebut. Hawa panas karena terik tidak membuat Arini


mengurungkan niat keduanya berjalan-jalan di pasir putih tersebut.


Arini terlihat memakan mini dress warna putih dan Vico juga

__ADS_1


menggunakan jeans putih dan kaos putih oblong miliknya. Sekretaris Kim yang melihat


kedua tuannya pergi dia bergegas mengikuti mereka dari jarak dekat ditemani


rombongan pengawal yang juga berpakaian kasual sesuai instruksi nona mudanya


tersebut.


“ Vic, beli topi.” Arini melihat ada penjual topi pantai di


tepian pantai kemudian menarik Vico untuk mendekatinya lalu membeli sebuah topi


putih untuknya dan untuk Vico.


“ Apa kamu bisa surfing ?” Tanya Arini kala duduk di pasir


putih itu sambil melihat laut yang luas dengan deburan ombak di mana airnya


mengenai ujung kaki jenjangnya tersebut. Arini mengedarkan seluruh pandangannya


melihat banyak wisata asing yang berlalu lalang, ada yang berjemur, bermain


surfing, sekedar duduk dengan kursi panjang di temani kelapa muda.


“ Bisa.” Jawab Vico yang memang menguasai olah raga satu


itu. Arini yang mendengar hal itu meminta Vico melakukan surfing untuknya. Vico


pun melakukannya sedangkan Arini terlihat menikmati pertunjukan Vico sambil


beberapa kali memotretnya.


Tidak terasa senja mulai menampakkan warna orange yang


memanjakan mata. Vico dan Arini terlihat saling mencipratkan air satu sama lain


hingga baju mereka sudah tidak ada lagi bagian yang kering.


Masa pacaran setelah menikah terlihat sangat menyenangkan,


di tengah semua tugas kantor mereka masing-masing terlihat hilang saat keduanya


menikmati waktu sama lain.


Semua para surfer yang sebelumnya mencoba menikmati ombak


berangsur sudah menepi, semua orang terlihat duduk menikmati suasanya senja di


pulau Dewata tersebut.


Arini dan Vico pun juga terlihat duduk sambil memandang


keindahan alam yang tersaji dari terbenamnya matahari di ujung laut tersebut.


Keduanya saling menggenggam tangan dan melemparkan senyuman kebahagiaan satu


sama lain. Sekretaris Kim yang hanya bagaikan pohon kelapa tak memiliki narasi


untuk diucapkan pun juga menikmati pemandangan senja itu bersama rombongan pengawalnya.


Tidak terasa surya mulai kembali ke peraduannya menyisakan


separuh bagian di ujung birunya laut yang berubah keorennan, Vico menarik dagu


istrinya dan menciumnya lembut menyalurkan seberapa cintanya pada istrinya yang


sebelumnya kaku bagaikan tembok berangsur bagaikan air yang selalu mendinginkan


hatinya.


Sekretaris Kim mengambil ponsel miliknya dan memotret momen


tersebut.


Sepertinya memiliki pasangan membuat kita sangat bahagia,


Tuan Vico yang selalu bermuka dingin bisa berubah hangat dan selalu tersenyum,


Apakah suatu hari aku juga bisa, Oma Appa Kim sangat bahagia sekarang bisa


bertemu dengan Tuan Vico terima kasih sudah menitipkan Kim pada keluarga


Marleno. Batin sekretaris Kim mengingat kedua orang tuannya yang sudah


tidak bisa ia temui di dunia ini tersebut. Setetes bening jatuh dari pelupuk


mata kecoklatan miliknya sambil seulas senyuman terpasang pada bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2