
“ Ayo kembali ke Hotel saja untuk makan.” Ajak Vico menarik
tangan Arini yang tengah duduk sambil menyalakan kipas portable untuk
menghilangkan gerah yang tengah melandanya.
“ Bukankah di sini terkenal dengan bebek bengil yang sangat
enak dan crispi ?” Tanya Arini masih belum beranjak sambil menatap Vico yang
berdiri memegang tangan kanannya.
“ Apakah benar Kim ?” Vico menatap sekretaris Kim yang
tengah duduk di bangku sebelah karena Vico memang tidak terlalu mengetahui
berbagai hal remeh kecuali perusahaan dan berbagai hal yang berhubungan dengan
grup mafianya.
“ Iya Tuan, apakah mau coba makan ke sana ?” Sekretaris Kim
yang semula duduk lalu berdiri mendekati Vico dan menjelaskan menu makanan di
restoran Bebek yang terkenal di Ubud tersebut.
“ MMMm.” Vico terlihat kembali menarik tangan Arini menuju
tempat parkir untuk pergi ke restoran yang mengolah bebek menjadi crispi yang
sangat nikmat itu.
Semua pengawal, Kim, Arini dan Vico menuju restoran
tersebut. Suasana restoran sangat kental dengan budaya bali, terdapat berbagai
sesaji di sudut-sudut tempat itu. Tempat makan tersebut juga sangat asri karena
memberikan pemandangan sawah yang tengah menghijau dengan gazebo-gazebo sebagai
tempat para tamu menikmati bebek krispi tersebut.
Terlihat sekretaris Kim memesankan makanan untuk pasangan
yang tengah bercanda ria dengan romantis di gazebo sambil sesekali menampilkan
keusilan satu sama lain membuat tidak hanya sekretaris Kim iri juga beberapa
pengawal yang melihat drama secara langsung tersebut.
Tidak beberapa lama semua hidangan sudah di hidangkan di
meja makan Arini dan Vico. Arini yang belum pernah memakan masakan tersebut
mencoba mengambil sedikit untuk mencobanya.
“ Wah ini sangat enak, cobalah AAAA.” Arini yang merasa
olahan bebek itu sangat enak memadukan bebek yang mendapat ramuan bumbu yang
meresap sampai ke dalam tulang karena sebelumnya direbus sebelum di goreng dan
rasa garing saat pertama menggigitnya dengan ditemani berbagai sambal khas bali
yaitu sambal mattah dan beberapa sambal tambahan membuatnya sangat bisa
memanjakan lidah. Arini mencoba menyuapkan makanan tersebut pada Vico. Terlihat
Vico yang selama ini juga tidak pernah memakan unggas satu ini terlihat
mengeryit karena tidak ingin memakannya karena mengetahui gaya hidup bebek yang
menurutnya jorok.
“ Nggak nggak kamu makan saja.” Vico yang sebelumnya ingin
membuka mulut mengurungkan niatnya dan menolak suapan Arini tersebut.
“ Enak coba dulu.” Arini tidak menyerah dengan penolakan
Vico tersebut. Terlihat dia beringsut menghindar sampai mencoba berdiri dan
pergi dari gazebonya.
“ Vico Coba.” Arini terlihat menurunkan alisnya dan cemberut
agar Vico menerima suapan dari tangannya tersebut. Akhirnya Vico memakan suapan
__ADS_1
dari Arini dan ternyata rasanya tidak seperti yang dia fikirkan cukup nyaman di
lidahnya tersebut.
“ Kenapa yang lain tidak ikut makan ?” Tanya Arini pada Vico
setelah memandang para pengawal dan sekretaris Kim yang hanya menyaksikan
mereka berdua menyantap olahan bebek tersebut.
“ Mereka kerja.” Jawab Vico sambil menikmati bebek bengil
dengan lahab bersama Arini.
Arini yang mendengar jawaban Vico lalu memanggil pelayan dan
meminta mereka juga menyajikan makanan pada para pengawal dan sekretaris Kim.
Semua terlihat senang dan kenyang setelah menyantap bebek
bengil tersebut. Arini, Vico dan rombongan akhirnya sudah kembali ke hotel
mereka untuk beristirahat.
“ Ar ?” Vico yang barusan keluar dari kamar mandi terlihat
mendekati Arini yang tengah mengeringkan rambutnya yang basah setelah
berkeramas menggunakan handuk putih.
“ Mmmm.” Arini hanya menoleh pada sosok Vico yang sudah
mulai memeluknya dari belakang.
Wajah keduanya pun sekarang sudah berhadap-hadapan dengan
lembut Vico mencium bibir Arini menyalurkan energi hangat pada seluruh tubuh
keduanya membuat mereka berharap lebih pada satu sama lain. Ciuman hangat
berpindah Vico mencoba menyusuri leher
Arini yang jenjang dan putih bagai susu itu. Arini yang mulai terbiasa dengan
suaminya tersebut terlihat menikmati semua perlakuan dari Vico.
menggendongnya dengan posisi Arini masih duduk sambil masih tidak memindahkan
semua kecupan pada bibir dan leher Arini.
Meletakkan tubuh indah istrinya dengan lembut ke ranjang
dengan seprai warna putih. Keduanya yang memang masih belum berpakaian hanya
menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya mempermudah keduanya melakukan
hubungan menggairahkan tersebut.
Hanya dengan sekali tarik terlihatlah tubuh polos keduanya,
ranjang besar tersebut menjadi saksi bisu seberapa besar gairah keduanya
tersalur hingga akhirnya Vico yang sudah menyelesaikan aksinya terlihat sudah
lemas dan terbaring di samping Arini sambil tersenyum dan mengecup puncak
kepala Arini sambil memeluknya untuk beristirahat.
Kuta
Sesuai agenda yang sudah sekretaris Kim buatkan mereka kali ini
sudah berpindah ke daerah Pantai Kuta. Terlihat laut luas dengan warna biru dan
pantai pasir putih menjadi pemandangan saat Arini membuka pintu kamarnya. Karena
mereka memang menginap di ressort yang menghadap langsung keindahan pantai Kuta
tersebut.
Arini yang barusan tiba langsung menarik tangan Vico untuk
berjalan-jalan di pantai tersebut. Hawa panas karena terik tidak membuat Arini
mengurungkan niat keduanya berjalan-jalan di pasir putih tersebut.
Arini terlihat memakan mini dress warna putih dan Vico juga
__ADS_1
menggunakan jeans putih dan kaos putih oblong miliknya. Sekretaris Kim yang melihat
kedua tuannya pergi dia bergegas mengikuti mereka dari jarak dekat ditemani
rombongan pengawal yang juga berpakaian kasual sesuai instruksi nona mudanya
tersebut.
“ Vic, beli topi.” Arini melihat ada penjual topi pantai di
tepian pantai kemudian menarik Vico untuk mendekatinya lalu membeli sebuah topi
putih untuknya dan untuk Vico.
“ Apa kamu bisa surfing ?” Tanya Arini kala duduk di pasir
putih itu sambil melihat laut yang luas dengan deburan ombak di mana airnya
mengenai ujung kaki jenjangnya tersebut. Arini mengedarkan seluruh pandangannya
melihat banyak wisata asing yang berlalu lalang, ada yang berjemur, bermain
surfing, sekedar duduk dengan kursi panjang di temani kelapa muda.
“ Bisa.” Jawab Vico yang memang menguasai olah raga satu
itu. Arini yang mendengar hal itu meminta Vico melakukan surfing untuknya. Vico
pun melakukannya sedangkan Arini terlihat menikmati pertunjukan Vico sambil
beberapa kali memotretnya.
Tidak terasa senja mulai menampakkan warna orange yang
memanjakan mata. Vico dan Arini terlihat saling mencipratkan air satu sama lain
hingga baju mereka sudah tidak ada lagi bagian yang kering.
Masa pacaran setelah menikah terlihat sangat menyenangkan,
di tengah semua tugas kantor mereka masing-masing terlihat hilang saat keduanya
menikmati waktu sama lain.
Semua para surfer yang sebelumnya mencoba menikmati ombak
berangsur sudah menepi, semua orang terlihat duduk menikmati suasanya senja di
pulau Dewata tersebut.
Arini dan Vico pun juga terlihat duduk sambil memandang
keindahan alam yang tersaji dari terbenamnya matahari di ujung laut tersebut.
Keduanya saling menggenggam tangan dan melemparkan senyuman kebahagiaan satu
sama lain. Sekretaris Kim yang hanya bagaikan pohon kelapa tak memiliki narasi
untuk diucapkan pun juga menikmati pemandangan senja itu bersama rombongan pengawalnya.
Tidak terasa surya mulai kembali ke peraduannya menyisakan
separuh bagian di ujung birunya laut yang berubah keorennan, Vico menarik dagu
istrinya dan menciumnya lembut menyalurkan seberapa cintanya pada istrinya yang
sebelumnya kaku bagaikan tembok berangsur bagaikan air yang selalu mendinginkan
hatinya.
Sekretaris Kim mengambil ponsel miliknya dan memotret momen
tersebut.
Sepertinya memiliki pasangan membuat kita sangat bahagia,
Tuan Vico yang selalu bermuka dingin bisa berubah hangat dan selalu tersenyum,
Apakah suatu hari aku juga bisa, Oma Appa Kim sangat bahagia sekarang bisa
bertemu dengan Tuan Vico terima kasih sudah menitipkan Kim pada keluarga
Marleno. Batin sekretaris Kim mengingat kedua orang tuannya yang sudah
tidak bisa ia temui di dunia ini tersebut. Setetes bening jatuh dari pelupuk
mata kecoklatan miliknya sambil seulas senyuman terpasang pada bibirnya.
__ADS_1