
Zian terlihat menyeringai puas karena berhasil membuat kedua
orang berpengaruh itu terlihat lemas tak berdaya. Dia pun lalu merogoh koceknya
dan mengambil benda pipih untuk menghubungi seseorang.
“ Sudah beres, cepatlah ke sini.” Pinta Zian pada seseorang
yang tengah dia hubungi.
Vico dan sekretaris Kim pun di bawa ke sebuah bangunan tua
dengan semua tangannya sudah terikat pada kursi coklat.
Merasa Tuannya tak kunjung kembali pengawal yang semula
berada di lokasi parkir menunggu sekretaris Kim dan Vico berjalan mencari kedua
orang yang ditunggunya tersebut. Merasa tidak menemukannya dia lalu menghubungi
seseorang.
Gedung tua tempat penyekapan.
“ Tuan Vico yang selalu berkuasa saat ini terlihat sangat
lemah ya .” Zian terlihat menyeringai dan tertawa mengejek melihat Vico dan
sekretaris Kim yang tengah terikat tersebut.
“ Zian kamu salah.” Vico yang sudah mengetahui rencana Zian
memberikan kode ke anak buahnya yang sudah diinstruksikan menghabisi semua anak
buah Zian untuk meringkus tikus got yang berani menghianatinya tersebut.
“ Hah bagaimana kamu bisa sadar secepat ini.” Zian terlihat
panik karena seharusnya Vico masih dalam kondisi tidak sadar selama 8 jam
sedangkan ini baru 30 menit obat tersebut bereaksi. Dia terlihat memberontak
kala orang yang dia kira menjadi anak buahnya tersebut meringkusnya dan
mengikatnya pada kursi yang sama dengan Vico dan sekretaris Kim.
“ Kim bereskan orang ini.” Ucap Vico pada sekretaris Kim
sambil menyeringai dan berdiri hendak meninggalkan bangunan yang terlihat
sangat kotor tersebut.
“ Jika kamu membereskanku kamu tidak akan mendapat informasi
yang berguna.” Zian mencoba menawar tentang apa yang akan dia terima dari semua
anak buah Vico tersebut.
“ Informasi yang berguna ? Orang yang akan mati tidak perlu
menggertakku.” Vico yang sudah muak dengan Zian sejak pertama bertemu tetap
kembali melangkahkan kakinya pergi meninggalkan bangunan tersebut.
“ Istrimu.” Teriak Zian kencang agar Vico dapat
mendengarnya, karena menurut rumor Vico sudah memiliki istri dan dialah
kelemahan terbesar pada diri Vico yang selalu berwajah dingin dan tidak kenal
ampun itu.
Vico yang mendengar kata istri pun kembali berbalik arah dan
mendekati Zian yang tengah terduduk dengan wajah babak belur karena ulah anak
buah Vico tersebut.
“ Apa ?” Vico menarik dagu Zia kasar sambil berucap pelan
dan tegas dengan tatapan tajam bagaikan pedang yang pasti sudah membunuh banyak
__ADS_1
orang jika ditebaskan.
“ Kamu harus melepaskanku dahulu, aku akan memberitahumu.”
Zian mencoba menawar informasi yang dia miliki dengan kebebasan dirinya.
“ He,,” Vico tertawa mengejek dengan seringai bak iblis yang
keluar dari neraka terdalam sambil menatap tajam wajah Zian dan menghempaskan
tangannya dari dagu runcing Zian dan kembali akan meninggalkan Zian.
“ Berhenti, aku serius.” Zian mencoba menegaskan bahwa
informasinya sangat penting untuk Vico.
“ Kamu bicara atau tidak kamu akan tetap binasa, jadi cepat
ucapkan.” Vico berbalik lalu menendang dada Zian hingga dia terjungkir ke
belakang disertai kursi coklat tempat duduknya. Vico yang memang selalu tidak
sabar jika berurusan dengan penghianat membuatnya sangat geram dengan tingkah
Zian yang tidak penting itu.
“ Lepaskan aku, kamu pasti tidak akan menyesal menukarnya
dengan informasi ini.” Zian yang tengah ketakutan melihat tingkah Vico yang
bagaikan monster pembunuh itu mencoba menenangkan diri dan bernegosiasi dengan
Vico.
Dasar bodoh lebih baik segera ucapkan, syukur-syukur tuan
akan mengurangi siksaannya padamu malah bernegosiasi. Batin Sekretaris Kim
yang menonton adegan kemarahan Vico tersebut karena menyebutkan soal istrinya.
“ Bagaimana jika aku hancurkan keluargamu juga ?” Vico
mencoba memberikan tawaran yang lebih menarik pada Zian.
pengalih perhatianmu saja istrimu dalam bahaya.” Zian mencoba berkata cepat
karena tahu jika Vico tidak pernah main-main dengan ucapan sadisnya tersebut.
Vico yang mendengar hal tersebut lalu mengambil benda pipih
miliknya dan menghubungi Zack yang dia suruh menjaga istrinya. Beberapa
panggilan yang dia lakukan mendapat penolakan dari Zack bahkan terakhir
nomornya tidak lagi aktif.
Vico yang geram mencoba meminta sekretaris Kim menghubungi
pengawal lain yang menjaga Arini tetapi semuanya percuma karena tidak ada satu
pun yang dapat di hubungi.
Vico lalu mencoba menghubungi istrinya tersebut berkali-kali
tetapi juga nihil tidak mendapat informasi sama sekali. Informasi terakhir yang
di dapat dari Hotel adalah Arini meninggalkan Hotel dengan rombongan pengawal.
“ Sialan, aku salah taktik.” Umpat Vico sambil menendang
kursi di depannya hingga terbentur tembok dan hancur.
“ Bereskan dia sekarang, Kim ayo pergi.” Vico memberi kode
ke anak buahnya lalu bergegas berlari dengan sekretaris Kim untuk meninggalkan
Bangunan Tua yang sudah tidak terpakai itu menuju hotel miliknya tersebut dan
mencari petunjuk kepergian Arini.
“ Kim lacak Arini dengan GPS yang kemarin aku minta kamu
__ADS_1
pasang pada kalung Arini.” Perintah Vico pada sekretaris Kim.
Flash Back
Malam sebelum kejadian setelah acara makan malam mereka
berada di dalam kamar Hotel sudah menyelesaikan mandinya masing-masing dan
tengah memangku leptopnya masing-masing mengontrol pekerjaan para anak buahnya.
Terlihat Vico menutup leptop miliknya dan menaruhnya di atas
nakas.
“ Ar ke sinilah!” Perintah Vico agar Arini mendekatinya yang
sedang duduk di sofa. Arini yang sebelumnya terlihat sibuk dengan benda persegi
panjang itu kemudian mematikannya dan mengembalikan pada tempatnya lalu
melangkahkan kaki miliknya mendekati Vico.
“ Ada apa ?” Arini yang sudah duduk di samping Vico menatap
Vico yang tengah tersenyum manis itu. Vico lalu mencoba menyalipkan rambut-rambut
pendek yang tengah berurai di wajah cantik Arini.
Dengan gaya bagaikan pesulap dia membaut seolah-olah liontin
dengan bentuk bunga kecil di tengahnya tersebut tiba-tiba sudah ada di
genggaman tangannya.
Arini mencoba terlihat terkejut. “ Bagaimana kamu
melakukannya ?” sambil kedua tangan dan ekspresi yang sangat mencolok jika dia
sudah mengetahui hal tersebut membuat wajah Vico yang semula semringah karena
ingin memberi kejutan kembali lesu.
“ Aku kira kamu akan terkejut.” Vico terlihat cemberut
karena gagal dengan acara sulap menyulap itu.
“ Ayolah aku tetap senang dengan kejutanmu itu, maaf karena
aku sudah pernah mempelajari tipuan ini sebelumnya jadi aku sudah
mengetahuinya.” Arini menangkup wajah Vico dengan kedua tangannya agar Vico
kembali senang dengan seulas senyum manisnya rayuan itu berhasil pada sosok
Vico yang keras kepala itu.
“ Apa kamu menyukainya ?” Tanya Vico kembali ke topik
liontin yang tengah dia pegang di tangan kanannya tersebut.
“ Iya aku menyukainya, sangat lucu dan indah.” Arini menatap
benda dengan hiasan bunga kecil di tengahnya tersebut membuat Arini sangat
senang. Sambil tangan kanannya menyentuh liontin tersebut pelan.
“ Aku akan memakaikannya padamu, ingat apa pun yang terjadi
jangan melepaskannya!” Perintah Vico lalu memasangkan hadiah darinya tersebut
pada leher jenjang dan putih milik Arini.
Liontin tersebut sangat spesial karena di desain langsung
oleh seorang seniman yang terkenal dengan disematkan chip gps pada bagian
berliannya sehingga akan mempermudah melacak keberadaan Arini.
Vico merencanakan membuat liontin tersebut karena takut jika
terjadi sesuatu pada Arini jika sedang tidak bersamanya, selain karena berbagai
__ADS_1
ancaman dari rekan bisnisnya dia juga tidak ingin geng mafia lain mencoba
mencelakai Arini.