My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Penghianatan


__ADS_3

Zian terlihat menyeringai puas karena berhasil membuat kedua


orang berpengaruh itu terlihat lemas tak berdaya. Dia pun lalu merogoh koceknya


dan mengambil benda pipih untuk menghubungi seseorang.


“ Sudah beres, cepatlah ke sini.” Pinta Zian pada seseorang


yang tengah dia hubungi.


Vico dan sekretaris Kim pun di bawa ke sebuah bangunan tua


dengan semua tangannya sudah terikat pada kursi coklat.


Merasa Tuannya tak kunjung kembali pengawal yang semula


berada di lokasi parkir menunggu sekretaris Kim dan Vico berjalan mencari kedua


orang yang ditunggunya tersebut. Merasa tidak menemukannya dia lalu menghubungi


seseorang.


Gedung tua tempat penyekapan.


“ Tuan Vico yang selalu berkuasa saat ini terlihat sangat


lemah ya .” Zian terlihat menyeringai dan tertawa mengejek melihat Vico dan


sekretaris Kim yang tengah terikat tersebut.


“ Zian kamu salah.” Vico yang sudah mengetahui rencana Zian


memberikan kode ke anak buahnya yang sudah diinstruksikan menghabisi semua anak


buah Zian untuk meringkus tikus got yang berani menghianatinya tersebut.


“ Hah bagaimana kamu bisa sadar secepat ini.” Zian terlihat


panik karena seharusnya Vico masih dalam kondisi tidak sadar selama 8 jam


sedangkan ini baru 30 menit obat tersebut bereaksi. Dia terlihat memberontak


kala orang yang dia kira menjadi anak buahnya tersebut meringkusnya dan


mengikatnya pada kursi yang sama dengan Vico dan sekretaris Kim.


“ Kim bereskan orang ini.” Ucap Vico pada sekretaris Kim


sambil menyeringai dan berdiri hendak meninggalkan bangunan yang terlihat


sangat kotor tersebut.


“ Jika kamu membereskanku kamu tidak akan mendapat informasi


yang berguna.” Zian mencoba menawar tentang apa yang akan dia terima dari semua


anak buah Vico tersebut.


“ Informasi yang berguna ? Orang yang akan mati tidak perlu


menggertakku.” Vico yang sudah muak dengan Zian sejak pertama bertemu tetap


kembali melangkahkan kakinya pergi meninggalkan bangunan tersebut.


“ Istrimu.” Teriak Zian kencang agar Vico dapat


mendengarnya, karena menurut rumor Vico sudah memiliki istri dan dialah


kelemahan terbesar pada diri Vico yang selalu berwajah dingin dan tidak kenal


ampun itu.


Vico yang mendengar kata istri pun kembali berbalik arah dan


mendekati Zian yang tengah terduduk dengan wajah babak belur karena ulah anak


buah Vico tersebut.


“ Apa ?” Vico menarik dagu Zia kasar sambil berucap pelan


dan tegas dengan tatapan tajam bagaikan pedang yang pasti sudah membunuh banyak

__ADS_1


orang jika ditebaskan.


“ Kamu harus melepaskanku dahulu, aku akan memberitahumu.”


Zian mencoba menawar informasi yang dia miliki dengan kebebasan dirinya.


“ He,,” Vico tertawa mengejek dengan seringai bak iblis yang


keluar dari neraka terdalam sambil menatap tajam wajah Zian dan menghempaskan


tangannya dari dagu runcing Zian dan kembali akan meninggalkan Zian.


“ Berhenti, aku serius.” Zian mencoba menegaskan bahwa


informasinya sangat penting untuk Vico.


“ Kamu bicara atau tidak kamu akan tetap binasa, jadi cepat


ucapkan.” Vico berbalik lalu menendang dada Zian hingga dia terjungkir ke


belakang disertai kursi coklat tempat duduknya. Vico yang memang selalu tidak


sabar jika berurusan dengan penghianat membuatnya sangat geram dengan tingkah


Zian yang tidak penting itu.


“ Lepaskan aku, kamu pasti tidak akan menyesal menukarnya


dengan informasi ini.” Zian yang tengah ketakutan melihat tingkah Vico yang


bagaikan monster pembunuh itu mencoba menenangkan diri dan bernegosiasi dengan


Vico.


Dasar bodoh lebih baik segera ucapkan, syukur-syukur tuan


akan mengurangi siksaannya padamu malah bernegosiasi. Batin Sekretaris Kim


yang menonton adegan kemarahan Vico tersebut karena menyebutkan soal istrinya.


“ Bagaimana jika aku hancurkan keluargamu juga ?” Vico


mencoba memberikan tawaran yang lebih menarik pada Zian.


pengalih perhatianmu saja istrimu dalam bahaya.” Zian mencoba berkata cepat


karena tahu jika Vico tidak pernah main-main dengan ucapan sadisnya tersebut.


Vico yang mendengar hal tersebut lalu mengambil benda pipih


miliknya dan menghubungi Zack yang dia suruh menjaga istrinya. Beberapa


panggilan yang dia lakukan mendapat penolakan dari Zack bahkan terakhir


nomornya tidak lagi aktif.


Vico yang geram mencoba meminta sekretaris Kim menghubungi


pengawal lain yang menjaga Arini tetapi semuanya percuma karena tidak ada satu


pun yang dapat di hubungi.


Vico lalu mencoba menghubungi istrinya tersebut berkali-kali


tetapi juga nihil tidak mendapat informasi sama sekali. Informasi terakhir yang


di dapat dari Hotel adalah Arini meninggalkan Hotel dengan rombongan pengawal.


“ Sialan, aku salah taktik.” Umpat Vico sambil menendang


kursi di depannya hingga terbentur tembok dan hancur.


“ Bereskan dia sekarang, Kim ayo pergi.” Vico memberi kode


ke anak buahnya lalu bergegas berlari dengan sekretaris Kim untuk meninggalkan


Bangunan Tua yang sudah tidak terpakai itu menuju hotel miliknya tersebut dan


mencari petunjuk kepergian Arini.


“ Kim lacak Arini dengan GPS yang kemarin aku minta kamu

__ADS_1


pasang pada kalung Arini.” Perintah Vico pada sekretaris Kim.


Flash Back


Malam sebelum kejadian setelah acara makan malam mereka


berada di dalam kamar Hotel sudah menyelesaikan mandinya masing-masing dan


tengah memangku leptopnya masing-masing mengontrol pekerjaan para anak buahnya.


Terlihat Vico menutup leptop miliknya dan menaruhnya di atas


nakas.


“ Ar ke sinilah!” Perintah Vico agar Arini mendekatinya yang


sedang duduk di sofa. Arini yang sebelumnya terlihat sibuk dengan benda persegi


panjang itu kemudian mematikannya dan mengembalikan pada tempatnya lalu


melangkahkan kaki miliknya mendekati Vico.


“ Ada apa ?” Arini yang sudah duduk di samping Vico menatap


Vico yang tengah tersenyum manis itu. Vico lalu mencoba menyalipkan rambut-rambut


pendek yang tengah berurai di wajah cantik Arini.


Dengan gaya bagaikan pesulap dia membaut seolah-olah liontin


dengan bentuk bunga kecil di tengahnya tersebut tiba-tiba sudah ada di


genggaman tangannya.


Arini mencoba terlihat terkejut. “ Bagaimana kamu


melakukannya ?” sambil kedua tangan dan ekspresi yang sangat mencolok jika dia


sudah mengetahui hal tersebut membuat wajah Vico yang semula semringah karena


ingin memberi kejutan kembali lesu.


“ Aku kira kamu akan terkejut.” Vico terlihat cemberut


karena gagal dengan acara sulap menyulap itu.


“ Ayolah aku tetap senang dengan kejutanmu itu, maaf karena


aku sudah pernah mempelajari tipuan ini sebelumnya jadi aku sudah


mengetahuinya.” Arini menangkup wajah Vico dengan kedua tangannya agar Vico


kembali senang dengan seulas senyum manisnya rayuan itu berhasil pada sosok


Vico yang keras kepala itu.


“ Apa kamu menyukainya ?” Tanya Vico kembali ke topik


liontin yang tengah dia pegang di tangan kanannya tersebut.


“ Iya aku menyukainya, sangat lucu dan indah.” Arini menatap


benda dengan hiasan bunga kecil di tengahnya tersebut membuat Arini sangat


senang. Sambil tangan kanannya menyentuh liontin tersebut pelan.


“ Aku akan memakaikannya padamu, ingat apa pun yang terjadi


jangan melepaskannya!” Perintah Vico lalu memasangkan hadiah darinya tersebut


pada leher jenjang dan putih milik Arini.


Liontin tersebut sangat spesial karena di desain langsung


oleh seorang seniman yang terkenal dengan disematkan chip gps pada bagian


berliannya sehingga akan mempermudah melacak keberadaan Arini.


Vico merencanakan membuat liontin tersebut karena takut jika


terjadi sesuatu pada Arini jika sedang tidak bersamanya, selain karena berbagai

__ADS_1


ancaman dari rekan bisnisnya dia juga tidak ingin geng mafia lain mencoba


mencelakai Arini.


__ADS_2