
“ Selamat siang nona Arini.” Ucap Putra berada di pintu
masuk ruangan Arini. Dan melihat Arini sedang sibuk menyiapkan beberapa desain
untuk kliennya.
Arini yang merasa tidak asing dengan suara itu lalu mencari
asal suara itu.
“ Kakak.” Teriak Arini lalu menghambur memeluk kakaknya
tersebut.
“ Kakak kenapa pulang lebih awal, ayo duduk kak Arini
kangen, Arini tidak bisa kemana-mana kalau kakak di Belanda, O iya Kakek
bagaimana kabarnya, ada masalah serius di sana , kabar kakak bagaimana ?” Ucap Arini
tidak memberi jeda Putra menjawab.
“ Satu-satu ya dek kalau bertanya, kakak kan bingung
jawabnya.” Ucap Putra menahan kesal akan pertanyaan beruntun yang adiknya
berikan.
“ Iya kak, Kenapa kakak pulang lebih awal ?” Tanya Arini
penasaran akan kepulangan Putra tersebut.
“ Karena adik yang paling menyebalkan kakak mau menikah,
masa kakak melewatkan momen sekali seumur hidup kamu begitu saja.” Ucap Putra.
Arini tersenyum mendengar itu.
“ Kakek di sana sehat dan baik-baik saja, kabar kakak
seperti yang kamu lihat juga baik-baik saja, O iya dek kamu tidak dipaksa
papah kan untuk menikah ?” Tanya Kakak Arini
“ Tidak kak, Arini memutuskan sendiri.” Jawab Arini sambil
menggelengkan kepalanya.
“ Apa kamu terpaksa, jika iya kamu bisa membatalkannya
sebelum terlambat dek, kakak tidak mau melihat kamu sedih menikah dengan orang
yang tidak kamu cintai.” Ucap Putra penuh perhatian pada adik kesayangannya
itu.
“ Kakak selama ini papah selalu menuruti apa pun yang Arini
lakukan, Papah juga tidak pernah meminta Arini melakukan apa pun, Papah selalu
mendukung Arini selama hal itu membuat Arini bahagia, sekarang karena itu
permintaan Papah Arini ingin membuat Papah bahagia kak.” Ucap Arini menjelaskan
sambil terlihat butiran bening menetes dari pelupuk matanya.
“ Adik kakak cepat sekali dewasanya.” Ucap Putra yang merasa
tersentuh dengan penjelasan adik kesayangannya itu.
“ Tapi dek ini masa depan kamu lho, Papah juga berharap kamu
bahagia menjalani kehidupan pernikahan kamu, begitu pun kakak.” Ucap Putra yang
memang terlalu sayang dengan Arini
“ Iya Kak, Arini akan bahagia, kakak tenang saja, selain itu
ini kan bukan hal yang dilarang agama, Arini menjalankan syariat islam karena
Arini memang sudah siap untuk itu.” Ucap Arini yang masih berada di pelukan
__ADS_1
Putra.
“Nona Arini” Tiba-tiba Vivi masuk ke ruangan Arini tanpa
mengetuk pintu dan melihat atasannya dengan pria tampan sedang berpelukan. Dia
tadi sedang di mushola saat putra masuk sehingga tidak tahu kedatangan putra
tersebut.
“ Maaf nona silahkan dilanjutkan saya permisi.” Ucap Vivi
lalu pergi
“Siapa pria tampan tadi ya apakah kekasih nona Arini.”
Gumamnya saat sudah duduk di mejanya.
“ Karyawanmu tidak sopan sekali Arini, masuk tanpa mengetuk
pintu.” Ucap Putra yang merasa terganggu dengan hal itu.
“ Vivi mungkin tidak tahu kakak ada disini, biasanya dia
mengetuk pintu kok kak.” Ucap Arini membela sekretarisnya.
“ Bagaimana kalau kita makan siang dulu ?” Ajak Putra
melupakan kejadian tadi.
“ Oke kak sebentar Arini ambil tas dan kunci mobil dulu.”
Ucap Arini dan bergegas mengambil barang-barangnya.
“Tidak perlu ada Pak Jukri bareng dengan kakak saja nanti
kakak antar kamu ke kantor lagi.” Ucap Putra lalu berdiri menunggu Arini.
“ Oke.” Lalu mereka berdua pun pergi meninggalkan ruangan
Arini.
“ Vivi aku pergi dulu ya.” Pamit Arini pada Vivi
canggung dengan kejadian tadi.
Arini menggandeng kakaknya dan berlalu melewati lobi menuju
mobilnya.
“ Itu lihatkan tampan dan manco bukan pria yang aku
ceritakan tadi ?” Ucap resepsionis yang masih belum bisa move on dengan Putra.
“ Iya serasi sekali dengan nona. Cantik dan tampan.” Ucap
resepsionis di sebelahnya.
Rumah Vico
“ Pah pernikahannya akan tetap berlangsung ?” Tanya mamah
Vico yang ingin pernikahan itu di batalkan.
“ Iya.” Jawab Pak Marco singkat.
“ Pah mamah tidak setuju dengan perjodohan itu, Arini bukan
wanita baik-baik, Vico juga tidak menyukainya sampai dia berani tidak pulang ke
rumah kemarin.” Ucap Mamah Vico memanas-manasi suaminya
“ Mah, mamah percaya keputusan papah kan ?” Tanya Pak Marco
yang sedikit kesal dengan pemikiran istrinya itu.
“ Untuk yang lain mamah percaya pah tapi untuk hal ini mamah
tidak.” Jawab Mamah Vico jujur.
“ Mah selama itu apa papah tidak memilihkan hal yang baik
__ADS_1
untuk Vico ?” Tanya Pak Marco agar istrinya dapat menghentikan keinginannya
itu.
“ Tidak pah, Tapi pah mamah melihat kalau Arini memiliki
banyak teman pria.” Ucapnya yang tidak mau keinginannya gagal.
“ Mah sudah ya, Papah tidak mau berdebat lagi.” Ucap Pak
Marco
“ Pah, sekali ini saja turuti keinginan mamah untuk Vico.”
Ucap Mamah Vico lagi
“ Mah besok Vico dan Arini akan menikah, keputusan sudah
final tidak ada pembatalan, dan satu lagi ya mah, mamah jangan membuat ulah
dengan pernikahan besok.” Ucap Pak Marco dengan sorot mata tajam kepada
istrinya dan tidak mau didebat lagi masalah itu.
“ Baiklah Pah.” Jawab mamah Vico Pasrah melihat tatapan
tajam suaminya yang tidak mungkin lagi dia bantah.
Awas saja, setelah menjadi istri Vico kamu tidak akan
hidup nyaman di rumah ini, iya aku tidak menolak sekarang dan tidak membuat
masalah besok, tapi aku akan membuat mereka berpisah saat sudah menikah. Batin mamah Vico merencanakan rencana jahat pada menantunya.
Hari Pernikahan
Terlihat Arini sangat cantik di depan cermin telah menggunakan
kebaya adat jawa, rambut disanggul dan polesan make up yang sangat cocok
memperlihatkan aura yang memancar dan memikat setiap pria yang menatapnya.
Terlihat dia meneteskan air mata saat dia melihat gambar diri di cermin.
“ Ya Allah SWT berkahilah pernikahan ini, berikan Arini
kesabaran dan kebahagiaan dengan keputusan ini, semoga pernikahan ini sakinah,
mawadah dan worohmah.” Ucap Arini
Di sisi lain terlihat Vico duduk menggunakan pakaian hitam
menunggu Arini.
Arini keluar dari kamar riasnya dan menuju tempat ijab Qobul
yang dihadiri keluarga dekatnya dan Vico, sekretaris Kim terlihat hadir, dia
sebenarnya kaget dengan pemberitahuan pernikahan tuannya sehari sebelum acara.
Tidak ada teman Vico ataupun Arini hadir di acara itu.
Terlihat Rona Bahagia dan juga sedih dari mamah Arini
melepas putri kesayangan mereka.
Arini terlihat berjalan bergandengan dengan Papahnya lalu duduk di
samping Vico. Vico terlihat terpana dan tidak bisa berkedip melihat Arini yang
sangat cantik hari itu.
Dia calon isteriku yang akan menemaniku seumur hidupku,
dia terlihat sangat cantik, semoga Vico bisa menjadi suami yang baik seperti
papah, dan tidak berlaku kasar dengannya. Batin Vico
“ Vic “ Ucap Papah Vico dan menyenggol lengan anaknya yang
terlihat bengong melihat kehadiran Arini.
__ADS_1
“ Ah iya pah.” Ucap Vico dan menyadarkan diri.