
Vico hanya memandang tajam tanda tidak ingin hal itu
terjadi.
“ Ya sudah, aku minum dulu melihatmu menatapku aku jadi
haus.” Ucap Haris lalu mengambil cangkir putih yang tersaji di depannya dan
menyesap cairan hitam itu hingga setengah.
“ Hei segitu enaknya kopi di sini ? kamu hanya minta kopi
saja setiap kesini dan selalu di habiskan.” Ucap Vico yang memang kadang suka
meledek teman seperjuangan saat kuliah di luar negeri itu.
“ Sialan kamu, aku hanya menghargai yang buat makanya aku
minum sampai habis, Huh.” Ucap Haris sewot sambil menjelaskan alasannya.
“ Ya ya ya, aku percaya .” Ucap Vico lalu menarik dirinya
berdiri meninggalkan sofa empuk itu kembali terduduk di meja kerjanya.
“ Aku pulang dulu, jangan lupa besok, awas kamu tidak
datang.” Ucap Haris mengingatkan sambil sedikit mengancam dengan menunjuk jari
tangannya pada Vico yang duduk jauh darinya.
“ Kenapa kalau tidak datang.” Ucap Vico menatap tajam
terlihat menyeramkan.
“ He... tidak apa-apa hanya saja tolonglah kamu datang.”
Ucap Haris sambil tersenyum dan mengangkat tubuhnya berdiri dan melangkah pergi
dari ruangan Vico.
“ sampai jumpa besok.” Ucap Haris saat sudah di ambang pintu
kantor ruangan Vico.
“ Iya, kamu cerewet sekali seperti wanita, sudah pergi
sana.” Jelas Vico sedikit kesal dengan ulah temannya yang menurutnya terlalu
banyak bicara tidak seperti normalnya pria.
“ Iya iya .” Jawab Haris lalu benar-benar pergi meninggalkan
ruangan Vico saat berjalan menatap sekretaris seksi dan mendapat senyuman
termanis dari masing-masing wanita di sana.
Ruangan Vico
“ Kim datanglah kesini.” Panggil Vico pada sekretaris Kim.
Sekretaris Kim mendapat panggilan dari tuannya langsung
bergegas ke ruangan itu.
“ Siap tuan, ada yang bisa saya bantu ?” Ucap sekretaris Kim
sambil menunduk dan berdiri tegap di depan meja Vico.
“ Kim nanti aku ingin pergi dengan Arini, kamu awasi dari
jauh ya jangan sampai Arini tahu, oh kita pakai mobil yang berbeda.” Ucap Vico
yang tetap waspada jika ada yang mungkin ingin menyakiti Arini.
“ Baik Tuan.” Jawab sekretaris Kim.
“ Aku sudah tidak ada jadwal kan ?” Tanya Vico pada
sekretaris pribadinya itu.
“ sebenarnya kita masih ada pertemuan dengan Tuan Anggara
__ADS_1
tuan membahas mode terbaru yang akan lounching di pusat perbelanjaan online
kita.” Ucap sekretaris Kim pada Vico akan perjanjian Vico tersebut dengan salah
satu kolega pentingnya.
“ Batalkan saja ganti besok siang.” Perintah Vico pada
sekretaris Kim.
“ Baik Tuan.” Jawab sekretaris Kim.
“ Ayo berangkat sekarang.” Ajak Vico untuk meninggalkan
kantor dan pergi menjemput Arini.
“ Iya tuan.” Jawab sekretaris Kim lalu mengekor di belakang
Vico untuk mengikuti dan menjaga tuan dan nonanya yang ingin pergi itu.
Terlihat mereka sudah sampai di parkiran dan menaiki 2 mobil
yang berbeda dan melajukannya ke kantor Arini.
Vico yang fokus mengemudi mengambil benda pipih dari saku
celananya dan mencari nomor Arini untuk dia hubungi.
“ Halo iya Vic, ada apa ?” Sahut Arini yang mengangkat
panggilan Vico kala itu.
“ Aku perjalanan menjemputmu.” Ucap Vico memberi tahu Arini.
“ Baiklah, aku akan bersiap-siap.” Balas Arini lalu
panggilan terputus.
Arini lalu menunggu kedatangan Vico di depan kantornya.
Mobil Vico menepi tepat di dekat Arini berdiri. Melihat hal
“ Kita akan ke mana ?” Tanya Arini masih bingung dengan
tujuan mereka berdua.
“ Kamu ingin ke mana ?” Tanya Vico ingin Arini memutuskan
tujuan kepergian mereka.
“ Aku tidak tahu, terserah kamu saja.” Jawab Arini merasa
tidak ada tujuan yang ingin dia kunjungi.
“ Bagaimana kalau kita pergi seperti yang kamu biasa
lakukan, aku ikut saja keinginan kamu.” Jelas keinginan Vico.
“ Aku paling kalau pergi sama kakakku, itu paling ke pantai,
nonton, belanja, makan di Mall.” Ucap Arini menerangkan beberapa hal yang biasa
dia lakukan dengan Putra.
“ Oke kita lihat sunset di Pantai dulu ya.” Ucap Vico
menentukan tujuan pertamanya.
“ Oke.” Jawab Arini yang memang menyukai pemandangan
matahari terbenam itu.
Kendaraan lalu menuju pantai yang bisa membuat mereka
menyaksikan matahari yang kembali ke peraduannya itu.
Mereka sudah sampai di tujuan, terlihat cukup sepi pantai
itu karena memang ini hari kerja jadi tidak banyak yang datang ke sana kala
itu.
__ADS_1
Sekretaris Kim yang dari tadi mengikuti kendaraan mereka
juga keluar dan mengikuti keduanya dari belakang dengan jarak cukup jauh tapi
tetap bisa memandang apa yang mereka lakukan.
Arini dan Putra duduk di kursi panjang yang terletak di
pinggir laut itu.
Terlihat matahari sudah mulai mengorange karena jaraknya
yang sudah mendekat pada bibir laut.
Sore itu langit terlihat sangat indah, biru, abu-abu merah
dan di dominasi warna orange menjadi suguhan yang memanjakan indra penglihatan
kedua insan manusia yang sedang di mabuk asmara itu.
Suara burung-burung yang menjadi tuan rumah di pinggiran itu
terlihat mulai kembali ke sarangnya.
Tiupan angin sore yang masih bercampur hawa sedikit panas
dan dingin menghembus membelai kulit dan mengayun-ayunkan pepohonan dengan
pelan.
Ombak lautan yang tenang bergerak beriringan
berkejar-kejaran dan menyuarakan bunyi senada seakan bersenda gurau.
Arini terlihat memandang semua kejadian itu tanpa ingin
terlewatkan satu detik pun melihat momen indah sore itu.
Vicoterlihat tidak terlalu memperhatikan sang surya yang
sudah setengahnya tertelan lautan itu, dia sibuk memandangi wanita yang ada di
sampingnya, entah Arini menyadarinya atau tidak seakan dia sudah terhipnotis
hingga tidak terlalu peduli dengan sekitarnya.
Sekretaris Kim yang melihat mereka dari jauh terlihat
mengecek beberapa pesan di ponselnya. Perkerjaannya sebagai sekretaris pribadi
dan juga pengawal membuatnya terlihat lebih sibuk dari Vico, jika pun bisa
mencurahkan hatinya, ada rasa bahagia melihat tuannya senang sore itu.
Tuan terlihat bahagia dengan nona Arini, nona semoga Anda
selalu bisa membuat tuan seperti ini selamanya, sedikit akan mengurangi
emosinya yang sering meledak sejak ada kehadiran nona Arini, aku seperti nyamuk
yang tidak punya pekerjaan duduk di sini, Ya sudahlah yang penting mereka
bahagia dan aman. Batin sekretaris Kim melihat Arini dan Vico dari bangku
putih yang dia duduki
Vico yang memandang Arini mulai mendekatkan tangannya untuk
menyentuh tangan Arini.
Saat terasa ada tangan menyentuhnya Arini merasa sedikit
kaget dan memalingkan wajahnya memandang tangan yang di genggam oleh Vico.
Terlihat senyuman manis terpampang dari wajah cantik Arini
dengan siratan warna oren sore itu membuatnya terlihat menawan.
“ Apa kamu bahagia bahagia ?” Tanya Vico sambil menatap
dalam wajah Arini dari dekat.
__ADS_1