My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Kencan Berdua


__ADS_3

Vico hanya memandang tajam tanda tidak ingin hal itu


terjadi.


“ Ya sudah, aku minum dulu melihatmu menatapku aku jadi


haus.” Ucap Haris lalu mengambil cangkir putih yang tersaji di depannya dan


menyesap cairan hitam itu hingga setengah.


“ Hei segitu enaknya kopi di sini ? kamu hanya minta kopi


saja setiap kesini dan selalu di habiskan.” Ucap Vico yang memang kadang suka


meledek teman seperjuangan saat kuliah di luar negeri itu.


“ Sialan kamu, aku hanya menghargai yang buat makanya aku


minum sampai habis, Huh.” Ucap Haris sewot sambil menjelaskan alasannya.


“ Ya ya ya, aku percaya .” Ucap Vico lalu menarik dirinya


berdiri meninggalkan sofa empuk itu kembali terduduk di meja kerjanya.


“ Aku pulang dulu, jangan lupa besok, awas kamu tidak


datang.” Ucap Haris mengingatkan sambil sedikit mengancam dengan menunjuk jari


tangannya pada Vico yang duduk jauh darinya.


“ Kenapa kalau tidak datang.” Ucap Vico menatap tajam


terlihat menyeramkan.


“ He... tidak apa-apa hanya saja tolonglah kamu datang.”


Ucap Haris sambil tersenyum dan mengangkat tubuhnya berdiri dan melangkah pergi


dari ruangan Vico.


“ sampai jumpa besok.” Ucap Haris saat sudah di ambang pintu


kantor ruangan Vico.


“ Iya, kamu cerewet sekali seperti wanita, sudah pergi


sana.” Jelas Vico sedikit kesal dengan ulah temannya yang menurutnya terlalu


banyak bicara tidak seperti normalnya pria.


“ Iya iya .” Jawab Haris lalu benar-benar pergi meninggalkan


ruangan Vico saat berjalan menatap sekretaris seksi dan mendapat senyuman


termanis dari masing-masing wanita di sana.


Ruangan Vico


“ Kim datanglah kesini.” Panggil Vico pada sekretaris Kim.


Sekretaris Kim mendapat panggilan dari tuannya langsung


bergegas ke ruangan itu.


“ Siap tuan, ada yang bisa saya bantu ?” Ucap sekretaris Kim


sambil menunduk dan berdiri tegap di depan meja Vico.


“ Kim nanti aku ingin pergi dengan Arini, kamu awasi dari


jauh ya jangan sampai Arini tahu, oh kita pakai mobil yang berbeda.” Ucap Vico


yang tetap waspada jika ada yang mungkin ingin menyakiti Arini.


“ Baik Tuan.” Jawab sekretaris Kim.


“ Aku sudah tidak ada jadwal kan ?” Tanya Vico pada


sekretaris pribadinya itu.


“ sebenarnya kita masih ada pertemuan dengan Tuan Anggara

__ADS_1


tuan membahas mode terbaru yang akan lounching di pusat perbelanjaan online


kita.” Ucap sekretaris Kim pada Vico akan perjanjian Vico tersebut dengan salah


satu kolega pentingnya.


“ Batalkan saja ganti besok siang.” Perintah Vico pada


sekretaris Kim.


“ Baik Tuan.” Jawab sekretaris Kim.


“ Ayo berangkat sekarang.” Ajak Vico untuk meninggalkan


kantor dan pergi menjemput Arini.


“ Iya tuan.” Jawab sekretaris Kim lalu mengekor di belakang


Vico untuk mengikuti dan menjaga tuan dan nonanya yang ingin pergi itu.


Terlihat mereka sudah sampai di parkiran dan menaiki 2 mobil


yang berbeda dan melajukannya ke kantor Arini.


Vico yang fokus mengemudi mengambil benda pipih dari saku


celananya dan mencari nomor Arini untuk dia hubungi.


“ Halo iya Vic, ada apa ?” Sahut Arini yang mengangkat


panggilan Vico kala itu.


“ Aku perjalanan menjemputmu.” Ucap Vico memberi tahu Arini.


“ Baiklah, aku akan bersiap-siap.” Balas Arini lalu


panggilan terputus.


Arini lalu menunggu kedatangan Vico di depan kantornya.


Mobil Vico menepi tepat di dekat Arini berdiri. Melihat hal


“ Kita akan ke mana ?” Tanya Arini masih bingung dengan


tujuan mereka berdua.


“ Kamu ingin ke mana ?” Tanya Vico ingin Arini memutuskan


tujuan kepergian mereka.


“ Aku tidak tahu, terserah kamu saja.” Jawab Arini merasa


tidak ada tujuan yang ingin dia kunjungi.


“ Bagaimana kalau kita pergi seperti yang kamu biasa


lakukan, aku ikut saja keinginan kamu.” Jelas keinginan Vico.


“ Aku paling kalau pergi sama kakakku, itu paling ke pantai,


nonton, belanja, makan di Mall.” Ucap Arini menerangkan beberapa hal yang biasa


dia lakukan dengan Putra.


“ Oke kita lihat sunset di Pantai dulu ya.” Ucap Vico


menentukan tujuan pertamanya.


“ Oke.” Jawab Arini yang memang menyukai pemandangan


matahari terbenam itu.


Kendaraan lalu menuju pantai yang bisa membuat mereka


menyaksikan matahari yang kembali ke peraduannya itu.


Mereka sudah sampai di tujuan, terlihat cukup sepi pantai


itu karena memang ini hari kerja jadi tidak banyak yang datang ke sana kala


itu.

__ADS_1


Sekretaris Kim yang dari tadi mengikuti kendaraan mereka


juga keluar dan mengikuti keduanya dari belakang dengan jarak cukup jauh tapi


tetap bisa memandang apa yang mereka lakukan.


Arini dan Putra duduk di kursi panjang yang terletak di


pinggir laut itu.


Terlihat matahari sudah mulai mengorange karena jaraknya


yang sudah mendekat pada bibir laut.


Sore itu langit terlihat sangat indah, biru, abu-abu merah


dan di dominasi warna orange menjadi suguhan yang memanjakan indra penglihatan


kedua insan manusia yang sedang di mabuk asmara itu.


Suara burung-burung yang menjadi tuan rumah di pinggiran itu


terlihat mulai kembali ke sarangnya.


Tiupan angin sore yang masih bercampur hawa sedikit panas


dan dingin menghembus membelai kulit dan mengayun-ayunkan pepohonan dengan


pelan.


Ombak lautan yang tenang bergerak beriringan


berkejar-kejaran dan menyuarakan bunyi senada seakan bersenda gurau.


Arini terlihat memandang semua kejadian itu tanpa ingin


terlewatkan satu detik pun melihat momen indah sore itu.


Vicoterlihat tidak terlalu memperhatikan sang surya yang


sudah setengahnya tertelan lautan itu, dia sibuk memandangi wanita yang ada di


sampingnya, entah Arini menyadarinya atau tidak seakan dia sudah terhipnotis


hingga tidak terlalu peduli dengan sekitarnya.


Sekretaris Kim yang melihat mereka dari jauh terlihat


mengecek beberapa pesan di ponselnya. Perkerjaannya sebagai sekretaris pribadi


dan juga pengawal membuatnya terlihat lebih sibuk dari Vico, jika pun bisa


mencurahkan hatinya, ada rasa bahagia melihat tuannya senang sore itu.


Tuan terlihat bahagia dengan nona Arini, nona semoga Anda


selalu bisa membuat tuan seperti ini selamanya, sedikit akan mengurangi


emosinya yang sering meledak sejak ada kehadiran nona Arini, aku seperti nyamuk


yang tidak punya pekerjaan duduk di sini, Ya sudahlah yang penting mereka


bahagia dan aman. Batin sekretaris Kim melihat Arini dan Vico dari bangku


putih yang dia duduki


Vico yang memandang Arini mulai mendekatkan tangannya untuk


menyentuh tangan Arini.


Saat terasa ada tangan menyentuhnya Arini merasa sedikit


kaget dan memalingkan wajahnya memandang tangan yang di genggam oleh Vico.


Terlihat senyuman manis terpampang dari wajah cantik Arini


dengan siratan warna oren sore itu membuatnya terlihat menawan.


“ Apa kamu bahagia bahagia ?” Tanya Vico sambil menatap


dalam wajah Arini dari dekat.

__ADS_1


__ADS_2