
Vico lalu keluar dan menemui Arini yang sudah berdiri lagi
menatap pemandangan kota dari jendela kaca.
Drt drt drt
“ Hallo ?” Ucap Vico setelah menggeser ikon hijau menerima
panggilan dari manajer Hotel .
“ Makan siang tuan sudah siap.” Ucap manajer Hotel
memberitahukan bahwa makan siang sudah tersaji di rooftop.
“ Oke, thanks.” Jawab Vico lalu mengakhiri panggilannya.
Vico memeluk Arini dari belakang dan mencium pipi Arini,
mungkin karena sudah terbiasa dengan kehadiran Vico Arini sedikit demi sedikit
menerima perlakuan Vico tidak seperti saat berada di paris Arini langsung
menolak pelukan dari Vico yang tidak meminta ijin pada Arini terlebih dahulu
tersebut.
“ Ayo kita makan, makanannya sudah siap.” Ucap Vico yang
masih tetap memeluk Arini dan membisikan ajakan makan siangnya pada telinga
Arini membuat sensasi berdebar pada tubuh Arini merasakan udara panas yang
berhembus di telinganya saat Vico berbicara.
“ Baiklah, Ayo.” Ucap Arini lalu membalikkan tubuhnya dan
menjauhkan dari Vico dan digandeng Vico untuk pergi ke rooftop hotel.
Terlihat terdapat berbagai menu makanan yang sangat
menggugah selera dengan tampilan yang sangat menarik bagaimana tidak koki yang
Vico pekerjakan adalah Koki kelas Internasional yang sudah puluhan tahun
bekerja di berbagai Hotel kelas dunia.
“Kamu ingin makan apa biar aku ambilkan ?” Tanya Vico siap
melayani Arini.
Arini sebenarnya menolak perlakuan Vico tersebut, tapi
karena Vico memaksa akhirnya Arini menerimanya. Arini lalu menunjukkan beberapa
makanan yang dia inginkan, Vico mengambilkannya dan menaruhnya di piring Arini.
“ Terima kasih Vic.” Ucap Arini tersenyum lalu berganti
mengambilkan makanan untuk Vico.
Setelah kedua piring mereka sudah terisi makanan keinginan
masing-masing mereka lalu memakannya. Tidak terdengar obrolan diantar mereka
berdua, seperti biasa karena memang Arini akan menolak berbicara saat makan,
hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu.
Setelah menyelesaikan makan Arini bangkit dari tempat
duduknya dan berdiri melihat pemandangan kota dari ketinggian dan sepoi angin
yang berhembus, panas yang menembus kulitnya tidak dia rasakan, terlihat dia
tersenyum dan menghela nafas menikmatinya.
Melihat senyum Arini Vico terlihat tersenyum kecil dapat
__ADS_1
membahagiakan wanita yang disayanginya itu. Lalu dia mengajak tubuhnya ikut
berdiri dan memeluk Arini dari belakang.
“ Arini apa kamu bahagia menjadi istriku ?” Tanya Vico
membisikan di telinga Arini dengan kedua tangannya masih memeluk tubuh indah
Arini.
Sungguh terlihat seperti adegan Rose DeWitt dan Jack Dowson
yang sedang berpelukan di kapal Titanic dengan diiringi lagu Celine Dion hanya
saja ini terjadi di atap gedung tertinggi di negara ini.
“ Iya.” Jawab Arini singkat.
“ Bagaimana kalau malam ini kita menginap di sini saja ?”
Tanya Vico yang sudah membalikkan tubuh Arini sehingga mereka sudah berhadapan
satu sama lain.
“ Bagaimana dengan pakaian kerjaku besok ?” Tanya Arini
karena dia memang tidak membawa pakaian ganti ya karena ajakan Vico yang
mendadak.
“ Kamu tidak perlu kawatir aku akan menyuruh Kim membawanya
nanti malam.” Jawab Vico lalu menangkupkan kedua tangannya pada wajah Arini dan
mencium puncak kepala Arini dan membenamkan tubuh istrinya dalam pelukannya,
seakan semua kasih sayang Vico tersalur pada istrinya tersebut. Arini yang
mendapat perlakuan lembut dari suaminya itu juga membalas pelukan Vico erat.
Vico lalu melepaskan pelukannya dan mengajak Arini kembali
“ Kamu tidak sibuk ?” Tanya Arini yang melihat Vico tidak
kembali bekerja dan malah mengajaknya di Hotel saat jam kerjanya, iya Arini
cukup tahu jika suaminya itu memiliki banyak urusan yang banyak karena menjadi
Pimpinan Perusahaan terbesar di Indonesia atau bisa juga se-Asia itu.
“ Tidak, aku menyuruh Kim membereskan semua, aku akan
menemanimu di sini.” Ucap Vico yang terlihat duduk di sofa di dekat Arini.
Siang berganti Sore terlihat surya mulai meredup Arini yang
sangat menyukai matahari terbenam lalu mengajak Vico melihat pemandangan
pergantian sore ke malam itu di rooftop.
Arini menggandeng Vico dan dia terlihat sangat terpukau
dengan pemandangan matahari terbenam itu, Arini sangat menikmati suasana itu
Vico yang berada di sampingnya lalu mendekat dan mengalungkan kedua tangannya
pada leher Arini dan mencium pipi Arini.
“ Kamu sangat menyukainya ?” Tanya Vico yang masih terlihat
memandang Surya yang mulai terlihat hanya separuh itu.
“ Iya, aku sangat menyukainya.” Jawab Arini dan sudah tidak
risih lagi dengan perlakuan Vico tersebut.
“ Nanti kita pergi ke Bali ya, kita bisa menikmati
__ADS_1
pemandangan Sunset yang indah dari pantai Kuta.” Ucap Vico karena dia
tidak ingin membahayakan Arini jika pergi ke luar negeri lagi, Vico bisa
memperketat penjagaan jika itu di Indonesia.
“ Baiklah.” Jawab Arini yang memang sangat menyukai pulau
dewata itu.
Setelah menikmati sunset mereka kembali ke kamar lagi untuk
membersihkan diri masing-masing.
“ Arini tolong buatkan aku kopi ya ?” Ucap Vico yang sudah
duduk di meja kerjanya di kamar itu untuk mengecek beberapa laporan.
“ Baiklah.” Ucap Arini yang sebelumnya terduduk di kursi
depan Vico untuk menemani suaminya itu bekerja.
“ Ini kopimu Vic.” Ucap Arini menaruhnya di dekat Vico dan
kembali duduk di tempatnya semula.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00
“ Vic aku lapar ?” Ucap Arini yang hanya memainkan ponselnya
menunggu Vico bekerja.
“ Maaf aku terlalu fokus bekerja sampai lupa makan malam,
sebentar aku akan menyuruh pelayan membawakannya ke sini, Kamu ingin makan di
sini atau di rooftop ?” Tanya Vico yang sudah mematikan dan menutup leptopnya
lalu memandang Arini.
“ di sini saja .” Jawab Arini singkat
Vico lalu mengambil telepon dekat meja kerjanya dan meminta
pelayan menyiapkan makanan mereka. Tidak lama makanan sudah tersaji di meja
makan.
“ Tuan, makanannya sudah siap.” Ucap kepala pelayan yang
mendatangi Vico dan Arini di ruangan kerja.
“ Iya Pak, terima kasih kalian bisa meninggalkanku berdua.”
Ucap Vico lalu bangkit dan menggandeng Arini untuk menyantap hidangan malam
mereka.
Makan malam pun usai, Vico mengajak istrinya tersebut untuk
beristirahat di kamarnya.
Terlihat kelopak bunga mawar bertebaran di seluruh lantai
ruangan itu. Kelopak bunga mawar merah membentuk hati di atas selimut dan
sisanya kelopak mawar warna putih tertata juga berbagai warna bunga mawar di
setiap sudut ruangan, sungguh memanjakan mata.
Arini tidak mengetahui kejutan tersebut karena sebelumnya
kamar tersebut terkunci dan dia tadi mandi di kamar berbeda sesuai arahan Vico.
Arini tersenyum dan terlihat butiran kristal jatuh dari
pelupuk matanya terharu dengan apa yang Vico siapkan untuknya tersebut.
__ADS_1
“ Apa kamu yang menyiapkan semua ini ?” Tanya Arini yang
berbalik menghadap Vico yang ada di belakangnya.