
Vico keluar dari dalam ruang pakaian.
“ Apakah kita akan tidur di ranjang yang sama ?” Tanya Arini
sambil memandang Vico.
“ Kenapa, apakah kamu tidak ingin tidur di ranjang yang sama
denganku ?” Tanya Vico tanpa menjawab pertanyaan Arini.
“ Bisakah begitu, kamu ada kasur lipat yang bisa menjadi
tempatku untuk tidur ?” Tanya Arini yang takut karena mereka hanya berdua di
kamar itu.
“ Tidak ada, kamu tidur saja di ranjang aku akan tidur di
sofa.” Ucap Vico yang mengalah lagi dengan keinginan Arini itu.
“ Tidak perlu, biar aku saja yang di sofa, ini kan rumah
kamu .” Arini lalu mengambil bantal dan bersiap-siap tidur di sofa.
Aku harus bagaimana menghadapi wanita ini, jika aku
membiarkannya tidur di sofa, aku merasa menjadi pria yang sangat egois, tapi sepertinya
dia tidak ingin tidur seranjang denganku. Batin Vico
“ Arini, apa kau sudah tidur ?” Panggil Vico pada Arini yang
terlihat sudah tidak bergerak.
“ Belum, ada apa ? apa kau perlu sesuatu ? “ Tanya Arini.
Karena dia sadar kewajibannya menjadi seorang istri adalah melayani suami,
untuk saat ini selama itu bukan tentang tidur bersama Arini akan menjalankan
kewajibannya sebagai istri yang baik.
“ Tidak ada, Apa kau bisa tidur di situ ?” Tanya Vico Lagi.
“ Iya.” Jawab Arini
“ Arini apa kamu takut denganku ?” Tanya Vico lagi
“ Tidak.” Jawab Arini singkat
“ Apa kau masih marah denganku tentang apa yang aku lakukan
di konser Arga kemarin ?” Tanya Vico.
“ Tidak” Jawab Arini
“ Arini bisakah kamu tidur di sini saja, aku tidak akan
menyentuhmu tanpa persetujuanmu.” Ucap Vico
“ Bisakah aku tetap di sini ?” Tanya Arini yang memang tidak
ingin tidur dengan Vico.
“ Aku tidak mau di salahkan keluarga kamu, kalau kamu sakit
hanya karena kamu tidur di sofa, selain itu bukan kah di sana tidak nyaman ?”
Tanya Vico
“ Sungguh kamu tidak akan melakukan hal itu ?” Tanya Arini
memang takut dengan pria.
“ Iya aku berjanji.” Ucap Vico bersungguh-sungguh.
“ Baiklah, aku akan pindah kesana.” Ucap Arini dan bangun
dari sofa membawa selimut dan bantalnya. Arini lalu menuju ranjang tempat Vico
tidur. Vico yang melihat Arini mendekat lalu menjauh dan memberikan ruang yang
luas untuk Arini istirahat. Mereka lalu memiringkan badanya masing-masing
sehingga terlihat saling memunggungi seperti pasangan yang sedang bertengkar.
Vico berbalik badan.
__ADS_1
“Arini bisa kah kamu berbalik sebentar aku ingin berbicara
denganmu?” Ucap Vico. Arini yang mendengar hal itu lalu membalikkan badannya
dan mereka sekarang dalam posisi berhadap-hadapan saling memandang satu sama
lain, tetapi jarak mereka tidak dekat sekitar satu bantal dari wajah mereka
masing-masing.
“ Arini kenapa kamu sepertinya takut denganku ?” Tanya Vico.
“ Aku tidak takut denganmu, aku takut dengan pria.” Ucap
Arini jujur.
“ Maksud kamu ?” Tanya Vico.
“ Aku tidak suka berhubungan dengan pria, selain itu
berhubungan dengan pekerjaanku sebagai desainer bangunan.” Jawab Arini.
“ Kenapa ?” Tanya Vico. Karena Arini terlihat tidak mau
menjelaskan Vico lalu mengganti pertanyaannya.
“ Lalu bagaimana hubunganmu dengan beberapa pria yang pernah
aku lihat. Kamu terlihat sangat mesra ?’ Tanya Vico sangat penasaran tentang
hal itu.
“ Siapa ? aku tidak pernah bermesraan dengan pria manapun
selama di sini. “ Ucap Arini mengerutkan
kedua alisnya.
Vico yang mendengar itu lalu mengambil ponselnya lalu membuka
foto yang pernah mamahnya kirim.
“ Ini dengan Arga.” Tunjuk Vico pada gambar kemesraan Arini
dengan Arga saat sedang makan siang dan Arga membersihkan bibir Arini yang
“ Oh itu, dia Arga teman saat aku sekolah dasar di sini
walaupun sebentar dialah yang membuatku bertahan di sini lalu aku pindah ke
Belanda bersama kakekku. dan itu bukankah tidak mesra dia hanya membantuku
membersihkan makanan yang menempel di pipiku.” Jawab Arini santai menjelaskan
kejadian yang sebenarnya.
Setelah mendengar hal itu Vico lalu memperhatikan lagi foto
itu.
Apakah aku sudah bodoh saat itu hingga aku sangat marah
melihat foto ini, benar yang dikatakan Arini ini tidak layak jika disebut
bermesraan. Batin Vico yang menyesal marah karena Foto itu.
“ Bagaimana dengan ini ?” Tanya Vico kembali memperlihatkan
Arini yang sedang diselamatkan Aldo.
“ Oh itu saat Aldo menyelamatkanku karena aku ditabrak
seseorang di sana, Kenapa kamu memiliki foto-foto ini apakah kamu selalu
mengikutiku selama ini ?” Tanya Arini heran dengan semua potret dirinya dengan
pria-pria itu.
Vico yang ditanya hal tersebut bingung menjelaskan
situasinya.
“ Mmmmm itu aku dapat dari seseorang, iya aku dapat dari
seseorang mungkin dia ingin aku marah.” Ucap Vico sambil mengangguk-angguk kan
kepalanya dan tersenyum paksa pada Arini.
__ADS_1
“ Kenapa foto seperti itu membuat kamu marah ?” Tanya Arini
penasaran dengan ucapan Vico barusan.
“ Karena kamu calon istriku tentunya.” Jawab Vico santai.
“ Ohhh” Jawab Arini sambil mengangguk anggukan kepalanya.
“ Apakah saat di luar negeri kamu memiliki kekasih ?” Tanya
Vico yang penasaran dengan kehidupan Arini.
Arini diam sangat lama dengan pertanyaan Vico dimana dia
tidak ingin mengenang masa lalu yang menyakitkan itu.
“ Jika kamu tidak mau menceritakannya tidak apa-apa kita
masih bisa saling bercerita satu sama lain nanti, anggap saja aku tidak
menanyakannya.” Ucap Vico yang merasa pertanyaan itu menyinggung Arini.
“ Pernah, sekali.” Ucap Arini tiba-tiba terlihat rona sedih
di wajahnya.
Drt drt drt. Ponsel Arini bergetar
“ Iya Kak, ada apa ?” Tanya Arini menjawab panggilan dari
Kakaknya
“ Kamu tidak kenapa-kenapa kan di sana, si brengsek itu
tidak menyakitimu kan ?” Tanya Putra kawatir dengan Arini.
“ Tidak kak, Arini dan Vico hanya mengobrol tidak terjadi
hal buruk, Arini baik-baik saja. “ Ucap Arini meyakinkan kakaknya bahwa dia
aman.
“ Iya sudah, di dalam kopermu kakak taruh penyengat listrik,
jika Vico menyakitimu ambil alat itu dan arahkan pada Vico, itu akan membuatnya
pingsan sementara lalu kamu bisa menghubungi kakak, kakak akan menjemputmu dari
sana .” Ucap Putra menjelaskan rencana kabur Arini jika Vico menyakiti Arini.
“ Kakak tenang saja.” Jawab Arini lembut pada kakak
posesifnya itu.
“ Baiklah segera istirahat jangan terlalu lelah.” Ucap Putra
mengingatkan adiknya lagi
“ Iya kak, Arini sayang kakak.” Ucap Arini lagi.
“ Iya dek, Kakak juga menyayangimu, jaga dirimu disana.”
Ucap Kakaknya lalu mematikan panggilannya.
Ini kakak adik atau pasangan kekasih sih, mesra sekali
pembicaraannya, kakak juga memangnya aku ini singa yang akan memakan adiknya
sampai-sampai menelepon malam-malam dan menanyakan keadaan Arini. Batin
Vico
“ Kakak kamu sangat menyayangimu ya, sampai-sampai dia
menanyakan keadaanmu di malam pertama kita ?” Ucap Vico sedikit menyindir dan
terlihat tidak suka dengan perlakuan Putra.
“ Tentu saja, aku adalah adik satu-satunya, bukankah itu
wajar ?” Tanya Arini merasa itu adalah bentuk kasih sayang yang Putra berikan.
“Iya itu sangat wajar” Ucap Vico sedikit gemas dengan
pertanyaan Arini tersebut
“ Apa kau besok akan bekerja ?” Tanya Vico kembali.
__ADS_1