
Pagi itu Arini bingung saat sudah bangun dan berada di
pelukan Vico.
“ Kepalaku masih sedikit pusing, apa yang terjadi kenapa aku
berada di sini bukannya kemarin aku bersama nona Poppy ?” Gumam Arini masih
mengerjapkan pandangannya karena sinar matahari sudah masuk melalui jendela
yang tertutup tirai tipis.
Merasa ada gerakan pada Arini Vico pun membuka matanya.
“ Pagi Arini.” Ucap Vico mencoba tetap seperti biasa dan
tersenyum memandang Arini yang berada di pelukannya.
“ Vico bagaimana aku di sini, kemarin seingatku aku berada
di hotel X bersama nona Poppy ?” Tanya Arini pada Vico sambil mengeryitkan
dahinya bingung.
Sialan ternyata ini semua kerjaan si jalng itu yang
menjebak Arini, tapi nanti akan aku pastikan lagi.* Batin Vico dan terlihat
tatapan sinis dari wajahnya.
“ Vic, apa kamu mendengarkanku ?” Tanya Arini lagi pada Vico
yang terlihat melamun tidak menjawab pertanyaannya itu.
“ Tentu saja aku yang menggendongmu, aku sangat kawatir
denganmu jadi aku mencarimu, lalu membawamu pulang.” Jawab Vico dan tersenyum
pada Arini.
“ Oh, “ Ucap Arini mendengarkan penjelasan Vico.
“ Arini bisakah kita ?” Tanya Vico memandang Arini mendamba
keinginannya.
“ Baiklah.” Jawab Arini yang sudah menerima dan merasa
nyaman untuk berhubungan dengan Vico.
Vico langsung menindih Arini dan menyalurkan hasratnya pagi
itu.
Terlihat peluh keduanya membasahi dahi masing-masing.
“ Begini lebih menyehatkan Ar dari pada harus berlari pagi.”
Ucapnya menggoda Arini.
“ Sudahlah, aku akan siap-siap untuk ke kantor.” Ucap Arini lalu
segera bergegas berdiri dan meninggalkan Vico di ranjang.
Melihat Arini yang sudah di kamar mandi dia memikirkan
beberapa rencana untuk menghancurkan Poppy yang sudah mengganggu bahkan
memfitnah Arini dengan membuat rencana bodoh itu.
“ Awas kamu wanita jal*ng setelah meninggalkanku, sekarang
mencariku lagi bahkan ingin menghancurkan hubunganku dengan Arini, aku lebih
percaya dengan Arini daripada rencana murahanmu itu.” Gumam Vico sambil
menyeringai.
Vico lalu mengambil ponselnya dan menghubungi sekretaris
Kim.
“ Kim amankan Poppy pada tempat biasa, aku ingin
membereskannya, sebelum semakin jauh.” Perintah Vico pada sekretaris Kim.
“ Tuan sudah mengetahuinya ?” Tanya sekretaris Kim yang
__ADS_1
sudah mengetahui penyebab kejadian itu setelah penyelidikan semalaman yang dia
lakukan dengan anak buahnya.
“ Iya, untuk Aldo tetap lakukan seperti yang aku perintah
kemarin, sementara akusisi dulu turunkan harga sahamnya, lalu beli semua saham
yang masih beredar dan hancurkan, aku tidak ingin dia mengganggu Arini lagi kedepannya.”
Perintah Vico merasa tidak ingin ada yang menyentuh wanitanya.
“ Vic, aku sudah selesai, segeralah mandi.” Ucap Arini yang
terlihat keluar dari ruang ganti baju dengan rapi.
“ Oke,” Vico lalu berdiri meninggalkan ranjangnya dia
berjalan mendekati Arini.
“ Ar ?” Panggil Vico di dekat telinga Arini yang kala itu
masih berias di meja riasnya.
“ Hah, Vic kamu membuatku kaget saja.” Karena tidak melihat
Vico yang berjalan mendekatnya membuatnya kaget apalagi hembusan nafas Vico
pada telinganya membuat sengatan listrik pada sekujur tubuhnya.
“ Begitu saja kaget, Ar Lusa ayo kita ke Bali aku sudah
menyiapkan semuanya.” Ucap Vico pada Arini sambil memeluk tubuh istrinya yang
terduduk di kursi dari belakang.
“ Cepat mandi nanti setelah mandi kita bicarakan.” Perintah
Arini yang sedikit risih dengan Vico.
“ Jawab dulu !” Perintah Vico.
Arini mencebikkan bibirnya dan memandang Vico tajam.
“ Baiklah-baiklah aku akan mandi dulu” Jawab Vico seakan
paham akan sikap istrinya itu.
semakin menyeramkan saja saat sudah dekat dan mengenalnya, tapi aku sangat
bahagia dengan sifatnya itu membuatku selalu ingin menggodanya.” Ucap Vico
tersenyum kecil memandang cermin di depannya.
Arini semakin hari semakin terbiasa dan nyaman dengan Vico
dan membuatnya tidak lagi takut dengan Vico, dia berubah menjadi Arini yang
ceria, jail dan ekspresif seperti bersama kakak dan kedua orang tuanya, tidak
seperti sebelumnya yang bagaikan mawar berduri tajam yang sangat protektif pada
dirinya.
“ Terima kasih Vic, kamu menjadi laki-laki yang bisa aku
percaya sejauh ini dan berlaku lembut padaku.” Ucap Arini sambil tersenyum dan
berdiri lalu pergi ke meja makan.
Hotel
“ Hah aku kenapa bermalam di sini ?” Gumam Aldo yang terbangun
sendirian di dalam kamar Poppy dengan tanpa menggunakan kemeja.
“ Di mana Poppy ?” Aldo lalu bangun dari tidurnya dengan
beberapa kali memijat pelipisnya yang masih terasa pusing dan meregangkan
sendi-sendinya yang kaku sambil mencari keberadaan Poppy karena memang semalam
seingatnya dia datang menemui Poppy di kamar hotel itu untuk bertemu dengan
Arini.
Aldo yang tidak menemukan Poppy setelah mencari ke ruang
__ADS_1
tamu, dapur dan juga kamar mandi lalu mengambil ponselnya yang tersimpan di
saku celananya untuk menghubungi Poppy.
Aldo mencari nomor Ponsel dengan nama Poppy lalu menekan
tombol panggil. Panggilannya beberapa kali hanya masuk ke kotak suara tidak
dapat tersambung ke Poppy.
Karena tidak ingin menunggu di kamar itu Aldo langsung pergi
meninggalkan tempat dia bermalam itu dengan menggunakan kemeja terlebih dahulu.
Aldo berpikir mungkin Poppy sedang sibuk dia akan
menghubunginya lagi nanti, yang utama dia harus segera ke kantor karena hari
ini ada rapat penting yang harus dia hadiri.
“ Kenapa sekretarisku menghubungi sebanyak ini dari semalam
?” Gumam Aldo saat melihat panggilan masuk yang dia terima. Saat ingin menekan
tombol panggil ponsel tersebut kembali mendapat panggilan dari sekretarisnya.
Aldo pun segera mengangkat panggilan tersebut.
“ Halo, ada apa ?” Tanya Aldo pada penelpon yang tak lain
adalah sekretaris pribadinya.
“ Tuan Aldo gawat, saham kita turun derastis sejak semalam
dan bahkan terjadi pemindahan saham yang beredar dan saat ini terjadi krisis,
semua pemegang saham saat ini meminta rapat mendadak di kantor Tuan di mana ?”
Tanya sekretaris Aldo yang terlihat sangat cemas dengan keadaan Perusahaan yang
dibangun Aldo tersebut.
“ Kenapa bisa terjadi ? Aku akan segera ke kantor sekarang.”
Ucap Aldo lalu memutus panggilannya.
Aldo buru-buru ke tempat parkir untuk segera berangkat ke
kantornya setelah mendengar berita dari sekretarisnya bahwa keadaan
perusahaannya sedang kacau.
Sesampainya di kantor Aldo langsung berjalan cepat menuju
ruangannya diikuti sekretaris pribadinya menjelaskan kejadian yang menimpanya.
“ Tuan semua pemegang saham berada di ruang rapat saat ini,
mereka terlihat sangat marah.” Sekretaris itu mengingatkan Aldo yang tengah
pusing di kursi putarnya.
“ Baiklah kita temui dulu, cari tahu segera masalah ini apa
penyebabnya !” Perintah Aldo pada sekretarisnya.
“ Tuan Aldo, apakah tuan ada masalah dengan Angkasa Grup ?”
Tanya sekretaris Aldo karena dia mengetahui jika dalang dari kejadian itu
adalah Angkasa Grup.
“ Tidak ada, kenapa memangnya ?” Tanya Aldo sambil
mengernyitkan dahinya karena bingung.
“ Semua ini ulah Angkasa Grup Tuan dengan menyebar isu bahwa
produk kita memiliki kecacatan, bahkan beberapa tempat kita mendistribusikan
produk menolak untuk memperpanjang kerja sama pada perusahaan kita, karena
berita menyebar dengan cepat dalam semalam membuat harga saham kita menjadi
turun derastis Tuan.” Jelas sekretarisnya yang menyelidiki dan berusaha
mempertahankan harga saham itu tapi tetap tidak bisa mengatasinya.
__ADS_1
Aldo yang berjalan cepat ke ruang rapat sudah berada di
depan pintu kayu coklat sambil menarik nafas dia membuka pintu itu.