
Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan menuju restoran
yang sudah dipesan dengan ruangan tersendiri itu. Saat mereka datang semua
pelayan menyambut kedatangan mereka dengan sopan dan hormat. Seorang manajer
mendatangi mereka lalu mengantarkan mereka pada ruangan yang sudah mereka
siapkan dengan sajian yang sudah tertata rapi yang akan menggugah selera yang
melihatnya. Semua sajian itu adalah makanan khas Indonesia yang sudah di pesan
sekretaris Kim untuk Orlando sesuai instruksi Vico.
“ Ini semua sajian
khas sini cobalah aku jamin semua makanan ini enak.” Ucap Vico yang duduk di
depan Orlando. Orlando terlihat duduk dan mengamati setiap makanan yang
terhidang di depannya. Makanan pertama yang iya coba adalah olahan makanan dari
daging sapi yaitu rendang. Pertama menggigitnya dia sedikit mengeryit karena
rasa rempah yang dia rasakan tapi lama kelamaan dia menikmatinya.
Makanan selanjutnya yang dia cicipi adalah olahan opor ayam,
nasi goreng, bakso, javanese salad with penut sauce atau biasa disebut gado-gado
dan berbagai olahan sayur dan makanan seafood yang memang belum pernah dia
makan sebelumnya di negara asalnya. Orlando terlihat menikmati semua makanan
yang tersaji itu sekretaris Kim dan Vico tersenyum melihat teman mereka yang
datang dari negara yang cukup jauh itu senang dengan makanan yang tersaji.
“ Bagaimana apakah semuanya enak ?” Tanya Vico untuk
mendapatkan penilaian dari lidah Orlando yang notabenenya tidak pernah makan
semua hidangan itu sama sekali. Vico memang sengaja tidak ingin jika selama di
sini temannya memakan makanan yang biasa dia makan di negara asalnya itu. Vico
benar-benar meminta sekretaris Kim mengatur dengan baik semuanya untuk Orlando
agar bisa menikmati negara domisilinya saat ini itu.
“ Enak, walau awalnya terasa aneh di lidahku, apa lagi ini
olahan daging sapi yang dibumbu hitam ini (daging rendang) rasanya unik dan
sangat enak, Aku benar-benar kenyang saat ini, membuatku ingin mencoba makanan
lain.” Ucap Orlando setelah meneguk air putih untuk melegakan dahaganya, terlihat
dia sedikit kepedasan juga karena keringat mengalir di dahinya dimana di negara
asalnya dia memang jarang memakan olahan pedas sebelumnya.
“ Oke setelah ini istirahatlah dulu, aku akan kembali ke
kantor dengan Kim nanti malam akan aku jemput kamu akan aku perkenalkan dengan
teman-temanku yang lain yang mengatur bisnisku dan bisnis kita di sini.” Ucap
__ADS_1
Vico yang juga sudah menyudahi kegiatan makannya itu. Dia menyapu mulutnya
dengan tisu untuk menghilangkan makanan yang masih tersisa di sekitar bibirnya.
“ Oke-oke aku juga lelah sekali masih sedikit jetleg karena
perbedaan waktu, rasanya di sini memang sangat menyenangkan, eh ajak istrimu
juga ke klub itu.” Ucap Orlando yang memang ingin bertemu dengan istri temannya
untuk memberikan oleh-oleh karena merasa tidak enak jika tidak memberinya
bagaimanapun istri temannya juga temannya juga.
“ Arini tidak pernah ke sana, selain itu dia masih belum aku
beri tahu tentang hal gelap yang aku lakukan dia hanya tahu aku bekerja secara
legal aku masih takut dia akan sangat marah dan membenciku jika tahu aku adalah
seorang ketua mafia bersamamu, walau dia sudah bertemu teman-temanku semua tapi
dia tak tahu pekerjaan mereka semua termasuk kamu. Bahkan dia juga tidak tahu
kalau kakaknya juga ketua mafia di Belanda dia benar-benar dilindungi selama
ini oleh ketua Dark Knight yang merupakan kakaknya.” Jelas Vico pada Orlando
yang memang tidak mau istrinya tahu kegiatannya yang ilegal itu.
Orlando yang mendengarnya mengerti tentang kekawatiran
temannya itu. Wajah Vico berubah sedih jika mengingat hal yang dia sembunyikan
dari Arini itu dilain sisi dia tidak ingin Arini membencinya jika tahu dia
menjadi ketua mafia yang memang selalu memiliki predikat buruk selama ini ya
benar-benar tepat untuk Arini mengetahuinya.
Rumah Vico
“ Pah Vico sama Arini sampai sekarang belum juga dikaruniai
momongan, benarkan apa yang mamah pikir pasti anak itu tidak baik untuk Vico
sudah begitu sampai sekarang mereka sekalipun tidak pernah berkunjung ke sini
setelah pindah di rumah baru, benar-benar pengaruh buruk untuk Vico coba Vico
mau dengan jodoh yang sudah mamah rencanakan pasti kita sudah mendengar berita
kehamilannya.” Mamah Vico yang terlihat duduk sambil memakan buah apel
membicarakan Arini dan Vico dengan suaminya.
“ Mah hamil itu kan memang dari yang di atas, ya mungkin
mereka masih ingin menikmati masa pacaran mereka karena mereka sebelumnya tidak
dekat, selain itu mereka mungkin cukup sibuk dengan pekerjaannya jadi belum
punya waktu ke sini.” Papah Vico membela pasangan yang menjadi suami istri atas
campur tangannya itu.
“ Ih papah ini selalu saja membela mereka, ah mamah juga
__ADS_1
tidak bisa jalan-jalan dengan calon menantu kalau dia adalah Arini yang
terlihat kurang modis itu. Padahal mamah ingin istri Vico bisa juga menemani
mamah kalau ada acara sosialita begitu. Huh semua ini gara-gara papah.” Ucap
mamah Vico kesal sambil menghela nafas kasar yang masih tidak setuju dengan
pernikahan Arini dan Vico, ia pun menyalakan televisi untuk menghilangkan
kekesalannya dengan melihat acara gosip kesukaannya.
“ Sudahlah mamah yang penting Vico bahagia, itu kan yang
penting.” Papah Vico terlihat sabar menghadapi istrinya itu, dia pun berlalu
pergi karena tidak ingin membicarakan hal tersebut lagi dengan istrinya yang
tidak merestui hubungan anak semata wayangnya itu.
Kantor Arini.
Arini terlihat sangat fokus dengan tablet desain yang ada di
depannya membuat desain yang akan dia gunakan untuk mengikuti tender sebuah
Perusahaan untuk pembangunan gedung perkantoran. Rambut panjang coklatnya
terlihat dia kucir kuda agar tidak mengganggu penglihatannya itu. Mata
coklatnya juga terlihat sangat fokus memilih warna-warna yang dia gunakan untuk
desainnya. Merasa lelah dia menghentikan kegiatannya itu dan meregangkan
otot-ototnya.
“ Hah sudah jam 5 sore saja.” Ucapnya setelah melihat jam
bulat yang tergantung di dinding. Waktu dirinya untuk meninggalkan semua
kesibukannya saat ini. Dia kemudian melihat semua pesan yang ada di emailnya
pada layar monitor di depannya setelah itu dia mematikannya. Semua
barang-barang yang terlihat baru dia gunakan ia tata kembali dan taruh di
tempatnya semula. Dia lalu berjalan keluar untuk segera pulang di mana sopir
pribadinya sudah menunggu di depan kantornya.
Terlihat semua karyawan sudah banyak yang pulang kala waktu
menunjukkan pukul 18.00 kala Arini berjalan melawati meja-meja karyawannya.
Hanya ada dua orang yang masih fokus menyelesaikan desainnya karena deadline
yang sudah dekat.
“ Saya pulang dulu, ingat mematikan semua sebelum pergi ya.”
Ucap Arini mengingatkan karyawannya yang masih sibuk bekerja. Suara langkah
kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi terdengar menggema di lorong hingga
tiba di depan lift mengantarkannya turun ke lantai lobby keluar.
“ Baik, hati-hati di jalan nona Arini.” Jawab Karyawannya
__ADS_1
menoleh dan memandang atasannya yang selalu ramah di setiap kesempatan itu.
Kemudian mereka kembali fokus pada layar komputer di depannya.