My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Rumah Baru


__ADS_3

Arini bangun lebih awal, terlihat dia sedikit kesusahan saat


ingin bangun karena dekapan tangan Vico di pinggangnya yang tidak lepas dari


semalam. Arini berusaha memindahkannya pelan-pelan agar Vico tidak terbangun


tetapi dia tidak berhasil.


“ Vic bisakah kamu memindahkan tanganmu aku ingin bangun.”


Bisiknya pada Vico.


“ Mmmmhhhhm.” Jawaban dari Vico tetapi tetap tidak bergerak.


“ Vic, aku harus bangun sekarang untuk sholat subuh.” Bisik


Arini lagi.


“ Mmmmmhhhm.” Jawab Vico lalu melepaskan dekapannya pada Arini


Arini lalu bangun langsung menuju kamar mandi dan melakukan


rutinitasnya.


Karena ucapan Vico kemarin, dia tidak turun ke bawah di


menunggu Vico di kamarnya.


Arini duduk di ranjang dengan kepala bersandar. Dia melihat


Vico yang masih tertidur pulas.


Dia tampan dan baik, maaf jika aku menyulitkanmu. Batin


Arini


Arini mengambil ponselnya dan membaca berita sambil menunggu


Vico bangun.


Vico terlihat sudah membuka matanya, dia lalu memandangi


Arini yang sedang duduk di sampingnya.


“ Pagi Arini.” Ucap Vico lalu mendekat ingin mengecup puncak


kepala Arini


Arini mendapat perlakukan itu hanya terdiam membeku.


“ Aku mandi dulu.” Ucap Vico lalu pergi ke kamar mandi


Arini menyiapkan pakaian Vico di ruang pakaian dan dia


menunggunya di kamar dengan memegang dasi yang ingin dipasangkan pada Vico.


Saat Vico keluar sudah berpakaian rapi Arini menghampirinya


dan memasangkan dasi tersebut.


Setelah selesai Vico mencium puncak kepala Arini lagi dan


mengucapkan terima kasih.


Vico lalau menggandeng Arini menuju meja makan.


Mereka lalu duduk tidak lama kedua orang tua Vico datang dan


mulai mengambil sarapan masing-masing.


Seperti kemarin Arini mengambilkan makanan untuk Vico lalu


dirinya dan mulai makan.


“ Vic kamu pindah kapan ?” Tanya Ayah Vico saat sudah


menyelesaikan sarapan paginya.


“ Lusa pah.” Jawab Vico singkat sambil tangannya meraih segelas


air putih.


“ Kenapa buru-buru sekali, apa karena ingin segera


memberikan papah cucu ?” Ucap papah Vico menggoda anak semata wayangnya itu.


“ uhuk uhuk uhuk.” Arini tersedak mendengar hal itu


“ hati-hati Arini.” Ucap Vico dan menyodorkan segelas


minuman pada Arini.


“ Kenapa kamu tidak ingin memberikan Vico cucu anak.” Ucap


mamah Vico sinis terhadap Arini.


“ Mah.” Ucap Vico dan memandang mamahnya yang mengucapkan

__ADS_1


hal yang keterlaluan menurutnya itu.


“ Kenapa ? dia terlihat tidak bahagia di sini, kalau kamu


tidak menyukai anakku kamu berpisah saja dengannya, aku akan mencarikan wanita


lain yang sangat mencintai anakku.” Ucap mamah Vico sedikit emosi karena


anaknya yang membela wanita yang belum dia akui sebagai menantunya itu.


Karena Arini terlihat sudah menyelesaikan makanannya Vico


lalu menggandeng tangan Arini pergi dari meja makan untuk berangkat bekerja


tanpa berpamitan dengan kedua orang tuanya.


“ Mamah ini apa-apaan baru juga 2 hari mereka menjadi pasangan


suami istri sudah bicara perpisahan malah mengatakan hal yang menyakiti Arini.”


Ucap Papah Vico sedikit meninggi dengan wanita yang menjadi istrinya selama ini


itu.


“ Lihat sendiri itu menantu kesayanganmu dia terlihat tidak


mencintai Vico.” Jawab Mamah Vico sambil sorot matanya memandang Vico dan Arini


yang berjalan menjauh.


“ Mamah jangan menilai hal yang mamah sendiri tidak yakin


dengan hal itu.” Ucap papah Vico masih mencoba meredakan emosinya.


“ Papah apa tidak bisa melihatnya, Arini itu tidak


menyayangi anak kita Pah mamah tidak mau Vico menikah dengannya sejak awal.”


Ucap Mamah Vico lalu pergi meninggalkan suaminya di ruang makan.


Vico dan Arini sudah berada di dalam mobil yang dikendarai


sekretaris Kim.


Terlihat Arini hanya diam saja dari keluar rumah sampai


sekarang.


“ Arini apa yang mamah ucapkan kamu jangan masukkan ke hati


“ mmm.” Respon Arini sambil menganggukkan kepala dan


tersenyum pada Vico


“ Terima kasih.” Ucap Vico dan mengecup puncak kepala Arini sambil


menangkup kedua tangannya pada wajah Arini.


Sepertinya hari kedua pernikahan sudah ada kemajuan


sekarang sudah bisa mencium kening nona. Batin sekretaris Kim memandang


dari cermin di depannya.


“ Arini kamu langsung ke kantor Perusahaan Horison atau


kantor dulu ?”Tanya Vico


“ Kantor dulu ada yang perlu aku siapkan di kantor.” Jawab


Arini


“ Jangan lupa hari ini kita akan melihat beberapa rumah


untuk kita tempati.” Ucap Vico mengingatkan agendanya hari ini dengan Arini.


“ Baiklah.” Jawab Arini


Sesampainya di dekat kantor Arini, Vico lalu mencium puncak


kepala Arini lagi dan meninggalkannya ke kantor.


“ Kim bukankah istriku manis ?” Tanya Vico sambil tersenyum pada


sekretaris Kim


“ Iya Tuan.” Jawab sekretaris Kim singkat.


“ Kim menurutmu perlukan aku bulan madu sekarang aku ingin


mengajaknya jalan-jalan dan membuatnya nyaman saat berada di dekatku.” Ucap


Vico terlihat memikirkan rencana lebih dekatdengan Arini.


“ Iya tuan.” Ucap sekretaris Kim


“ Aturkan kim setelah aku pulang dari Italia dan siapkan

__ADS_1


beberapa pengawal untuk menjaga kita selama di sana, kalau bisa carikan tempat


yang romantis ya.” Ucap Vico lagi


“ Baik Tuan.” Jawab sekretaris Kim


Kantor Arini


“ Vivi ayo berangkat sekarang, kita naik taxi saja ya aku


tidak bawa mobil.” Ucap Arini


“ Iya Nona.” Ucap Arini


Mereka lalu berangkat dengan menaiki taxi menuju kantor


Perusahaan Horison.


Terlihat banyak perwakilan perusahaan yang hadir mengikuti


presentasi itu.


Haris CEO perusahaan itu masuk untuk melihat rapat penentuan


desain untuk pembangunan Kawasan perumahan mewah yang menjadi proyeknya saat


ini.


Semua melakukan presentasi dengan baik tak terkecuali Arini.


Presentasi tersebut selesai dan semua orang akan meninggalkan


ruangan itu, Haris menarik tangan Arini saat mereka keluar dari ruangan menuju


ruangannya.


“Lepaskan apa yang Anda lakukan ?” Tanya Arini sambil


menghempaskan tangannya dari genggaman Haris.


Haris membawa Arini sendirian ke kantor karena saat itu Vivi


ijin ke toilet dan Arini berdiri di depan ruang rapat itu.


“ Arini apa kamu lupa denganku ?” Tanya Haris yang memang


dari tadi memandangi Arini selama rapat bahkan tidak memperhatikan peserta lain


saat menyampaikan desainnya.


“ Tidak, anda siapa ?” Ucap Arini


“ Aku Haris Verhoven, kamu ingat ?” Ucap Haris Lagi


“ Iya sekarang aku ingat, ada apa ?” Tanya Arini yang sudah


ingat dengan sosok Haris orang yang selalu mengejar-ngejarnya saat SMA tetapi


Haris baik dan selalu menunggu Arini walaupun di tolak Arini berkali-kali


karena dia tidak ingin menjalin hubungan saat SMA.


“ Kamu kapan ke Indonesia ? Jika aku tahu aku pasti akan


menemuimu.” Ucap Haris Lagi


“ sudah hampir satu tahun aku di sini, dan aku membuat


perusahaan desain di sini.” Ucap Arini


“ Jika saja kamu tidak pindah ke Inggris, kita pasti sudah


menjalin hubungan yang serius, saat itu sebenarnya aku ingin pergi ke sana


untuk kuliah di Universitas yang sama denganmu tapi orang tuaku tidak


menyetujuinya.” Ucap Haris memandang Arini dengan lekat.


“ mmmh.” Ucap Arini


“ Bagaimana keadaanmu ?” Tanya Haris lagi


“ seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja.” Jawab Arini


“ Bagaimana kalau kita makan siang ?” Tanya Haris


“ Tidak bisa aku ada janji hari ini.” Jawab Arini


“ Bagaimana kalau makan malam.” Tanya Haris lagi


“ Aku belum tahu.” Jawab Arini


“ Ayolah Arini, aku sampai sekarang belum memiliki pasangan


dan mencarimu tapi tidak ada yang mengetahui keberadaanmu saat aku menanyakan


pada anak-anak lain.” Ucap Haris

__ADS_1


__ADS_2