
“ Kim.” Ucap Vico memberikan perintah dengan pandangan mata
pada sekretaris Kim.
Sekretaris Kim yang paham walau hanya dengan pandangan mata
itu lalu membuka ponsel Vico yang dia bawa dan menunjukkan foto yang Vico
terima semalam pada Aldo.
Aldo terlihat kaget dan berkeringat dingin melihat sosok
yang benar dirinya sedang tidur bertelanjang dada memeluk Arini di atas ranjang
Poppy semalam itu.
“ Tuan saya bisa jelaskan masalah ini, saya tidak melakukan
ini semalam saya hanya bertemu dengan nona Poppy dan itu pun karena saya ingin
bertemu dengan nona Arini sesuai ucapannya, karena nona Poppy adalah teman
Arini sehingga saya menemuinya tetapi saya tiba-tiba pusing dan tidak sadarkan
diri sampai tadi pagi.” Jelas Aldo menceritakan kejadian yang dia alami semalam
di kamar Hotel Poppy sesuai ingatannya.
“ Dasar bodoh, Poppy adalah mantanku dan bukan teman Arini
karena kelicikannya dan kebodohanmu kamu dimanfaatkan. Sudahlah intinya jauhi
Arini jangan pernah mendekatinya jika tidak silakan angkat kaki dari
perusahaanmu itu oh bukan perusahaan itu sudah jadi milikku sekarang.” Ucap
Vico yang mengucapkan kata-katanya dengan nada Perintah yang tegas diakhiri
seringai meledek pada Aldo lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan Rapat itu.
“ Baik Tuan Vico sekali lagi saya mohon maaf.” Ucap Aldo
yang merasa bersalah dan mulai detik itu menghentikan perasaan cintanya pada
Arini karena tidak ingin berurusan dengan Vico lagi.
“ Sialan kamu Poppy kamu membuatku kehilangan perusahaanku
yang kubangun dengan susah payah.” Umpat Aldo yang terlihat sangat marah pada
kebodohannya yang percaya saja dengan ucapan Poppy sehingga dia terjerumus dan
malah berurusan dengan Vico bahkan hampir kehilangan jabatannya saat ini.
Aldo yang terlihat berapi-api itu pun lalu pergi meninggalkan
kantor Angkasa Grup menuju perusahaannya.
Ruangan Vico
“ Kim untuk Poppy aku ingin beritanya besok sudah bisa aku
baca, oh untuk perusahaan Aldo bereskan secepatnya dan buat kembali normal,
awasi dia jangan sampai macam-macam.” Perintah Vico pada sekretaris Kim.
“ Baik Tuan.” Sekretaris Kim membungkuk lalu pergi
meninggalkan ruangan Vico.
“ Wanitaku terlalu cantik hingga membuat banyak Pria
menyukainya, emmm tapi kalau tidak cantik dan membuat hati banyak pria terpikat
mungkin aku juga tidak terpikat sampai seperti ini.” Gumam Vico saat sekretaris
Kim sudah tidak terlihat di ruangan itu dan terlihat senyum puas karena
memiliki Arini sebagai istrinya.
“ Aku ingin sekali membuatnya hanya di rumah tapi Arini
pasti tidak mau jika aku memintanya tidak bekerja, hah aku hanya bisa
__ADS_1
mendukungnya dan melindunginya dari para kumbang yang mendekat.” Ucap Vico lagi
memikirkan cara melindungi Arini dari para pria yang menyukainya.
Jerman
“ Bagaimana Persiapannya sudah beres semua ?” Tanya Fernando
pada asistennya karena memang dia lusa akan berangkat ke Indonesia menjalankan
kerja sama dengan beberapa relasi baru untuk memperluas perusahaannya dan juga
menjalankan rencana penculikan Arini lagi untuk memeras Vico agar memberikan
semua harta orang tuanya dan juga membalas dendam dengan apa yang dia terima
dari Vico di mana penglihatannya tidak dapat digunakan sekarang karena masalah
sebelumnya.
“ Sudah tuan, semuanya sudah beres dan persiapan dari semua
anak buah yang kita kirim dahulu ke Indonesia sudah mempelajari kebiasaan dan
juga rutinitas nona Arini dan Vico.” Jawab asisten kepercayaan Orlando itu.
“ Oke, kali ini jangan sampai gagal atau aku akan kehilangan
penglihatan satunya bahkan nyawa kali ini melihat betapa sadisnya keponakanku
sekarang yang tidak kenal ampun itu.” Peringatan Fernando pada asistennya.
“ Siap Tuan.” Jawab asisten pribadinya tegas.
“ Keponakan kurang ajar tunggu pembalasanku, jika saja kamu
mau menurutiku kamu tidak akan mengalami ini.” Ucap Fernando sambil tersenyum
licik.
Kantor Arini
Terlihat Arini sedang melakukan rapat dengan para
untuk mengerjakan tender-tender itu membaginya dengan tim-tim desain yang dia
miliki.
“ Saya harap semuanya bekerja keras dan mendapatkan tender-tender
yang kita terima ini, ingat berikan kreativitas dan keunikan pada setiap desain
yang kalian buat serta jadilah pendengar yang bisa memahami keinginan klien
yang sudah percaya pada perusahaan kita dan presentasikan dengan baik desain
kalian sebaik dan sekomunikatif mungkin sehingga klien tertarik dan memilik
desain kita. Semangat semuanya.” Ucap Arini yang terdengar sangat berwibawa di
depan semua karyawannya.
“ Baik nona Arini.” Jawaban semua anggota tim desain yang
hadi di ruang rapat itu.
“ Oke kalian bisa mulai membuat desain sesuai pembagian tender
jika ada kesulitan jangan pernah takut untuk menemuiku. Terima kasih rapat
selesai.” Ucap Arini lalu pergi meninggalkan karyawannya yang berada di ruang
rapat.
Arini terlihat mendudukkan tubuhnya di sofa depan meja
kerjanya.
“ Aku bersyukur semua berjalan baik sampai sekarang, heh
lelah sekali.” Ucapnya sambil merenggangkan sendi sendinya yang merasa kaku
karena kelelahan.
__ADS_1
Drt drt drt drt
Arini yang mendengar ponselnya bergetar segera mengambilnya
yang kala itu berada di atas meja kerjanya.
“ Halo iya Vic, ada apa ?” Tanya Arini sambil kembali
mendudukkan tubuhnya di sofa.
“ Arini atur waktumu lusa kita ke
Bali !” Perintah Vico melalui panggilan telepon.
“ Lusa, kenapa kamu baru memberitahuku
sekarang aku lusa tidak bisa bagaimana jika berangkat 2 hari lagi ?” Tolak
Arini karena dia lusa ada pertemuan penting dengan kliennya.
“ Tidak bisa aku sudah
mengaturnya lusa minta sekretarismu membereskannya.” Ucap Vico tidak mau
ditolak atau ditawar.
“ Ya sudahlah aku akan aturkan
waktunya, kenapa kamu selalu tiba-tiba kalau mengajak ke mana-mana, menyebalkan
sekali.” Gerutu Arini yang memang tidak pernah bisa menawar perintah Vico.
“ Ya sudah nanti aku jemput
pulang kerja.” Ucap Vico dan akan memutuskan panggilannya.
“ Tunggu, berapa lama kita ke
Bali ?” Tanya Arini lagi agar dia bisa mengatur perusahaannya yang mulai
berkembang itu.
“ terserah kamu seminggu juga
tidak apa-apa .” Jawab Vico dengan santai pada Arini.
“ Apa kamu tidak sibuk selama
itu, 3 hari saja bagaimana aku sedikit sibuk minggu ini ?” Ucap Arini pada Vico
minta disetujui pengaturan waktu itu.
“ 4 Hari saja, tenang aku bisa
mengatur semuanya ada Kim yang bisa melakukan segalanya untukku.” Jawab Vico
pada ucapan Arini.
“ Baiklah.” Jawab Arini pasrah
pada ucapan Vico karena percuma juga kalau menawarnya tidak akan bisa berubah
juga keputusan Vico itu.
“ Oke, tunggu aku nanti.” Ucap
Vico mengingatkan Arini.
“ Mmmh.” Gumam Arini lalu
mengakhiri panggilannya.
Arini setelah mengetahui rencana
liburannya dengan Vico lalu memanggil Vivi melalui panggilan telepon.
“ Vivi datanglah ke ruanganku
sekarang.”
“ Baik nona.” Jawab Vivi lalu
berdiri dari meja kerjanya dan berjalan menuju ke ruangan Arini.
__ADS_1