
Terlihat Arini sedang fokus dengan leptop abu-abu miliknya,
berbagai desain tengah dia teliti dan beberapa email laporan dari sekretarisnya
Vivi. Meja kerja yang tersedia dari Hotel dan segelas jus stroberry menjadi
temannya menunggu suami yang tengah bertemu dengan rekan kerjanya tersebut.
Beberapa kali benda pipih di dekatnya dia lihat karena sejak
kepergian suami tercintanya tidak ada kabar sama sekali bahkan sebuah pesan pun
tidak masuk karena memang waktu yang terlihat mulai siang. Sesuai janjinya Vico
memang seharusnya sudah menghubunginya untuk bersiap-siap meninggalkan hotel
tersebut.
Arini yang mulai bosan dan juga tidak ingin menghubungi Vico
yang tengah sibuk dengan pekerjaannya beralih meninggalkan hotel untuk melihat
pemandangan pantai. Deburan ombak bersaut-sautan sepoi angin meniup pohon
kelapa hangatnya surya mulai menusuk kulit putih Arini.
Wanita cantik itu menggunakan dress warna kuning dengan topi
pantai berwarna senada. Zack yang di tugaskan menjaga istri orang berpengaruh
di negerinya itu terlihat berdiri di kejauhan memperhatikan Arini yang tengah
duduk di pasir putih pantai tanpa merasa kepanasan itu.
Rambut kecoklatan milik Arini ikut menari-nari karena angin laut
yang lembut berhembus. Senyum manis seakan matahari pagi yang tengah terbit
terulas pada wajah Arini menikmati suasana damai yang sedang dia nikmati
sendiri tanpa kehadiran pria yang telah menjadi suaminya.
“ Apakah masih belum selesai ? “ Gumamnya kembali mulai bosan sambil melihat
layar ponsel yang tengah dia genggam masih belum menunjukkan panggilan dari
Vico.
Kala bosan melanda pria yang menjadi teman dan anak buah
Vico bernama Zack terlihat mendekati nona muda yang menggerutu menunggu
suaminya tersebut. Kaki panjang dan langkahnya membuat wanita cantik itu
menoleh pada asal suara tersebut.
“ Nona Arini Tuan Vico memerintahkan untuk membawa nona
pergi dengan saya untuk menemuinya.” Zack terlihat sopan menyampaikan perintah
palsu dari Vico tersebut.
“ Benarkah ?” Arini yang tidak percaya dengan ucapan Zack
mencoba mengkonfirmasi pada Vico dengan menghubungi Vico tetapi di gagalkan
Zack.
“ Nona saat ini Tuan Vico sedang sibuk tadi saya dapat
konfirmasi dari sekretaris Kim.” Zack mencoba mengurungkan niat konfirmasi
Arini yang tidak mempercayai ucapan Zack tersebut.
Karena memang Vico sudah menyuruhnya menunggu dan tidak
pergi ke mana-mana meninggalkan Hotel tempatnya menginap tersebut.
Mencoba mempercayai ucapan Zack tersebut Arini bangkit dari
duduknya dan membersihkan beberapa pasir yang menempel pada dress kuningnya.
Arini mulai melangkah kembali ke kamar miliknya.
Arini kemudian menyiapkan barang bawaannya. Lalu keluar dan
menemui Zack untuk membawakan barang bawaan yang cukup berat jika dia bawa
__ADS_1
sendiri tersebut.
“ Tidak perlu nona, kita tidak pindah penginapan hanya ingin
makan siang saja.” Zack menjelaskan tujuan pertemuannya dengan Vico.
Arini terlihat mengernyit dengan pernyataan itu tapi
lagi-lagi dia mencoba mempercayai ucapan anak buah Vico tersebut dan
mengikutinya meninggalkan kamar hotel miliknya. Arini masih menggunakan busana
yang sama dengan tas kecil tempat menyimpan ponsel dan dompet miliknya.
Zack dan Arini memasuki mobil warna hitam dengan model jeep
saat Arini masuk sebuah tangan membekapnya dari belakang menggunakan sapu
tangan hingga membuatnya tak berdaya dan pingsan di dalam kendaraan tersebut.
Tas yang sebelumnya dia bawa di kembalikan ke dalam kamar
miliknya oleh pria yang menjadi kaki tangan Zack kembali ke kamar Arini. Para
penjaga yang biasa terlihat berdiri di berbagai sudut kali ini terlihat tengah
tergeletak di satu ruangan, dari makanan yang tersisa sepertinya makanan
miliknya telah di berikan obat tidur.
Karena memang siang itu sesuai perintah Zack merupakan waktu
pergantian shift untuk istirahat tetapi orang yang menjadi pengganti shift
adalah orang milik Zack buka dari bawahan Vico sendiri.
Seringai puas karena dengan mudah dia bisa membawa Arini
meninggalkan hotel terlihat dari wajah tampan Zack yang duduk di samping sopir
mobil yang membawa Arini ke suatu tempat itu.
Bandara menjadi tujuan mereka. Dengan sigap Arini di
dudukkan pada kursi roda dengan tubuhnya ditutupi selimut dan di pakaikan kaca
Zack dan 2 orang lain terlihat sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian
kasual membuatnya dapat mengelabuhi semua orang dengan mudah. Penerbangan kedua
dari bandara besar menuju ke sebuah pulai kecil tidak membuat Arini tersadar
sedikit pun.
Perjalanan cukup lama hingga keduanya terlihat sudah berada di
depan sebuah rumah yang cukup kecil dengan tembok-tembok bercat abu-abu yang
mulai terkelupas. Banyak dedaunan yang gugur berserakan, ranting berserakan
serta rumput yang tumbuh tinggi menyambut kedatangan mereka.
Arini di masukkan ke dalam sebuah kamar dengan ventilasi
kecil. Dirinya tengah terikat pada sebuah kursi kayu berwarna abu-abu, rasa
pengap dan lembab membuat suasana semakin menakutkan dalam kamar tersebut. Obat
bius yang mulai menghilang efeknya membuat Arini terlihat mencoba memulihkan
kesadarannya. Kelopak matanya mulai terbuka pelan dengan beberapa kali kerjapan
menyesuaikan cahaya masuk pada kornea mata coklatnya.
Arini mencoba menggerakkan tangan dan kakinya tetapi
semuanya sudah terikat kuat hingga dia ingin berteriak tapi semua itu sia-sia
karena mulutnya telah tersumpal oleh kain. Pandangannya menyapu ke seluruh
sudut ruangan itu mencoba mengetahui keberadaannya tapi tetap nihil dia tidak
tahu.
Arini mencoba memberontak dan mencari benda yang dapat dia
gunakan untuk melepaskan diri tapi tetap sia-siap. Zack yang mendengar suara
__ADS_1
berisik dari kamar Arini mengambil topeng miliknya dan mendatangi Arini.
“ Diamlah.” Teriaknya keras membuat Arini sedikit takut dan
menghentikan gerakan serta teriakkannya butiran bening mengalir dari kelopak
mata indahnya.
Dalam hatinya hanya nama Vico yang selalu dia panggil ingin
sekali suami tercintanya itu dapat menemukannya.
Zack yang sudah membuat Arini terdiam lalu kembali
meninggalkan Arini dan menutup kencang pintu kamar tersebut. Dia merogoh
sakunya mengambil benda pipih dan menghubungi seseorang.
“ Sudah beres, dia di tempatku segera bereskan.” Entah siapa
yang tengah dia hubungi seringai dan sorot bagai iblis merasa puas mengakhiri
panggilannya tersebut.
Arini mencoba membuka ikatan tangannya sesuai ilmu yang
sudah dia pelajari dari kakaknya, walau sulit Arini terlihat berhasil
melakukannya, dia mencoba tidak mengeluarkan suara dari ruangan itu.
Ikatan kaki dan tangannya serta sumpalan pada mulutnya sudah
dia bereskan. Terlihat dia berpikir keras untuk dapat keluar dari ruangan yang semakin
gelap karena hari mulai sore itu.
“ Bagaimana aku bisa keluar, tidak ada celah sama sekali di
kamar ini.” Gumam Arini sambil menggigit bibir bawahnya tersebut.
Bali
Vico yang cemas sudah sampai di Hotelnya menginap dan
melihat semua barang masih ada di kamarnya bahkan ponsel dan dompet Arini juga
masih di kamar tersebut. Sorot mata kacau dan marah membuatnya terlihat bagai
iblis yang siap menghancurkan apa pun karena kehilangan Arini. Kecerobohannya
sekali lagi membuat wanita kesayangannya itu hilang dari pengawasannya.
“ Bagaimana Kim sudah menemukan posisinya ?” Vico bertanya
pada sekretaris Kim yang tengah mengikutinya di belakang.
“ Sudah Tuan, nona sepertinya ada di sebuah pulau tak
berpenghuni.” Sekretaris Kim menjelaskan keberadaan Arini setelah menghubungi
anak buahnya yang melacak posisi kalung yang di pakai Arini.
“ Sialan, hubungi pamanku Kim!” Perintah Vico karena merasa
ini pasti kelakuan pamannya yang selalu gila harta tersebut.
Hai sobat Happy semua yang sudah selalu mendukung karya Happy..
Terima kasih banyak ya... Muchhh 1000 Love for you all..
Semoga kalian semua selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT
Jangan Lupa dukung Happy terus ya..
Dengan sukai
Kasih Komentar
Jadikan Favorit
Berikan Rate
Vote juga ya....
Thank You...
Happy Reading with Happy Blue
__ADS_1