My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Kemarahan Putra


__ADS_3

Valdo tidak peduli dengan isakan dan permintaan Arini itu


dia tetap fokus dengan jalanan.


Valdo lalu memarkirkan mobil miriknya di depan rumahnya. Dia


menarik tubuh Arini menuju kamarnya. Tidak terlihat seorang pun di dalam rumah


itu karena memang papahnya sedang bekerja.


Arini berteriak kencang tapi tidak ada yang menolongnya,


beberapa pelayan yang mendengar takut jika ingin membantu Arini karena sifat


Valdo yang selalu mengamuk jika ada yang mengganggunya.


“ Valdo aku mohon, jangan begini .” Ucap Arini sambil


mengatupkan kedua tangannya saat mereka sudah tiba di kamar Valdo, terlihat


dekorasi khas pria di seluruh kamar itu warna abu-abu yang menjadi warna tembok


dan berbagai peralatan olah raga menjadi pemanis dari kamar yang minimalis


indah tapi menakutkan menurut Arini.


“ Sudah tidak usah bicara lagi, sekarang aku akan


melakukannya padamu, persetan dengan semuanya.” Ucap Valdo dan mendekat pada


Arini dengan tatapan mesum menatap tubuh Arini menyeluruh.


“ Jangan Valdo, jangan lakukan itu, aku mohon.” Sambil


terisak-isak Arini berjalan mundur saat di atas ranjang tidur Valdo.


“ Kenapa benarkan yang aku bilang kamu tidak menyayangiku,


dengan ini kamu tidak akan bisa meninggalkanku selamanya.” Valdo semakin


mendekat dan menarik rok Arini.


“ Jangan Valdo, please aku mohon.” Isak Arini lagi sambil


mempertahankan roknya dan dia berlalu pergi ke arah pintu yang telah Valdo


tutup.


“ Hahahaha, pintu itu sudah aku kunci, kamu tidak bisa pergi


dariku lagi Arini, aku sangat menyayangimu, nikmati saja oke ?” Seringai dan


tatapan menakutkan Valdo tetap berjalan mendekat pada Arini.


“ Jangan Valdo.” Ucap Arini lagi sambil melemparkan beberapa


barang yang ada di kamar itu.


“ Kamu berani menyakitiku sekarang, kamu harus merasakan


akibatnya.” Ucap Valdo saat bibirnya dikenai bola yang terlempar dari tangan


Arini.


“ Ya Tuhan Arini mohon selamatkan Arini, Kakak Tolong Arini.”


Ucap Arini di sela dia sudah terjatuh dan terduduk di pojok kamar itu sudah


kehabisan energi berlarian dan melemparkan barang-barang.


Valdo lalu mendekap Arini dan mengangkatnya menjatuhkannya


kasar pada ranjang empuk yang juga berwarna abu-abu.


“ Huhuhuhuuhuhuhu kakak tolong Arini.” Ucap Arini disela


isak tangis yang sudah mulai kering dan terlihat mata merah karena menangis

__ADS_1


cukup lama dari tadi.


“ Kakakmu tidak akan datang kesini.” Ucap Valdo dan mulai


menindih tubuh Arini.


Valdo mulai ingin melucuti pakaian Arini dan mencium paksa


bibir Arini yang di katupkan Arini kuat.


“ Bruaaaaakkkkkkkkkk.” Suara pintu didobrak dari luar


terlihat putra sangat marah melihat adiknya berada di bawah Valdo.


“ Dasar ********, kau apakah adikku hah ?” Ucap Putra dan menarik


tubuh Valdo lalu memukulnya dengan beringas menyalurkan kemarahan yang sudah


membabi buta yang dia tahan dari tadi.


“ Kakak jangan, sudah kak ayo kita pergi.” Ucap Arini dan


memisahkan keduanya yang sedang bertengkar saling memukul satu sama lain itu.


“ Lepaskan aku, tunggu di luar, Felix bawa adikku keluar aku


ingin membunuh ******** tidak tahu diri ini.” Ucap Putra yang sudah seperti


kerasukan menghajar Valdo.


“ Kakak jangan, Arini tidak mau kakak membunuh orang, biarkan


polisi saja yang membereskannya.” Teriak Arini dengan kedua tangannya masih


ditarik Felix.


“ Hahahahahahahhahhaha.” Tawa keluar dari Valdo seperti


orang gila saat wajahnya sudah babak belur.


dengan tawa yang diberikan Valdo bukan malah memohon ampun padanya.


“ Bunuh saja, aku tidak peduli yang penting aku sudah


menikmati adik cantikmu itu.” Ucap Valdo memprovokasi Putra.


“ Kak, sudah jangan diladeni lagi ayo pergi dari sini, Arini


takut.” Ucap Arini saat terlepas dari Felix dan memeluk kakaknya dari belakang.


Mendengar hal itu Putra kembali sadar dan melepaskan Valdo


yang sudah tidak dapat dikenali itu pergi. Putra memeluk adik perempuan


kesayangannya itu menenangkan diri dan merasa bersalah tidak datang lebih


cepat.


“ Maafkan kakak Arini, kakak terlambat.” Ucap Putra sambil


mengelus punggung Arini.


“ Kakak tidak salah, kakak tidak terlambat, kakak tepat


waktu, terima kasih kakak sudah datang.” Ucap Arini karena di saat dia di mobil


saat Valdo marah-marah dia berhasil mengirim pesan permintaan tolong pada


kakaknya, melihat pesan dari adiknya Putra lalu memanggil anak buahnya dan


mencari Arini.


Putra, Arini, Felix dan beberapa orang pria lalu


meninggalkan kediaman Valdo.


Flash Back Off

__ADS_1


Sejak saat itu Arini selalu takut menjalin hubungan dengan


Pria dia juga berpindah universitas, berlatih berbagai seni bela diri dan


menembak untuk menjaga dirinya, dan Putra selalu menyuruh mata-mata untuk


mengawasi adiknya.


Untuk Valdo dia melaporkannya ke Polisi agar ditindak


lanjuti dan untuk ayah Valdo perusahaannya dibangkrutkan Putra dalam waktu 2


hari hingga papah Valdo memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.


Valdo yang mengetahui semua itu adalah perbuatan Putra


berusaha untuk membalas dendam dengan semua yang dia terima karena merasa tidak


sepadan dengan apa yang dia lakukan pada Arini.


Dia berusaha mencari Arini selama ini tapi baru bisa


menemukannya dan menyelidiki latar belakangnya yang sekarang. Dia selalu


mengikuti Arini saat di Belanda tanpa diketahui mata-mata Putra dan Vico.


Melihat Arini tersenyum membuatnya sakit hati dan ingin


memilikinya kembali dan membalas dendam pada Putra dengan menghancurkan putra


juga yang sudah menghancurkan hidupnya.


Valdo juga memutuskan untuk pergi ke Indonesia untuk melihat


lebih dekat Arini. Dia melihat Arini bahagia dengan kehidupannya bahkan juga


sudah memiliki Pria di sampingnya membuatnya semakin marah dan berusaha


menyingkirkan Vico dan membawa Arini kembali padanya ke Belanda dan


menyembunyikannya.


Rumah Arini


Terlihat Arini dan Vico makan di meja makan tidak seperti


biasanya Arini terlihat melamun saat menyantap makanan di depannya itu. Vico


dari tadi curiga dan bertanya-tanya kenapa Arini menjadi terlihat aneh saat ini.


Mereka sudah menyelesaikan makan dan kembali ke kamar, Arini


langsung menarik selimut dan tidur, Vico mengambil leptop dan mengerjakan


beberapa tugasnya, setelah selesai di lalu meletakkan leptop pada tempat semula


dan menarik tubuh Arini lalu memeluknya dan terlelap tidur.


“ Jangan, jangan maafkan aku, maafkan aku huhuhuhuhu.”


Teriak Arini diikuti suara isakan tangis dengan mata masih terlelap tidur.


“ Arini bangun, kamu kenapa ?” Tanya Vico yang kawatir


dengan Arini yang bermimpi buruk.


“ Huhuhuhuhu, Vic jangan pergi, aku takut kamu harus selalu


berada di sampingku, di dekatku, huhuhuhuhu.” Ucap Arini yang masih terlihat


raut ketakutan dan memeluk tubuh Vico erat.


“ Iya Arini, aku pasti selalu ada di sampingmu, di dekatmu


jangan kawatir, tenang ya, kamu hanya mimpi.” Ucap Vico masih memeluk erat


Arini lalu mengusap kepala Arini lembut.

__ADS_1


__ADS_2