
Valdo tidak peduli dengan isakan dan permintaan Arini itu
dia tetap fokus dengan jalanan.
Valdo lalu memarkirkan mobil miriknya di depan rumahnya. Dia
menarik tubuh Arini menuju kamarnya. Tidak terlihat seorang pun di dalam rumah
itu karena memang papahnya sedang bekerja.
Arini berteriak kencang tapi tidak ada yang menolongnya,
beberapa pelayan yang mendengar takut jika ingin membantu Arini karena sifat
Valdo yang selalu mengamuk jika ada yang mengganggunya.
“ Valdo aku mohon, jangan begini .” Ucap Arini sambil
mengatupkan kedua tangannya saat mereka sudah tiba di kamar Valdo, terlihat
dekorasi khas pria di seluruh kamar itu warna abu-abu yang menjadi warna tembok
dan berbagai peralatan olah raga menjadi pemanis dari kamar yang minimalis
indah tapi menakutkan menurut Arini.
“ Sudah tidak usah bicara lagi, sekarang aku akan
melakukannya padamu, persetan dengan semuanya.” Ucap Valdo dan mendekat pada
Arini dengan tatapan mesum menatap tubuh Arini menyeluruh.
“ Jangan Valdo, jangan lakukan itu, aku mohon.” Sambil
terisak-isak Arini berjalan mundur saat di atas ranjang tidur Valdo.
“ Kenapa benarkan yang aku bilang kamu tidak menyayangiku,
dengan ini kamu tidak akan bisa meninggalkanku selamanya.” Valdo semakin
mendekat dan menarik rok Arini.
“ Jangan Valdo, please aku mohon.” Isak Arini lagi sambil
mempertahankan roknya dan dia berlalu pergi ke arah pintu yang telah Valdo
tutup.
“ Hahahaha, pintu itu sudah aku kunci, kamu tidak bisa pergi
dariku lagi Arini, aku sangat menyayangimu, nikmati saja oke ?” Seringai dan
tatapan menakutkan Valdo tetap berjalan mendekat pada Arini.
“ Jangan Valdo.” Ucap Arini lagi sambil melemparkan beberapa
barang yang ada di kamar itu.
“ Kamu berani menyakitiku sekarang, kamu harus merasakan
akibatnya.” Ucap Valdo saat bibirnya dikenai bola yang terlempar dari tangan
Arini.
“ Ya Tuhan Arini mohon selamatkan Arini, Kakak Tolong Arini.”
Ucap Arini di sela dia sudah terjatuh dan terduduk di pojok kamar itu sudah
kehabisan energi berlarian dan melemparkan barang-barang.
Valdo lalu mendekap Arini dan mengangkatnya menjatuhkannya
kasar pada ranjang empuk yang juga berwarna abu-abu.
“ Huhuhuhuuhuhuhu kakak tolong Arini.” Ucap Arini disela
isak tangis yang sudah mulai kering dan terlihat mata merah karena menangis
__ADS_1
cukup lama dari tadi.
“ Kakakmu tidak akan datang kesini.” Ucap Valdo dan mulai
menindih tubuh Arini.
Valdo mulai ingin melucuti pakaian Arini dan mencium paksa
bibir Arini yang di katupkan Arini kuat.
“ Bruaaaaakkkkkkkkkk.” Suara pintu didobrak dari luar
terlihat putra sangat marah melihat adiknya berada di bawah Valdo.
“ Dasar ********, kau apakah adikku hah ?” Ucap Putra dan menarik
tubuh Valdo lalu memukulnya dengan beringas menyalurkan kemarahan yang sudah
membabi buta yang dia tahan dari tadi.
“ Kakak jangan, sudah kak ayo kita pergi.” Ucap Arini dan
memisahkan keduanya yang sedang bertengkar saling memukul satu sama lain itu.
“ Lepaskan aku, tunggu di luar, Felix bawa adikku keluar aku
ingin membunuh ******** tidak tahu diri ini.” Ucap Putra yang sudah seperti
kerasukan menghajar Valdo.
“ Kakak jangan, Arini tidak mau kakak membunuh orang, biarkan
polisi saja yang membereskannya.” Teriak Arini dengan kedua tangannya masih
ditarik Felix.
“ Hahahahahahahhahhaha.” Tawa keluar dari Valdo seperti
orang gila saat wajahnya sudah babak belur.
dengan tawa yang diberikan Valdo bukan malah memohon ampun padanya.
“ Bunuh saja, aku tidak peduli yang penting aku sudah
menikmati adik cantikmu itu.” Ucap Valdo memprovokasi Putra.
“ Kak, sudah jangan diladeni lagi ayo pergi dari sini, Arini
takut.” Ucap Arini saat terlepas dari Felix dan memeluk kakaknya dari belakang.
Mendengar hal itu Putra kembali sadar dan melepaskan Valdo
yang sudah tidak dapat dikenali itu pergi. Putra memeluk adik perempuan
kesayangannya itu menenangkan diri dan merasa bersalah tidak datang lebih
cepat.
“ Maafkan kakak Arini, kakak terlambat.” Ucap Putra sambil
mengelus punggung Arini.
“ Kakak tidak salah, kakak tidak terlambat, kakak tepat
waktu, terima kasih kakak sudah datang.” Ucap Arini karena di saat dia di mobil
saat Valdo marah-marah dia berhasil mengirim pesan permintaan tolong pada
kakaknya, melihat pesan dari adiknya Putra lalu memanggil anak buahnya dan
mencari Arini.
Putra, Arini, Felix dan beberapa orang pria lalu
meninggalkan kediaman Valdo.
Flash Back Off
__ADS_1
Sejak saat itu Arini selalu takut menjalin hubungan dengan
Pria dia juga berpindah universitas, berlatih berbagai seni bela diri dan
menembak untuk menjaga dirinya, dan Putra selalu menyuruh mata-mata untuk
mengawasi adiknya.
Untuk Valdo dia melaporkannya ke Polisi agar ditindak
lanjuti dan untuk ayah Valdo perusahaannya dibangkrutkan Putra dalam waktu 2
hari hingga papah Valdo memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Valdo yang mengetahui semua itu adalah perbuatan Putra
berusaha untuk membalas dendam dengan semua yang dia terima karena merasa tidak
sepadan dengan apa yang dia lakukan pada Arini.
Dia berusaha mencari Arini selama ini tapi baru bisa
menemukannya dan menyelidiki latar belakangnya yang sekarang. Dia selalu
mengikuti Arini saat di Belanda tanpa diketahui mata-mata Putra dan Vico.
Melihat Arini tersenyum membuatnya sakit hati dan ingin
memilikinya kembali dan membalas dendam pada Putra dengan menghancurkan putra
juga yang sudah menghancurkan hidupnya.
Valdo juga memutuskan untuk pergi ke Indonesia untuk melihat
lebih dekat Arini. Dia melihat Arini bahagia dengan kehidupannya bahkan juga
sudah memiliki Pria di sampingnya membuatnya semakin marah dan berusaha
menyingkirkan Vico dan membawa Arini kembali padanya ke Belanda dan
menyembunyikannya.
Rumah Arini
Terlihat Arini dan Vico makan di meja makan tidak seperti
biasanya Arini terlihat melamun saat menyantap makanan di depannya itu. Vico
dari tadi curiga dan bertanya-tanya kenapa Arini menjadi terlihat aneh saat ini.
Mereka sudah menyelesaikan makan dan kembali ke kamar, Arini
langsung menarik selimut dan tidur, Vico mengambil leptop dan mengerjakan
beberapa tugasnya, setelah selesai di lalu meletakkan leptop pada tempat semula
dan menarik tubuh Arini lalu memeluknya dan terlelap tidur.
“ Jangan, jangan maafkan aku, maafkan aku huhuhuhuhu.”
Teriak Arini diikuti suara isakan tangis dengan mata masih terlelap tidur.
“ Arini bangun, kamu kenapa ?” Tanya Vico yang kawatir
dengan Arini yang bermimpi buruk.
“ Huhuhuhuhu, Vic jangan pergi, aku takut kamu harus selalu
berada di sampingku, di dekatku, huhuhuhuhu.” Ucap Arini yang masih terlihat
raut ketakutan dan memeluk tubuh Vico erat.
“ Iya Arini, aku pasti selalu ada di sampingmu, di dekatmu
jangan kawatir, tenang ya, kamu hanya mimpi.” Ucap Vico masih memeluk erat
Arini lalu mengusap kepala Arini lembut.
__ADS_1